Publikasi

  • 9 Dec 2019

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 30 November 2019 menyelenggarakan 2 Seminar Nasional dengan tema Changing Paradigms and Practices through Islamic Economic Worldview dan Islamic Economic Instrument: The Right Way to Improve the Prosperous of Humanity dari pukul 08.30-16.00 WIB di Auditorium J612 Universitas Gunadarma, Cikunir.

Seminar Nasional merupakan rangkaian kegiatan dari Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) yang dilaksanakan setahun sekali di Kampus Gunadarma Kalimalang.  Pada sesi pertama acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Ahmad Maulana, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Gafar Ali Haji (Arab), Wafa Luthfiya Azzahra (Inggris), Fitri Wulandari (Jerman) dan Abdurrahman Wahid (Indonesia).

Sambutan pertama dan pembukaan disampaikan oleh Rezaldi Dwinanta Tama  selaku Ketua Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) 2019/2020. Seminar Nasional 1 dipandu oleh seorang moderator yaitu Bapak Aulia Nugraha, Lc., M.E. selaku Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Selanjutnya masuk kepada sesi pemateri yang disampaikan oleh para pembicara yang ahli dibidang Ekonomi Syariah. Pembicara pertama ialah Bapak Dr. Anwar Abbas, M.Ag. selaku Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa pada saat ini sistem ekonomi di Indonesia tidak hanya sistem ekonomi sosialisme saja tetapi pada praktiknya sistem ekonomi di Indonesia menerapkan sistem ekonomi liberal dan kapitalisme. Dimana sistem kapitalisme ini membuat orang kaya semakin kaya dan sistem ekonomi ini lebih mengedepakan manusia sebagai individu dan kebebasan pasar. Dari kebebasan pasar ini justru menjadi tempat pertarungan antara individu dan pelaku pasar. Sistem kapitalisme memberikan kebebasan kepada individu untuk memperoleh kekayaan, memilih sektor usaha yang diinginkan dan memilih pekerjaan, dari sini dapat dilihat bahwa individu terdorong untuk kreatif dan inisiatif sehingga terjadinya persaingan yang membuat efektifitas dan efisiensi tinggi. Namun sistem ekonomi kapitalisme ini tidak manusiawi karena tidak membawa Tuhan ke dalam kehidupan ekonomi. Sehingga manusia mencari untung sebesar-besarnya bagi diri dan perusahaan. Sistem ekonomi ini juga semakin parah karena mereka sangat menjunjung tinggi pasar bebas yaitu suatu pasar yang tidak boleh diintervensi oleh pemerintah. Beliau menyampaikan bahwa sistem ekonomi islam merupakan sistem ekonomi yang paling terbaik untuk diterapkan. Sistem ekonomi islam disuruh untuk mencari rezeki tanpa melupakan Tuhan (QS. Al-Jumuah: 10) dan didalam mencari rezeki kita disuruh untuk  fastabiqul khairat (QS. Al-Baqarah: 148). Jika kita mendapatkan rezeki maka wajib mengeluarkan zakat untuk membantu delapan asnaf yang termasuk di dalamnya fakir dan miskin.

Setelah itu masuklah kita pada pembicara kedua yaitu Bapak Dr. Ali Sakti, M.Ec. selaku Analis Senior Bank Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa ekonomi global pada saat ini sudah pada periode kekacauan yang dimulai sejak tahun 1910-1944. Dimensi kekacauan bukan hanya di bidang ekonomi saja tetapi juga dibidang data sosial. Menurut data PMKS angka orang meninggal dunia karena kemiskinan jauh lebih banyak dari pada orang yang berperang. Ini adalah salah satu bukti bahwa gagalnya ekonomi yang ada pada saat ini, sehingga kita haruslah sadar bahwa ekonomi islam solusinya. Ekonomi islam pada saat ini akan mempengaruhi tingkat kepedulian terhadap orang lain. Tujuan ekonomi islam yaitu untuk mempertahankan keimanan seseorang. Selain itu tujuan utama ekonomi islam yaitu untuk mencapai jannah (surga). Didalam ekonomi islam terdapat Filosofi Dasar yang meliputi akidah, akhlak, syariah dan adab.

Pembicara ketiga ialah Bapak Harza Sandityo, S.H. selaku COO & Co-Founder of PT Alami Fintek Sharia. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia dengan mayoritas Muslim ini sangatlah berpotensi untuk mengembangkan financial techonology. Selain itu juga banyak faktor pendukung kemajuan fintech ini untuk dikembangan di Indonesia seperti kuat dan stabilnya GDP di Indonesia, jumlah penduduk muslim terbanyak, dukungan gerakan hijrah dan lembaga syariah lainnya. Hubungan antara  financial technology dengan ekonomi syariah yaitu dengan teknologi yang ada pada saat ini maka ini adalah peluang besar bagi ekonomi syariah untuk membumikan ekonomi islam lebih luas lagi. Karena perkembangan teknologi ini bisa dijangkau dimana saja dan kapan saja.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana sesi 1 terdapat 2 penanya dan sesi 2 terdapat 2 penanya. Dan bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama Ketua SEF dan Ketua Pelaksana.

Selanjutnya, Seminar Nasional 2 dimulai pada pukul 12.30-16.00 WIB. Pada sesi kedua acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Dian Ayu Safitri, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Abdurrafi Rasyid Ridho (Arab), Agiv Shafira Nuralya (Inggris), Muhammad Fajri (Jerman) dan Tri Utami (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan oleh Zaki Ilhaam Muhammad selaku Ketua Sharia Economic Forum 2019/2020. Seminar Nasional 2 dipandu oleh seorang moderator yaitu Ibu Siti Rahayu, S,E., M.M. selaku Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.

Pembicara pertama ialah Bapak Sigit Pramono, Ph.D., C.A., C.P.A. selaku Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Islam SEBI, Depok. Beliau menyampaikan terkait upaya untuk mengentaskan permasalahan ekonomi dengan mengoptimalkan potensi instrumen filantropi islam seperti  zakat dan wakaf. Beberapa upaya yang beliau paparkan dapat dilakukan diantaranya; sosialisasi dan edukasi publik terkait islamic social funds, reaktualisasi regulasi model kelembagaan, meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia dalamm pengelolaan islamic social funds serta membangun secara kokoh ekosistem zakat dan wakaf yang kondusif untuk optimalisasi peran islamic social funds dengan prinsip good governance dan best practices yang efisien dan efektif.

Selanjutnya pembicara kedua disampaikan oleh Bapak Jaja Zakasyi, M.A. selaku Representatif Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI. Beliau menyampaikan bahwa perlunya sosialisasi literasi wakaf di semua elemen masyarakat dengan harapan generasi milenial dan penyuluh agama sudah familiar mengenai materi zakat dan wakaf sehingga bisa lebih mensosialisasikan kepada seluruh kalangan serta dapat meningkatkan pertumbuhan pengumpulan zakat dan wakaf. Selanjutnya, pembinaan kepada  nazhir wakaf (Forum Wakaf Produktif) & LKSPWU yang harapannya tercipta para nazhir wakaf yang profesional, kompeten dan memiliki forum bersama guna meningkatkan pertumbuhan harta benda wakaf dan bisa di manfaatkan bagi mauquf alaih. Terakhir, pengamanan mutasi harta benda wakaf, outputnya adalah memberikan perlindungan harta benda wakaf agar tidak terjadi sengketa dari ahli waris wakif maupun masyarakat.

Pembicara ketiga disampaikan oleh Bapak Dr. Imam Teguh Saptono, M.M. selaku Ketua Global Wakaf Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa terkait peran ZISWAF sebagai pilar ekonomi untuk kejayaan peradaban islam. Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam adalah agama yang dirahmati seluruh alam. Melalui ZISWAF sebagai solusi, perekonomian yang rusak saat ini dapat teratasi. Zakat adalah wajib, jumlah dan waktunya ditentukan, serta penerimanya sudah diterangkan dalam Al-Qur’an (8 asnaf) yang lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Dhururiyah. Infaq dan sodaqoh lebih fleksibel baik dalam waktu, penerima dan dalam jumlah (meskipun terbatas) tetapi masih di koridor dhururiyah dan hajiyyat. Sedangkan wakaf bersifat berkelanjutan, berorientasi jangka panjang dan menyempurnakan (tahsiniyyat) dengan jumlahnya yang signifikan.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya. Bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Acara seminar ini disambut oleh antusias yang luar biasa dari Mahasiswa Gunadarma serta dukungan dari para penggiat Ekonomi islam. Seminar Nasional ini didukung dan disponsori oleh BEM Fakultas Ekonomi (BEM FE) Universitas Gunadarma, Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), Masyarakat Ekonom Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi islam (IAEI), iB, Bank DKI Syariah, BAZNAS, ZIS Indosat, Mandiri Amal Insani dan Dompet Dhuafa.

Laporan: Agiv Shafira Nuralya dan Nadya Salsabila Haqoni

Editor: Putri Yunela Sari