Publikasi

  • 9 Dec 2019

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 30 November 2019 menyelenggarakan 2 Seminar Nasional dengan tema Changing Paradigms and Practices through Islamic Economic Worldview dan Islamic Economic Instrument: The Right Way to Improve the Prosperous of Humanity dari pukul 08.30-16.00 WIB di Auditorium J612 Universitas Gunadarma, Cikunir.

Seminar Nasional merupakan rangkaian kegiatan dari Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) yang dilaksanakan setahun sekali di Kampus Gunadarma Kalimalang.  Pada sesi pertama acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Ahmad Maulana, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Gafar Ali Haji (Arab), Wafa Luthfiya Azzahra (Inggris), Fitri Wulandari (Jerman) dan Abdurrahman Wahid (Indonesia).

Sambutan pertama dan pembukaan disampaikan oleh Rezaldi Dwinanta Tama  selaku Ketua Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) 2019/2020. Seminar Nasional 1 dipandu oleh seorang moderator yaitu Bapak Aulia Nugraha, Lc., M.E. selaku Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Selanjutnya masuk kepada sesi pemateri yang disampaikan oleh para pembicara yang ahli dibidang Ekonomi Syariah. Pembicara pertama ialah Bapak Dr. Anwar Abbas, M.Ag. selaku Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa pada saat ini sistem ekonomi di Indonesia tidak hanya sistem ekonomi sosialisme saja tetapi pada praktiknya sistem ekonomi di Indonesia menerapkan sistem ekonomi liberal dan kapitalisme. Dimana sistem kapitalisme ini membuat orang kaya semakin kaya dan sistem ekonomi ini lebih mengedepakan manusia sebagai individu dan kebebasan pasar. Dari kebebasan pasar ini justru menjadi tempat pertarungan antara individu dan pelaku pasar. Sistem kapitalisme memberikan kebebasan kepada individu untuk memperoleh kekayaan, memilih sektor usaha yang diinginkan dan memilih pekerjaan, dari sini dapat dilihat bahwa individu terdorong untuk kreatif dan inisiatif sehingga terjadinya persaingan yang membuat efektifitas dan efisiensi tinggi. Namun sistem ekonomi kapitalisme ini tidak manusiawi karena tidak membawa Tuhan ke dalam kehidupan ekonomi. Sehingga manusia mencari untung sebesar-besarnya bagi diri dan perusahaan. Sistem ekonomi ini juga semakin parah karena mereka sangat menjunjung tinggi pasar bebas yaitu suatu pasar yang tidak boleh diintervensi oleh pemerintah. Beliau menyampaikan bahwa sistem ekonomi islam merupakan sistem ekonomi yang paling terbaik untuk diterapkan. Sistem ekonomi islam disuruh untuk mencari rezeki tanpa melupakan Tuhan (QS. Al-Jumuah: 10) dan didalam mencari rezeki kita disuruh untuk  fastabiqul khairat (QS. Al-Baqarah: 148). Jika kita mendapatkan rezeki maka wajib mengeluarkan zakat untuk membantu delapan asnaf yang termasuk di dalamnya fakir dan miskin.

Setelah itu masuklah kita pada pembicara kedua yaitu Bapak Dr. Ali Sakti, M.Ec. selaku Analis Senior Bank Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa ekonomi global pada saat ini sudah pada periode kekacauan yang dimulai sejak tahun 1910-1944. Dimensi kekacauan bukan hanya di bidang ekonomi saja tetapi juga dibidang data sosial. Menurut data PMKS angka orang meninggal dunia karena kemiskinan jauh lebih banyak dari pada orang yang berperang. Ini adalah salah satu bukti bahwa gagalnya ekonomi yang ada pada saat ini, sehingga kita haruslah sadar bahwa ekonomi islam solusinya. Ekonomi islam pada saat ini akan mempengaruhi tingkat kepedulian terhadap orang lain. Tujuan ekonomi islam yaitu untuk mempertahankan keimanan seseorang. Selain itu tujuan utama ekonomi islam yaitu untuk mencapai jannah (surga). Didalam ekonomi islam terdapat Filosofi Dasar yang meliputi akidah, akhlak, syariah dan adab.

Pembicara ketiga ialah Bapak Harza Sandityo, S.H. selaku COO & Co-Founder of PT Alami Fintek Sharia. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia dengan mayoritas Muslim ini sangatlah berpotensi untuk mengembangkan financial techonology. Selain itu juga banyak faktor pendukung kemajuan fintech ini untuk dikembangan di Indonesia seperti kuat dan stabilnya GDP di Indonesia, jumlah penduduk muslim terbanyak, dukungan gerakan hijrah dan lembaga syariah lainnya. Hubungan antara  financial technology dengan ekonomi syariah yaitu dengan teknologi yang ada pada saat ini maka ini adalah peluang besar bagi ekonomi syariah untuk membumikan ekonomi islam lebih luas lagi. Karena perkembangan teknologi ini bisa dijangkau dimana saja dan kapan saja.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana sesi 1 terdapat 2 penanya dan sesi 2 terdapat 2 penanya. Dan bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama Ketua SEF dan Ketua Pelaksana.

Selanjutnya, Seminar Nasional 2 dimulai pada pukul 12.30-16.00 WIB. Pada sesi kedua acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Dian Ayu Safitri, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Abdurrafi Rasyid Ridho (Arab), Agiv Shafira Nuralya (Inggris), Muhammad Fajri (Jerman) dan Tri Utami (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan oleh Zaki Ilhaam Muhammad selaku Ketua Sharia Economic Forum 2019/2020. Seminar Nasional 2 dipandu oleh seorang moderator yaitu Ibu Siti Rahayu, S,E., M.M. selaku Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.

Pembicara pertama ialah Bapak Sigit Pramono, Ph.D., C.A., C.P.A. selaku Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Islam SEBI, Depok. Beliau menyampaikan terkait upaya untuk mengentaskan permasalahan ekonomi dengan mengoptimalkan potensi instrumen filantropi islam seperti  zakat dan wakaf. Beberapa upaya yang beliau paparkan dapat dilakukan diantaranya; sosialisasi dan edukasi publik terkait islamic social funds, reaktualisasi regulasi model kelembagaan, meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia dalamm pengelolaan islamic social funds serta membangun secara kokoh ekosistem zakat dan wakaf yang kondusif untuk optimalisasi peran islamic social funds dengan prinsip good governance dan best practices yang efisien dan efektif.

Selanjutnya pembicara kedua disampaikan oleh Bapak Jaja Zakasyi, M.A. selaku Representatif Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI. Beliau menyampaikan bahwa perlunya sosialisasi literasi wakaf di semua elemen masyarakat dengan harapan generasi milenial dan penyuluh agama sudah familiar mengenai materi zakat dan wakaf sehingga bisa lebih mensosialisasikan kepada seluruh kalangan serta dapat meningkatkan pertumbuhan pengumpulan zakat dan wakaf. Selanjutnya, pembinaan kepada  nazhir wakaf (Forum Wakaf Produktif) & LKSPWU yang harapannya tercipta para nazhir wakaf yang profesional, kompeten dan memiliki forum bersama guna meningkatkan pertumbuhan harta benda wakaf dan bisa di manfaatkan bagi mauquf alaih. Terakhir, pengamanan mutasi harta benda wakaf, outputnya adalah memberikan perlindungan harta benda wakaf agar tidak terjadi sengketa dari ahli waris wakif maupun masyarakat.

Pembicara ketiga disampaikan oleh Bapak Dr. Imam Teguh Saptono, M.M. selaku Ketua Global Wakaf Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa terkait peran ZISWAF sebagai pilar ekonomi untuk kejayaan peradaban islam. Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam adalah agama yang dirahmati seluruh alam. Melalui ZISWAF sebagai solusi, perekonomian yang rusak saat ini dapat teratasi. Zakat adalah wajib, jumlah dan waktunya ditentukan, serta penerimanya sudah diterangkan dalam Al-Qur’an (8 asnaf) yang lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Dhururiyah. Infaq dan sodaqoh lebih fleksibel baik dalam waktu, penerima dan dalam jumlah (meskipun terbatas) tetapi masih di koridor dhururiyah dan hajiyyat. Sedangkan wakaf bersifat berkelanjutan, berorientasi jangka panjang dan menyempurnakan (tahsiniyyat) dengan jumlahnya yang signifikan.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya. Bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Acara seminar ini disambut oleh antusias yang luar biasa dari Mahasiswa Gunadarma serta dukungan dari para penggiat Ekonomi islam. Seminar Nasional ini didukung dan disponsori oleh BEM Fakultas Ekonomi (BEM FE) Universitas Gunadarma, Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), Masyarakat Ekonom Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi islam (IAEI), iB, Bank DKI Syariah, BAZNAS, ZIS Indosat, Mandiri Amal Insani dan Dompet Dhuafa.

Laporan: Agiv Shafira Nuralya dan Nadya Salsabila Haqoni

Editor: Putri Yunela Sari

 

  • 23 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat! Anda telah terdaftar sebagai peserta SEMINAR NASIONAL KALIMALANG 2019. Demi kepentingan validasi nama peserta pada sertifikat silahkan periksa kembali nama Anda pada daftar peserta Seminar Nasional Kalimalang 2019.

Konfirmasi perubahan nama dapat dilakukan hingga Rabu, 27 November 2019 pukul 23.59 WIB. Apabila peserta tidak melakukan perubahan nama sampai batas waktu yang ditentukan, maka nama peserta dianggap sudah benar dan panitia tidak bertanggung jawab atas kesalahan cetak nama pada sertifikat.

Daftar nama peserta dapat di lihat pada/uploads/ckeditor/attachments/80/VALIDASI_NAMA.pdf

Demikian yang dapat kami sampaikan
untuk perubahan nama anda dapat klik (di sini) atau http://sef.or.id/pesertasemnas2019

-Panitia Seminar Nasional Kalimalang 2019-

Wasalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 22 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Depok - Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada Sabtu, 16 November 2019 telah menyelenggarakan salah satu acara dari rangkaian Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR)  yakni SEF Super Mentor dengan tema “Let’s Get the Insight and Unleash the Potential Within You!” acara ini dimulai dari pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB di Auditorium D462, Universitas Gunadarma.

Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma. SEF Super Mentor adalah salah satu rangkaian kegiatan rutin tahunan AKSYAR dalam rangka memfasilitasi generasi muda penerus bangsa agar memiliki kemampuan berpikir kreatif dan inovatif untuk masa depan lebih baik, selain itu acara ini merupakan ajang pengenalan kepengurusan SEF satu periode.

Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh saudari Ricka Annisa, dilanjutkan dengan pembacaan Tilawah oleh saudara Gafar Ali dan teman-teman. Kemudian, sambutan pertama disampaikan oleh saudara Zaki Ilhaam Muhammad selaku Ketua Sharia Economic Forum (SEF) 2019/2020. Dilanjutkan oleh sambutan kedua yang disampaikan oleh Bapak Dr. Riskayanto, Ir., M.M. selaku Kepala Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Beliau menyampaikan bahwa sangat penting khususnya para pemuda untuk menggali potensi diri dan dalam hal pengembangan diri karena merupakan salah satu bentuk upaya untuk meraih kehidupan layak dan sukses di masa yang akan datang.

Setelah itu, masuklah pada acara inti. Pertama adalah pemaparan materi dari para pembicara yang dipandu oleh Moderator yakni saudara Rahmat Ramdani, yang merupakan Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Gunadarma tahun 2019, beliau juga merupakan Alumni dari Sharia Economic Forum.

Pembicara pertama yaitu saudari Fitra Amelia, beliau menyampaikan bahwa dalam proses pembelajaran tidak ada belajar yang nyaman, justru jadikan ketidaknyamanan tersebut sebagai pelajaran untuk kita. Seseorang dengan growth mindset selalu menjadikan setiap kesempatan sebagai peluang dan memikirkan proses karena hidup bukan tentang hasil, tetapi tentang bagaimana prosesnya. Beliau memberikan kiat-kiat bagaimana agar kita dapat berpikir besar, yang pertama adalah percaya bahwa kita bisa sukses. Kedua yaitu sembuhkan diri dari banyak mencari alasan dalam menghadapi sesuatu. Ketiga adalah jangan berpikir kecil mengenai diri sendiri. Keempat adalah membuat lingkungan yang dapat bekerja sama dengan kita, bukan memusuhi kita. Kelima adalah selalu berbuat baik pada setiap orang. Terakhir adalah gunakan goals untuk membantu dalam bertumbuh. Tak lupa beliau mengingatkan untuk selalu menanamkan mindset Keep learning, keep growing and stay humble.

Pembicara kedua yaitu saudara Ricky Dwi Apriyono, beliau menyampaikan perihal kontribusi hidup untuk umat, melihat dan memikirkan serta bertindak untuk orang-orang yang membutuhkan peran kita sebagai pemuda hebat. Beliau memberikan nasihat bagaimana cara membangun passion diri, yaitu dimulai dengan mencari kelompok yang sesuai dengan passion diri. Tahap kedua adalah menentukan pilihan selanjutnya yaitu ingin bekerja atau melanjutkan pendidikan. Tahap ketiga adalah menikah. Tahap keempat yaitu selama kita hidup teruslah memberikan kontribusi untuk ummat. Ketika meniti karir, ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam dunia kerja, yaitu integritas dan professional, hal ini merupakan poin penting. Apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan atau katakan haruslah sesuai. Kita juga tidak boleh menganggap hal-hal kecil sebagai hal yang tidak penting. Lalu sinergi, pelayanan dan kesempurnaan dimana semua pekerjaan yang diberikan harus dikerjakan dengan benar dan tuntas.

Pembicara ketiga yaitu saudara Qodhyan Fatahillah, beliau menyampaikan bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Tetapi manusia memiliki dua kepribadian, yang mana baik dan buruknya dipengaruhi oleh pemikiran dan lingkungan. Kita harus mengetahui kemana kita harus pergi. Karena mencari tujuan hidup adalah hal yang sia-sia, tujuan sejati kita adalah mencari jati diri atau mengenali diri sendiri. Beliau juga menyampaikan mengenai teori The Butterfly Effect. Teori ini lahir dari ahli matematika dari MIT yaitu Edward Lorenz, di dalam teori tersebut dijelaskan bahwa satu kepak kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas, yang artinya suatu tindakan yang kecil bisa berdampak besar disuatu tempat. Bermimpi dan lakukanlah, perjalanan menuju mimpi itu tidak gratis dan tidak mudah. Karena untuk menjadi pelaut yang tangguh dibutuhkan samudera yang ganas. Percaya diri dan yakinlah bahwa semua mimpi akan tercapai.

Setelah para pembicara menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi kesempatan bagi peserta untuk bertanya, selain itu sesi pertanyaan juga dibuka melalui pertanyaan dari followers instagram @KSEI_SEF dan 2 orang penanya diberikan hadiah. Selanjutnya yaitu pemberian plakat kepada moderator dan para pembicara disertai dengan foto bersama. Acara diakhiri dengan suatu persembahan dan penampilan istimewa dari Pengurus SEF serta pemutaran dan video pengenalan kepengurusan SEF periode 2019/2020.

Laporan: Dian Ayu Safitri

  • 1 Dec 2018

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Seminar Nasional 1:

“The Economic Crisis Cycle: Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges”

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 01 Desember 2018 menyelenggarakan Seminar Nasional Kalimalang dengan tema besar The Economyc Crisis Cycle. Seminar ini dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama yaitu dalam sesi 1 dengan sub tema Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges dari pukul 08.30 – 12.00 WIB di Ruang Cinema J167 Universitas Gunadarma Kalimalang.

Seminar Nasional adalah event setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Kalimalang. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Anisah Ajeng Jayanti, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Ali Muhsin (Arab), Anesi (Inggris), dan Indah Sari (Indonesia)

Sambutan pertama disampaikan oleh Zaki Ilhaam Muhammad selaku ketua pelaksana Aktualisasi Ekonomi Syariah. Beliau mengatakan  bahwa  Pemuda yang sakit adalah pemuda yang merasa bahwa dunia ini sedang baik-baik saja, sedangkan pemuda yang sehat adalah pemuda yang merasa bahwa dunia ini sedang tidak baik (sakit). Pemuda menjadi tonggak peradaban dunia.

Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Imam Subaweh selaku Ketua Jurusan Ekonomi. Beliau mengatakan bahwa SEF merupakan organisasi yang sangat dibanggakan oleh Gunadarma. Manusia menjadi khalifah di muka bumi ini, harus menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya. Tugas kita ialaha menegakkan ekonomi islam dan memberantas riba.

Setelah itu masuklah kita pada acara inti. Moderator pada kali ini ialah Ibu Nur Azifah yang merupakan Sekretaris Prodi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma.

Pembicara pertama yaitu Bapak Dr. Muhammad Muflih. Beliau memaparkan materi yang berjudul “Pandangan Islam Terhadap Penetapan Mata Uang Dunia dan Krisis Global”

Dunia mengalami krisis ekonomi pada 1900-an. Krisis merupakan history yang ada disetiap zamannya. Bagaimana pandangan Islam terhadap dollar?. Dollar mengalami beberapa fase yaitu yang dibackup dengan emas. Pada Perang Dunia II, Amerika memenangkan Perang sehingga membuat Amerika menjadi negara adikuasa. Pada tahun 1994 masyarakat dunia mencari sistem moneter yang dikumpulkan di Bretton Woods yang menyepakati transaksi yang berlaku didunia. Dollar AS di patok pada tingkat bunga tetap ke emas yang membuat dollar AS sepenuhnya dapat dikonversi menjadi emas pada tingkat tetap $35. Uang yang terlalu benyak menyebabkan inflasioner, sedangkan barang yang terlalu banyak menyebabkan deflasioner.

Pada tahun 1971, Bretton Woods menurun karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap dollar sehingga ekonomi tidak bergairah. Mulai 1970 awal amerika menetepakan fightnmoney, yang menetapkan Dollar sebagai patokan nilai tukar dunia. Menurut kelompok Dinaris, dinar merupakan keseimbangan sedangkan dollar itu riba karena nilai instrisiknya tidak sama. Namun menurut Zubair Hasan dari Malaysia yang menolak karena setiap negara mempunyai stándar emas masing-masing. Jadi dapat disimpulkan bahwa kunci terjadinya krisis adalah karena perilaku. Islam meningkatkan money demand untuk orang miskin. Dalam Islam uang tidak boleh menganggur harus berputar. Zakat mampu mengubah struktur permintaan mata uang.

Pembicara kedua yaitu Bapak Prayudhi Azwar. Beliau memaparkan materi yang berjudul “Fokus Kebijakan dalam Mengantisipasi Krisis Ekonomi Global”

Knowladge akan dibayar mahal daripada tenaga. Tantangan Dinamika Ekonomi Global

  • Small Open Economy, pada 2008 Amerika melakukan ekspansi, bukan melakukan pengurangan mata uang. Sedangkan Indonesia pada 2008 mengalami krisis yaitu harga naik. Pada 2010, negara-negara lain mengejar Indonesia maka terjadilah massive capital inflow. Untuk mempelajari ekonomi syariah, kita juga harus mempelajari ekonomi konvensional, agar dapat mematahkan teori ekonomi konvensional. Indonesia saat ini terjadi rezim devisa bebas dan kebijakan moneter independen.
  • Melandainya yield curve dari Surat Utang Pemerintah AS, pada 2007 Amerika keluarkan obligasi baru. China memegang 1 ½ T USD dari devisa mereka. Pada 2017 China mulai menjual cadangan devisanya. Ketika China mulai tidak selera memegang bond Amerika, sehingga bond turun, sehingga investor yang tidak mengerti menginvestasi ke Amerika.

Tugas BI adalah hakikatnya sebagai rem. Tujuan BI menurut UU N0 23 Tahun 1999 tentang BI (pasal 7) bahwa Bank Indonesia bertujuan mencapai dan memelihara kestabilan Nilai Rupiah.

Tantangan untuk kita semua yaitu Adanya eksternal shock

  • Defisit neraca dagang Oktober, terparah kedua kalinya di 2018
  • Neraca dagang migas tekor Rp 158 T terparah sejak 2014

Pembenahan disektor ini Y= C+I+G+X-M

Kondisi saat ini ialah 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan 100 orang kekayaan masyarakat Indonesia. Untuk ini dipegang oleh pengusaha sektor rokok. Kehebatan Islam yaitu mempunyai instrument zakat, impact zakat yaitu mendorong orang yang mempunyai emas dengan nisab zakat.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana terdapat 5 penanya dari 2 sesi tersebut.

Pertanyaan dan Jawaban sesi 1

  1. Ade Saputra dari Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara

Petanyaan ditujukan kepada Bapak Muflih. Apa upaya pemerintah dalam menangani krisis dan apa dampaknya pada saat ini?

Bapak Muflih: Krisis 2008 menciptakan ekonomi yang menakutkan untuk Indonesia. Krisis luar biasa 1997. 1998 masyarakat Indonesia mulai memperhitungkan kembali krisis yang dibangun. Yang dikhawatirkan Indonesia pada tahun 2008 adalah kenaikan suku bunga. Dalam rangka mengantisispasi krisis 2008, masyarakat ekonomi syariah memberikan gairah untuk Indonesia dengan BI mengeluarkan wakaf.

 

  1. Anissa Febi dari Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara

Pertanyaan ditujukan kepada Bapak Prayudhi. Bagaimana open mind untuk berinvestasi dinegara sendiri.

Bapak Prayudhi: Perlu bangun enterpreunership skills dan manfaatkan waktu kita yang dipakai untuk nilai tambah. Apapun yang menambah daya saing kumpulkan dari sekarang. Jangan pernah menyalahkan keadaan, eskplor keluar dan produksi dalam negri.

 

  1. M. Iqbal dari Universitas Gunadarma

Pertanyaan ditujukan untuk Bapak Prayudhi. Bagaimana strategi memutuskan mata rantai di Indonesia

Bapak Prayudhi: pemerintah mengefektifkan programnya. Pendanaan sebisa mungkin dari BUMN bukan pendanaan dari luar.

Pertanyaan dan Jawaban sesi 2

  1.  

Apakah ada pengaruh dari siklus ekonomi terhadap peraturan negara?

Bapak Muflih: Siklus ekonomi bisa mempengaruhi wujud regulasi, pun sebaliknya. Setiap negara harus protect negaranya agar tidak kalah dikompetensi negara. Kunci utamanya adalah regulasi dan kemajuan ekonomi dapat terstimulasi.

  1. Fitria Ayudha dari Universitas Bhayangkara

Apakah riba tersebut mempengaruhi kas negara dan apa upaya pemeribtah untuk menanggulanginya?

Bapak Prayudhi: Sekarang krisis terjadi karena kerusakan tangan-tangan manusia sehingga terjadi bubble. Supaya riba tidak berkembang yaitu mensosialisasikan ekonomi syariah agar masyarakat mau menabung di bank syariah sehingga bank syariah dapat me-landing uang tersebut.

Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan: Putri Yunela Sari

 

 

 

 

Seminar Nasional 2:

Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of The Economic Crisis Cycle

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 01 Desember 2018 menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of The Economic Crisis Cycle” pada sesi dua pukul 13.00 – 16.00 WIB di Ruang Cinema J167, Kampus J1, Universitas Gunadarma, Kalimalang.

Seminar Nasional Kalimalang adalah acara setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Kalimalang. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Adam Al-Aziz, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Bintang Widya Atmojo (Arab), Alief Sucianingsih (Inggris) dan Ricka Annisa (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan  oleh M. Alfian Darmawan selaku ketua Sharia Economic Forum periode 2018/2019. Beliau mengatakan  bahwa  kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia sangat memprihatinkan, maka dari itu sebagai generasi milenial kita harus mampu mengatasi konflik kesenjangan ekonomi. Sebagaimana data membuktikan bahwa empat orang terkaya di Indonesia dapat mensejahterakan seratus juta jiwa penduduk Indonesia.

Sambutan kedua disampaikan oleh  Pak Imam Subaweh  selaku Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi. Beliau mengatakan bahwa tugas kita saat ini adalah mengembalikan kehidupan kita yang semula menggunakan sistem ekonomi kapitalisme menjadi sistem ekonomi Islam, acara ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi pemuda untuk kritis dan mempunyai semangat membangun bangsanya melalui ilmu yang diberikan.

Moderator pada sesi ini ialah Ibu Stevani Adinda Nurul Huda yang merupakan Dosen Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Beliau mengatakan bahwa pemuda harus memiliki semangat dalam mengatasi krisis ekonomi yang terjadi dengan kemudahan teknologi di zaman sekarang.

Pembicara pertama yaitu Bapak Ahmad Riawan Amin. Beliau memaparkan bahwa penjajahan yang terjadi sekarang adalah penjajahan etis. Penjajahan yang dilakukan tanpa senjata dan pertumpahan darah namun lebih menyengsarakan. Kenyataannya ini terjadi pada ekonomi kita, tidak semua infalsi mengakibatkan seseorang miskin, semakin tinggi inflasi dapat juga membuat seseorang semakin kaya. Maka yang paling berharga dari Islam adalah Sistem Ekonomi Islam karena disinilah solusi tercipta. Jumlah uang yang beredar memperesentasikan kekayaan suatu negara pada periode tertentu. Maka dalam suatu negara tidak perlu merubah sistem ekonomi, cukup dengan memperbaiki sistem ekonomi.

Pembicara kedua yaitu Bapak Agus Kalifatullah Sadikin. Beliau memaparkan bahwa problem UMKM di Indonesia adalah pada pendanaan yang terbatas. Financial Tecnology diharapkan dapat meembantu pendanaan UMKM, terutama pada masyarakat yang memiliki akses lokasi yang sulit terjangkau. Total 70 Financial Tecnology yang terdaftar pada OJK. Perbedaan Financial Tecnology syariah dengan konvensional terletak pada akadnya.

 

Pembicara ketiga yaitu Ibu Aldilla Kusumawardhani. Beliau memaparkan bahwa sebagai pemuda mulailah berhenti berbicara soal “Aku” dan mulailah berbicara tentang “Kita dan Mereka”. Menjadi pemuda yang peduli dengan masa depan Indonesia merupakan suatu hal yang harus dibuat dalam bentuk aksi nyata. Kesenjangan yang yang terjadi terutama pada masyarakat pedesaan, memerlukan pendidikan untuk dapat merepresentasikan potensi yang ada padanya. Solusinya pada pemuda, mulailah berfikir kritis (ada keresahan) dan mulai dengan aksi nyata (beraksi atau gerakan)..

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya dari 1 sesi tersebut. Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah oleh Panitia. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan : Indah Sari

  • 10 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 10 November 2018 menyelenggarakan Sef Super Mentor dengan tema Beyond The Average: Unlocking Your Mind and Think Creative! dalam satu sesi dari pukul 08.30 – 11.30 WIB di Ruang Auditorium D462, Universitas Gunadarma, Depok.

Sef Super Mentor adalah event setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Depok. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Reren Anggun Wulandari, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Ali Muhsin (Arab), Endang Sulastri (Jepang), Poppy Irani (Inggris), dan Adam al-Aziz (Indonesia)

Sambutan pertama disampaikan  oleh M. Alfian Darmawan selaku ketua Sharia Economic Forum 2018/2019. Beliau mengatakan  bahwa  pemuda adalah penggerak peradaban, pemuda sebagai tonggak dalam sebuah peradaban, pemuda harus bebas akan finansial dan pemuda juga harus berintelektual baik itu pikiran maupun emosi.

Sambutan kedua disampaikan oleh  Pak Riskayanto selaku Ketua Jurusan Ekonomi Syariah. Beliau mengatakan bahwa acara ini menjadi ajang bagi para peserta dalam meniti karir dan mengarungi lautan setelah masa perkuliahan nanti. Diharapkan acara ini dapat memotivasi dan menggerakan cita-cita yang sudah di canangkan oleh para peserta.  

Setelah itu masuklah kita pada acara inti. Moderator pada kali ini ialah saudara Abdul Roqqib yang merupakan ketua SEF 2017/2018. Beliau mengatakan bahwa pemuda sebagai penggerak peradaban harus mempunyai pemikiran yang terbuka dan kreatif disamping dengan tuntutan kemajuan zaman yang menuntut kita untuk berfikir kreatif.

Pembicara pertama yaitu Bapak Ahmad Fajri Shauti. Beliau memaparkan tujuan dari acara ini adalah untuk menginspirasi semua mahasiswa/i agar menjadi mahasiswa/i yang mempunyai value. Perubahan zaman yang sudah masuk pada era Revolusi Industri 4.0 yang berpengaruh kepada penurunan penggunaan SDM ke teknologi, perubahan model bisnis, perubahan penilaian investor, perubahan jenis profesi. Kemudian, solusinya adalah mempersiapkan diri dengan menambah skill. Salah satu bentuk mempersiapkan dirinya adalah dengan berorganisasi, bentuk kelompok belajar yang solid, travelling dengan tujuan mencari skill.

Pembicara kedua yaitu Bapak Santoso Permadi. Beliau memaparkan bahwa mahasiswa harus mempunyai softskill, hardskill, mindset, dan relations. Untuk dapat dikenal oleh dunia, maka pemuda harus membuat karya atau kegiatan produktif lainnya yang menjadikan kita pantas disebut sebagai pemuda "Beyond The Average". Beliau juga mengatakan bahwa karir itu adalah ketika kesiapan, kesempatan, dan kepantasan datang bersamaan. Disamping itu, 4 hal yang harus di perhatikan adalah kombinasi antara iman, adab, ilmu dan amal.

Pembicara ketiga yaitu Bapak Muhamad Rizky Rizaldy. Beliau memaparkan bahwa be yourself bukanlah suatu seruan yang tepat, namun justru menjebak. Kita harus mempunyai mentor/tokoh yang dapat diteladani. Untuk menjadi orang hebat adalah dengan berteman dengan orang hebat. Ciri khas orang hebat adalah mempunyai tujuan, berani, serta senantiasa memegang kalimat "Smooth Seas Never Made Great Sailors", artinya orang hebat tidak terlalu memikirkan masalah tetapi lebih kepada berani akan tantangan.  Avoid averageness, get faster, embrace the greatest power, be altruistic juga merupakan beberapa kalimat yang dapat dijadikan sebagai motivasi para pemuda.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana terdapat 5 penanya dari 2 sesi tersebut. Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan : Anisah Ajeng Jayanti