Publikasi

  • 24 Dec 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bekerja sama dengan MonsterAR meluncurkan aplikasi Augmented Reality berbasis android di Jakarta, Senin (23/12).

Aplikasi ini memungkinkan para user (pengguna android) memindai setiap logo Baznas yang ditemukan hingga muncul beberapa fitur menu layanan dan pembayaran zakat.

Diberi nama Baznas Augmented Reality (BAZNAS AR) aplikasi ini diluncurkan oleh anggota Baznas, Emmy Hamidiyah dan Direktur Utama MonsterAR, Rizal Pamungkas.

Emmy mengatakan, Baznas kembali berimprovisasi dalam pengembangan Innovative Platform melalui pemanfaatan fitur Augmented Reality. Banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui aplikasi yang dapat diunduh melalui playstore ini. Cukup dengan memindai logo Baznas, pengguna akan mendapatkan layanan info seputar zakat, infak dan sedekah (ZIS).

“Selain informasi, para pengguna juga bisa melakukan pembayaran zakat, infak, sedekah (ZIS) dan kurban, yang nantinya akan terhubung ke web Baznas. Dan juga terdapat fitur kalkulator zakat, untuk menghitung besarnya zakat yang harus dikeluarkan. Selain itu juga info mengenai program-program Baznas, yang langsung terhubung dengan web pendistribusian dan pendayagunaan Baznas, dan fitur layanan customer service24 jam penuh,” jelasnya.

Menurut Emmy, inovasi ini untuk menjawab tantangan dunia zakat dalam memasuki era teknologi 4.0. Baznas terus meningkatkan pendekatan pembayaran zakat digital dalam upaya membantu pengentasan kemiskinan di Indonesia.

“Baznas berkomitmen zakat dapat dikelola secara profesional, efektif, efisien dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang bergerak cepat,” ujarnya.

Perkembangan teknologi saat ini menuntut lembaga untuk mampu beradaptasi dan memanfaatkannya guna melayani masyarakat. Termasuk Baznas yang kini juga membuka layanan pengumpulan zakat melalui teknologi digital.

Sejak tahun 2016, Baznas menerapkan layanan digital dalam pengumpulan zakat dari masyarakat. Hasilnya, setiap tahun masyarakat yang membayar zakat menggunakan layanan digital terus meningkat.

“Ada lima platform yang dikembangkan Baznas untuk mendorong zakat digital. Pertama, Baznas Platform, yakni mengembangkan website Baznas dan playstore atau program aplikasi bernama `Muzaki Corner`. Kedua, Commercial Platform, yakni mengembangkan kerja sama dengan toko online. Ketiga, Social Media Platform, di mana Baznas mendorong iklan dan kampanye melalui sosial media. Keempat, Innovative Platform dan kelima, Artificial Intelligence Platform," katanya.

Sementara itu, menurut Direktur Utama MonsterAR, Rizal Pamungkas, menyambut baik atas terjalinnya kerja sama dalam bentuk aplikasi AR ini.

“Terima kasih kepada Baznas atas kolaborasi dalam mengembangkan aplikasi AR ini. Kami akan terus kembangkan teknologi terkini yang kedepannya dapat diimplementasikan, sebagai komitmen kami membantu Baznas dalam melakukan pendekatan ke muzaki lewat layanan informasi dan pembayaran zakat,” katanya.

Rizal berharap akan ada kerja sama lanjutan untuk mendukung Baznas dalam mengentaskan kemiskinan lewat zakat.

“Ini akan menjadi langkah awal bagi kami untuk terus memberikan dukungan terkait peran dan kinerja Baznas dalam mendekatkan kemudahan berzakat kepada masayarakat,” ujar dia.

 

  • 10 Dec 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin kembali menekankan pengembangan dan perluasan Industri produk halal nasional. Kiai Ma'ruf ingin Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, menjadi produsen produk halal terbesar di dunia.
Sebab, saat ini produsen produk-produk halal terbesar di dunia justru negara yang bukan penduduk mayoritas Muslim. "Yang terbesar di dunia adalah Brazil, aneh ini, produk halalnya yang terbesar dari negara Brasil. Kemudian diikuti oleh Australia yang justru bukan negara dengan penduduk mayoritas muslim," ujar Kiai Ma'ruf saat membuka Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI ke-29 di Universitas Negeri Padang, Sumatra Barat, Jumat (6/12).

Kiai Ma'ruf mengatakan, Indonesia harus keluar dari saat ini yang hanya menjadi konsumen produk halal terbesar di dunia. Menurutnya, Indonesia bahkan menjadi konsumen terbesar, dengan membelanjakan 214 Miliar US Dollar untuk produk halal.
Jumlah ini, kata Kiai Ma'ruf, mencapai 10 persen dari pangsa produk halal dunia. "10 persennya di Indonesia. Sayangnya kita bukan merupakan produsen dari produk-produk halal tersebut," ujar Kiai Ma'ruf.
Karena itu, di depan cendekiawan ICMI, Kiai Ma'ruf mengajak untuk mendukung pengembangan produk halal, ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Menurutnya, Indonesia diharapkan tidak hanya sekedar menjadi konsumen dan hanya melakukan sertifikasi halal saja.

"Sekarang ini kita hanya memberikan sertifikasi, mengakui atau menyetempel, mengendorse sertifikat halal dari luar negeri, tetapi kita ingin menjadi produsen dan eksportir produk-produk halal dunia," ujarnya.

Kiai Ma'ruf pun meyakini ICMI dengan pengalaman selama ini dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dapat turut berperan dalam upaya peningkatakan kapasitas ekonomi umat. Karena, Pemerintah ingin mendorong kemajuan ekonomi dan keuangan syariah mulai dari perbankan, industri keuangan nonbank, asuransi, pegadaian, hingga pasar modal.
"Itu masih sangat kecil, baru yang terbesar hanya sukuk. Terbesar  di dunia tapi lainnya masih kecil. Pangsa pasar kita baru 8 sekian persen, bahkan perbankan hanya 5 sekian persen," ujarnya.
Tak lupa, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif itu juga ingin mengembangkan potensi dana sosial (social fund) mulai zakat hingga wakaf. Menurutnya, jumlah zakat saat ini baru sekitar Rp 8 Triliun atau 3,5 persen dari potensi zakat yang mencapai lebih dari Rp 230 Triliun.

"Karena itu perlu ada upaya-upaya yang lebih serius, belum lagi wakaf yang kita mampu mengumpulkan wakaf, kita akan memperoleh dana besar, dana murah yang bisa mendukung pengembangan ekonomi umat dan ekonomi nasional kita," ujarnya.

Sumber: Republika.co.id