Publikasi

  • 23 Jun 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

“Kapan masa pandemi ini akan berakhir?”, merupakan sebuah pertanyaan yang bahkan para pakar, professor, maupun orang yang ahli dibidang science di dunia ini tidak bisa menjawab secara pasti. Banyak orang yang melakukan spekulasi, prediksi, menghitung dengan algoritma tertentu untuk memastikan bahwa kita benar-benar mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir. Ada yang mengatakan bahwa pandemi ini akan berakhir pada akhir Juli nanti, bahkan ada yang memperkirakan kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun. Dilansir dari laman liputan6.com, juru bicara penanganan Covid-19; Achmad Yurianto, mengatakan bahwa kita harus melaksanakan gaya hidup baru dalam menghadapi virus covid-19. Hal ini akan membuat kita mengalami the new normal; sebuah kehidupan yang tidak akan lagi sama. Dari cara belajar, berbelanja, berinteraksi, bahkan cara sebuah perusahaan menjalankan bisnis.

Dari pernyataan tersebut, kita memiliki 2 pilihan. Yang pertama adalah give up dan yang kedua adalah get up. Pada situasi dan kondisi seperti sekarang ini, tentu kita harus memilih untuk get up, jangan menjadi manusia yang kalah dengan keadaan. Pada masa pandemi ini, ada orang-orang yang mengambil peluang, dan ada pula orang yang tertimbun oleh masalah. Generasi kita adalah generasi yang sangat potensial untuk kemudian get up, yang mana akan menjadi sebuah peluang bagi kita untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan setelah pandemi ini berakhir jika dipersiapkan dari sekarang. Pandemi tidak hanya terjadi pada satu atau dua orang, tetapi semua orang di dunia. Keputusan untuk bangkit berada di tangan kita masing-masing. Memutuskan untuk terus meratapi keadaan atau mulai mencari peluang dan berubah. Masa pandemi ini diibaratkan seperti roda balap F1, tentu didalam sebuah pertandingan speed menjadi suatu alat ukur. Akan tetapi, apabila tiap mobil tidak berhenti sejenak di pit stop, maka akan menyebabkan kerusakan pada mobil nya atau pembalap yang akan kelelahan, dan bisa juga kehabisan bahan bakar. Kehidupan pun demikian, dimana kita saling bersaing dan semua harus serba cepat. Kini Tuhan sedang memberikan kita waktu untuk berhenti sejenak di pit stop, tetapi berhentinya kita tetap harus produktif, seperti mobil yang diisi kembali bahan bakarnya di pit stop, sehingga ketika itu terjadi proses re-charge.

Banyak orang yang beranggapan bahwa produktif sama dengan sibuk. Semakin sibuk seseorang, maka semakin produktif orang tersebut. Padahal, hal tersebut tidaklah sama. Sibuk merupakan suatu kegiatan yang mendominasi waktu seseorang, dan mungkin keadaan tersebut juga menyebabkan ia tidak hanya mengerjakan satu aktivitas. Sedangkan produktif merupakan kemampuan yang sifatnya menghasilkan bahkan dengan jumlah besar dan mendatangkan manfaat. Kesibukan mampu membuat seseorang tidak bisa fokus pada satu pekerjaan atau biasa di sebut multitasking. Dilansir dari shiftindonesia.com, otak manusia hanya mampu fokus pada satu tugas tertentu. Penelitian dari University of Sussex menunjukkan bahwa multitasking dapat menghambat fungsi otak. Penelitian yang dilakukan oleh Stanford University juga menyebutkan bahwa multitasker memiliki tingkat fokus yang lebih rendah daripada orang yang fokus pada satu pekerjaan. 

“Mengapa kita perlu untuk tetap produktif di tengah pandemi?”, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak produktif di tengah wabah seperti sekarang, apalagi dengan alasan gerakan yang terbatas. Sebab jika tidak produktif, tentu kita akan membuang-buang waktu selama dirumah saja, kemudian akan membuat kita tidak bisa melihat kesempatan yang ada dan akan membuat kualitas hidup yang menurun karena kesulitan untuk tumbuh. Dengan produktif, kita bisa menghasilkan sesuatu lebih banyak, seperti kapasitas diri dan belajar. Kemudian kita dapat menangkap peluang. Dan ketika kondisi sudah kembali normal, kita bisa menghadapi perubahan dan kualitas hidup akan meningkat.

“Apa sih yang bisa mempengaruhi seseorang untuk menjadi produktif?”, terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi seseorang, yaitu internal dan eksternal. Contoh pengaruh internal adalah fisik, psikis, bakat, usia, karakter, wawasan, motivasi, keahlian, perasaan, mindset, dan perilaku. Kita adalah pemilik dari faktor-faktor ini, maka kita memiliki pilihan untuk give up atau get up. Sedangkan pengaruh eksternal merupakan hal yang berada di luar kendali kita. Contoh nya adalah lingkungan, pemimpin, bisnis, komunikasi, aturan, politik, keluarga, alam/musibah, dan budaya. Faktor internal yang bisa kita maksimalkan untuk mencapai sebuah goals adalah mindset. Karena mindset merupakan sebuah pondasi bagi setiap manusia. Jika mindset kita sudah benar, tentu akan mempengaruhi perilaku, perasaan, dan wawasan yang kita miliki. Sehingga ketika kita menggunakan mindset tersebut dengan benar, faktor eksternal tersebut tidak akan berpengaruh banyak kepada diri kita. “Maka mindset apa yang perlu saya tanamkan dalam diri agar tetap produktif?”, dilihat dari kondisi saat ini, banyak orang yang belum bertindak bukan karena tidak mengetahui caranya, melainkan tidak mau. Karena sesungguhnya akses di zaman sekarang cukup mudah bagi kita untuk terkoneksi dengan dunia luar meski kita sedang dalam keadaan lockdown. Mereka yang menemukan cara adalah mereka yang didahului oleh mindset yang tepat. Maka, mindset yang diperlukan adalah melihat kondisi saat ini sebagai kondisi normal yang baru. Kemudian fokus untuk menciptakan berbagai kemungkinan di masa depan dan melihat diri sendiri sebagai seorang pemenang. Karena pandemi tidak bisa kita jadikan sebagai hambatan, melainkan sebuah potensi atau kesempatan untuk terus tumbuh dan berkembang.

Penulis: Dian Ayu Safitri

Sumber:

  • 21 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

Perlu diketahui bahwa hanya empat dari sepuluh orang di Asia yang mengadopsi gaya hidup sehat. Data ini bersumber dari salah satu lembaga riset dunia bernama Nielson. Enam orang sisanya yang tidak menerapkan gaya hidup sehat beranggapan bahwa makanan sehat cenderung lebih mahal dan memiliki cita rasa yang tidak begitu enak daripada makanan biasa. Anggapan tersebut pun menginspirasi seorang wanita vegetarian bernama Helga Angelina, seorang Co-Founder restoran makanan sehat bernama Burgreens. Burgreens merupakan salah satu brand yang menginisiasi gaya hidup sehat di Indonesia dengan konsep uniknya yaitu healthy fast food. Selain itu, social enterprise juga menjadi konsep unik lainnya yang diadopsi oleh Burgreens. Social enterprise juga merupakan konsep baru yang belakangan menjadi trend bisnis modern. Tak heran bila Burgreens berhasil meraih penghargaan Forbes 30/30 Asia. Konsep social enterprise ini diterapkan Burgreens dengan cara memberdayakan para petani dan ibu rumah tangga yang tinggal di daerah. Perbedaan mencolok dari konsep bisnis yang diterapkan Burgreens terletak pada tujuan bisnisnya yaitu berorientasi pada kesejahteraan sosial masyarakat khususnya petani serta membumikan pola hidup sehat  melalui perbaikan pola makan.

Burgreens didirikan pada tahun 2013 oleh Max Mandias selaku Founder sekaligus suami dari Co-Founder Burgreens, Helga Angelina. Motivasi terbesar mereka untuk mendirikan restoran makanan sehat ini karena melihat fenomena munculnya penyakit-penyakit baru seperti auto immune. Mereka mendapatkan wawasan baru setelah mengunjungi salah satu acara di Amsterdam, Belanda yang dimana dalam acara tersebut disampaikan fakta bahwa penyakit auto immune berhasil disembuhkan hanya dengan mengganti pola makan menjadi lebih sehat. Dari motivasi tersebut, berdirilah Burgreens dengan taglinenya “Healthy Plant-Based Eatery”. Konsep produknya menggunakan bahan-bahan organik (healthy and sustainable food) yang dibeli langsung dari para petani yang mereka berdayakan. Mereka juga memastikan supply chain yang mereka miliki terjamin kesejahteraannya dengan menerapkan kerjasama inclusive growth dengan para petani, dimana kegagalan dan kesuksesan dari kerjasama ini ditanggung bersama. Saat ini, Burgreens telah bekerjasama dengan 20 komunitas petani dengan jumlah kurang lebih 200 orang petani di Indonesia. Mereka menerapkan kerjasama tersebut karena mempertimbangkan fenomena beberapa tahun ke belakang, jumlah petani di Indonesia kian menurun karena berbagai faktor, salah satunya karena komoditi yang mereka tanam dan hasilkan dihargai dengan harga yang tidak sewajarnya. Hal ini tentunya berdampak pada kesejahteraan petani itu sendiri, yang bisa dikatakan tidak terjamin. Selain itu, Burgreens juga mendukung gerakan zero waste dengan menggunakan ECO packaging untuk produk mereka. Burgreens juga memberdayakan para ibu rumah tangga di salah satu desa yang terletak di Tangerang sebagai production staff, administrasi dan quality control. Bekerjasama dengan Yayasan Usaha Mulia yang membawahi Organic Farm Cipanas, Burgreens membuat berbagai pelatihan serta pembekalan mengenai pertanian untuk para anak petani yang nantinya akan menjadi petani muda. Hal ini merupakan upaya untuk melestarikan petani Indonesia sekaligus agar supply dari bahan makanan organik tetap terjaga atau konsisten.

Konsep bisnis berbasis sosial ini ternyata tidak terlepas dari berbagai tantangan. Helga mengatakan bahwa tiga tahun pertama merupakan tahun terberat bagi bisnis mereka. Tantangan tersebut diantaranya sistem manajemen yang belum berjalan sesuai standar karena masalah pencatatan serta pembukuan, tidak adanya cost salary untuk Founder dan Co-Founder serta sebagian besar alokasi dana untuk capital expenditure bukan working capital (modal kerja) yang digunakan untuk pembelian bahan baku dan lain sebagainya. Namun, dengan berbagai tantangan yang ada, bisnis berbasis social enterprise ini mampu untuk bangkit dan seakan menjadi inspirasi bagi perkembangan bisnis di Indonesia saat ini. Burgreens pun terus mengembangkan sistem manajemen bisnis mereka dengan berusaha menarik para investor untuk bekerja sama mengembangkan bisnis dengan misi sosial ini. Cara yang mereka terapkan dengan mengutamakan kualitas produk dan kualitas layanan agar tercipta branding melalui word of mouth (dari mulut ke mulut). Lalu, Founder dan Co-Founder juga terlibat aktif dalam mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat melalui acara-acara eating movement dengan menjadi pembicara dalam acara tersebut. Menurut Helga, membangun komunitas untuk kemajuan bisnis berbasis social enterprise juga perlu karena pergerakan yang masif akan mendorong munculnya trend baru di masyarakat sehingga bukan tidak mungkin terbentuk norma-norma baru, misalnya dahulu merokok dianggap kegiatan yang keren, namun lambat laun bisa jadi kegiatan merokok banyak ditinggalkan karena norma-norma baru yang terbentuk di masyarakat mengenai pola hidup sehat. Langkah selanjutnya yang diterapkan agar social impact dapat tercapai dengan baik yakni menjaga kepercayaan masyarakat terkait produk bisnis yang kita tekuni, dalam hal ini yaitu makanan sehat. Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni memanfaatkan sosial media untuk sarana berbagi edukasi melalui publikasi terkait dampak sosial yang sudah dilakukan oleh bisnis sosial yang kita jalankan beserta bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.

Menjalani bisnis sosial memang tidak semudah yang dibayangkan, namun tidak mustahil pula untuk dijalankan, dari yang awalnya Burgreens hanya memiliki satu cabang, kini dapat ditemui di berbagai Mall di Jakarta serta terkoneksi dengan ratusan petani di Indonesia sebagai pemasok utama bahan baku organik mereka. Salah satu hal yang berdampak dari sistem bisnis yang dijalankan Burgreens adalah biaya yang dikeluarkan lebih tinggi sekitar 5%-7% dibandingkan bisnis konvensional, namun kepuasan yang didapat tentunya berkali lipat karena tidak hanya menguntungkan tapi juga memberdayakan. Diakhir pembicaraannya pada salah satu platform podcast, Helga Angelina mengatakan bahwa hidup sehat merupakan investasi karena tentunya membayar biaya rumah sakit jauh lebih mahal berkali lipat. Oleh karenanya, mari melangkah bersama untuk mewujudkan Indonesia hidup sehat.

Sumber: Inspigo.id

Penulis: Indah Nur Maulina (Staff Kementerian Media Komunikasi & Informasi)

  • 13 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

Kepemimpinan seharusnya tidak dilihat sebagai fasilitas untuk menguasai, tetapi harus dimaknai sebagai suatu pengorbanan dan amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Kepemimpinan juga bukan merupakan hal kesewenang-wenangan untuk bertindak, tetapi kewenangan untuk melayani dan mengayomi dan berbuat dengan seadil-adilnya. Kepemimpinan adalah sebuah keteladanan dan kepeloporan dalam bertindak. Kepemimpinan semacam ini akan muncul jika dilandasi dengan semangat amanah, keikhlasan dan nilai-nilai keadilan.

Menjadi seorang leader bukan tentang ada berapa banyak orang yang berada disekeliling kita sehingga menimbulkan rasa kesendirian, tapi kesendirian hadir atas dasar pemikiran kita. Kadang yang kita rasakan sebagai pemimpin, banyak hal yang ada di kepala kita, banyak hal yang menjadi challenge dan membuat kita tidak terbuka dengan team. Seperti hal nya mengungkapkan, “apakah benar decision kita?”. Ketika kita tidak bisa menceritakannya ke orang lain dan merasa lonely, hanya saja lonely yang dirasakan bukan hanya tidak bisa bercerita kepada orang lain, tetapi selalu merasa ada yang kurang dan harus berada di tengah-tengah mengikuti trend. Maka diperlukan sebuah partnership untuk menjadi tempat sharing. Tetapi lonely bukan tentang tidak memiliki teman mengobrol, hanya saja tidak bisa menceritakan cerita secara penuh dan cenderung membatasi cerita, tergantung dengan siapa. Hal ini juga disebabkan karena rasa dituntut dan tanggung jawab yang dipikul seseorang, sehingga yang menimbulkan rasa kesendirian bagi seorang leader bisa jadi bukan keadaan, melainkan tuntutan.

Ambisi atau kemauan diri sendiri merupakan suatu challenge bagi seorang leader dan bisa menjadi pemicu stress bagi diri sendiri. Pengetahuan yang kurang, ditinggal oleh partner, pengalaman yang belum banyak, relasi yang masih sedikit, bahkan kesalahan sendiri merupakan tantangan bagi seorang leader. Hal yang perlu diperhatikan adalah kegagalan akan membuat kita belajar. Berkaca dari keterpurukan dan menyiapkan mental untuk segala hal yang akan terjadi di depan merupakan suatu kunci bagi seorang leader untuk bangkit. Selain itu jangan hanya berfokus pada satu hal, melainkan fokus dengan hal lain, agar memiliki cadangan apabila terjadi masalah pada hal yang sedang kita jalankan, hal ini akan menumbuhkan mindset “tidak takut”.

Entrepreneur dan investor, jangan sampai entrepreneurship membangun ego kita, the time we made person potentially partner, semua potentially partnership diletakkan di partner, hal ini akan membuat kita tidak merasa lonely atau sendiri dalam melakukan sesuatu. Seringkali entrepreneurship mengalami perpecahan karena ego yang dimiliki. Dalam hukum leadership Maxwell mengajarkan untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain atau dengan partner kita meskipun kita merupakan seorang leader. Dengan hal seperti itu, kita dapat mengenal orang-orang disekeliling kita, setidak nya kita dapat mengetahui masalah krusial dari partner kita yang dapat berdampak pada pekerjaan atau hal yang dapat menumbuhkan orang tersebut. Ketika partner kita mengalami suatu masalah, sudah saat nya bagi seorang leader untuk menjalin hubungan baik, atau dengan kata lain mengubah posisi dari seorang leader tapi menjadi teman yang nyaman dan juga support system untuk membantu mencari jalan keluar dengan partner tersebut. Kemudian emosi bukan merupakan solusi, melainkan harus objektif. Karena leadership merupakan hubungan dua arah antara pemimpin dan tim yang kita pimpin. Pada dasarnya, kesempatan tidak dapat dibangun berulang-ulang, banyak hal yang harus kita selesaikan secara objektif, tanpa emosi, jelas.

Menjadi leader harus mindful. Tidak setiap hal harus melalui proses yang cepat dan setiap hal tidak harus melalui proses seperti yang kita mau. Ada waktu bagi kita untuk terus berjalan, dan ada waktu bagi kita untuk berhenti sebentar atau berjalan pelan untuk melihat sesuatu yang lebih besar. Rasa ambisius mampu membuat mindful itu tidak ada. Karena akan membuat kita tidak tenang dengan segala pemikiran negatif. Berhenti memikirkan orang lain merupakan solusi. Mungkin kita melihat kehidupan orang lain yang lebih baik dari kita, tapi mungkin level stress yang dimiliki orang tersebut lebih dari kita, bisa jadi justru kehidupan kita lebih bahagia dibandingkan dengan mereka. Kita harus lebih bisa menikmati apa yang sudah kita perjuangkan selama ini. Memang rasa cepat puas tidak baik, akan tetapi terkadang manusia tidak mengetahui batas atau kapan saat nya untuk berhenti. Selama kita dikasih energi dan juga kemampuan dari Tuhan untuk terus berkarya, maka kita harus memaksimalkan hal tersebut. Tetapi, jika Tuhan tidak memberikan nikmat tersebut, sudah seharusnya bagi kita memiliki rasa legowo dalam menerima kekalahan tersebut dan terus mencoba. Jangan sampai pemikiran negatif mempengaruhi kita ketika kita mengalami kekalahan, karena pemikiran negatif akan menjadi beban untuk kita, terutama bagi seorang leader. Tidak selama nya bagi kita untuk kerja keras, ketika kita merasa cukup tenang, mengetahui kapan bagi kita untuk lari dan berhenti sejenak. Mindful adalah rasa syukur.

Rasa kesendirian hadir karena kita merasa orang disekitar kita tidak memahami kita, padahal kita harus lebih mengerti diri kita sendiri. Jadi, bagaimana untuk tidak merasa kesepian atau merasa sendiri, jawabannya bukan mencari teman, tetapi mencari diri kita sendiri. Kita harus mengevaluasi apa yang membuat kita merasa sendiri; apa yang dirasa kurang. Ketika kita membutuhkan orang lain untuk memberikan apresiasi atau pujian dan merasa bahwa hal-hal seperti itu yang akan memberikan semangat untuk kita menjalani hidup, kita harus mengubah pemikiran tersebut. Karena kenyataannya, kehidupan bukan hanya tentang kesuksesan maupun disanjung banyak orang. Seandai nya pemikiran pujian dan disanjung merupakan definisi sukses yang kita maksud, maka kita akan merasa tidak mendapatkan apa-apa. Maka, kita perlu untuk selalu mencari tahu kenapa kita merasa kesepian dan sendiri. Berusaha untuk mengetahui diri kita, menerima diri kita apa ada nya, mengetahui diri sendiri; dimana letak kelemahan maupun kelebihan kita, maka perasaan kesepian dan sendiri itu tidak akan muncul dalam diri kita. Loneliness juga hadir disebabkan perasaan yang tidak diterima, seperti orang tua tidak mendukung keputusan kita ataupun ketika orang lain tidak melihat value dari diri kita. Selain itu perasaan bahwa diri kita berbeda dari yang lain juga dapat menimbulkan rasa kesendirian. Terkadang karena perasaan berbeda ini lah yang membuat kita untuk selalu menunjukkan diri, padahal obat dari rasa kesendirian adalah damai dengan diri sendiri dan merasa berbeda bukan berarti aneh. Bisa jadi justru banyak orang yang justru menjadi seorang pemimpin karena dia berbeda dari lainnya.

Membuat pondasi hubungan baik antara seorang leader dan tim merupakan hal yang penting. Maka dengan begitu, orang mampu memahami bagaimana karakteristik dari leader tersebut. Bukan hanya mampu menerima kita, kita juga membutuhkan orang disekeliling kita atau tim untuk membuat kita menjadi lebih baik lagi. Seorang leadership harus objektif jangan sampai kita mudah memberikan respon yang buruk, terutama bila tim kita merupakan generasi milenial. Semua butuh proses, maka kita harus lebih bersabar dan memberikan pelajaran dan juga koreksi.

Wajar bagi seseorang untuk merasakan tekanan, hargai yang harus dibayar untuk menjadi seorang leader, bisa lebih stress, lebih banyak tekanan dan juga challenge daripada yang lain. Jadi kunci nya adalah pencarian pada mindful living bahwa menjadi mindful leader itu penting, karena apabila seorang leader memiliki mental yang negatif seperti insecure maka leader tersebut akan selalu merasa kurang dan tim juga akan merasakan stress yang akan buruk bagi kesehatan perusahaan. Selain itu selalu ingat perjalanan atau proses untuk tumbuh menjadi seorang leader, berusaha untuk menjalani hukum leadership yang benar. Dan agar tidak merasakan kesendirian lalu menumbuhkan leader-leader baru di dalam organisasi ataupun suatu perusahaan. Karena aset terpenting di dalam suatu perusahaan adalah seorang leader. Maka perusahaan dengan jumlah leader terbanyak dan kualitas yang baik pasti akan mendorong pertumbuhan yang lebih baik dan tidak akan menutup kemungkinan pelipatgandaan. Karena yang bisa merubah dunia adalah manusia as a leader.

Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam Al-Sulthaniyah menjelaskan mengenai hukum dan tujuan menjalankan kepemimpinan. Beliau mengatakan bahwa menegakkan kepemimpinan merupakan suatu keharusan dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menurut pandangan Islam. Beliau juga mengatakan bahwa keberadaan pemimpin adalah sangat penting karena seorang pemimpin memiliki dua tujuan:

1. Likhilafati an-Nubuwwah fi-Harosati ad-Din, yakni sebagai pengganti misi kenabian untuk menjaga agama.

2.   Wa sissati ad Dunya, untuk memimpin atau mengatur urusan dunia.

Dengan kata lain, tujuan suatu kepemimpinan adalah untuk menciptakan rasa aman, keadilan, kemaslahatan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mengayomi rakyat, mengatur, dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Sumber: Inspigo.id

Penulis: Dian Ayu Safitri

  • 7 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

Hallo Ekonom Rabbani!

Tahukah kalian kalau otak manusia dewasa itu membuat 30.000 keputusan tiap harinya. Tidak melakukan apapun mengenai isu tertentu, juga merupakan sebuah keputusan, dan hari ini, kita yang #dirumahaja pun telah membuat keputusan besar lho. Bahwa kita harus dirumah aja untuk membantu pemerintah menangani kasus penyebaran pandemi COVID-19.

Kali ini, materi luar biasa ini di dapat dari seorang narasumber wanita hebat di Indonesia, Najwa Shihab. Ia membahas tentang sebuah tema yang sangat berhubungan dengan aktivitas kita sehari-hari, dan akan selalu ada di kehidupan setiap manusia. Tema tersebut adalah Judgement and Decision Making. Judgement & decision making itu penting di semua karir. Bahkan bukan hanya karir, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari mengambil keputusan baik kecil maupun besar, keputusan hari ini yang kemudian berpengaruh atau tidak berpengaruh. Jadi, kapan pun, dimana pun, dan siapapun anda itu adalah salah satu skill yang sangat penting.

Topik kali ini akan dirangkum menjadi 10 point utama:

1. Orang Sukses, Orang yang Mau Belajar

Apasih yang membuat orang berhasil? Kenapa seorang pemimpin begitu dicintai? Kenapa orang begitu punya ketabahan dan luar biasa dalam kekerasan hati untuk melakukan apapun yang tidak dilakukan. Dan kenapa ada orang-orang yang begitu cepat dilupakan bahkan ketika ia masih berada dan melakukan pekerjaannya?

Jawabannya adalah pertama, orang yang selalu mau belajar dan mau mendengarkan orang lain. Karena terlihat sekali mana orang yang tidak terbiasa dalam perbedaan pendapat dan ketika dikritik akan langsung melakukan defensif.

Orang yang berhasil kerap kali orang yang mau mendengarkan, selalu mau belajar, dan tahu bahwa ketidaktahuan dia seharusnya menjadi cara dia untuk mencari tahu. Yang kedua adalah orang yang punya toleransi tinggi sehingga selalu mencari persamaan ditengah perbedaan. Dunia semakin sensitif. Jadi dunia yang semakin sensitif membutuhkan kita yang justru bisa lebih dari bukan hanya belajar dalam menerima perbedaan, tetapi belajar untuk menjadi orang-orang yang toleran.

Sudahkah kamu mempunyai dua kualitas ini?

2. Life is an Endless String of Decisions

Setiap hidup memang selalu ada pilihan-pilihan keputusan penting yang perlu diambil dan membutuhkan proses yang panjang. It’s always decision after decision after decision!

3. Decision Making is Not Easy. It is an Art

The world of the information is changing so fast, if you are finish changing, you are finished. Hidup kita adalah konsekuensi dari keputusan yang kita ambil. Ketika kita menyadari konsekuensi dari sebuah keputusan besar ataupun kecil, pemahaman tentang apa yang ada dibalik proses pengambilan keputusan akan menjadi semakin nyata.

4. Preparing Your Biggest Decision

Saatnya mencoba petualangan baru dan mencari perspektif lain. Kalau kita tidak berubah maka kita akan ditinggal perubahan. Usia terlalu ringkas jika dilalui tanpa melakukan perubahan. Hidup terlalu biasa-biasa saja bila kita tidak melakukan terobosan.

What are we going? What do we want to see our self in the next ten years? In the next twenty years?

Dan apa yang harus kita lakukan untuk mencapai itu? So, prepare your biggest decision!

5. Head vs Heart

Terkadang keputusan yang akan diambil dipengaruhi oleh intuisi atau logika kita. Keputusan yang dikeluarkan harus tetap sesuai dengan rasa yang pas. What do we feel right? Dalam memilih untuk mendahulukan intuisi atau logika, itu semua kembali pada bagaimana kita terbiasa dalam mengambil keputusan-keputusan sebelumnya

6. Having an Option is a Luxury

Mempunyai pilihan adalah suatu kemewahan, suatu hal istimewa yang harus disyukuri. Ketika pilihan itu ada, dan kita bertanggung jawab dalam pilihan yang diambil, itu adalah kemewahan yang luar biasa. Kemewahan untuk bisa menentukan apa yang menurut kita akan menjadi yang terbaik.

7. Information Matters, They Influence Your Decision

Dengan memadukan data dari berbagai sumber, menelusuri sebab akibat, kecenderungan, dan keterkaitan dari berbagai pihak, Najwa Shihab ingin semua penontonnya bisa membuat keputusan dengan cara menerjemahkan informasi yang sudah dikemas sedemikian rupa sehingga bisa membuat keputusan yang tepat.

8. Fast Decision = Fast Thingking

Optimalkan informasi yang dimiliki, dan melibatkan orang lain untuk membantu menganalisa pilihan yang kita punya. Otot skill decision making juga harus terus dilatih agar terbiasa mengambil keputusan di dalam situasi yang mendesak.

Remember this: “You have to be different, don’t blend in others.”

9. Maintaining Objectivity

Dalam pengambilan keputusan, penting agar kita tidak terpengaruh oleh hal-hal bias, asumsi, atau persepsi. Karena keputusan yang terbentuk atas hal-hal tersebut bisa membuat keputusan yang kita ambil jadi salah kaprah. Kuncinya adalah tetap profesional dan objektif. Tetapkan tujuan akhir, sehingga kita bisa fokus terhadap hasil yang diinginkan.

10. Strengthen Your Decision Making Muscle

Ketika 9 poin di atas sudah kita lakukan, maka poin terakhir adalah kuatkan otot-otot pengambilan keputusan kita. Semua perlu dilatih. Semua orang yang sukses pasti mempunyai skill mengambil keputusan yang tinggi, mereka juga siap untuk mempertanggungjawabkan keputusan tersebut dan berkomitmen penuh dalam melaksanakan keputusan yang diambil.

Step dalam proses pengambilan keputusan ternyata mudah. Pertama adalah ketahui masalahnya, selanjutnya adalah tentukan tujuan akhir lalu kumpulkan dan terjemahkan informasi, pertimbangkan berbagai pilihan, kemudian mulai memutuskan.

Mau kan kalian para ekonom rabbani bisa sukses seperti Najwa Shihab? Yuk kita coba aplikasikan decision making skill di keseharian!

Akhir kata dari saya, remember this good people: If you spend your money in your head, no one can take it away from you!

Sumber: Inspigo.id

Penulis: Nadya Salsabila Haqqoni

 

 

  • 2 Jan 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

            Zakat merupakan salah satu instrumen dari filantropi ekonomi Islam. Namun, jika kita telisik makna dari firman Allah QS. At-Taubah ayat 103 yang artinya nya adalah “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka...” apabila kita pahami makna dari ayat tersebut bahwasannya zakat ini bersifat wajib yang harus di pungut oleh para Ulil Amri dalam sebuah negara. Zakat sendiri dibagi menjadi dua yakni, Zakat Fitrah yang dikeluarkan sebelum shalat Ied pada bulan Ramadhan dan Zakat Mal atau zakat harta.

            Fenomena kemiskinan tidak pernah lepas menjadi permasalahan dalam sebuah negara di seluruh peradaban umat manusia. Padahal, seharusnya negara lah yang menjamin kesejahteraan hidup masyarakatnya. Permasalahan ini sedikit demi sedikit bisa di minimalisir apabila perputaran ekonomi atau velocity itu dapat berjalan dengan baik. Harta tidak hanya berputar diantara orang-orang kaya saja, namun harus diberikan atau disedekahkan kepada orang yang membutuhkan seperti tercantum pada QS. Al-Hasyr ayat 7.

            Apakah zakat bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan menjadi solusi bagi permasalahan kemiskinan? Zakat dalam ekonomi Islam sejatinya tidak dirancang hanya sebagai instrumen keagamaan, namun juga instrumen keuangan yang dapat dikelola dan di retribusi untuk mendorong produktivitas perekonomian dan konsumtif rumah tangga. Zakat bisa difungsikan sebagai kebijakan fiskal oleh pemerintah. Di Indonesia, praktik zakat yang diterapkan oleh Lembaga Amil Zakat besar, dimana dana zakat dan dana sosial lainnya seperti wakaf, infaq dan sedekah digunakan untuk peningkatan fungsi alokasi pemerintah seperti pembangunan sekolah dan rumah sakit yang layanannya di gratiskan kepada masyarakat fakir dan miskin.

            Faktanya, dana zakat yang mempunyai potensi sebesar 200 triliun menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), namun hanya 8,1 triliun yang terhimpun. Hal ini sangat disayangkan melihat mayoritas penduduk di Indonesia mayoritas merupakan muslim. Zakat bisa dijadikan sebagai solusi dalam upaya pengentasan kemiskinan karena zakat dikenakan pada basis yang luas dan meliputi berbagai aktivitas perekonomian. Zakat tidak hanya dikenakan pada penghasilan dari sektor jasa, namun juga pada sektor-sektor perekonomian yang lebih luas seperti pertanian, peternakan, pertambangan, perikanan, dan lain sebagainya. Gagasan terbaru yang dibuat oleh BAZNAS yakni Zakatnomics adalah sebuah konsep untuk memajukan ekonomi masyarakat melalui zakat. “Konsep ini didefinisikan sebagai kesadaran untuk membangun tatanan ekonomu baru untuk mencapai kebahagiaan, keseimbangan kehidupan dan kemuliaan manusia yang didasari dari semangat dan nilai-nilai Islami melalui zakat” menurut Prof Ahmad Satori Ismail, Anggota BAZNAS.

            Zakat tidak hanya difungsikan sebagai pemenuhan konsumtif bagi para mustahiq, zakat juga dapat mendorong ekonomi yang produktif. Semua tujuan dari ekonomi Islam adalah kemaslahatan umat atau kesejahteraan manusia di dalamnya sehingga dapat terjaganya Maqashid Syariah, yakni hifdzu dien (agama), hifdzu nafs (jiwa), hifdzu aql (akal), hifdzu nasl (keturunan) dan hifdzu maal (harta). Dalam kaitannya dengan Zakatnomics, pemeliharaan terhadap Maqashid syariah merupakan tujuan yang dapat dicapai.

            Dalam hal perlindungan terhadap aspek Dien atau agama, perekonomian yang dibangun melalui Zakatnomics menempatkan zakat sebagai salah satu instrumen penting dan utama dalam perekonomian, mengingat zakat merupakan rukun Islam yang ketiga. Hal ini membuktikan bahwa di dalam agama besar kaitannya dengan perekonomian. Dalam perlindungan terhadap aspek Nafs atau jiwa, zakatnomics bertujuan untuk memenuhi kebutuhan primer dari setiap manusia, sehingga setelah terpenuhinya kebutuhan primer seperti pangan akan menimbulkan jiwa yang positif. Dalam perlindungan terhadap aspek Aql atau Akal, mekanisme dari zakatnomics adalah dengan mengentaskan kemiskinan yang dicapai salah satunya adalah melalui pendidikan, apabila mustahiq memiliki aksesibilitas untuk menempuh pendidikan akan dapat mendorong dirinya untuk memperbaiki kehidupan ekonominya. Dalam perlindungan terhadap aspek Nasl atau keturunan, zakat memiliki fungsi tidak langsung pada aspek ini, karena pada dasarnya zakat diberikan untuk rumah tangga dan keluarga saat ini. Namun demikian, zakatnomics diharapkan dapat mendukung program-program yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat saat ini dan saat yang akan datang. Adapun zakat merupakan instrumen utama dalam perlindungan terhadap aspek Maal atau harta, yakni kebijakan ekonomi dengan mengutamakan economic welfare dapat diwujudkan melalui zakat. Dalam perspektif zakatnomics, indikator-indikator yang dijadikan sebagai acuan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat adalah dengan memperhatikan harta yang kita dapat berasal darimana dan harta yang kita keluarkan digunakan untuk apa.

            Pada perspektif zakatnomics, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diarahkan berfokus pada keadilan distribusi kekayaan yakni melalui zakat. Hal ini karena zakat memberikan kesempatan bagi semua orang untuk merasakan kesejahteraan melalui ekonomi dalam hidupnya. Konsep zakatnomics juga menekankan pada instrumen keuangan tanpa adanya salah satu pihak yang dirugikan.

            Zakatnomics merujuk pada nilai-nilai dari zakat itu sendiri. Berdasarkan definisinya, terdapat empat nilai yang akan dibangun oleh zakatnomics untuk dapat diimplementasikan dalam pembangunan ekonomi yang tujuannya adalah meningkatkan perekonomian masyarakat (Purwakananta, 2018), yakni:

1.   Semangat Ketakwaan

Nilai yang dibangun melalui zakatnomics salah satunya adalah ketakwaan melalui nilai-nilai agama dalam peningkatan perekonomian. Nilai-nilai yang dimaksudkan adalah berbagi, kepedulian, saling tolong-menolong, keadilan dan menghindari keserakahan dan materialisme.

2.   Production Revolution/Budaya Produksi

Selain zakat yang dapat difungsikan sebagai pemenuhan kebutuhan konsumtif, zakat juga dapat mendorong seseorang untuk produktif dan menghindari sifat konsumerisme. Semangat produksi yang dimaksudkan adalah untuk memaksimumkan maslahah. Zakat yang dikeluarkan untuk mustahiq selain dapat digunakan untuk konsumsi juga dapat mendorong mustahiq untuk mandiri.

3.   Fair Economic/Perekonomian yang Adil

Zakat sebagai fungsinya berupaya untuk meredistribusi pendapatan dari sekelompok yang kaya kepada sekelompok masyarakat yang miskin. Sebagai implementasinya, zakatnomics ini menerapkan fair economic sebagai pilar yang tidak hanya dicerminkan oleh perintah zakat dan sedekah secara umum, namun juga larangan-larangan dalam transaksi perekonomian yang dapat menghalangi keadilan seperti maysir, gharar, riba dan tadlis.

4.   Zakat Implementation/Implementasi Zakat

Implementasi zakat yang disandingkan dengan instrumen filantropi lainnya yakni Infaq, Sedekah dan Wakaf adalah berbagi dan menolong sesama dalam kehidupan perekonomian. Dengan implementasi dari dana zakat khususnya, diharapkan pembangunan ekonomi akan tersebar secara merata dan adil.

Untuk mewujudkan empat nilai diatas, hal utama yang harus diperhatikan adalah pengentasan kemiskinan. Karena masalah kemiskinan merupakan masalah mendasar dari perekonomian. Hal ini penting karena pada akhirnya tujuan yang ingin dicapai dari zakatnomics ini adalah kesejahteraan (maslahah) dari seluruh lapisan masyarakat. Konsep ini sejalan dengan zakat yang sering dikaitkan dengan solusi dari pengentasan kemiskinan. Zakatnomics sebagai salah satu perspektif dari pengimplementasian zakat dan implikasinya terhadap pengentasan kemiskinan. Dimana skema pengentasan kemiskinan dalam zakatnomics terdapat tiga hal utama yang menjadi fokus perhatian, yaitu aspek ekonomi melalui penguatan dan kemandirian ekonomi mustahiq, aspek sosial melalui zakat yang merupakan pemenuhan aspek mendasar dalam kehidupan dan aspek advokasi melalui pengentasan kemiskinan yang merupakan upaya pembelaan hak-hak dari para mustahiq.

Sumber:

Book Publications Puskas Baznas 2019. Zakatnomics: Kajian Konsep Dasar. https://drive.google.com/file/d/1gXZAoMG1Vz5nUfTQexHIfLK8vSPja3K0/view

Republika.co.id. Baznas Gagas Zakatnomics. https://republika.co.id/berita/q2shxg423/baznas-gagas-zakatnomics

Penulis: Anisah Ajeng Jayanti

  • 23 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

"Diantara Reksadana, Saham Atau Emas Yang Manakah Yang Cocok Untuk Anak Muda?"

Setiap orang pasti memiliki cita-cita kehidupan mapan dan nyaman di masa depan. Tapi, hidup seperti itu perlu dicapai dengan berbagai persiapan, terutama yang berkaitan dengan pengaturan keuangan. Salah satu caranya adalah dengan berinvestasi sejak usia muda.

Sama seperti menabung, investasi atau menanamkan modal pada aset-aset tertentu perlu dilakukan sejak dini. Tidak perlu menunggu  berpenghasilan yang cukup besar dan berusia matang baru memulai berinvestasi.Hal ini dapat terlihat saat ini dimana saat ini telah banyak anak muda yang sudah tidak asing dengan investasi.

Sejak mereka telah memiliki penghasilan, anak muda zaman saat ini telah memulai persiapkan kebutuhan masa depan seperti keinginan memiliki rumah , keinginan memiliki kendaraan, kebutuhan dana pernikahan,traveling dan shopping. Oleh karena itu, wajar kalau kalangan usia ini perlu mulai mengatur keuangannya dan mulai berinvestasi dengan menyisihkan dana untuk investasi sejak masih muda meskipun penghasilan yang rekan-rekan terima saat ini belum terlalu besar.

Mengapa perlu berinvestasi sejak dini ? dengan memulai menginvestasikan penghasilan sejak dini maka rekan-rekan memiliki peluang dimana dana rekan-rekan yang telah di investasikan akan tumbuh pesat sehingga dapat mengalahkan inflasi dalam jangka panjang.
Selain itu karena dengan kita memulai berinvestasi sejak usia muda, rekan-rekan memiliki kelebihan dimana rekan-rekan masih memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan uang dan mengembangkan dana investasi tersebut menjadi lebih besar dengan ditempatkan kedalam instrumen-instrumen investasi saat ini yang telah tersedia baik itu dalam bentuk reksadana, saham, ataupun emas.

Namun, ada kalanya anak muda galau disaat akan memutuskan hendak berinvestasi di reksadana,saham atau emas dikarenakan tidak memiliki rekomendasi yang cukup untuk menjelaskan hal tersbeut dan pada akhirnya karena kelamaan galau, tidak jadi berinvestasi. Sehingga penghasilan yang seharusnya sudah mulai disisihkan untuk kebutuhan hari depan, akhirnya habis tak berbekas sekadar untuk konsumsi semata.

Penulis: Arief Tri Setiaji

Sumber: http://akucintakeuangansyariah.com

  • 25 May 2017

  • 0 Comments

  • Artikel

Dalam kehidupan umat beragama, manusia dituntut menjalankan ibadah sesuai yang diajarkan Tuhannya, begitu juga umat muslim yang mengilhami keberadaan Al-Quran sebagai petunjuk untuk menjalankan hidup agar mencapai kesejahteraan. Al-Qur’an mempuyai konsep hukum yang unik yang sarat makna dan memiliki karakteristik ideal dalam perwujudan kemaslahatan bagi umat manusia. Begitu pula dengan hadist sebagai bayan (penjelas) dari Al-Qur’an mengandung aturan yang mengarah pada kepentingan manusia. Dari sinilah muncul anggapan bahwa hukum syariah mengabaikan kemanusiaan hingga cenderung mengabaikan kemanusiaan masih perlu diperdebatkan, padahal Al-Qur’an secara komprehensif telah mengatur detail perkara hidup manusia, karena hukum-hukumnya bukan berasal dari manusia semata. Salah satu ilmu yang dapat dikaji melaui Al-Qur’an dan hadist yakni Ekonomi Islam. Al-Qur’an telah memberikan beberapa contoh tegas mengenai masalah-maslaah ekonomi yang menekankan bahwa ekonomi adalah salah satu bidang perhatian Islam, seperti dalam Q.S Asy-Syura ayat 177-183 yang menjelaskan mengenai prinsip keadilan dan kesejahteraan dimuka bumi.

Para ekonom muslim saat melakukan kajian dan analisis terhadap Ekonomi Islam, sebagai salah satu komponen dalam lingkaran Islamic Studies, sudah sewajarnya jika melakukan tafsir ulang terhadap nalar syari’ah yang selama ini berkembang (Wahyudi, 2007). Semestinya ekonomi islam dibangun tanpa mengabaikan realitas yang ada namun tetap terbingkai dengan maqashid al-syari’ah, hal ini karena maqashid al-syari’ah sendiri mengupayakan adanya penekanan untuk mengekspesikan hubungan antara kandungan kehendak hukum Tuhan dengan aspirasi yang manusiawi (Hallaq, 1991).

Teori maqashid al-syari’ah menempati posisi paling sentral dan vital dalam merumuskan metodologi pengembangan ekonomi islam. Maqashid al-syari’ah merupakan ushulnya-ushul menurut Syatibi, yang berarti bahwa dalam menyusun ushul fiqh sebagai sebuah metodologi, tidak dapat lepas dari maqashid al-syari’ah. Karena teori maqashid dapat mengantarkan para mujtahid untuk menentukan jalan dan standar kemaslahatan sesuai syari’ah. Mengkaji teori maqashid  tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang maslahah. Hal ini karena sebenarnya dari segi substansi, wujud al-maqashid asy-syari’ah adalah kemaslahatan (Bakri, 1996). Meskipun pemahaman kemaslahatan yang diungkapkan oleh penafsir-penafsir maupun mazhab-mazhab, tidak sama namun dapat menunjukkan betapa maslahat menjadi acuan setiap pemahaman keagamaan. Ia menempati posisi yang sangat penting.10 Maqshud asy-Syari’ terdiri dari empat bagian, yaitu:

a. Qashdu asy-Syari’ fi Wadh’i asy-Syari’ah (maksud Allah dalam menetapkan syariat)

b. Qashdu asy-Syari’ fi Wadh’i asy-Syari’ah lil Ifham (maksud Allah dalam menetapkan syari’ahnya ini adalah agar dapat dipahami)

c. Qashdu asy-Syari’ fi Wadh’i asy-Syari’ah li al-Taklif bi Muqtadhaha (maksud Allah dalam menetapkan syari’ah agar dapat dilaksanakan)

d. Qashdu asy-Syari’ fi Dukhul al-Mukallaf tahta Ahkam asy-Syari’ah (maksud Allah mengapa individu harus menjalankan syari’ah).

Para ekonom muslim mengartikan maslahah adalah kebaikan, dan barometernya adalah syari’ah. Adapun kriteria maslahah (dawabith maslahah) terdiri dari dua bagian, pertama maslahah bersifat mutlak, artinya bukan relatif atau subyektif yang membuat tunduk akan hawa nafsu (Mas’ud, 1995). Kedua, maslahah itu bersifat universal (kulliyah. Bersandar dari bagian tersebut, Syatibi kemudian melanjutkan bahwa agar manusia dapat memperoleh kemaslahatan dan mencegah kemudharatan, maka ia harus menjalankan syari’ah dalam istilah yang ia kemukakan “Qashdu asy-Syari’ fi Dukhul al-Mukallaf tahta Ahkam asy-Syari’ah (maksud Allah mengapa individu harus menjalankan syari’ah).

Kemaslahatan dari segi kepentingan terdiri dari:

1. Maslahat Dharuriyyat

Maslahat Dharuriyyat adalah sesuatu yang harus ada, dilaksanakan untuk mewujudkan kemaslahatan yang terkait duniawi dan ukhrawi. Apabila maslahat ini tidak ada maka akan menimbulkan kerusakan bahkan hilangnya kehidupan seperti makan, minum, shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya. Dalam bermu’amalat, Syatibi mencontohkan harus adanya ‘iwadh tertentu dalam tansaksi perpindahan kepemilikan, misalnya jual-beli. Ada lima hal mendasar dan paling utama yang termasuk dalam jenis ini, dimana kepentingannya harus selalu dijaga dan dipelihara, antara lain:

  • Memelihara Agama (hifz al-din) untuk perseorangan ad-din berhubungan dengan ibadah-ibadah yang dilakukan seorang muslim dan muslimah, membela Islam dari pada ajaran-ajaran yang sesat, membela Islam dari serangan orang-orang yang beriman kepada agama lain.
  • Memelihara Jiwa (hifz al-nafs). Dalam agama Islam jiwa manusia adalah sesuatu yang sangat berharga dan harus di jaga dan di lindungi. Seorang Muslim di larang membunuh orang lain atau dirinya sendiri.

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan satu (alasan) yang benar...” (Q.S al-Isra : 33).

  • Memelihara Akal (hifz al-‘Aql). Yang membeakan manusia dengan hewan adalah akal, oleh karenanya akal wajib dijaga dan dilindungi. Islam melarang kita untuk emerusak akal seperti meminum alkohol.
  • Memelihara Keluarga (hifz al-‘Ird). Menjaga garis keturunan dengan menikah secara Agama dan Negara.
  • Memelihara Harta (hifz al-Mal). Harta merupakan hal yang sangat penting dan berharga sebagai penunjang kelangsungan hidup manusia, namun islam melarang adanya mendapatkan harta dengan cara illegal dan bathil, seperti mencuri atau korupsi.

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil...” (Q.S al-Baqarah : 188)

Dari kelima hal diatas, merupakan bentuk esensial yang sangat penting dalam menjaga eksistensi manusia. Oleh karena itu, sudah semestinya manusia melindungi dan memliharanya, karena jika tidak, kehidupan manusia di dunia akan menjadi kacau, brutal, miskin, dan menderita, begitu pula kehidupan di akhiratnya.

2. Maslahah Hajiyyat

Maslahat Hajiyyat adalah sesuatu yang sebaiknya ada, sehingga dalam menjalankannya dapat leluasa dan terhindar dari kesulitan. Jika sesuatu ini tidak ada, maka tidak akan menimbulkan kerusakan atau hilangnya hidup, namun akan berakibat cenderung timbul kesulitan dan kesempitan. Contoh yang diberikan Syatibi dalam hal mu’amalat anatara lain qiradh, musaqah, dan salam.

3. Maslahah Tahsiniyyat

Maslahah Tahsiniyyat adalah sesuatu yang mendatangkan kesempurnaan dalam beraktivitas yang dilakukan, sehingga apabila ditinggalkan tidak akan berpengaruh pada kesulitan. Ilustrasi dari Syatibi dalam mu’amalat untuk hal ini yakni dilarangnya jual-beli barang najis dan efisiensi dalam penggunaan air dan rumput.

Setiap penetapan hukum Allah swt. pasti mengandung suatu misi bagi kemaslahatan manusia. Penetapan ini dibagi menjadi dua katagori; Pertama, Perintah Allah swt. yang bersifat jelas (qath’i). Kedua, perintah Allah swt. di dalam Al-Qur’an yang masih samar (zhanni)dan bersifat umum (mujmal), maka ranah ini merupakan wilayah Ulama guna menafsirkannya dengan kompetensi dan kualifikasi yang memadai.

Manusia secara alamiah mempunyai keinginan untuk mencapai kebahagiannya dan hidup secara layak, tetapi semuanya itu tidak akan tercapai tanpa adanya kerjasama dan saling tolong menolong antar sesama umat manusia, dan kerjasama tersebut sangatlah tidak mungkin dicapai tanpa adanya kehidupan yang aman dan damai di antara seluruh umat. Aman dan damai tidak dapat tercapai tanpa adanya regulasi untuk melindungi hak setiap orang. Namun regulasi dan undang-undang tidak berguna kecuali ada lembaga yang mengimplementasikannya.

Penulis: Dewi Novitasari

Referensi:

  • Yudian Wahyudi, Maqashid Syariah dalam Pergumulan Politik; Berfilsafat Hukum Islam dari Harvard ke Sunan Kalijaga (Yogyakarta: Nawesea, 2007).
  • Wael B. Hallaq, “The Primacy of The Qur’an in Syathibi Legal Theory”, dalam Wael B. Hallaq dan Donald P. Little (eds.), Islamic Studies Presented to Charles J. Martin (Leiden: EJ. Brill, 1991).
  • Imam Syathibi, al-Muwafaqat., juz. II.
  • Muhammad Khalid Mas’ud, Islamic Legal Philosophy, (Islamabad: Islamic Research Institute, 1977).
  • Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syari’ah menurut al-Syatibi (Jakarta: Rajawali Press, 1996), h. 69.
  • Adiwarman Karim, Ibid, lihat juga Adiwarman Karim, "Ekonomi Islam: Suatu Kajian Ekonomi Makro", (Jakarta : The International Institute ofIslamic Thought Indonesia, 2002).
  • Rahmawati, Maqashid al-Syari’ah dalam Ekonomi Islam (Jurnal Ekonomi Islam)
  • Jamaa La, Dimensi Ilahi dan Dimensi Insani dalam Maqashid al-Syari’ah, (As-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol.45 No.II, Juli-Desember 2012).