Publikasi

  • 13 Aug 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Uzbekistan mulai mempertimbangkan keuangan syariah. Negara ini berencana mengatur regulasi dan lembaga keuangan syariah untuk mengembangkan sektor perbankan.

Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev berharap bisa mengubah perekonomian nergaranya sekaligus ikut menikmati pasar keuangan syariah global.

Dilansir dari Gulf Times, Kamis, 2 Agustus 2018, Uzbekistan telah meliberalisasi peraturan valuta asing dan melonggarkan peraturan bagi bank Kazakhstan yang ingin mendirikan anak usaha di Uzbekistan. Pembentukan lembaga ini diumumkan di situs web pemerintah. Ini akan memungkinkan produk keuanga syariah, seperti sukuk dan asuransi syariah, masuk ke pasar Uzbekistan.

“ Ini diharapkan bisa mendorong peluncuran sistemik industri keuangan syariah di Uzbekistan,” kata penasihat untuk Menteri Investasi dan Pembangunkan Kazakhstan, Yerlan Baidaulet.

Baidaulet mengatakan pendekatan Uzbektistan mungkin lebih berhasil. Pendekatan ini bisa menciptakan koordinasi di semua instansi pemerintah, termasuk Kementerian Keuangan dan otoritas pajak. “ Amandemen baru ini sedang dipelajari secara menyeluruh oleh pemain pasar luar,” kata dia.

Sekadar informasi, Uzbekistan merupakan salah satu negara pecahan Soviet. Di Asia Tengah, negara ini paling padat penduduknya dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Regulasi keuangan syariah juga turut mendapatkan bantuan dari Islamic Development Bank (IDB) yang berbasis di Arab Saudi.

Bagi Uzbekistan, keuangan syariah menjadi cara baru untuk menarik investasi dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Keuangan ini juga bisa mendorong inklusi keuangan di pasar konsumen yang belum berkembang dan sektor perbankan yang didominasi oleh pemberi pinjaman negara.

Ada beberapa produk keuangan syariah yang ditawarkan oleh pemberi pinjaman Uzbekistan. Regulasi keuangan syariah yang baru ini akan membuat produk keuangan menjadi lebih murah dan membuka pintu untuk produk keuangan syariah yang baru.

Sumber: Dream.co.id

  • 13 May 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Maraknya proyek infrastruktur yang menjadi program prioritas pemerintah menjadi salah satu target yang bisa digarap industri keuangan syariah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong lembaga keuangan syariah untuk meningkatkan kapasitasnya agar bisa turut serta dalam menggarap proyek-proyek infrastruktur.

 

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad mengatakan, industri keuangan syariah perlu meningkatkan kapasitasnya. "Tidak hanya yang kecil, tetapi juga membiayai yang besar," kata saat membuka Keuangan Syariah Fair 2017 di Semarang, Jumat (12/5).
Melihat laju perkembangan, industri keuangan syariah menurutnya akan mampu berkembang secara berkelanjutan. Hal tersebut didasarkan atas semakin penting perannya bagi perekonomian nasional. "Tidak hanya memenuhi permintaan masyarakat terhadap produk dan layanan industri keuangan saja, tetapi juga memenuhi kebutuhan pembangunan nasional," katanya.
Labih lanjut Muliaman juga meminta industri keuangan syariah terus melakukan penetrasi pasar agar semakin banyak masyarakat yang memahami dan menggunakan jasa lembaga keuangan tersebut. Menurutnya komitmen pemerintah untuk mendorong perluasan jangkauan industri keuangan syariah di kalangan masyarakat sangat luar biasa. 
Muliaman berharap industri keuangan syariah ini semakin inklusif atau terbuka bagi siapa saja. OJK mencatat total aset keuangan syariah di Indonesia hingga saat ini tercatat telah mencapai Rp897,1 Triliun. Keuangan syariah sendiri telah memiliki pangsa pasar sebesar 5,18 %. 
Berkaitan dengan acara Keuangan Syariah Fair 2017, sebanyak 40 pelaku industri jasa keuangan syariah yang terdiri atas lembaga keuangan bank dan non-bank turut menyemarakkan kegiatan tersebut. Muliaman mengharapkan kegiatan itu bisa menjadi ajang bagi masyarakat untuk mencari informasi sekaligus formulasi tentang industri keuangan syariah. 
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono mengapresiasi digelarnya kegiatan tersebut. Menurut Sri Puryono, Keuangan Syariah Fair diharapkan bisa mengedukasi masyarakat. Meski demikian, masih terdapat permasalahan yang dihadapi untuk mengembangkan industri keuangan itu. 
Selain kurangnya pengetahuan masyarakat, kecilnya pangsa pasar dan minimnya sumber daya manusia juga menjadi tantangan ke depan. Selain sosialisasi, mendorong determinasi yang lebih intensif untuk mengenalkan industri keuangan syariah. "Sarana pendukung memadai, tapi kalau sumber daya manusianya kurang tentunya akan mengurangi kepercayaan masyarakat," katanya.

Sumber: Sindonews.com

  • 7 Sep 2016

  • 0 Comments

  • Internasional

Keuangan syariah akan mendapatkan tempat di Rusia. Pemerintah Rusia melihat potensi yang cukup baik dari keuangan syariah untuk memperbaiki perekonomiannya. Dilansir dari Gulf Times, Rabu 7 September 2016, selain untuk memfasilitasi 20 juta penduduk muslimnya, Negeri Beruang Merah itu mulai melirik keuangan syariah karena industri ini diyaini bisa memulihkan perekonomian pasca dikenakannya sanksi dari Barat.

Keuangan syariah mulai mendapat sorotan ketika ada tiga bank yang bersiap untuk merilis produk keuangan syariah, yaitu Vnesheconombank, Sberbank, dan Taftondbank. Ketiganya ini telah meneken kerja sama dengan Islamic Development Bank untuk meluncurkan produk keuangan syariah.

Misalnya, Sberbank, bank terbesar di Rusia, membidik pendapatan sebesar US$200 juta-US$300 juta (Rp2,61 triliun-Rp3,92 triliun) dari keuangan syariah. Lain itu, ada juga Vnesheconombank, bank pembiayaan pembangunan terbesar di Rusia, telah membiayai beberapa proyek industri halal di Rusia dan ingin meningkatkan pendanaan lewat instrumen pembiayaan keuangan syariah.

Sementara itu, Vneshemeconombank berinisitiatif untuk meningkatkan ekspor ke negara Muslim. CEO Vneshemeconombank, Sergei Gorkov, mengatakan Rusia telah memasok produknya kepada negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan nilai ekspornya mencapai US$3 miliar. Angka ini diyakini bisa meningkat dua kali lipat dengan mudah.

“ Kami bekerja dengan intstrumen keuangan syariah untuk mendukung transaksi ekspor dan impor serta membiayai produk halal,” kata Gorkov yang menyebut banknya telah bekerja sama dengan IDB senilai US$100 juta (Rp1,3 triliun) itu.

Tiga bank ini akan turut serta dalam konferensi perbankan syariah di Bahrain. Selain untuk membangun jaringan dalam keuangan syariah internasional, mereka juga ingin membuat sebuah peta jalan keuangan syariah di Rusia dan negara pecahan Soviet (Commonwealth of Independent States/CIS).

“ Saat ini, sudah ada kemauan politik untuk keuangan syariah dibangun di Rusia. Kini, masyarakat sadar perbankan syariah bisa menjadi sebuah peluang,” kata Executive Director Divisi Corporate and Investment Banking Sberbank, Maxim Osintsev.

Meskipun demikian, progres keuangan syariah di Rusia bergantung kepada kesiapan regulator untuk membuat payung hukum kerangka kerja keuangan syariah, membuat biaya efektif lewat keringanan pajak, dan memfasilitasi pendanaan bagi industri. Anggota parlemen Rusia melihat masalah utamanya adalah hukum Rusia melarang bank terlibat dalam kegiatan komersial di luar kegiatan perbankan, seperti jual beli aset tertentu.

Untuk tahap awal, kerangka hukum keuangan syariah di Rusia memungkinkan hanya pada aset yang terbatas, seperti logam mulia. Untuk membuat regulasi yang lebih luas yang memungkinkan memfasilitasi keuangan syariah secara penuh di Rusia, tentu memerlukan waktu yang lama.

Sumber : dream.co.id