Publikasi

  • 1 Dec 2018

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Seminar Nasional 1:

“The Economic Crisis Cycle: Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges”

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 01 Desember 2018 menyelenggarakan Seminar Nasional Kalimalang dengan tema besar The Economyc Crisis Cycle. Seminar ini dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama yaitu dalam sesi 1 dengan sub tema Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges dari pukul 08.30 – 12.00 WIB di Ruang Cinema J167 Universitas Gunadarma Kalimalang.

Seminar Nasional adalah event setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Kalimalang. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Anisah Ajeng Jayanti, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Ali Muhsin (Arab), Anesi (Inggris), dan Indah Sari (Indonesia)

Sambutan pertama disampaikan oleh Zaki Ilhaam Muhammad selaku ketua pelaksana Aktualisasi Ekonomi Syariah. Beliau mengatakan  bahwa  Pemuda yang sakit adalah pemuda yang merasa bahwa dunia ini sedang baik-baik saja, sedangkan pemuda yang sehat adalah pemuda yang merasa bahwa dunia ini sedang tidak baik (sakit). Pemuda menjadi tonggak peradaban dunia.

Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Imam Subaweh selaku Ketua Jurusan Ekonomi. Beliau mengatakan bahwa SEF merupakan organisasi yang sangat dibanggakan oleh Gunadarma. Manusia menjadi khalifah di muka bumi ini, harus menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya. Tugas kita ialaha menegakkan ekonomi islam dan memberantas riba.

Setelah itu masuklah kita pada acara inti. Moderator pada kali ini ialah Ibu Nur Azifah yang merupakan Sekretaris Prodi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma.

Pembicara pertama yaitu Bapak Dr. Muhammad Muflih. Beliau memaparkan materi yang berjudul “Pandangan Islam Terhadap Penetapan Mata Uang Dunia dan Krisis Global”

Dunia mengalami krisis ekonomi pada 1900-an. Krisis merupakan history yang ada disetiap zamannya. Bagaimana pandangan Islam terhadap dollar?. Dollar mengalami beberapa fase yaitu yang dibackup dengan emas. Pada Perang Dunia II, Amerika memenangkan Perang sehingga membuat Amerika menjadi negara adikuasa. Pada tahun 1994 masyarakat dunia mencari sistem moneter yang dikumpulkan di Bretton Woods yang menyepakati transaksi yang berlaku didunia. Dollar AS di patok pada tingkat bunga tetap ke emas yang membuat dollar AS sepenuhnya dapat dikonversi menjadi emas pada tingkat tetap $35. Uang yang terlalu benyak menyebabkan inflasioner, sedangkan barang yang terlalu banyak menyebabkan deflasioner.

Pada tahun 1971, Bretton Woods menurun karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap dollar sehingga ekonomi tidak bergairah. Mulai 1970 awal amerika menetepakan fightnmoney, yang menetapkan Dollar sebagai patokan nilai tukar dunia. Menurut kelompok Dinaris, dinar merupakan keseimbangan sedangkan dollar itu riba karena nilai instrisiknya tidak sama. Namun menurut Zubair Hasan dari Malaysia yang menolak karena setiap negara mempunyai stándar emas masing-masing. Jadi dapat disimpulkan bahwa kunci terjadinya krisis adalah karena perilaku. Islam meningkatkan money demand untuk orang miskin. Dalam Islam uang tidak boleh menganggur harus berputar. Zakat mampu mengubah struktur permintaan mata uang.

Pembicara kedua yaitu Bapak Prayudhi Azwar. Beliau memaparkan materi yang berjudul “Fokus Kebijakan dalam Mengantisipasi Krisis Ekonomi Global”

Knowladge akan dibayar mahal daripada tenaga. Tantangan Dinamika Ekonomi Global

  • Small Open Economy, pada 2008 Amerika melakukan ekspansi, bukan melakukan pengurangan mata uang. Sedangkan Indonesia pada 2008 mengalami krisis yaitu harga naik. Pada 2010, negara-negara lain mengejar Indonesia maka terjadilah massive capital inflow. Untuk mempelajari ekonomi syariah, kita juga harus mempelajari ekonomi konvensional, agar dapat mematahkan teori ekonomi konvensional. Indonesia saat ini terjadi rezim devisa bebas dan kebijakan moneter independen.
  • Melandainya yield curve dari Surat Utang Pemerintah AS, pada 2007 Amerika keluarkan obligasi baru. China memegang 1 ½ T USD dari devisa mereka. Pada 2017 China mulai menjual cadangan devisanya. Ketika China mulai tidak selera memegang bond Amerika, sehingga bond turun, sehingga investor yang tidak mengerti menginvestasi ke Amerika.

Tugas BI adalah hakikatnya sebagai rem. Tujuan BI menurut UU N0 23 Tahun 1999 tentang BI (pasal 7) bahwa Bank Indonesia bertujuan mencapai dan memelihara kestabilan Nilai Rupiah.

Tantangan untuk kita semua yaitu Adanya eksternal shock

  • Defisit neraca dagang Oktober, terparah kedua kalinya di 2018
  • Neraca dagang migas tekor Rp 158 T terparah sejak 2014

Pembenahan disektor ini Y= C+I+G+X-M

Kondisi saat ini ialah 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan 100 orang kekayaan masyarakat Indonesia. Untuk ini dipegang oleh pengusaha sektor rokok. Kehebatan Islam yaitu mempunyai instrument zakat, impact zakat yaitu mendorong orang yang mempunyai emas dengan nisab zakat.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana terdapat 5 penanya dari 2 sesi tersebut.

Pertanyaan dan Jawaban sesi 1

  1. Ade Saputra dari Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara

Petanyaan ditujukan kepada Bapak Muflih. Apa upaya pemerintah dalam menangani krisis dan apa dampaknya pada saat ini?

Bapak Muflih: Krisis 2008 menciptakan ekonomi yang menakutkan untuk Indonesia. Krisis luar biasa 1997. 1998 masyarakat Indonesia mulai memperhitungkan kembali krisis yang dibangun. Yang dikhawatirkan Indonesia pada tahun 2008 adalah kenaikan suku bunga. Dalam rangka mengantisispasi krisis 2008, masyarakat ekonomi syariah memberikan gairah untuk Indonesia dengan BI mengeluarkan wakaf.

 

  1. Anissa Febi dari Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara

Pertanyaan ditujukan kepada Bapak Prayudhi. Bagaimana open mind untuk berinvestasi dinegara sendiri.

Bapak Prayudhi: Perlu bangun enterpreunership skills dan manfaatkan waktu kita yang dipakai untuk nilai tambah. Apapun yang menambah daya saing kumpulkan dari sekarang. Jangan pernah menyalahkan keadaan, eskplor keluar dan produksi dalam negri.

 

  1. M. Iqbal dari Universitas Gunadarma

Pertanyaan ditujukan untuk Bapak Prayudhi. Bagaimana strategi memutuskan mata rantai di Indonesia

Bapak Prayudhi: pemerintah mengefektifkan programnya. Pendanaan sebisa mungkin dari BUMN bukan pendanaan dari luar.

Pertanyaan dan Jawaban sesi 2

  1.  

Apakah ada pengaruh dari siklus ekonomi terhadap peraturan negara?

Bapak Muflih: Siklus ekonomi bisa mempengaruhi wujud regulasi, pun sebaliknya. Setiap negara harus protect negaranya agar tidak kalah dikompetensi negara. Kunci utamanya adalah regulasi dan kemajuan ekonomi dapat terstimulasi.

  1. Fitria Ayudha dari Universitas Bhayangkara

Apakah riba tersebut mempengaruhi kas negara dan apa upaya pemeribtah untuk menanggulanginya?

Bapak Prayudhi: Sekarang krisis terjadi karena kerusakan tangan-tangan manusia sehingga terjadi bubble. Supaya riba tidak berkembang yaitu mensosialisasikan ekonomi syariah agar masyarakat mau menabung di bank syariah sehingga bank syariah dapat me-landing uang tersebut.

Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan: Putri Yunela Sari

 

 

 

 

Seminar Nasional 2:

Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of The Economic Crisis Cycle

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 01 Desember 2018 menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of The Economic Crisis Cycle” pada sesi dua pukul 13.00 – 16.00 WIB di Ruang Cinema J167, Kampus J1, Universitas Gunadarma, Kalimalang.

Seminar Nasional Kalimalang adalah acara setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Kalimalang. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Adam Al-Aziz, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Bintang Widya Atmojo (Arab), Alief Sucianingsih (Inggris) dan Ricka Annisa (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan  oleh M. Alfian Darmawan selaku ketua Sharia Economic Forum periode 2018/2019. Beliau mengatakan  bahwa  kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia sangat memprihatinkan, maka dari itu sebagai generasi milenial kita harus mampu mengatasi konflik kesenjangan ekonomi. Sebagaimana data membuktikan bahwa empat orang terkaya di Indonesia dapat mensejahterakan seratus juta jiwa penduduk Indonesia.

Sambutan kedua disampaikan oleh  Pak Imam Subaweh  selaku Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi. Beliau mengatakan bahwa tugas kita saat ini adalah mengembalikan kehidupan kita yang semula menggunakan sistem ekonomi kapitalisme menjadi sistem ekonomi Islam, acara ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi pemuda untuk kritis dan mempunyai semangat membangun bangsanya melalui ilmu yang diberikan.

Moderator pada sesi ini ialah Ibu Stevani Adinda Nurul Huda yang merupakan Dosen Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Beliau mengatakan bahwa pemuda harus memiliki semangat dalam mengatasi krisis ekonomi yang terjadi dengan kemudahan teknologi di zaman sekarang.

Pembicara pertama yaitu Bapak Ahmad Riawan Amin. Beliau memaparkan bahwa penjajahan yang terjadi sekarang adalah penjajahan etis. Penjajahan yang dilakukan tanpa senjata dan pertumpahan darah namun lebih menyengsarakan. Kenyataannya ini terjadi pada ekonomi kita, tidak semua infalsi mengakibatkan seseorang miskin, semakin tinggi inflasi dapat juga membuat seseorang semakin kaya. Maka yang paling berharga dari Islam adalah Sistem Ekonomi Islam karena disinilah solusi tercipta. Jumlah uang yang beredar memperesentasikan kekayaan suatu negara pada periode tertentu. Maka dalam suatu negara tidak perlu merubah sistem ekonomi, cukup dengan memperbaiki sistem ekonomi.

Pembicara kedua yaitu Bapak Agus Kalifatullah Sadikin. Beliau memaparkan bahwa problem UMKM di Indonesia adalah pada pendanaan yang terbatas. Financial Tecnology diharapkan dapat meembantu pendanaan UMKM, terutama pada masyarakat yang memiliki akses lokasi yang sulit terjangkau. Total 70 Financial Tecnology yang terdaftar pada OJK. Perbedaan Financial Tecnology syariah dengan konvensional terletak pada akadnya.

 

Pembicara ketiga yaitu Ibu Aldilla Kusumawardhani. Beliau memaparkan bahwa sebagai pemuda mulailah berhenti berbicara soal “Aku” dan mulailah berbicara tentang “Kita dan Mereka”. Menjadi pemuda yang peduli dengan masa depan Indonesia merupakan suatu hal yang harus dibuat dalam bentuk aksi nyata. Kesenjangan yang yang terjadi terutama pada masyarakat pedesaan, memerlukan pendidikan untuk dapat merepresentasikan potensi yang ada padanya. Solusinya pada pemuda, mulailah berfikir kritis (ada keresahan) dan mulai dengan aksi nyata (beraksi atau gerakan)..

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya dari 1 sesi tersebut. Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah oleh Panitia. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan : Indah Sari

  • 27 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Selamat Anda telah terdaftar sebagai peserta Seminar Nasional Kalimalang 2018

Demi kepentingan validasi nama peserta pada sertifikat silakan periksa kembali nama Anda pada daftar peserta Seminar Nasional Kalimalang 2018 yang tertera. Konfirmasi perubahan nama dapat dilakukan hingga Kamis, 29 November 2018 pukul 14.00 WIB. Apabila peserta tidak melakukan perubahan nama sampai batas waktu yang ditentukan, maka nama peserta dianggap sudah benar dan panitia tidak bertanggung jawab atas kesalahan cetak nama pada sertifikat.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Terima Kasih.

*untuk perubahan nama Anda dapat klik (di sini)  

atau http://sef.or.id/validasisemnas2018


Seminar Nasional 1 | 01 Desember 2018 | 08.30 – 12.00 WIB

"Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges"

  1. ACHMAD BUCHORI
  2. ADE SAPUTRA
  3. ADMID AISYAH AMANAH
  4. AFIFAH SALIM
  5. AFNI RAMADHANTI
  6. AGNES NUR AFIFAH AYUNINGTIAS
  7. AGUNG PERTIWI PUTRA
  8. AGUS SRI ISWIYANTI, S.E., MM
  9. AHMAD MAULANA
  10. ALDA FITRIA
  11. ALDI NOVIANTO
  12. ALFADYA HAYYA
  13. ALIFIA APANDI
  14. ALTHARIQ BIBIT SLAMET
  15. AMILYA CHOIRUNNISA
  16. AN NISAA' RIZKA WAHYUNI
  17. ANA SILVIANA
  18. ANDI SUHANDI
  19. ANGGI MIPTAHUL HOLIK
  20. ANISA AMALIA
  21. ANISA FEBY YANA
  22. ANISA KURNIA SARI
  23. ANISA MULIA KUSUMASTUTI
  24. ANISAHRANI
  25. ANISFU DWI YANTI
  26. ANISSA RANTI RETNO SARI
  27. ANITA NURHAZYIZA
  28. ANITA PUNGKI ANDRIYANI
  29. ANNISA DIANTI
  30. ANNISA DWI RIZKI AZHARI
  31. APRILIANI DWI TANDY
  32. ARMIETHA DESSY RAHMADHANY
  33. ARSITA YUNINGSIH
  34. AULIA NUR AINI
  35. AVIFAH ADELIA
  36. AYU YUNENGSIH
  37. AZARIA NUR SHABRINA
  38. BAGUS HERMANTO
  39. BAGUS SATYAWAN
  40. BELLA NOER SYAKINAH
  41. BENING AMBARWATI
  42. CHINDY RIZKY CLAUDIA
  43. CYNTIA CAHYA SAFITRI
  44. DEA ANANDA
  45. DESI ARI SANDI
  46. DESY RAHMAWATI
  47. DESY TRIANA PRATIWI
  48. DEVI NOVITASARI
  49. DEWI KHOERRU NISA
  50. DEWI SITI MASITOH
  51. DHIEN WANGINEGARA
  52. DIAN BUDIYANTO
  53. DIAN CHRISTIANI
  54. DIAN LESTARI
  55. DITA BERLIANA
  56. DITA VALENTIA MEILIANA
  57. EFA MUSDALIFAH
  58. EKA HAFIFAH PUSPITASARI
  59. EKA NURBAITI HARUN
  60. ELMA NURUL AMALIYA
  61. ELSA SILVIANA FIRDAUS
  62. ENJELITA
  63. ERIKA FEBRIANA
  64. ESTER SHYNTIA
  65. EVA FITRIANA
  66. FADILATUN NISA
  67. FAJRI ANANDA RUSMAHENDRA
  68. FARAH SALSABILA
  69. FATHIMAH ABIDAH
  70. FEBRILIA EKA PRATIWI
  71. FEBRY FITRIYANTI
  72. FEBRY INDRI YANI
  73. FERIYANDI
  74. FIKA ANANDA FORTUNA
  75. FITRI AZIZIAH
  76. FITRI CAHYANI
  77. FITRI WULANDARI
  78. FRILLY BAMA RASTIKA
  79. GALUH YUDHAWANINGPATI
  80. GEMMA SHAFA MAWADDA
  81. GIZELA GIOVANI KUSUMAH
  82. GUSLINA
  83. HANA KOMALA
  84. HANA TAZKIA R
  85. HANDOKO HADI
  86. HANIFAH YUMNA
  87. HARIS YUNIARTO
  88. HERDIANA
  89. HESTITA SALMA SALSABILA
  90. IKA PUSPITA SARI
  91. IKE WIDEA SARI
  92. INAZ MARSELA
  93. INDAH KHOERUN NISSA
  94. INDAH NOVIANTI
  95. INDAH NUR MAULINA
  96. INDIASTARI DESTY ROSITASARI
  97. INDRI MULYANTI
  98. INTAN TRIDIANANTY
  99. IQBAL ANUGRAH RAHMAN
  100. ISNAENI LESTARI
  101. ITA WAHYUNI
  102. IZZATY ATIA MAULANI
  103. JAMALUDIN
  104. JONATHAN LUMDOS
  105. KAMILA ZAHRA FATHUNNADA
  106. KARYONO., S.E., M.Pd., M.M
  107. KHALIMI
  108. KUWAT SUJARWO
  109. LATIKAH ARUM KUSUMAWATI
  110. LESTI SUKMAWATI
  111. LIA DAHLIA
  112. LIA MUBAROKAH
  113. LIA ULFACH
  114. LILIS RATNASARI
  115. LINDA SETIANINGSIH
  116. LIS NURAENI
  117. LUSIA ETIKA SARI
  118. MA'LA HOERIYAH
  119. MARIAM ULFA PUSPITA
  120. MEGA NANDA PUTRI
  121. MEI ISTIANI
  122. MELANY PUTRI DEWI
  123. MEYTA INDRAYANI
  124. MIFTAH FATHINIA
  125. MIRA SUPRIANTI
  126. MISDI
  127. MITHA MERLYAN
  128. MUHAMMAD ASMAR
  129. MUHAMMAD FAJRI
  130. MUHAMMAD FARHAN
  131. MUHAMMAD HAFIZH HANAFI
  132. NADYA AGUSTRIANA
  133. NADYA DWI HELMINA
  134. NAJAH LAILY AMALIA
  135. NAJMA SYIVA
  136. NAUFAL AQIL HELMI
  137. NELASARI
  138. NINNA
  139. NISA PEBRIANTI
  140. NUR I ALFIANINDA
  141. NUR INDAH PANCANINGRUM
  142. NUR SRI WULANDARI
  143. NURKHASANAH
  144. NURKHAYATI
  145. NURUL HIDAYAH
  146. OVA NUR LISANI
  147. PENNI NOVIYANTI
  148. PRANA SAKTI NUGROHO
  149. PUSPITA ANGGRAENI
  150. PUTRI LUCSKYAHTUROHMAN AL FURONI
  151. PUTRI SIS ANGGARI
  152. QOTRUNNADA ALIVIA
  153. RAFIF KARUNIA RAHMAN
  154. RAHMANIA INDAH KUSTANTI
  155. RANGGA RIJLLUL HAQ
  156. RATNA WULANDARI
  157. RAYUNINGSIH
  158. RIANA AYU PUSPITA SARI
  159. RIESHADANI FAIZATY NALLAH
  160. RIRIN SAPUTRI
  161. RISKA RATNA SARI
  162. RISKI SETIADI
  163. RISKI VIRA NABILA
  164. RISMA SYIFA MALIK
  165. RITA NURHIDAYAH
  166. RITA SUGIARTI
  167. RIYA DWI ANDRIYANI
  168. RIZKA RACHMAWATI
  169. RIZKY FADHILA
  170. RODIAH
  171. RUSLI KURNIAWAN
  172. SAFERA JANATA GUSTIA
  173. SAFIRAH DINA RAMADANI
  174. SANTI PUTRI JAYANTI
  175. SARAH NANDADITYA
  176. SARAH SAFIRA
  177. SARAS ADYASMARA
  178. SARI MONIKA PUTRI
  179. SEAN KATONDHO HENAS
  180. SHAFA ROHMAH HANDAYANI
  181. SHAFIRA RAHMAIDA
  182. SHERLYANA GUNAWAN
  183. SINTA NUR HIDAYATI
  184. SISCA LARASATI
  185. SITI ANNISA SALSABILA
  186. SITI DINA NURJANAH
  187. SITI NURANA H. F
  188. SITI ROHMAH WATI
  189. SLAMET HERI WINARNO, SE, MM
  190. SRI AIDA NURYANTI
  191. SRI HARTATI
  192. SRI YUNIARTI
  193. SUADEN MAMESYAH
  194. SUCI INDAH SARI
  195. SULISTYO NINGTYAS
  196. SUTRISNO
  197. TASYA DEWI AZZAHRA
  198. THIA VIOLENITA
  199. TITA NILASARI
  200. TRI FRIDA PUSPITASARI
  201. TRI HADMIATIN NINGSIH
  202. TRI SULISTIANA
  203. TURNI APRIYANI
  204. UMAIROH UTAMI
  205. VESHELA ANNESA D N
  206. VILLIA ALPIANA
  207. VIRA WIDYASARI
  208. VIRA WILISTYORINI
  209. VIVI YULIYANTI
  210. WAHYU LARASATI
  211. WAHYUDI ISRODI
  212. WINDA NURHAYANI
  213. YANUAR AKBAR
  214. YAYAN HENDRIAN S.T.,M.KOM
  215. YESI SEPTIANI
  216. YUDA PANGESTU
  217. YULIA ANGGRAENI
  218. YULIA SANDRA NUR FITRIANA
  219. YUSRIAH
  220. YUSTINUS LAIA
  221. YUYUN SOFIYATUN
  222. ZAHRAH FADHILAH HERLIANTI
  223. ZAKYA RAHMI NURSALIMA
  224. ZAQIA SABILLA AZWARINI
  225. ZETIRA ZAHNAZ KAPADIA

Seminar Nasional 2 | 01 Desember 2018 | 13.00 – 16.00 WIB

"Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of the Economic Crisis Cycle"

  1. ABDUL SAMAD KELSABA
  2. ACHMAD BUCHORI
  3. ADITYO NUGROHO
  4. AFAN RIZIQ AL - SALEH
  5. AFNI FIZKRI AL FITRIAWATY
  6. AGUS SRI ISWIYANTI, S.E., MM
  7. AHMAD MAULANA
  8. AJENG FADILAH IRAWAN
  9. ALDA FITRIA
  10. ALI RAFSANJANI
  11. ALIFIA APANDI
  12. ANNISAUL JANATUL MA'WA
  13. ANDI SUHANDI
  14. ANDIKA SURYANA
  15. ANGGI RAHMAWATI
  16. ANISA KURNIA SARI
  17. ANISA MULIA KUSUMASTUTI
  18. ANISAHRANI
  19. ANISSA MELATI
  20. ANISSA RANTI RETNO SARI
  21. ANITA FITRIANI
  22. ANNISA MUKHLISA H
  23. APRILIA TRIANA
  24. APRILIANI DWI TANDY
  25. ASEP RIANO,S.PD
  26. ATMO
  27. AULIA AZZAHRA
  28. AURANI LUTHFIYAH
  29. AVIFAH ADELIA
  30. AVRIDHA RIANI
  31. AYU AMBARWATI
  32. AYU HERMAWATI
  33. AYUDIA FITRI CHAERANI
  34. AZKA ALIFIANT
  35. AZ-ZAHRA TURSINA BELLA
  36. BAGUS HERMANTO
  37. BAGUS SATYAWAN
  38. BAHARI NUR
  39. BERLIANA KHUMAIROH
  40. CHIKO AGESTO G.W.P
  41. CHOERUNNISA
  42. CLARISSA ILMI RIYANTI
  43. CYNTIA CAHYA SAFITRI
  44. DARA SYAFIRA
  45. DEA RAYI ANGGITA
  46. DESNIA RAHMADANTY
  47. DEWI NURMAYANTI
  48. DEWI RATIH
  49. DEWI SITI MASITOH
  50. DHINA MUTIA
  51. DIAH ENGGAR PRATIWI
  52. DIAH MITA SARI
  53. DIAH TITI NURAENI
  54. DIAN PERMATA SARI
  55. DIMAS PARULIAN
  56. DINA APRIANI SUJANA
  57. DINDA ASHILAH
  58. DINI KURNIAWATY
  59. DINNUR NADA UTAMI
  60. DIRA ISMANIAR AGUSTIN
  61. DITHA PUTRI A.
  62. DWI KURNIA ALHAYYU
  63. EFA MUSDALIFAH
  64. EFA NOFITASARI
  65. EKA HAFIFAH PUSPITASARI
  66. ELFINA NOVIYANTI
  67. ELSA SILVIANA FIRDAUS
  68. EMIRA AULIA RASYIDA
  69. ENDAH CHRISTIANINGSIH
  70. ERSYALIA NABILA
  71. EVI FARIDATUL AFIFAH
  72. EVRILITA CAHYANA
  73. FACHRIKA WULANDARI
  74. FADILA IMANY PUTRI
  75. FARAH NAMIRA PUTRI
  76. FARHATUN MAULIDA
  77. FARIHA NUR WAHYUNI
  78. FARUQIN FEBRYONO
  79. FATHIMAH ABIDAH
  80. FAUZIAH NURSYAHBANI
  81. FEBRILIA EKA PRATIWI
  82. FERONIKA MANIDA GULO
  83. FIKA ANANDA FORTUNA
  84. FIRDAUS WIJAYANTO
  85. FITRA DINI
  86. FITRI AZIZIAH
  87. FITRI WULANDARI
  88. FRILLY BAMA RASTIKA
  89. GEETA DEVI ARIYANTI
  90. GUNTUR ALAM
  91. HANA KOMALA
  92. HANA SUKAINAH
  93. HANNISA KUSUMAWATI
  94. HARIS YUNIARTO
  95. HASMILAH
  96. HASNA SETYA MULYAWATI
  97. HELVY MARYANA
  98. HENDRICK KARISMA
  99. HESTITA SALMA SALSABILA
  100. IKHRIMA NURMAWATI
  101. ILHAM SAYFIN NUHA
  102. INDAH DIAN NOVITA SARI
  103. INDAH EKA SUGIANTI
  104. INDAH NUR MAULINA
  105. INDIASTARI DESTY ROSITASARI
  106. INTAN WIDIANA
  107. IQBAL ANUGRAH RAHMAN
  108. IRMA ERVIANA TANIA
  109. JALIMAH
  110. JAMALUDIN
  111. JONATHAN LUMDOS
  112. JULIANNA RAI HAKIM ISNAINI
  113. KARTIKA PUTRI R
  114. KARYONO., S.E., M.Pd., M.M
  115. KATARINA DIAN PURWANTI
  116. KHOFIFAH DWI LESTARI
  117. KIKI RIFQI FARIQOH
  118. KURNIA TRYANTI
  119. KUWAT SUJARWO
  120. LAILATURROHMAH
  121. LIDYA NUR SAFITRI
  122. LILY ALIYAH
  123. LUCIANA SYAMSIAR
  124. LULUK MAKNUNAH
  125. M. REZA PAHLEVI
  126. MAJIDAH
  127. MASRUHAN
  128. MEGA TRI UTAMI
  129. MELIYANI RAFIATUN DARAJAT
  130. MERLY BARANATASHA
  131. MEYTA INDRAYANI
  132. MIFTAH AINUL YAQIIN
  133. MOHAMAD HARZA FALISON
  134. MONI SUCI ANJANI
  135. MUHAMMAD AFIF
  136. MUHAMMAD FAJRI
  137. MUHAMMAD FARHAN
  138. MUHAMMAD HAFIZH HANAFI
  139. MUHAMMAD HAMZAH YAHYA
  140. MUHAMMAD JALALUDDIN
  141. MUSTOPA HIDAYATTULLOH
  142. NABILA TANIA PUTRI
  143. NADA BALQIS
  144. NADIRA HASNA HANIFAH
  145. NAFTALIYAH NUR ZAHRA
  146. NAHDIA HUSNAH
  147. NAJMA SYIVA
  148. NANA ARVIANA
  149. NAUFAL AQIL HELMI
  150. NENIH ANJARWATI
  151. NIKITA APRILIA
  152. NI'MATUL AFIFAH
  153. NISA PEBRIANTI
  154. NOVIANA HAIRUNISA
  155. NUR AZIZAH AGUSTINI
  156. NURAINI
  157. NURHALIMAH SARI LUBIS
  158. NURUL FAUZIYAH RAMADHANIATI
  159. OKTI ANGGOROWATI SETYANINGSIH
  160. PIONA NURHAETI
  161. PRANA SAKTI NUGROHO
  162. QOTRUNNADA ALIVIA
  163. RANI PUSPITASARI
  164. RANI SANTIKA
  165. RATNA WULANDARI
  166. RATU YULYANAH
  167. RENI ANGGRAENI
  168. RESSI JUNIANTI SUWANDI
  169. RINA ISNANDA LIANA WATI
  170. RISKI SETIADI
  171. RISKI VIRA NABILA
  172. RISTANTO
  173. RIVALDO J MARSHA
  174. RIZKA FAUZIAH
  175. RIZKA RACHMAWATI
  176. RIZKY FADHILA
  177. RIZQI KURNIA ASIH
  178. ROSSYTA EKA PUTRI H
  179. RUSLI KURNIAWAN
  180. SABILA CAHYA MAULIDINA
  181. SALMA SRI YULIANSI
  182. SARAS ADYASMARA
  183. SARI MONIKA PUTRI
  184. SATRIA DHIMAS GHOZA
  185. SAVIRA NADIA SARASITA
  186. SEAN KATONDHO HENAS
  187. SEPTHIA NURHIDAYAH
  188. SEPTIAN BAYU PAMUNGKAS
  189. SERLY ARISKHA DEWI
  190. SESRIYANI
  191. SHINTA DELIA
  192. SILFI SYAHRA DEWI
  193. SILVIA WAHYUNI
  194. SINTIA MARINI
  195. SISCA DEVIA SINTA
  196. SISCA LARASATI
  197. SISI DHIYA AULIA
  198. SITI KHODIJAH
  199. SITI RAHMATUL UMMAH
  200. SRI HARTATI
  201. SRI WINDI
  202. SUPRIYANTO
  203. SYIHAB GEIS BIN ABAD
  204. TASHA AMELYANA
  205. TIARA RIZKI AMALIA
  206. TITA NILASARI
  207. TIYA LATIFA
  208. TRI FRIDA PUSPITASARI
  209. UMMY SHOLICHATI
  210. UMSIAH ALTANIA
  211. USWATUN NISA
  212. VANISKHA MAHARANI
  213. VESHELA ANNESA D N
  214. VILLIA ALPIANA
  215. VIRA TANIA
  216. WINDU EVILIA SUSANTO
  217. WIRA HANDIKA SUKMA
  218. YANUAR AKBAR
  219. YOHANA MARNITA
  220. YUDA PANGESTU
  221. YULIA SANDRA NUR FITRIANA
  222. YULISA PRATIWI
  223. YUYUN SOFIYATUN
  224. ZAHRAH FADHILAH HERLIANTI
  225. ZEVY SUKMA ZAHROH ARANING TYAS

*untuk perubahan nama Anda dapat klik (di sini)  

atau http://sef.or.id/validasisemnas2018

  • 10 Dec 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Industri halal Filipina mungkin tak begitu dikenal di dunia. Produksi dan konsumsi produk halal di negara dengan minoritas Muslim ini memang minim. Namun, provinsi Maguindanao yang berpenduduk mayoritas Muslim di Filipina, berusaha untuk memasuki pangsa pasar halal global. Dalam sebuah pernyataan, Gubernur Maguindanao Esmael Mangudadatu mengatakan investor Muslim sedang mengembangkan pabrik pengolahan unggas di Maguindanso, yang diperkirakan akan selesai pada akhir tahun sebagai fasilitas pertenakan pertama di negara itu.

Pengelolahan unggas ini akan melibatkan petani Muslim lokal, yang nantinya mendapatkan kontrak pemasaran yang berkelanjutan. Gubernur Mangudadatu yang memimpin usaha modal dengan melibatkan jaringan pemasok pertanian dan pemelihara unggas masyarakat yang dilatih untuk memproduksi halal.

Dengan demikian, fasilitas ini dijadwalkan untuk pembukaan pada Festival Inaul Maguindanao pada bulan Februari seperti dilansir dari Muslim Village, Ahad (10/12). Proyek ini akan menjadi peluang bagi pendapatan bagi masyarakat yang berpartisipasi di Maguindanao. Ini juga akan mengurangi contoh konflik bersenjata saat semua orang terlibat dalam produksi masif untuk mencari nafkah.

Mangudadatu mengatakan, proyek usaha kecil tersebut mendorong warga memasang bangunan unggas dengan desain ramah lingkungan. Fasilitas halal modern dapat mengolah hingga 30 ribu ayam, namun pada operasi pengukuhannya pabrik akan dimulai dengan 1.500 ayam dalam sehari. Daging ayam yang diproses secara lokal kemudian akan membawa label Halal Filipina. 

Halal didefinisikan sebagai produk yang diperbolehkan atau sah untuk digunakan atau dikonsumsi sesuai dengan hukum Islam. Forum Halal Dunia, dalam laporannya pada 2015, mengatakan bahwa industri makanan dan minuman halal telah mencapai potensi pasar global sekitar 1,4 triliun dolar AS per tahun.

Sumber: Republika.co.id

  • 5 Dec 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Ada dua isu penting yang sedang menjadi bahan perbincangan, perdebatan, hingga penyangkalan baik dalam skala nasional maupun global. Pertama, tumbuhnya satu ekosistem baru dalam perekonomian global yang kita kenal sebagai kebangkitan industri halal. Kedua, di Tanah Air, arus baru ekonomi menjadi ekosistem lain yang sedang tumbuh yang coba dibangun, dibesarkan, dan disinergikan dengan dimotori Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kedua isu ini memiliki kesamaan yang jelas, yakni sama-sama membangun ekonomi secara total football, dari lini paling bawah yang kita sebut ultramikro, mikro, kecil, menengah, hingga usaha kelas kakap alias konglomerat. Keduanya sama-sama berbasiskan prinsip ekonomi yang tumbuh plus merata di mana semua bisa menikmati kue yang diproduksi.

Yang kecil diayomi, diberi akses keuangan, dibawa masuk ke pasar-pasar besar. Yang besar memberikan asistensi modal, teknis, sampai tenaga profesional. Keduanya berpijak pada nilai paling dasar dalam hidup manusia: keadilan dan kemaslahatan untuk umat manusia, tidak cuma kaum Muslim. Tak heran, jika dunia pun gegap gempita menyambut eksositem baru ekonomi ini. Bahkan, di negara-negara yang notabene bukan Muslim secara mayoritas.

Mari kita simak industri halal global. Belanja Muslim di sektor makanan, minuman, dan gaya hidup diperkirakan mencapai 2 triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada 2016. Jumlah itu menyumbang 11,9 persen dari pengeluaran global.

Dilansir dari Arabian Business, kategori makanan dan minuman menempati urutan teratas belanja Muslim, senilai 1,24 triliun dolar AS. Kategori itu diikuti industri pakaian sebesar 254 miliar dolar AS, media dan hiburan 198 miliar dolar AS, pariwisata 169 miliar dolar AS, serta obat-obatan dan kosmetik masing-masing sebesar 83 miliar dolar AS dan 57,4 miliar dolar AS.

Angka tersebut diterangkan Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai (DIEDC) dalam Laporan Global Ekonomi Perdamaian 2017-2018 yang diterbitkan Thomson Reuters.

Laporan tersebut menunjukkan, makanan lalal menjadi sektor ekonomi Islam terbesar dan paling beragam. Pelaku usaha baru sektor makanan halal menawarkan banyak jenis, seperti permen, makanan siap saji, makanan ringan, dan makanan anak-anak.

Pelaku usaha makanan halal itu semakin berkembang, baik di dalam maupun luar negeri melalui waralaba. Pun perusahaan multinasional melakukan investasi besar di pasar mayoritas Muslim. Investor beralasan hal itu bertujuan mengantisipasi meningkatnya permintaan.

Forum Akreditasi Halal Internasional yang didirikan di UAE pada 2017 mengawasi 19 pemberi sertifikasi halal secara global. Forum itu dianggap menyokong perkembangan positif industri halal.

Belanja Muslim untuk makanan dan minuman tumbuh hampir dua kali lipat dari pertumbuhan global. Laporan itu memperkirakan pertumbuhan belanja Muslim mencapai 1,93 triliun dolar AS pada 2022.

Laporan itu menyebutkan sektor keuangan Islam dan industri sukuk terus berkembang. Hal itu berdasarkan sejumlah penerbitan sukuk selama setahun lalu dan lebih banyak lagi. Aset sukuk diperkirakan mencapai 2 triliun dolar AS pada 2016, diperkirakan melonjak menjadi 3,8 triliun dolar AS pada 2022.

Perjalanan Muslim berada pada titik tertinggi sepanjang masa. Dampaknya, banyak hotel halal bermunculan. Laporan itu mencatat, umat Muslim menghabiskan 169 miliar dolar AS untuk perjalanan pada 2016. Diperkirakan sektor pariwisata halal meraup keuntungan mencapai 283 miliar dolar AS pada 2022.

Industri fesyen, merek dan butik desainer mengembangkan koleksi baru dan koleksi Ramadhan. Belanja Muslim untuk pakaian sebesar 254 miliar dolar AS pada 2016. Sementara pada 2022, belanja pakaian Muslim mencapai 373 miliar dolar AS.

Laporan tersebut mengatakan film, tayangan TV, dan media arus utama merangkul konten Islami. Muslim menghabiskan untuk media dan hiburan sebesar 198 miliar dolar AS pada 2016. Laporan itu memperkirkan belanja sektor ini mencapai 281 miliar dolar AS pada 2022.

Sumber: Republika.co.id

  • 3 Dec 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Pada tahun 2017 Bank Indonesia (BI) telah melakukan pemberdayaan ekonomi pesantren pada 62 pesantren dari seluruh Indonesia. Langkah ini melibatkan 32 Kantor Perwakilan BI.

Hal itu diperkuat dengan dikukuhkan Forum Bisnis Pesantren Nusantara dan Koperasi Syariah Sarekat Bisnis Pesantren yang dibentuk oleh 17 pondok pesantren di Jawa Timur sebagai bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017.

Dalam kesempatan tersebut juga dikukuhkan Forum Bisnis Pesantren Nusantara dan Koperasi Syariah Sarekat Bisnis Pesantren yang dibentuk oleh 17 pondok pesantren di Jawa Timur

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyambut positif penandatanganan komitmen tersebut karena diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren dalam membentuk santri yang unggul dalam segala aspek kehidupan.

“Kami menyambut positif dan mendorong kepada pesantren di seluruh tanah air untuk membangun gerakan dan kerjasama-kerjasama ekonomi syariah antar pesantren sebagai wujud nyata peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi yang lebih inklusif,” ujar Agus dalam keterangannya, Kamis (16/11/2017).

Survey BI memperlihatkan bahwa sumber dana pesantren yang terbesar masih dari iuran santri, sementara kontribusi dari unit usaha masih relatif kecil, yakni baru 12 persen. Selain itu, sebagian sumber dana pesantren juga berasal dari bantuan pemerintah.

Kecilnya kontribusi unit usaha disebabkan karena terdapat beberapa kendala dalam pengembangan ekonomi pesantren. Kendala tersebut antara lain pemasaran, jaringan, kapabilitas, dan permodalan.

“Sehubungan dengan permasalahan mendasar yang dihadapi oleh pesantren, BI, Kementerian Agama dan pesantren telah menyusun Roadmap Pengembangan Kemandirian Ekonomi Pesantren pada tahun 2016,” ujarnya.

Program pemberdayaan pesantren merupakan suatu perwujudan strategi pemberdayaan ekonomi melalui komunitas, antara lain pesantren dan UMKM.

Roadmap tersebut berisi program-program peningkatan kapasitas pesantren disertai kerangka waktu pencapaian, yaitu penyusunan standar akuntansi pesantren; pilot project dan replikasi usaha; penyusunan virtual market; penyusunan repository knowledge; dan pendirian holding pesantren.

Dalam pelaksanaan roadmap tersebut, sejak tahun ini BI telah melaksanakan pilot projectdan replikasi pengembangan usaha pesantren di 62 pesantren seluruh Indonesia dengan melibatkan 32 Kantor Perwakilan BI.

BI menjalin kerjasama dengan beberapa pesantren mentor untuk melakukan pendampingan di pesantren binaan. Selain itu, BI juga menjalin kerja sama dengan beberapa kementerian dalam program pengembangan ekonomi pesantren.

Dalam pilot project pengembangan usaha ada lima Jenis usaha yang akan dikembangkan, yaitu pertanian berkesinambungan, pengolahan daur ulang sampah, pengolahan air minum, biogas dan pengembangan ekonomi dan jasa kreatif.

Sumber: Liputan6.com

  • 21 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Indonesia membidik pelancong Rusia dari sektor pariwisata halal melalui 8th International Halal Industry Exhibition "Moscow Halal Expo 2017" yang diadakan di Moskow, pada 16-18 November lalu.

Destinasi pariwisata halal yang dipromosikan kepada masyarakat Rusia antara lain Sail Sabang dan Rapai Festival di Aceh, wisata belanja, dan objek wisata Kepulauan Seribu di Jakarta, serta perjalanan ke pantai halal pertama di Indonesia yang terdapat di Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/11), Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata RI, Riyanto Sofyan yang hadir pada pameran tersebut didaulat membuka pameran bersama perwakilan dari Dewan Mufti Rusia, pemerintah Kota Moskow, pemerintah Chechnya, dan Atase Perdagangan Suriah di Moskow.

Dalam sambutannya, Riyanto mengatakan perkembangan industri halal tidak lagi terpaku pada produk makanan, tetapi sudah berkembang ke sektor perbankan dan pariwisata. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia memiliki potensi yang sangat besar dalam industri pariwisata halal.

Riyanto mengatakan Indonesia siap menyambut kedatangan wisatawan muslim Rusia dan wisatawan lainnya dengan berbagai macam pilihan tujuan wisata yang menarik mulai dari wisata bahari, pantai, alam, seni budaya, kuliner, termasuk wisata halal. Menurutnya, berdasarkan data Thomson Reuters, penduduk muslim di Rusia yang mencapai sekitar 30 juta adalah yang terbesar di Eropa sehingga wisatawan muslim outbound dari Rusia merupakan yang terbesar di Eropa. Para wisatawan muslim Rusia tersebut mempunyai daya beli yang tinggi.

Dalam tiga tahun terakhir, kunjungan wisatawan muslim mancanegara ke Indonesia mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata 17,7 persen per tahun. Indonesia dan Rusia memiliki potensi pariwisata halal yang besar. "Untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang konkret antara pelaku industri pariwisata halal kedua negara," ujar Riyanto.

Wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia menunjukkan peningkatan. Pada 2016 tercatat sebanyak 80 514 orang, naik 22,54 persen dari tahun 2015. Sedangkan pada periode Januari-September 2017 sudah mencapai 81 804 orang, naik 52,17 persen dari periode sama 2016.

Partisipasi Indonesia pada Moscow Halal Expo kerja sama KBRI Moskow, dengan Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kempar dan Direktorat Eropa III Kementerian Luar Negeri. Selain berbagai destinasi wisata Indonesia dalam paket pariwisata halal, juga dipromosikan berbagai produk makanan halal berupa makanan kemasan, rempah-rempah, kopi, teh, mie instant, snacks, dan produk makanan lainnya dari PT Arsari Peduli Indonesia, PT Trigaluh Berjaya dan Pengelola Paviliun Indonesia di Food City Moscow.

Selama pameran, banyak pelaku bisnis Rusia yang mengunjungi stan Indonesia menjajaki peluang kerja sama, seperti pembelian atau pemasaran produk halal Indonesia di Rusia. Selain itu, Dewan Mufti Rusia juga mendukung pengembangan kerja sama pariwisata halal kedua negara.

Sementara itu Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi mengatakan keikutsertaan Indonesia sebagai bagian dari diplomasi ekonomi. Menurutnya, Indonesia perlu memanfaatkan peluang kerja sama produk halal dengan Rusia. "Selain mempererat hubungan kedua masyarakat, saling mengetahui budaya dan tradisi satu sama lainnya melalui kunjungan wisata, kerja sama ini juga dapat memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi sektor bisnis," ujar Dubes Wahid.

Moscow Halal Expo merupakan pameran produk halal tahunan yang diselenggarakan sejak 2010 di bawah pengawasan Dewan Mufti Rusia dan Kadin Rusia didukung pemerintah Rusia. Pameran kali ini diikuti 12 negara antara lain Amerika Serikat, Arab Saudi, Azerbaijan, Brunei Darussalam, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Mesir, Turki, Rusia, Suriah, dan Uzbekistan. Selain itu, hadir pula pelaku bisnis dan delegasi dari sejumlah negara lainnya.

Sumber: Republika.co.id

  • 16 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Selain kontribusi yang signifikan pada dunia international, di dalam negeri pun Indonesia mencoba untuk berinovasi melalui instrumen yang ada untuk menggerakkan sektor ekonomi dan dan sektor sosial dengan tidak keluar dari koridor syariah.

Kebutuhan Indonesia akan sektor infrastruktur sangatlah besar. Menurut data yang dipaparkan oleh Bappenas dalam ISEF kemarin, total kebutuhan dana untuk sektor ini adalah sebesar Rp 5.000 trilliun. Hal ini meliputi listrik, jalan raya, sarana prasarana air minum, pelabuhan, dan lain sebagainya. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, kita tidak bisa mengandalkan pajak dan cukai dalam APBN. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan.

Salah satu pembahasan yang sangat menarik dalam kerangka pembangunan ekonomi dan sosial tanpa dana APBN adalah pembahasan tentang gabungan wakaf dan sukuk atau yang disebut dengan Sukuk Linked Wakaf (SLW).

Kalau kita ingat perkembangan sukuk negara di Indonesia, pemerintah khususnya direktorat pembiayaan syariah Kementerian Keuangan sejak sekitar 2009 hingga sekarang tidak henti-hentinya melakukan inovasi. Dari sisi jenis sukuk negara, kita mengetahui terdapat sukuk ritel, sukuk dana haji, sukuk tabungan, dan lain lain. Dari sisi penjualan, pemerintah mengeluarkan global sukuk yang dijual di luar negeri dan sukuk yang dijual domestik dan lain sebagainya.

Tujuan dengan adanya variasi jenis sukuk sudah barang tentu adalah kualitas portofolio pemerintah. Selain itu, tujuan pemerintah adalah untuk edukasi masyarakat. Selama ini masyarakat masih melihat hanya perbankan dalam usaha investor untuk melakukan investasi. Padahal, masih banyak lagi alternatif investasi salah satunya adalah sukuk.

Secara sederhana SLW adalah sukuk. Dana yang terkumpul dari penjualan sukuk akan digunakan oleh pemerintah dan nazhir untuk proyek produktif di atas tanah wakaf. Selama ini, apa pun bentuk proyek, porsi harga tanah adalah cukup signifikan. Sehingga apabila tanahnya adalah tanah wakaf, tentunya akan lebih efisien.

Sukuk jenis ini digagas oleh Bank Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan kementerian lain yang terkait. Laba dari proyek produktif akan digunakan untuk berbagai kebutuhan di sektor sosial, salah satunya adalah sektor kesehatan. Mengapa kesehatan?

Sektor ini perlu banyak dibantu mengingat orang tidak akan dapat bekerja dengan baik apabila dia sakit. Peran BPJS untuk membantu kesehatan pun ada batasnya. Sehingga apabila ada perlakuan khusus pada pasien yang tidak ditanggung BPJS, beban adalah pada pasien tersebut, dan hal ini sering terjadi. Oleh karena itu, sektor kesehatan ini harus mendapat perhatian yang serius.

Skema SLW adalah sebagai berikut: BWI mengusulkan tanah wakaf di lokasi strategis untuk digunakan proyek tersebut. Setelah melalui studi kelayakan yang komprehensif, keputusan akhir jenis proyek adalah misalnya untuk membangun hotel. Kemudian, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengeluarkan sukuk untuk digunakan membangun hotel yang telah direncanakan.

Sumber: Republika.co.id