Sharia Economic Forum yang sering dikenal dengan SEF, merupakan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) yang berada di bawah naungan Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma. Seiring bertumbuh kembangnya SEF sebagai penggiat Ekonomi Islam yang kian beranjak dewasa, SEF melalui sumber daya insani yang berkarakter tangguh, kreatif, serta ikhlas dan profesional. SEF selalu berupaya optimal untuk menghasilkan program-program berkualitas unggulan, inovatif, serta bermanfa’at untuk agama, bangsa, negara dan demi dunia yang lebih baik.

  • 8 Oct 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

SEF Prestasi Juara 1 Lomba Essay

Link Essay:

/uploads/ckeditor/attachments/61/Essay_Putri_Yunela_Sari.pdf

ABSTRAKSI

Faktor pendukung penting perkembangan anak adalah keluarga. Tumbuh kembang anak ditentukan oleh peranan besar orang tua dalam keluarga. Kekerasan pada anggota keluarga dipicu oleh ketidaktahuan orang tua terkait ilmu parenting. Ilmu dasar parenting orang tua harus di kuasai orang tua sebelum tali prnikahan mengikat mereka. Karena orang tua akan menciptakan kader-kader agama dan bangsa yang akan menyelamatkan agama dan bangsa ini dari kerusakan. EduFam sebagai wadah akan memberikan pengetahuan-pengetahuan dari tingkatan dasar sampai tingkatan advance yang akan membantu orang tua memahami terkait pendidikan yang dibutuhkan anak.

Kata Kunci: Ketahanan, Keluarga, Edufam

  • 30 Sep 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan
  • 16 Aug 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar
  • 16 Aug 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

Wisata halal merupakan bagian dari industri pariwisata yang dikhususkan bagi para wisatawan muslim, wisata halal ini sesuai dengan syariah dan pelayanan serta aturannya merujuk pada aturan-aturan Islam. Dengan konsep Islami tentunya menarik banyak para wisatawan muslim untuk menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada karena sudah terjamin keamanan dan kehalalannya. Bukan hanya makanan serta barang-barang yang terjamin kehalalannya tetapi juga pelayanan yang halal dalam berinteraksi antara laki-laki dan perempuan.

Perlu diketahui bahwa kebutuhan konsumen muslim terhadap wisata halal ini secara umum meliputi kemudahan untuk beribadah, mendapatkan makanan dan minuman halal dan keamanan dalam perjalanan menggunakan transportasi agar terhindar dari kejahatan. Untuk lebih menarik minat para wisatawan maka perlu ditingkatkan kembali potensi industri pariwisata di Indonesia khususnya.

Seperti yang diketahui sebelumnya bahwa masih banyak industri pariwisata belum sepenuhnya menerapkan dan mengutamakan pariwisata halal berbasis syariah karena melihat kembali persentase dari penduduk muslim di Indonesia saat ini diperkirakan 87%. Istilah pariwisata syariah dalam literatur umumnya disamakan dengan istilah-istilah seperti pariwisata Islam, pariwisata syariah, perjalanan syariah, pariwisata halal, tujuan wisata ramah halal, dan tujuan perjalanan ramah-Muslim, gaya hidup halal, dan lain-lain.

Dari sisi industri, syariah perjalanan adalah produk pelengkap dan tidak menghilangkan jenis wisata konvensional ini. Sebagai cara baru mengembangkan pariwisata di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan keislaman tanpa menghilangkan keunikan dan keaslian daerah tersebut.

Dengan melihat besarnya potensi yang ditawarkan dalam bidang kepariwisataan, negara-negara dengan predikat tujuan wisata favorit dunia terus melakukan pengembangan dan pembangunan bidang pariwisatanya. Indonesia sebagai salah satu negara tujuan destinasi wisata dunia sangat menyadari akan potensi tersebut.

Mengacu pada visi Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, yang bertujuan untuk mengembangkan destinasi dan industri pariwisata yang berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan serta mampu mendorong pembangunan daerah nampaknya telah menjelaskan pandangan pemerintahan kali ini dalam menyikapi dinamika dunia pariwisata internasional yang semakin positif.

Mengingat bahwa Halal Tourism termasuk salah satu jenis bisnis yang high revenue dan high opportunity, maka dibutuhkan dukungan dari berbagai elemen untuk mengembangkan kerangka bisnis sektor pariwisata ini. Wisatawan Non Muslim juga dapat turut serta dalam inovasi kepariwisataan tersebut dikarenakan salah satu instrumen Halal Tourism ialah penyediaan fasilitas dan makanan halal tentunya. Menurut Mohamed Battour dan Mohd Nazari Ismail, definisi dari Halal Tourism dapat digambarkan dengan “Halal Tourism is any object or action which is permissible according to Islamic teachings to use or engage by Muslims in tourism industry

Pengembangan pariwisata meliputi industri pariwisata, tujuan wisata, pemasaran, dan pariwisata kelembagaan. Wisata halal menyajikan berbagai produk halal yang aman untuk dikonsumsi oleh wisatawan Muslim. Namun, bukan berarti turis non-Muslim tidak bisa menikmati wisata halal.

Dalam menerapkan pariwisata halal di Indonesia yang diluncurkan pada 2014, Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentukan standar halal untuk produk pariwisata. MUI dan Kementerian Pariwisata memastikan bahwa sertifikasi halal tidak hanya dapat digunakan oleh wisatawan Muslim, tetapi juga oleh semua wisatawan.

Ma'ruf Amin, ketua MUI, menegaskan bahwa bagi wisatawan Muslim, pariwisata halal adalah bagian dari propaganda. Bagi non-Muslim, pariwisata halal dengan produk halal adalah jaminan sehat sertifikasi MUI telah melewati Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga harus dijamin sehat dan bersih. Bagi wisatawan Muslim tidak perlu khawatir tentang status halal, dan bagi wisatawan non-Muslim dapat yakin bahwa makanan ini harus sehat dan bersih.

Perlu dicatat bahwa kegiatan wisata dalam Islam harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang berlaku umum, yaitu halal.

Dalam pariwisata halal, destinasi yang dikelola wajib menyediakan makanan halal, menyediakan akses mudah ke tempat ibadah, dan juga menyediakan akomodasi dan layanan sesuai standar syariah. Kementerian Parisiwata meluncurkan pariwisata halal di Indonesia dengan tujuan menjadikan Indonesia tujuan yang ramah bagi wisatawan Muslim. Bukan hanya tujuan wisata, fasilitas yang mendukungnya harus sesuai dengan standar halal (bersertifikat) MUI.

Karena itu, pariwisata halal harus dikembangkan melalui agen perjalanan, sehingga mendorong wisatawan Muslim menjadi pariwisata halal yang ramah dan nyaman. Pengembangan pariwisata berdasarkan prinsip-prinsip diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pengembangan pariwisata dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, dan kebutuhan manusia untuk melakukan perjalanan.

Masyarakat Muslim tentunya berminat untuk mengikuti wisata religious dengan menunjukkan perjalanan kegiatan dengan tujuan motivasi atau keagamaan yang dilakukan oleh kelompok agama (Muslim, Kristen, Hindu, Budha), yang biasanya dengan mengunjungi tempattempat suci agama atau tokoh agama. Definisi ini berlaku juga untuk makna ziarah misalnya sebagai bagian dari kegiatan wisata. Oleh karena itu, wisata religi sebagai kegiatan ekonomi lebih tepat menggunakan istilah pariwisata syariah jika aktivitasnya adalah perjalanan Muslim, bersamaan dengan perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia.

Pengembangan pariwisata halal penting karena manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh wisatawan Muslim. Pariwisata halal terbuka untuk semua orang. Kementerian Pariwisata akan menggerakkan pariwisata halal di hotel, restoran, spa, karaoke dan sebagainya. Wisata halal dapat diharapkan menjadikan Indonesia sebagai tujuan ramah bagi pelancong Muslim dan membutuhkan standarisasi.

Karakteristik pariwisata halal antara lain perjalanan di sana paket wisata yang mencakup tujuan perjalanan ramah-Muslim, serta hotel, restoran, spa halal, ia dan buat karyanya. Tujuan wisata halal juga untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri untuk mengunjungi berbagai tujuan dan tempat wisata yang memiliki nilai-nilai Islami, yang tersebar di seluruh Indonesia. Tujuan lain adalah untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan keuangan Islam di industri pariwisata yang semakin meningkat.

Penulis: Ricka Annisa

  • 8 Oct 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

SEF Prestasi Juara 1 Lomba Essay

Link Essay:

/uploads/ckeditor/attachments/61/Essay_Putri_Yunela_Sari.pdf

ABSTRAKSI

Faktor pendukung penting perkembangan anak adalah keluarga. Tumbuh kembang anak ditentukan oleh peranan besar orang tua dalam keluarga. Kekerasan pada anggota keluarga dipicu oleh ketidaktahuan orang tua terkait ilmu parenting. Ilmu dasar parenting orang tua harus di kuasai orang tua sebelum tali prnikahan mengikat mereka. Karena orang tua akan menciptakan kader-kader agama dan bangsa yang akan menyelamatkan agama dan bangsa ini dari kerusakan. EduFam sebagai wadah akan memberikan pengetahuan-pengetahuan dari tingkatan dasar sampai tingkatan advance yang akan membantu orang tua memahami terkait pendidikan yang dibutuhkan anak.

Kata Kunci: Ketahanan, Keluarga, Edufam

  • 30 Sep 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

SEF Prestasi LKTI SESO 2019, TIM SEF Universitas Gunadarma Juara 1 dan 2

Link LKTI:

/uploads/ckeditor/attachments/58/Ringkasan_LKTI_SESO_2019_Tim_SEF_Gunadarma.pdf

          Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih Juara 1 dan Juara 2 dalam ajang Sharia Economic Smart Olympiad (SESO) 2019 yang diselenggarakan oleh IPB University, Bogor, Jawa Barat. Tim yang berhasil meraih penghargaan tersebut yaitu Tim 1 yang beranggotakan Putri Yunela Sari (Akuntansi 2016), Taufik Ikhsan Muchlisyn  (Ekonomi Syariah 2016) dan I Putu Kemal Pratama (Manajemen 2017). Dan Tim 2 beranggotakan Lailatul Munawaroh (Manajemen 2016), Reren Anggun Wulandari (Manajemen 2016) dan Erwin Faridah (Manajemen Pemasaran 2016). SESO merupakan rangkaian acara dari The 15th SEASON yang merupakan agenda tahunan terbesar yang diadakan oleh KSEI SES-C Fakultas Ekonomi dan Manajemen Departemen Ilmu Ekonomi Syariah IPB yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat mahasiswa dan Olimpiade Ekonomi Islam tingkat SMA/MA dan Mahasiswa.  LKTI adalah ajang kompetisi karya tulis tingkat nasional yang sudah memasuki tahun ke 15 dan diikuti oleh 12 Universitas di seluruh Indonesia dengan mengirimkan karya terbaiknya untuk bisa menjadi pemenang di event tahunan ini. Acara ini berlangsung pada 25 - 26 September 2019 bertempat di Kampus Darmaga, IPB University. 

            Pada hari pertama (25/09), dimulai dengan pembukaan acara dan dilanjutkan dengan persentasi karya tulis dari 12 tim yang terpilih yakni diantaranya Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Univerisitas Negri Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Airlangga, Institut Tazkia, Universitas Islam Malang, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Gunadarma. Acara ini  mengusung tema "Membangun Jiwa Sociopreneur untuk mengoptimalisasi Wakaf Produktif di Indonesia" yang bertujuan untuk mengoptimalkan salah satu Filantropi Islam, yaitu wakaf produktif dalam segala aspek baik dalam perekonomian, pendidikan Islam maupun UMKM di Indonesia. Tim 1 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-12 dengan mengangkat topik mengenai anak-anak marjinal dan pendidikan Islam dengan judul Paper “RUMAH WAKAF (RU KAF): OPTIMALISASI WAKAF PRODUKTIF DENGAN KOLABORASI CROWDFUNDING DAN CROWDSOURCHING DALAM PEMBIAYAAN PENDIDIKAN ISLAM MENUJU INDONESIA CERDAS (PILOT PROJECT: SEKOLAH MASTER, DEPOK)”. Topik tersebut membahas mengenai pengumpulan dana wakaf dengan platform kolaborasi crowdfunding dan crowdsourching untuk pembiayaan gedung ataupun operasional Sekolah Master dengan menghadirkan sistem program  pembelajaran kepada anak-anak yang disebut dengan Kidz Preneur dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia terutama pada Sekolah Master yang diharapkan anak-anak disana dapat mandiri dan mempunyai karakter yang baik kedepannya. Sedangkan Tim 2 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-5 dengan mengangkat topik mengenai para TKI  dan Ekonomi dengan judul Paper “BANGKITKAN KEMANDIRIAN EKONOMI TKI MELALUI “KAMPUNG KABAHAN” DENGAN METODE SOCIAL GROUP WORK BERBASIS WAKAF (PILOT PROJECT: KABUPATEN INDRAMAYU)”. Topik tersebut membahas KABAHAN yang merupakan konsep reaktualisasi peran TKI yang bersinergi langsung dengan petani mangga sebagai supplier mangga, lalu menjadikan wakaf & akad syariah sebagai instrument dasar pemberdayaan TKI sociopreneur industri mangga.

           Pada hari kedua (26/09), merupakan puncak dari acara The 15 th Season dengan pemberian hadiah kepada para pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Olimpiade Ekonomi Islam dan diakhiri dengan Seminar Internasional & BWI Wakaf Goes to Campus bertemakan “Membangun Wakaf sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia”  Di hadiri oleh Bapak Prof. Dr. Ir Mohammad Nuh, DEA (Head of Badan Wakaf Indonesia) sebagai. Seminar ini dimoderatori oleh Bapak Dr. Muhammad Iqbal Irfany, SE, MappEC (Dosen Ilmu Ekonomi Syariah IPB) dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Bapak Dr.Ibrahim F. Khojah (Technical and Vocational Training Corporation Saudi Arabia), Bapak H. Muhammad Fuad Nassa, S.Sos, M.sc (Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf  Kemenag) dan Bapak Drs. Susono Yusuf (Divisi Humas, Sosialisasi dan Literasi BWI). Seminar ini mendapatkan antusias yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa dan para praktisi serta akademisi lainnya. Diharapkan dari seminar ini menambah literasi dan wawasan para peserta khususnya generasi millenial dalam memanfaatkan potensi wakaf produktif Indonesia yang begitu besar. SEF UG berhasil meraih penghargaan juara 1 yang diwakili oleh oleh Tim 1 (Putri Yunela Sari, Taufik Ikhsan Muchlisyn, I Putu Kemal Pratama) dan juara 2 yang diwakili oleh Tim 2 (Lailatul Munawaroh, Reren Anggun Wulandari, Erwin Faridah) dan juara 3 diraih oleh Universitas Padjadjaran.

Laporan: Putri Yunela Sari

  • 16 Aug 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

#SEFNews

Berita Ekonomi Syariah Edisi Agustus 2019

BPJS Ketenagakerjaan menyebut ada permintaan skema syariah yang berasal dari masyarakat. Sehingga mereka telah memulai kajian dan persiapan untuk kemungkinan peluncuran produknya.

Direktur Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan, Naufal Mahfudz menyampaikan permintaan tersebut sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu dan mulai diseriusi. BPJSTk berkomunikasi aktif dengan lembaga syariah kompeten seperti KNKS dan DSN MUI untuk membahas prospek ini.

"Selain permintaan dari peserta, juga ada antusiasme dari karyawan kami untuk menjalankannya," kata Naufal Mahfudz

BPJS Ketenagakerjaan melakukan pendekatan kajian baik dari sisi regulasi maupun produk. Kemungkinan skema syariah ini akan diturunkan dalam bentuk produk sehingga peserta dapat memilih sesuai preferensi. Dari sisi produk, sebenarnya konsep pengelolaan sudah mirip seperti skema syariah. Artinya ada kejelasan dalam iuran, juga nilai manfaatnya. Meski demikian, penempatan investasi masih belum terarah seluruhnya untuk syariah.

Direktur Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan Naufal Mahfudz, berharap tahun ini akan ada putusan besar sehingga tahun depan sudah bisa diuji coba. Menurutnya, BPJSTk optimistis implementasi bisa dilakukan dalam tiga sampai empat bulan kedepan.

Hingga Juli 2019, jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan mencapai 50,1 juta orang dari potensinya yang sekitar 120 juta orang. Isu kepesertaan masih menjadi tantangan. Banyak pekerja yang belum jadi peserta karena berbagai alasan, termasuk ketidakpatuhan meski telah diwajibkan. Dengan jumlah peserta tersebut, jumlah dana kelolaan per Juli 2019 telah mencapai lebih dari Rp 400 triliun. Naufal Mahfudz menyampaikan tingkat pertumbuhan dana kelolaan sulit diprediksi. Ada saat-saat dana tumbuh pesat.

Faktor pertumbuhan ekonomi nasional, menurut dia, sangat berpengaruh pada pertumbuhan jumlah peserta yang kategorinya pekerja. Akhir tahun lalu, dana kelolaan BPJSTk mencapai Rp 360 trilun. Capaian tahun ini diperkirakan melebihi target sebesar Rp 411 triliun. 

Jika produk syariah sudah meluncur, kemungkinan porsinya akan mencapai 10-20 persen sesuai dengan perkembangan ekonomi syariah nasional. Ia mengatakan potensi ini cukup untuk memperbesar aset keuangan syariah. Dengan catatan, instrumen atau lembaga syariah seperti bank juga harus performed agar imbal dari dana yang kita investasikan juga bersaing.

Sumber: Republika.co.id

  • 16 Aug 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

Wisata halal merupakan bagian dari industri pariwisata yang dikhususkan bagi para wisatawan muslim, wisata halal ini sesuai dengan syariah dan pelayanan serta aturannya merujuk pada aturan-aturan Islam. Dengan konsep Islami tentunya menarik banyak para wisatawan muslim untuk menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada karena sudah terjamin keamanan dan kehalalannya. Bukan hanya makanan serta barang-barang yang terjamin kehalalannya tetapi juga pelayanan yang halal dalam berinteraksi antara laki-laki dan perempuan.

Perlu diketahui bahwa kebutuhan konsumen muslim terhadap wisata halal ini secara umum meliputi kemudahan untuk beribadah, mendapatkan makanan dan minuman halal dan keamanan dalam perjalanan menggunakan transportasi agar terhindar dari kejahatan. Untuk lebih menarik minat para wisatawan maka perlu ditingkatkan kembali potensi industri pariwisata di Indonesia khususnya.

Seperti yang diketahui sebelumnya bahwa masih banyak industri pariwisata belum sepenuhnya menerapkan dan mengutamakan pariwisata halal berbasis syariah karena melihat kembali persentase dari penduduk muslim di Indonesia saat ini diperkirakan 87%. Istilah pariwisata syariah dalam literatur umumnya disamakan dengan istilah-istilah seperti pariwisata Islam, pariwisata syariah, perjalanan syariah, pariwisata halal, tujuan wisata ramah halal, dan tujuan perjalanan ramah-Muslim, gaya hidup halal, dan lain-lain.

Dari sisi industri, syariah perjalanan adalah produk pelengkap dan tidak menghilangkan jenis wisata konvensional ini. Sebagai cara baru mengembangkan pariwisata di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan keislaman tanpa menghilangkan keunikan dan keaslian daerah tersebut.

Dengan melihat besarnya potensi yang ditawarkan dalam bidang kepariwisataan, negara-negara dengan predikat tujuan wisata favorit dunia terus melakukan pengembangan dan pembangunan bidang pariwisatanya. Indonesia sebagai salah satu negara tujuan destinasi wisata dunia sangat menyadari akan potensi tersebut.

Mengacu pada visi Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, yang bertujuan untuk mengembangkan destinasi dan industri pariwisata yang berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan serta mampu mendorong pembangunan daerah nampaknya telah menjelaskan pandangan pemerintahan kali ini dalam menyikapi dinamika dunia pariwisata internasional yang semakin positif.

Mengingat bahwa Halal Tourism termasuk salah satu jenis bisnis yang high revenue dan high opportunity, maka dibutuhkan dukungan dari berbagai elemen untuk mengembangkan kerangka bisnis sektor pariwisata ini. Wisatawan Non Muslim juga dapat turut serta dalam inovasi kepariwisataan tersebut dikarenakan salah satu instrumen Halal Tourism ialah penyediaan fasilitas dan makanan halal tentunya. Menurut Mohamed Battour dan Mohd Nazari Ismail, definisi dari Halal Tourism dapat digambarkan dengan “Halal Tourism is any object or action which is permissible according to Islamic teachings to use or engage by Muslims in tourism industry

Pengembangan pariwisata meliputi industri pariwisata, tujuan wisata, pemasaran, dan pariwisata kelembagaan. Wisata halal menyajikan berbagai produk halal yang aman untuk dikonsumsi oleh wisatawan Muslim. Namun, bukan berarti turis non-Muslim tidak bisa menikmati wisata halal.

Dalam menerapkan pariwisata halal di Indonesia yang diluncurkan pada 2014, Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentukan standar halal untuk produk pariwisata. MUI dan Kementerian Pariwisata memastikan bahwa sertifikasi halal tidak hanya dapat digunakan oleh wisatawan Muslim, tetapi juga oleh semua wisatawan.

Ma'ruf Amin, ketua MUI, menegaskan bahwa bagi wisatawan Muslim, pariwisata halal adalah bagian dari propaganda. Bagi non-Muslim, pariwisata halal dengan produk halal adalah jaminan sehat sertifikasi MUI telah melewati Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga harus dijamin sehat dan bersih. Bagi wisatawan Muslim tidak perlu khawatir tentang status halal, dan bagi wisatawan non-Muslim dapat yakin bahwa makanan ini harus sehat dan bersih.

Perlu dicatat bahwa kegiatan wisata dalam Islam harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang berlaku umum, yaitu halal.

Dalam pariwisata halal, destinasi yang dikelola wajib menyediakan makanan halal, menyediakan akses mudah ke tempat ibadah, dan juga menyediakan akomodasi dan layanan sesuai standar syariah. Kementerian Parisiwata meluncurkan pariwisata halal di Indonesia dengan tujuan menjadikan Indonesia tujuan yang ramah bagi wisatawan Muslim. Bukan hanya tujuan wisata, fasilitas yang mendukungnya harus sesuai dengan standar halal (bersertifikat) MUI.

Karena itu, pariwisata halal harus dikembangkan melalui agen perjalanan, sehingga mendorong wisatawan Muslim menjadi pariwisata halal yang ramah dan nyaman. Pengembangan pariwisata berdasarkan prinsip-prinsip diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pengembangan pariwisata dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, dan kebutuhan manusia untuk melakukan perjalanan.

Masyarakat Muslim tentunya berminat untuk mengikuti wisata religious dengan menunjukkan perjalanan kegiatan dengan tujuan motivasi atau keagamaan yang dilakukan oleh kelompok agama (Muslim, Kristen, Hindu, Budha), yang biasanya dengan mengunjungi tempattempat suci agama atau tokoh agama. Definisi ini berlaku juga untuk makna ziarah misalnya sebagai bagian dari kegiatan wisata. Oleh karena itu, wisata religi sebagai kegiatan ekonomi lebih tepat menggunakan istilah pariwisata syariah jika aktivitasnya adalah perjalanan Muslim, bersamaan dengan perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia.

Pengembangan pariwisata halal penting karena manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh wisatawan Muslim. Pariwisata halal terbuka untuk semua orang. Kementerian Pariwisata akan menggerakkan pariwisata halal di hotel, restoran, spa, karaoke dan sebagainya. Wisata halal dapat diharapkan menjadikan Indonesia sebagai tujuan ramah bagi pelancong Muslim dan membutuhkan standarisasi.

Karakteristik pariwisata halal antara lain perjalanan di sana paket wisata yang mencakup tujuan perjalanan ramah-Muslim, serta hotel, restoran, spa halal, ia dan buat karyanya. Tujuan wisata halal juga untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri untuk mengunjungi berbagai tujuan dan tempat wisata yang memiliki nilai-nilai Islami, yang tersebar di seluruh Indonesia. Tujuan lain adalah untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan keuangan Islam di industri pariwisata yang semakin meningkat.

Penulis: Ricka Annisa

Office

Jl. Kampung Gedong, RT 1/RW 4, Kemiri Muka, Beji, Depok – Indonesia

Phone

+62 857 157 14 157

Connected with Us!