Publikasi

  • 10 May 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

Aktivitas bisnis merupakan aktivitas yang sangat dinamis dalam sejarah kehidupan umat manusia. Dimana seseorang dapat melakukan aktivitas bisnis yang tidak pernah sama dalam tiap waktu termasuk dalam alat transaksinya. Proses aktivitas bisnis yang terus berkembang tidak lagi mempertemukan para pelaku bisnis yang dalam hal ini penjual dan pembeli dipertemukan atau harus bertemu dalam dalam satu tempat dan satu waktu sebagaimana terjadi pada aktivitas bisnis konvensional. Sebab, kini masyarakat dihadirkan dengan bentuk bisnis dan transaksi baru yakni transaksi bisnis online. Hadirnya, bisnis online ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan internet yang dalam konteks yang lebih luas perkembangan teknologi dan informasi. Pengguna internet Indonesia sudah mencapai 63 juta orang, dari para pengguna tersebut terdapat 95% menggunakan internet untuk kebutuhan media sosial, bahkan Indonesia menjadi peringkat ke-4 Facebook dengan 65 juta pengguna aktif, peringkat ke-5 Twitter dengan 19,5 juta pengguna aktif, Google+ dengan 3,4 juta pengguna, Linkedlin 1 juta pengguna, aplikasi Path 700.000, Line 10 juta pengguna dan sebagainya. (Kominfo.go.id, 2 Juli 2016). Perkembangan dunia bisnis selalu menemukan muara untuk mencari bentuk, cara, pasar, dan konsumennya sendiri. Dalam konteks bisnis berbasis layanan online yang memberikan keuntungan dan kemudahan, juga menimbulkan dampak dan gejolak dengan pengelola bisnis konvensional (non-online), seperti terlihat pada kasus Uber, Grab dan bisnis transportasi (taksi) berbasis layanan online lainnya yang mendapatkan protes dan aksi demontrasi dari pengelola taksi konvensional. Bentuk protes tersebut lahir dikarenakan semakin berkurangnya peminat taksi kovensional yang beralih kepada taksi berbasis layanan online, sehingga berakibat berkurangnya penghasilan para pengelola taksi konvensional.

Adanya perkembangan bisnis dan berbagai bentuknya harus disikapi dengan bijak, terus melakukan inovasi, mengasah kreativitas, dan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki. Oleh sebab itu, hadirnya sudut pandang spiritualistik dalam praktik bisnis akan memberikan memberikan jalan petunjuk bahwa bisnis yang dilakukan semata-mata tidak saja mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi harus dipandang sebagai proses ibadah dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Upaya dalam menghadirkan sikap spiritualitas dalam praktik bisnis dan ekonomi dalam ajaran Islam dikenal dengan upaya terciptanya falah. Istilah falah berasal dari kata afalaha-yuflihu yang mengandung arti kesuksesan, kemuliaan dan kemenangan. Maksud dari kemuliaan dalam konteks ini adalah kemuliaan multidimensi dengan menjalankan aktvitas ekonomi tidak mengorientasikan diri pada pencapaian materi belaka, melainkan juga pencapaian akan kemaslahatan yang bersifat sosial atau biasa disebut dengan istilah al-maslahah al-mursalah. Secara terminology, salah satu‘ulama Ushul Fiqh, At-Thufy, Definisi maslahah menurut ‘Urf  (pemahaman secara umum) adalah sebab yang membawa kebaikan, seperti bisnis yang dapat membawa orang memperoleh keuntungan. Sedang menurut pandangan hukum Islam adalah sebab yang dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan hukum Islam, baik dalam bentuk ibadah maupun mu’amalah. Intinya ialah sesuatu yang menurut pertimbangan akal atau adat kebiasaan dapat mendatangkan kebaikan, manfa’at maupun faedah yang nyata bagi kehidupan manusia serta selaras dengan tujuan hukum yang ditetapkan oleh Syari’.

Melalui pernyataan diatas, aktivitas bisnis dan sosial seorang muslim menjadi benang merah untuk terjadinya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Maka, secara praksis dalam praktik bisnis islami, beberapa kalangan mendorong adanya konsep dan praktik Socioprenenur. Keberadaan sociopreneur ini semacam menjadi evolusi dari praktik entrepreneur yang memungkinkan para pebisnis  mampu menghadirkan praktik produksi, distribusi, konsumsi, etika bisnis yang mengedepankan nilai moral dan sosial sesuai dengan ajaran Islam, sehingga praktik bisnis yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pencapaian profit, melainkan mendorong produktifitas dan kualitas yang berfokus pada kemaslahatan sosial.

Pada umumnya, masyarakat berpikir bahwa profesi hanyalah sebatas karyawan, pengusaha, guru, direktur dan sebagainya, padahal terdapat pekerjaan yang didalamnya mengalir deras manfaat yang dapat dirasakan oleh tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk masyarakat sekeliling kita, yakni socioprenenur. Sebagai mahasiswa, rasa gerah dan iba akan permasalahan ekonomi dan sosial sudah sepantasnya dijadikan lecutan untuk berpikir dan berkontribusi. Langkah kongkret untuk menjadi seorang mahasiswa ber-sociopreneur dapat dilakukan dengan bergabung dengan suatu komunitas yang didalamnya memiliki visi dan misi yang sama, yakni mengedepankan sosial dan ekonomi masyarakat atau economic  and social walfare, dimana komunitas tersebut melakukan jual beli makanan khas daerah perguruan tinggi setempat lalu keuntungannya dialokasikan untuk insentif pendidikan desa setempat berupa pemberian buku dan seragam sekolah bagi anak-anak yang berada dibawah garis kemiskinan. Komunitas tersebut juga dapat menggandeng kepala desa setempat dalam hal kerjasama produksi dan distribusi produk karena pada dasarnya kepala desa memiliki Asosiasi Kepala Desa (AKDES) yang apabila kerjasama tersebut terjalin dengan baik persentase keuntungan yang didapat oleh komunitas tersebut akan meningkat yang berujung pada terciptanya tujuan sedari awal, yakni economic and social walfare. Tak kalah penting, pembinaan serta pemberdayaaan juga menjadi point penting ketika berbicara mengenai sociopreneur sebab hal tersebut akan terasa manfaatnya ketika masyarakat berekonomi kurang dapat disetarakan dalam memperoleh hak dalam berkerja dan berkarya dengan optimal. Selain itu, berkaca pada potensi bisnis online yang telah tercantum pada paragraf pertama bahwa komunitas berbasis mahasiswa ini dapat menjadi pioneer bagi tumbuhkembangnya e-commerce oleh kalangan sociopreneur.

Lailatul Munawaroh

SEKRETARIS KSEI SEF GUNADARMA

  • 27 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Selamat Anda telah terdaftar sebagai peserta Seminar Nasional Kalimalang 2018

Demi kepentingan validasi nama peserta pada sertifikat silakan periksa kembali nama Anda pada daftar peserta Seminar Nasional Kalimalang 2018 yang tertera. Konfirmasi perubahan nama dapat dilakukan hingga Kamis, 29 November 2018 pukul 14.00 WIB. Apabila peserta tidak melakukan perubahan nama sampai batas waktu yang ditentukan, maka nama peserta dianggap sudah benar dan panitia tidak bertanggung jawab atas kesalahan cetak nama pada sertifikat.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Terima Kasih.

*untuk perubahan nama Anda dapat klik (di sini)  

atau http://sef.or.id/validasisemnas2018


Seminar Nasional 1 | 01 Desember 2018 | 08.30 – 12.00 WIB

"Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges"

  1. ACHMAD BUCHORI
  2. ADE SAPUTRA
  3. ADMID AISYAH AMANAH
  4. AFIFAH SALIM
  5. AFNI RAMADHANTI
  6. AGNES NUR AFIFAH AYUNINGTIAS
  7. AGUNG PERTIWI PUTRA
  8. AGUS SRI ISWIYANTI, S.E., MM
  9. AHMAD MAULANA
  10. ALDA FITRIA
  11. ALDI NOVIANTO
  12. ALFADYA HAYYA
  13. ALIFIA APANDI
  14. ALTHARIQ BIBIT SLAMET
  15. AMILYA CHOIRUNNISA
  16. AN NISAA' RIZKA WAHYUNI
  17. ANA SILVIANA
  18. ANDI SUHANDI
  19. ANGGI MIPTAHUL HOLIK
  20. ANISA AMALIA
  21. ANISA FEBY YANA
  22. ANISA KURNIA SARI
  23. ANISA MULIA KUSUMASTUTI
  24. ANISAHRANI
  25. ANISFU DWI YANTI
  26. ANISSA RANTI RETNO SARI
  27. ANITA NURHAZYIZA
  28. ANITA PUNGKI ANDRIYANI
  29. ANNISA DIANTI
  30. ANNISA DWI RIZKI AZHARI
  31. APRILIANI DWI TANDY
  32. ARMIETHA DESSY RAHMADHANY
  33. ARSITA YUNINGSIH
  34. AULIA NUR AINI
  35. AVIFAH ADELIA
  36. AYU YUNENGSIH
  37. AZARIA NUR SHABRINA
  38. BAGUS HERMANTO
  39. BAGUS SATYAWAN
  40. BELLA NOER SYAKINAH
  41. BENING AMBARWATI
  42. CHINDY RIZKY CLAUDIA
  43. CYNTIA CAHYA SAFITRI
  44. DEA ANANDA
  45. DESI ARI SANDI
  46. DESY RAHMAWATI
  47. DESY TRIANA PRATIWI
  48. DEVI NOVITASARI
  49. DEWI KHOERRU NISA
  50. DEWI SITI MASITOH
  51. DHIEN WANGINEGARA
  52. DIAN BUDIYANTO
  53. DIAN CHRISTIANI
  54. DIAN LESTARI
  55. DITA BERLIANA
  56. DITA VALENTIA MEILIANA
  57. EFA MUSDALIFAH
  58. EKA HAFIFAH PUSPITASARI
  59. EKA NURBAITI HARUN
  60. ELMA NURUL AMALIYA
  61. ELSA SILVIANA FIRDAUS
  62. ENJELITA
  63. ERIKA FEBRIANA
  64. ESTER SHYNTIA
  65. EVA FITRIANA
  66. FADILATUN NISA
  67. FAJRI ANANDA RUSMAHENDRA
  68. FARAH SALSABILA
  69. FATHIMAH ABIDAH
  70. FEBRILIA EKA PRATIWI
  71. FEBRY FITRIYANTI
  72. FEBRY INDRI YANI
  73. FERIYANDI
  74. FIKA ANANDA FORTUNA
  75. FITRI AZIZIAH
  76. FITRI CAHYANI
  77. FITRI WULANDARI
  78. FRILLY BAMA RASTIKA
  79. GALUH YUDHAWANINGPATI
  80. GEMMA SHAFA MAWADDA
  81. GIZELA GIOVANI KUSUMAH
  82. GUSLINA
  83. HANA KOMALA
  84. HANA TAZKIA R
  85. HANDOKO HADI
  86. HANIFAH YUMNA
  87. HARIS YUNIARTO
  88. HERDIANA
  89. HESTITA SALMA SALSABILA
  90. IKA PUSPITA SARI
  91. IKE WIDEA SARI
  92. INAZ MARSELA
  93. INDAH KHOERUN NISSA
  94. INDAH NOVIANTI
  95. INDAH NUR MAULINA
  96. INDIASTARI DESTY ROSITASARI
  97. INDRI MULYANTI
  98. INTAN TRIDIANANTY
  99. IQBAL ANUGRAH RAHMAN
  100. ISNAENI LESTARI
  101. ITA WAHYUNI
  102. IZZATY ATIA MAULANI
  103. JAMALUDIN
  104. JONATHAN LUMDOS
  105. KAMILA ZAHRA FATHUNNADA
  106. KARYONO., S.E., M.Pd., M.M
  107. KHALIMI
  108. KUWAT SUJARWO
  109. LATIKAH ARUM KUSUMAWATI
  110. LESTI SUKMAWATI
  111. LIA DAHLIA
  112. LIA MUBAROKAH
  113. LIA ULFACH
  114. LILIS RATNASARI
  115. LINDA SETIANINGSIH
  116. LIS NURAENI
  117. LUSIA ETIKA SARI
  118. MA'LA HOERIYAH
  119. MARIAM ULFA PUSPITA
  120. MEGA NANDA PUTRI
  121. MEI ISTIANI
  122. MELANY PUTRI DEWI
  123. MEYTA INDRAYANI
  124. MIFTAH FATHINIA
  125. MIRA SUPRIANTI
  126. MISDI
  127. MITHA MERLYAN
  128. MUHAMMAD ASMAR
  129. MUHAMMAD FAJRI
  130. MUHAMMAD FARHAN
  131. MUHAMMAD HAFIZH HANAFI
  132. NADYA AGUSTRIANA
  133. NADYA DWI HELMINA
  134. NAJAH LAILY AMALIA
  135. NAJMA SYIVA
  136. NAUFAL AQIL HELMI
  137. NELASARI
  138. NINNA
  139. NISA PEBRIANTI
  140. NUR I ALFIANINDA
  141. NUR INDAH PANCANINGRUM
  142. NUR SRI WULANDARI
  143. NURKHASANAH
  144. NURKHAYATI
  145. NURUL HIDAYAH
  146. OVA NUR LISANI
  147. PENNI NOVIYANTI
  148. PRANA SAKTI NUGROHO
  149. PUSPITA ANGGRAENI
  150. PUTRI LUCSKYAHTUROHMAN AL FURONI
  151. PUTRI SIS ANGGARI
  152. QOTRUNNADA ALIVIA
  153. RAFIF KARUNIA RAHMAN
  154. RAHMANIA INDAH KUSTANTI
  155. RANGGA RIJLLUL HAQ
  156. RATNA WULANDARI
  157. RAYUNINGSIH
  158. RIANA AYU PUSPITA SARI
  159. RIESHADANI FAIZATY NALLAH
  160. RIRIN SAPUTRI
  161. RISKA RATNA SARI
  162. RISKI SETIADI
  163. RISKI VIRA NABILA
  164. RISMA SYIFA MALIK
  165. RITA NURHIDAYAH
  166. RITA SUGIARTI
  167. RIYA DWI ANDRIYANI
  168. RIZKA RACHMAWATI
  169. RIZKY FADHILA
  170. RODIAH
  171. RUSLI KURNIAWAN
  172. SAFERA JANATA GUSTIA
  173. SAFIRAH DINA RAMADANI
  174. SANTI PUTRI JAYANTI
  175. SARAH NANDADITYA
  176. SARAH SAFIRA
  177. SARAS ADYASMARA
  178. SARI MONIKA PUTRI
  179. SEAN KATONDHO HENAS
  180. SHAFA ROHMAH HANDAYANI
  181. SHAFIRA RAHMAIDA
  182. SHERLYANA GUNAWAN
  183. SINTA NUR HIDAYATI
  184. SISCA LARASATI
  185. SITI ANNISA SALSABILA
  186. SITI DINA NURJANAH
  187. SITI NURANA H. F
  188. SITI ROHMAH WATI
  189. SLAMET HERI WINARNO, SE, MM
  190. SRI AIDA NURYANTI
  191. SRI HARTATI
  192. SRI YUNIARTI
  193. SUADEN MAMESYAH
  194. SUCI INDAH SARI
  195. SULISTYO NINGTYAS
  196. SUTRISNO
  197. TASYA DEWI AZZAHRA
  198. THIA VIOLENITA
  199. TITA NILASARI
  200. TRI FRIDA PUSPITASARI
  201. TRI HADMIATIN NINGSIH
  202. TRI SULISTIANA
  203. TURNI APRIYANI
  204. UMAIROH UTAMI
  205. VESHELA ANNESA D N
  206. VILLIA ALPIANA
  207. VIRA WIDYASARI
  208. VIRA WILISTYORINI
  209. VIVI YULIYANTI
  210. WAHYU LARASATI
  211. WAHYUDI ISRODI
  212. WINDA NURHAYANI
  213. YANUAR AKBAR
  214. YAYAN HENDRIAN S.T.,M.KOM
  215. YESI SEPTIANI
  216. YUDA PANGESTU
  217. YULIA ANGGRAENI
  218. YULIA SANDRA NUR FITRIANA
  219. YUSRIAH
  220. YUSTINUS LAIA
  221. YUYUN SOFIYATUN
  222. ZAHRAH FADHILAH HERLIANTI
  223. ZAKYA RAHMI NURSALIMA
  224. ZAQIA SABILLA AZWARINI
  225. ZETIRA ZAHNAZ KAPADIA

Seminar Nasional 2 | 01 Desember 2018 | 13.00 – 16.00 WIB

"Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of the Economic Crisis Cycle"

  1. ABDUL SAMAD KELSABA
  2. ACHMAD BUCHORI
  3. ADITYO NUGROHO
  4. AFAN RIZIQ AL - SALEH
  5. AFNI FIZKRI AL FITRIAWATY
  6. AGUS SRI ISWIYANTI, S.E., MM
  7. AHMAD MAULANA
  8. AJENG FADILAH IRAWAN
  9. ALDA FITRIA
  10. ALI RAFSANJANI
  11. ALIFIA APANDI
  12. ANNISAUL JANATUL MA'WA
  13. ANDI SUHANDI
  14. ANDIKA SURYANA
  15. ANGGI RAHMAWATI
  16. ANISA KURNIA SARI
  17. ANISA MULIA KUSUMASTUTI
  18. ANISAHRANI
  19. ANISSA MELATI
  20. ANISSA RANTI RETNO SARI
  21. ANITA FITRIANI
  22. ANNISA MUKHLISA H
  23. APRILIA TRIANA
  24. APRILIANI DWI TANDY
  25. ASEP RIANO,S.PD
  26. ATMO
  27. AULIA AZZAHRA
  28. AURANI LUTHFIYAH
  29. AVIFAH ADELIA
  30. AVRIDHA RIANI
  31. AYU AMBARWATI
  32. AYU HERMAWATI
  33. AYUDIA FITRI CHAERANI
  34. AZKA ALIFIANT
  35. AZ-ZAHRA TURSINA BELLA
  36. BAGUS HERMANTO
  37. BAGUS SATYAWAN
  38. BAHARI NUR
  39. BERLIANA KHUMAIROH
  40. CHIKO AGESTO G.W.P
  41. CHOERUNNISA
  42. CLARISSA ILMI RIYANTI
  43. CYNTIA CAHYA SAFITRI
  44. DARA SYAFIRA
  45. DEA RAYI ANGGITA
  46. DESNIA RAHMADANTY
  47. DEWI NURMAYANTI
  48. DEWI RATIH
  49. DEWI SITI MASITOH
  50. DHINA MUTIA
  51. DIAH ENGGAR PRATIWI
  52. DIAH MITA SARI
  53. DIAH TITI NURAENI
  54. DIAN PERMATA SARI
  55. DIMAS PARULIAN
  56. DINA APRIANI SUJANA
  57. DINDA ASHILAH
  58. DINI KURNIAWATY
  59. DINNUR NADA UTAMI
  60. DIRA ISMANIAR AGUSTIN
  61. DITHA PUTRI A.
  62. DWI KURNIA ALHAYYU
  63. EFA MUSDALIFAH
  64. EFA NOFITASARI
  65. EKA HAFIFAH PUSPITASARI
  66. ELFINA NOVIYANTI
  67. ELSA SILVIANA FIRDAUS
  68. EMIRA AULIA RASYIDA
  69. ENDAH CHRISTIANINGSIH
  70. ERSYALIA NABILA
  71. EVI FARIDATUL AFIFAH
  72. EVRILITA CAHYANA
  73. FACHRIKA WULANDARI
  74. FADILA IMANY PUTRI
  75. FARAH NAMIRA PUTRI
  76. FARHATUN MAULIDA
  77. FARIHA NUR WAHYUNI
  78. FARUQIN FEBRYONO
  79. FATHIMAH ABIDAH
  80. FAUZIAH NURSYAHBANI
  81. FEBRILIA EKA PRATIWI
  82. FERONIKA MANIDA GULO
  83. FIKA ANANDA FORTUNA
  84. FIRDAUS WIJAYANTO
  85. FITRA DINI
  86. FITRI AZIZIAH
  87. FITRI WULANDARI
  88. FRILLY BAMA RASTIKA
  89. GEETA DEVI ARIYANTI
  90. GUNTUR ALAM
  91. HANA KOMALA
  92. HANA SUKAINAH
  93. HANNISA KUSUMAWATI
  94. HARIS YUNIARTO
  95. HASMILAH
  96. HASNA SETYA MULYAWATI
  97. HELVY MARYANA
  98. HENDRICK KARISMA
  99. HESTITA SALMA SALSABILA
  100. IKHRIMA NURMAWATI
  101. ILHAM SAYFIN NUHA
  102. INDAH DIAN NOVITA SARI
  103. INDAH EKA SUGIANTI
  104. INDAH NUR MAULINA
  105. INDIASTARI DESTY ROSITASARI
  106. INTAN WIDIANA
  107. IQBAL ANUGRAH RAHMAN
  108. IRMA ERVIANA TANIA
  109. JALIMAH
  110. JAMALUDIN
  111. JONATHAN LUMDOS
  112. JULIANNA RAI HAKIM ISNAINI
  113. KARTIKA PUTRI R
  114. KARYONO., S.E., M.Pd., M.M
  115. KATARINA DIAN PURWANTI
  116. KHOFIFAH DWI LESTARI
  117. KIKI RIFQI FARIQOH
  118. KURNIA TRYANTI
  119. KUWAT SUJARWO
  120. LAILATURROHMAH
  121. LIDYA NUR SAFITRI
  122. LILY ALIYAH
  123. LUCIANA SYAMSIAR
  124. LULUK MAKNUNAH
  125. M. REZA PAHLEVI
  126. MAJIDAH
  127. MASRUHAN
  128. MEGA TRI UTAMI
  129. MELIYANI RAFIATUN DARAJAT
  130. MERLY BARANATASHA
  131. MEYTA INDRAYANI
  132. MIFTAH AINUL YAQIIN
  133. MOHAMAD HARZA FALISON
  134. MONI SUCI ANJANI
  135. MUHAMMAD AFIF
  136. MUHAMMAD FAJRI
  137. MUHAMMAD FARHAN
  138. MUHAMMAD HAFIZH HANAFI
  139. MUHAMMAD HAMZAH YAHYA
  140. MUHAMMAD JALALUDDIN
  141. MUSTOPA HIDAYATTULLOH
  142. NABILA TANIA PUTRI
  143. NADA BALQIS
  144. NADIRA HASNA HANIFAH
  145. NAFTALIYAH NUR ZAHRA
  146. NAHDIA HUSNAH
  147. NAJMA SYIVA
  148. NANA ARVIANA
  149. NAUFAL AQIL HELMI
  150. NENIH ANJARWATI
  151. NIKITA APRILIA
  152. NI'MATUL AFIFAH
  153. NISA PEBRIANTI
  154. NOVIANA HAIRUNISA
  155. NUR AZIZAH AGUSTINI
  156. NURAINI
  157. NURHALIMAH SARI LUBIS
  158. NURUL FAUZIYAH RAMADHANIATI
  159. OKTI ANGGOROWATI SETYANINGSIH
  160. PIONA NURHAETI
  161. PRANA SAKTI NUGROHO
  162. QOTRUNNADA ALIVIA
  163. RANI PUSPITASARI
  164. RANI SANTIKA
  165. RATNA WULANDARI
  166. RATU YULYANAH
  167. RENI ANGGRAENI
  168. RESSI JUNIANTI SUWANDI
  169. RINA ISNANDA LIANA WATI
  170. RISKI SETIADI
  171. RISKI VIRA NABILA
  172. RISTANTO
  173. RIVALDO J MARSHA
  174. RIZKA FAUZIAH
  175. RIZKA RACHMAWATI
  176. RIZKY FADHILA
  177. RIZQI KURNIA ASIH
  178. ROSSYTA EKA PUTRI H
  179. RUSLI KURNIAWAN
  180. SABILA CAHYA MAULIDINA
  181. SALMA SRI YULIANSI
  182. SARAS ADYASMARA
  183. SARI MONIKA PUTRI
  184. SATRIA DHIMAS GHOZA
  185. SAVIRA NADIA SARASITA
  186. SEAN KATONDHO HENAS
  187. SEPTHIA NURHIDAYAH
  188. SEPTIAN BAYU PAMUNGKAS
  189. SERLY ARISKHA DEWI
  190. SESRIYANI
  191. SHINTA DELIA
  192. SILFI SYAHRA DEWI
  193. SILVIA WAHYUNI
  194. SINTIA MARINI
  195. SISCA DEVIA SINTA
  196. SISCA LARASATI
  197. SISI DHIYA AULIA
  198. SITI KHODIJAH
  199. SITI RAHMATUL UMMAH
  200. SRI HARTATI
  201. SRI WINDI
  202. SUPRIYANTO
  203. SYIHAB GEIS BIN ABAD
  204. TASHA AMELYANA
  205. TIARA RIZKI AMALIA
  206. TITA NILASARI
  207. TIYA LATIFA
  208. TRI FRIDA PUSPITASARI
  209. UMMY SHOLICHATI
  210. UMSIAH ALTANIA
  211. USWATUN NISA
  212. VANISKHA MAHARANI
  213. VESHELA ANNESA D N
  214. VILLIA ALPIANA
  215. VIRA TANIA
  216. WINDU EVILIA SUSANTO
  217. WIRA HANDIKA SUKMA
  218. YANUAR AKBAR
  219. YOHANA MARNITA
  220. YUDA PANGESTU
  221. YULIA SANDRA NUR FITRIANA
  222. YULISA PRATIWI
  223. YUYUN SOFIYATUN
  224. ZAHRAH FADHILAH HERLIANTI
  225. ZEVY SUKMA ZAHROH ARANING TYAS

*untuk perubahan nama Anda dapat klik (di sini)  

atau http://sef.or.id/validasisemnas2018

  • 23 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

"Diantara Reksadana, Saham Atau Emas Yang Manakah Yang Cocok Untuk Anak Muda?"

Setiap orang pasti memiliki cita-cita kehidupan mapan dan nyaman di masa depan. Tapi, hidup seperti itu perlu dicapai dengan berbagai persiapan, terutama yang berkaitan dengan pengaturan keuangan. Salah satu caranya adalah dengan berinvestasi sejak usia muda.

Sama seperti menabung, investasi atau menanamkan modal pada aset-aset tertentu perlu dilakukan sejak dini. Tidak perlu menunggu  berpenghasilan yang cukup besar dan berusia matang baru memulai berinvestasi.Hal ini dapat terlihat saat ini dimana saat ini telah banyak anak muda yang sudah tidak asing dengan investasi.

Sejak mereka telah memiliki penghasilan, anak muda zaman saat ini telah memulai persiapkan kebutuhan masa depan seperti keinginan memiliki rumah , keinginan memiliki kendaraan, kebutuhan dana pernikahan,traveling dan shopping. Oleh karena itu, wajar kalau kalangan usia ini perlu mulai mengatur keuangannya dan mulai berinvestasi dengan menyisihkan dana untuk investasi sejak masih muda meskipun penghasilan yang rekan-rekan terima saat ini belum terlalu besar.

Mengapa perlu berinvestasi sejak dini ? dengan memulai menginvestasikan penghasilan sejak dini maka rekan-rekan memiliki peluang dimana dana rekan-rekan yang telah di investasikan akan tumbuh pesat sehingga dapat mengalahkan inflasi dalam jangka panjang.
Selain itu karena dengan kita memulai berinvestasi sejak usia muda, rekan-rekan memiliki kelebihan dimana rekan-rekan masih memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan uang dan mengembangkan dana investasi tersebut menjadi lebih besar dengan ditempatkan kedalam instrumen-instrumen investasi saat ini yang telah tersedia baik itu dalam bentuk reksadana, saham, ataupun emas.

Namun, ada kalanya anak muda galau disaat akan memutuskan hendak berinvestasi di reksadana,saham atau emas dikarenakan tidak memiliki rekomendasi yang cukup untuk menjelaskan hal tersbeut dan pada akhirnya karena kelamaan galau, tidak jadi berinvestasi. Sehingga penghasilan yang seharusnya sudah mulai disisihkan untuk kebutuhan hari depan, akhirnya habis tak berbekas sekadar untuk konsumsi semata.

Penulis: Arief Tri Setiaji

Sumber: http://akucintakeuangansyariah.com

  • 13 Aug 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Uzbekistan mulai mempertimbangkan keuangan syariah. Negara ini berencana mengatur regulasi dan lembaga keuangan syariah untuk mengembangkan sektor perbankan.

Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev berharap bisa mengubah perekonomian nergaranya sekaligus ikut menikmati pasar keuangan syariah global.

Dilansir dari Gulf Times, Kamis, 2 Agustus 2018, Uzbekistan telah meliberalisasi peraturan valuta asing dan melonggarkan peraturan bagi bank Kazakhstan yang ingin mendirikan anak usaha di Uzbekistan. Pembentukan lembaga ini diumumkan di situs web pemerintah. Ini akan memungkinkan produk keuanga syariah, seperti sukuk dan asuransi syariah, masuk ke pasar Uzbekistan.

“ Ini diharapkan bisa mendorong peluncuran sistemik industri keuangan syariah di Uzbekistan,” kata penasihat untuk Menteri Investasi dan Pembangunkan Kazakhstan, Yerlan Baidaulet.

Baidaulet mengatakan pendekatan Uzbektistan mungkin lebih berhasil. Pendekatan ini bisa menciptakan koordinasi di semua instansi pemerintah, termasuk Kementerian Keuangan dan otoritas pajak. “ Amandemen baru ini sedang dipelajari secara menyeluruh oleh pemain pasar luar,” kata dia.

Sekadar informasi, Uzbekistan merupakan salah satu negara pecahan Soviet. Di Asia Tengah, negara ini paling padat penduduknya dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Regulasi keuangan syariah juga turut mendapatkan bantuan dari Islamic Development Bank (IDB) yang berbasis di Arab Saudi.

Bagi Uzbekistan, keuangan syariah menjadi cara baru untuk menarik investasi dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Keuangan ini juga bisa mendorong inklusi keuangan di pasar konsumen yang belum berkembang dan sektor perbankan yang didominasi oleh pemberi pinjaman negara.

Ada beberapa produk keuangan syariah yang ditawarkan oleh pemberi pinjaman Uzbekistan. Regulasi keuangan syariah yang baru ini akan membuat produk keuangan menjadi lebih murah dan membuka pintu untuk produk keuangan syariah yang baru.

Sumber: Dream.co.id

  • 13 Jul 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Laman-laman yang memuat hedonic treadmill (Michael Eysenck,1991) akan mengupas tentang hubungan antara uang dan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga merupakan elemen krusial dalam kehidupan.

Yodhia Antariksa (2014) selanjutnya menjelajahi hasil studi saintifik yang mengulik tentang relasi kedua hal tersebut. Sejatinya, studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal dilakukan oleh Daniel Kahneman, seorang pakar financial psychology yang juga pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2002. 

Dalam risetnya, Kahneman menemukan fakta yang dikenal dengan istilah income threshold. Income threshold adalah ambang batas pendapatan yang akan menentukan apakah uang masih berdampak terhadap kebahagiaan seseorang atau tidak. 

Dalam laporan penelitian itu disebutkan, angka batas pendapatan itu adalah 6.000 dolar AS per bulan. Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka 6.000 dolar AS itu setara dengan angka Rp 15-20 juta perbulan jika diubah dalam konteks Indonesia.  

Nah, sebelum pendapatan menembus angka 6.000 dolar AS perbulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan seseorang. Namun, begitu pendapatan  melampaui 6.000 dolar AS, maka peran uang dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap. Dalam konteks ini, benar jika ada yang menyebutkan bahwa semakin Anda kaya, belum tentu semakin bahagia.

Mengapa semakin tinggi pendapatan seseorang, ternyata semakin menurunkan peranan uang dalam membentuk kebahagiaan? Jawabannya kemudian dikenal dengan hedonic treadmill itu. Ilustrasinya, jika gaji Anda Rp 5 juta, semuanya terkonsumsi habis. Saat gaji Anda naik menjadi 25 juta, ternyata semuanya habis juga. 

Ekspektasi gaya hidup Anda ternyata juga akan ikut naik sejalan dengan kenaikan penghasilan Anda. Saat pendapatan Rp 10 juta per bulan cukup naik City Car. Saat pendapatan menjadi Rp 50 juta per bulan merasa perlu naik sedan mewah. Itulah mengapa kebahagiaan seseorang itu bisa stagnan, meskipun pendapatan makin tinggi. 

Jadi, apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Agar lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti? Di sinilah letak relevansi untuk memraktekkan gaya hidup yang bersahaja, sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Prinsip hedonic treadmill adalah more is better. Makin banyak materi yang Anda miliki makin bagus. Makin banyak properti dan mobil yang Anda beli, makin kaya.  Gaya hidup bersahaja punya prinsip yang berkebalikan: less is more, terasa keindahan dunia ini jika kita hidup sederhana. Kebahagiaan hakiki bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada seberapa besar rasa syukur kita dalam menerima apapun materi atau harta yang ada. Rasa syukur melahirkan rasa berkecukupan (qona’ah). 

Nah, pemahaman ini seharusnya tidak sekadar dimengerti oleh para nasabah bank syariah. Justru para pegawai bank syariah harus memahami kapan si nasabah atau calon nasabah sudah masuk ke dalam jebakan hedonic treadmill ini. Fenomena masih besarnya pembiayaan bermasalah pada bank syariah (masih bertengger pada 4,16 persen, Desember 2016) bisa dikontribusi oleh pembiayaan konsumsi yang dikucurkan oleh bank syariah secara tidak bijaksana. 

Nasabah dipacu dan ditawari beragam pembiayaan (konsumtif) yang justru menjauhkan dirinya dari sikap Islami yang produktif. Dan produktivitas selalu berlawanan jalur dengan semangat para pengejar gaya hidup konsumtif.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). (QS. At-Takaatsur: 1-3).

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

 

  • 21 May 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Bukan rumah yang bernuansa Islami, bukan juga rumah yang dikhususkan bagi orang beragama Islam. Tapi, hunian atau properti syariah merupakan istilah yang digunakan untuk metode transaksi kepemilikan rumah secara syar'i, atau menerapkan nilai-nilai keislaman yang ditawarkan kepada calon pembeli properti. Baik Islam maupun, di luar Islam.

Terdapat beberapa gagasan yang diterapkan dalam metode ini, seperti tanpa riba, tanpa sita, tanpa denda, tanpa akad yang bermasalah, dan tanpa bank.

Dikutip dari berbagai sumber, dalam konsep properti syariah, pengembang tidak mengajak pihak perbankan untuk terlibat dalam akad jual beli. Akad yang terjadi hanya antara pembeli dan pengembang.

Opsi harga ada cash dan kredit, itu pun sudah disampaikan nominalnya sebelum akad dan tidak akan berubah walaupun suku bunga naik turun. Jadi, pilihan harga tergantung pembeli yang menentukan.

Dalam metode syariah juga, tidak dikenakan denda jika terdapat keterlambatan pembayaran cicilan. Pembeli hanya akan dikenakan surat peringatan sebagai pengingat komitmen bayar hutang, atau resechedule pembayaran jika pembeli tidak bisa menepati cicilan di tanggal tertentu.

Sumber: infonitas.com

  • 18 May 2017

  • 0 Comments

  • Artikel

Dalam menjalani kehidupan pasti ada saja risikonya. Begitu pula ketika kita berinvestasi di produk keuangan syariah. Meski produk tersebut sesuai prinsip syariah, kamu perlu ingat bukan berarti produk keuangan syariah bebas dari risiko, ya. Namanya juga produk keuangan pasti ada saja risiko yang menyertainya.

Sebagaimana produk investasi syariah lainnya, instrumen sukuk juga tidak terlepas kemungkinan akan memiliki berbagai risiko investasi. Oleh karena itu, sebelum berinvestasi di sukuk sebaiknya kamu juga sudah harus memahami apa saja berbagai risiko investasi di sukuk.

Mengetahui berbagai risiko pada instrumen keuangan syariah merupakan salah satu hal penting agar kamu dapat menyiapkan langkah antisipatif ketika risiko investasi di sukuk terjadi. Lalu, apa saja risiko-risiko investasi di sukuk yang perlu menjadi perhatian investor?

1. Risiko Pasar

Risiko pasar terjadi karena adanya pergerakan pasar secara menyeluruh. Pada instrumen sukuk, risiko pasar ini dapat berupa risiko terhadap tingkat suku bunga di pasar sekunder sukuk dan risiko nilai tukar mata uang asing (bila sukuk diterbitkan dalam denominasi selain rupiah).

Risiko tingkat suku bunga terjadi karena harga sukuk di pasar sekunder dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang berlaku. Apabila suku bunga naik, maka harga sukuk di pasar sekunder akan turun, smeentara jika suku bunga turun, maka harga sukuk di pasar sekunder akan naik.

Sementara, risiko nilai tukar mata uang asing akan terjadi pada investasi di sukuk yang diterbitkan dalam denominasi mata uang selain rupiah karena akan tergantung pada fluktuasi nilai tukar yang terjadi di pasar. Apabila terjadi penurunan nilai tukar/depresiasi terhadap mata uang yang menjadi denominasi sukuk, maka akan terjadi pula penurunan nilai investasi kamu.

 

2. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas merupakan risiko yang timbul, khususnya untuk sukuk yang diperjualbelikan di pasar sekunder, diakibatkan oleh pasar sekunder yang belum likuid dan belum terbentuk dengan baik. Pasar yang tidak likuid dapat mengakibatkan investor kesulitan menjual sukuk dengan nilai yang wajar. Dengan demikian, investor dapat mengalami kesulitan mendapatkan dana untuk kepentingan likuiditas dalam waktu yang cepat.

 

3. Risiko Operasional

Risiko operasional bisa timbul dalam kegiatan bisnis sebagai akibat dari pengelolaan yang tidak tepat atau karena faktor eksternal. Risiko ini bisa berupa risiko kegagalan pembayaran oleh penerbit sukuk, risiko pembayaran kupon dan risiko yang terkait dengan aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk.

Risiko kegagalan pembayaran (default risk) terjadi ketika penerbit sukuk tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar nilai pokok sukuk. Untuk menghindari risiko ini, investor hendaknya mencari tahu terlebih dulu kualitas rating dari penerbit sukuk yang biasanya dikeluarkan oleh lembaga rating. Peringkat penerbit sukuk ini menjadi acuan untuk mengetahui kemampuan keuangan penerbit sukuk. Semakin tinggi rating, maka risiko gagal bayar juga semakin kecil.

Sementara, risiko pembayaran kupon juga bisa terjadi, ketika penerbit sukuk tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran kupon kepada investor pada waktunya. Di sisi lain, aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk (underlying asset) juga tak terlepas dari berbagai macam risiko.

Risiko aset terjadi karena kegagalan mentransfer aset dalam jumlah dan waktu yang telah disepakati. Aset bisa saja rusak atau hilang karena faktor human error, bencana alam, maupun kebakaran, baik sebagian maupun keseluruhan. Risiko terhadap aset juga bisa terjadi pada nilai asetnya disebabkan harga pasar yang berubah. Oleh karena itu, penerbit sukuk berkewajiban memelihara aset dan menjamin bahwa underlying asset selalu dalam kondisi baik dengan jumlah yang mencukupi.

 

4. Risiko Hukum

Dalam penerapan konsep-konsep syariah, seperti penyusunan struktur sukuk dan penggunaan underlying asset, terdapat kemungkinan belum terakomodasi dalam ketentuan hukum yang berlaku, sehingga suatu struktur tidak dapat diaplikasikan karena tidak selaras dengan peraturan tersebut.

 

5. Risiko Tidak Sesuai dengan Syariah

Risiko ketidaksesuaian syariah terjadi apabila sukuk yang diterbitkan tidak mengikuti kaidah atau prinsip-prinsip syariah yang telah ditentukan dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Kesesuaian dengan syariah dapat mencakup pada struktur sukuk yang digunakan, dokumen hukum penerbitan sukuk, underlying asset yang digunakan, serta penggunaan dana hasil penerbitan sukuk (proceeds). Risiko dalam bentuk ini juga bisa terjadi apabila ada perbedaan antara pemahaman dan penerapan akad syariah pada penerbitan sukuk.

Penulis:  Yogie Respati

sumber: http://akucintakeuangansyariah.com

  • 18 May 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Soekro Tratmono mengatakan, tahun 2015 komposisi keuangan syariah global adalah sebesar 2 triliun dolar Amerika atau setara dengan dua puluh enam ribu triliun rupiah. Tahun 2021, aset syariah global akan mencapai 3,4 dolar Amerika.

Sementara itu, aset syariah Indonesia mencapai angka delapan ratus sembilan puluh tujuh triliun yang tersebar di perbankan syariah, pasar modal syariah, pembiayaan, asuransi, dan lainnya.
“Per Februari tahun 2016 aset syariah Indonesia adalah 897 triliun,” kata Soekro saat menyampaikan pidato pada seminar nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah dengan tema Tantangan dan Peluang Pasar Keuangan Syariah di Indonesia di Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ciputat, Rabu (17/5).

Ia menyampaikan, Indonesia masuk dalam jajaran sepuluh besar peringkat ekonomi Islam. “Tahun 2015 dan 2016 Indonesia tetap menduduki peringkat sepuluh. Presentasenya jauh dengan Malaysia yang berada di urutan pertama,” urainya.

Namun demikian, ia menyatakan, ada tiga tantangan yang dihadapi dan dapat menghambat laju perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Pertama, kapasitas kelembagaan yang belum efektif dan efisien.

Kedua, keterbatasan akses dan produk ekonomi syariah ke tangan-tangan konsumen. Yang terakhir, pasar industri syariah di Indonesia yang masih kecil.Menurutnya, para pelaku bidang ekonomi syariah seharusnya memberikan perhatian yang lebih terhadap tiga kendala tersebut di atas.

Secara statistik, industri keuangan syariah Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang signifikan yaitu 19,94% pada tahun 2015 dan meningkat menjadi 29,65% selama tahun 2016. Khusus perbankkan, tahun 2016 meningkat 20,3% sehingga share total aset perbankkan syariah terhadap perbankkan nasional mencapai 5,33%.

Sumber: www.nu.or.id

  • 13 May 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Maraknya proyek infrastruktur yang menjadi program prioritas pemerintah menjadi salah satu target yang bisa digarap industri keuangan syariah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong lembaga keuangan syariah untuk meningkatkan kapasitasnya agar bisa turut serta dalam menggarap proyek-proyek infrastruktur.

 

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad mengatakan, industri keuangan syariah perlu meningkatkan kapasitasnya. "Tidak hanya yang kecil, tetapi juga membiayai yang besar," kata saat membuka Keuangan Syariah Fair 2017 di Semarang, Jumat (12/5).
Melihat laju perkembangan, industri keuangan syariah menurutnya akan mampu berkembang secara berkelanjutan. Hal tersebut didasarkan atas semakin penting perannya bagi perekonomian nasional. "Tidak hanya memenuhi permintaan masyarakat terhadap produk dan layanan industri keuangan saja, tetapi juga memenuhi kebutuhan pembangunan nasional," katanya.
Labih lanjut Muliaman juga meminta industri keuangan syariah terus melakukan penetrasi pasar agar semakin banyak masyarakat yang memahami dan menggunakan jasa lembaga keuangan tersebut. Menurutnya komitmen pemerintah untuk mendorong perluasan jangkauan industri keuangan syariah di kalangan masyarakat sangat luar biasa. 
Muliaman berharap industri keuangan syariah ini semakin inklusif atau terbuka bagi siapa saja. OJK mencatat total aset keuangan syariah di Indonesia hingga saat ini tercatat telah mencapai Rp897,1 Triliun. Keuangan syariah sendiri telah memiliki pangsa pasar sebesar 5,18 %. 
Berkaitan dengan acara Keuangan Syariah Fair 2017, sebanyak 40 pelaku industri jasa keuangan syariah yang terdiri atas lembaga keuangan bank dan non-bank turut menyemarakkan kegiatan tersebut. Muliaman mengharapkan kegiatan itu bisa menjadi ajang bagi masyarakat untuk mencari informasi sekaligus formulasi tentang industri keuangan syariah. 
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono mengapresiasi digelarnya kegiatan tersebut. Menurut Sri Puryono, Keuangan Syariah Fair diharapkan bisa mengedukasi masyarakat. Meski demikian, masih terdapat permasalahan yang dihadapi untuk mengembangkan industri keuangan itu. 
Selain kurangnya pengetahuan masyarakat, kecilnya pangsa pasar dan minimnya sumber daya manusia juga menjadi tantangan ke depan. Selain sosialisasi, mendorong determinasi yang lebih intensif untuk mengenalkan industri keuangan syariah. "Sarana pendukung memadai, tapi kalau sumber daya manusianya kurang tentunya akan mengurangi kepercayaan masyarakat," katanya.

Sumber: Sindonews.com

  • 7 May 2017

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum (SEF UG) berpatisipasi kembali dalam ajang kompetisi Temu Ilmiah Nasional (TEMILNAS) XVI yang diselenggarakan oleh ForSEBI (Forum Studi Ekonomi Bisnis Islam) UIN Sunan Kalijaga berkerjasama dengan FoSSEI (Forum Studi Ekonomi Islam) Nasional, berlangsung pada 26 – 29 April 2017 bertempat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dalam kompetisi ini, SEF UG mengirimkan 3 tim delegasi olimpiade, yaitu Tim 1 terdiri dari: Rizky Akbar (Akuntansi, 2014), Iren Karina (Akuntansi, 2013), dan Iin Tri Mulya Ningsih (Akuntansi, 2013). Sedangkan Tim 2 terdiri dari: Lisna Aprilianti (Akuntansi, 2014), Fauziah (Akuntansi, 2013), dan Eka Purwati (Akuntansi, 2013). Kemudian Tim 3 terdiri dari: Rahmat Ramdhani (Akuntansi, 2015), Dewi Novitasari (Manajemen, 2013), dan Inggritia Safitri M. (Akuntansi, 2013). Selain itu, SEF UG mengirimkan 4 delegasi simposium, yaitu Tim 1 terdiri  dari: Windriyani (Akuntansi, 2015), Fenton Martin (Teknik Informatika, 2014), dan Annisa Lestari (Akuntansi, 2013). Sedangkan Tim 2 terdiri dari: Nabila Deerama (Akuntansi, 2015), Dwi Rahayu (Akuntansi, 2015), dan Muhammad Hamdy Nugroho (Akuntansi, 2014). Kemudian Tim 3 terdiri dari: Dian Rosela (Akuntansi, 2014), Cinthya Ayunda (Akuntansi, 2014), Nopi Duwi Hariyanti (Akuntansi, 2013). Kemudian Tim 4 terdiri dari: Nuke Winandha (Manajemen, 2014), Fitra Amelia (Akuntansi, 2013), dan Hilmi Fabriansyah (Akuntansi, 2013).

Foto Bersama Delegasi SEF UG Tim Olimpiade dan Simposium

TEMILNAS merupakan ajang kompetisi nasional yang setiap tahunnya mengundang seluruh mahasiswa dengan Kelompok Studi Ekonomi Syariah dari berbagai Universitas di Indonesia dan tahun ini sudah memasuki tahun ke 16. TEMILNAS XVI mengangkat tema “Optimizing Indonesia’s Potential towards the World Halal Lifestyle Center”. Rangkaian acara terdiri dari: Seminar Internasional, Olimpiade Ekonomi Islam, Simposium, Business Challenge, Diskusi Nasional, Gathering Night, dan CEO Talk.

Hari Pertama, dimulai dengan pembukaan acara oleh rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, dan dilanjutkan dengan Seminar Internasional dengan tema “Optimizing Market Opportunity of Global Halal Industry” oleh Prof. Irfan Syauqi Beik (Ketua Harian Ikatan Ahli Ekonomi Islam), Prof. Irwandi Jaswir (Koordinator Riset Halal Industry Research Center IIUM, Malaysia), dan Tentra Andriyani (Representatif Asosiasi Halal Lifestyle) sebagai pembicara. Pertumbuhan Industri Halal di Indonesia sangat berpeluang besar mengingat populasi Muslim terbesar dunia adalah Indonesia sehingga sudah mempunyai pasar yang menjajikan. Untuk memperkuat perkembangan Industri Halal maka diperlukan regulasi yang tepat, penawaran (supply) yang lebih luas, serta massive public campaign dan pendidikan sebagai peningkatan kesadaran masyarakat akan produk halal. Masalah yang dihadapi saat ini adalah sertifikasi halal dimana biaya sertifikasi yang besar menjadi keluhan bagi pada produsen untuk menyertakan label halal pada produknya terutama pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sehingga diperlukan kebijakan yang strategis dan inovatif seperti diberlakukan UU JPH (Undang-Undang Jaminan Produk Halal) dan memperkuat dakwah Halal Lifestyle sehingga Indonesia mampu menaikkan level peringkatnya pada Global Halal Industry.

Kemudian, dilanjutkan dengan sesi penyisihan Olimpiade Ekonomi Islam bertempat di Gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga, yaitu mengerjakan soal secara individu yang nantinya nilai akan diakumulasikan dalam Tim. Pada tahap ini, Tim 2 SEF UG berhasil meraih 14 besar dari 114 Tim yang ikut berkompetisi. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi final yaitu study case untuk penetuan juara dari 10 Tim Finalis.

Hari Kedua, dimulai dengan CEO Talk dengan tema “Membangun Generasi Kompetisi Generasi Muda” oleh Dr. Anggito Abimanyu (Chief Economist BRI) dan Agung Nugraha Susanto, SH. (CEO Simply Group) sebagai pembicara. Ciri generasi muda Islami saat ini, yaitu Sholeh dan sholeha, terdidik dan kreatif, berani dan selalu ingin tahu, dinamis dan fleksibel, orientasi global, namun sulit dinasehati dan dikritik. Saat ini pula momentum kebangkitan bagi Umat Islam dimana pemimpin generasi muda harus mampu berkolaborasi, mempengaruhi, dan memikirkan strategi untuk perbaikan Negara. Setelah acara selesai, dilanjutkan dengan simposium dimana para delegasi akan mempresentasikan papernya kepada dewan juri. Simposium dibagi kedalam 5 komisi, yaitu Makanan, Pendidikan dan Keuangan, Pariwisata dan Budaya, Fashion dan Kosmetik, Media dan Medis.

Tim 1 SEF UG dengan paper berjudul: “Pemenuhan Konseptualisasi Islamic Branding dan Penerapan Consumer Based Brand Equity (CBBE) pada Industri Kosmetik Halal Indonesia melalui Pembentukan Halal Cosmetic Community”, Tim 3 SEF UG dengan paper berjudul: “Indonesia Halal Lifestyle Center di Dunia Tahun 2020 pada Subsektor Fashion Muslim melalui Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah”, dan Tim 4 SEF UG dengan paper berjudul: “Optimalisasi Fashion Muslim dalam Negeri Melalui Model Quadruple Helix menuju Indonesia sebagai Pusat Fesyen Dunia Tahun 2020” masuk dalam komisi 4 yaitu Fashion dan Kosmetik, sedangkan Tim 2 SEF UG dengan paper berjudul: “Optimalisasi Pelayanan Kesehatan Masyarakat Melalui Implementasi Sukuk Linked Wakaf dalam Rumah Sakit Syariah” masuk dalam komisi 5 Media dan Medis.

Setelah presentasi paper masing-masing Tim pada simposium selesai, dilanjutkan dengan diskusi nasional pada masing-masing komisi yang dihadiri oleh seluruh peserta TEMILNAS XVI sampai dengan hari ketiga. Pada diskusi ini, membahas terkait permasalahan Industri Halal pada setiap komisi yang kemudian masing-masing peserta dapat memberikan pendapatnya terkait solusi yang dapat direkomendasikan pada pemerintah nantinya serta membahas paper yang telah dipresentasikan sebelumnya. Acara ini diakhiri dengan Sidang Pleno dengan mengkukuhkan beberapa poin solusi yang akan direkomendasikan dari hasil diskusi tersebut dan ditandatangani oleh Presidium Nasional FoSSEI dan seluruh Ketua KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) se-Nasional.

Acara diakhiri dengan Gathering Night dan pengumuman pemenang kompetisi TEMILNAS XVI yang berlangsung di Conventional Hall UIN Sunan Kalijaga. SEF UG berhasil meraih penghargaan Best Paper pada komisi 5 yaitu Media dan Medis yang diwakili oleh Tim 2 SEF UG yang terdiri dari Nabila Deerama (Akuntansi, 2015), Dwi Rahayu (Akuntansi, 2015), dan Muhammad Hamdy Nugroho (Akuntansi, 2014). Sedangkan penghargaan lainnya yaitu Juara 1 Olimpiade oleh Universitas Brawijaya, Juara 2 Olimpiade oleh STEI Tazkia, dan Juara 3 Olimpiade oleh STEI SEBI. Sedangkan Best Paper komisi 1 oleh Universitas Muhamaddiyah Yogyakarta, Komisi 2: Univeristas Sumatera Utara, Komisi 3: Universitas Riau, dan komisi 4: Universitas Gadjah Mada.

Laporan: Annisa Lestari