Sejarah SEF

Carut-marut perekonomian dunia yang disebabkan oleh krisis ekonomi yang kian terulang, bahkan cenderung lebih dalam, dan nyatanya memerlukan lebih banyak penanganan. Hal ini terutama dilatarbelakangi karena masih diterapkannya sistem perekonomian yang tidak dapat memberikan keadilan, deskruptif, dan juga menggerogoti perekonomian dari dalam secara massif. Dimana fiat money, fractional reserve requirement, dan bunga (interest) menjadi elemen-elemen utama yang menjadi penopang bagi sistem ini. Oleh karena itu, cukuplah hal tersebut menjadi alasan bagi para ekonom dan ulama dunia untuk merubah tatanan perekonomian menjadi ekonomi yang diberkahi melalui diterapkannya prinsip-prinsip islami pada sendi-sendi kehidupan. Hingga dibuatlah beragam konsensus yang menyatakan dan mengupayakan perlunya pembumian ekonomi islami.

Slifer sef2

Cukup pesatnya perkembangan ekonomi syariah di tanah air melalui beragam regulasi hingga inovasi, telah memicu banyak kalangan untuk turut serta memberikan kontribusi. Seiring meningkatnya pemahaman yang membawa menuju keyakinan bahwa ekonomi berlandaskan nilai-nilai keislaman memang menjadi solusi utama perkenomian negeri serta dunia, maka dirasa amat perlu bagi Universitas Gunadarma untuk turut serta berperan aktiv dan berkontribusi di dalamnya. Berawal dari ide briliant para alumni Universitas Gunadarma yang mengadakan sebuah acara berbasis ekonomi syariah yaitu Gunadarma Sharia Economic Event (G-SENT) pada tahun 2004, di luar dugaan kegiatan ini dinilai cukup berhasil oleh pihak kampus karena dapat menarik dan menumbuhkan minat mahasiswa terhadap ekonomi syariah. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh mereka untuk membentuk sebuah lembaga yang dapat mengakomodasi minat kalangan mahasiswa dalam bidang ekonomi syariah.

Maka tercetuslah sebuah nama awal yaitu FKEI (Forum Kajian Ekonomi Islam), namun belum disahkan oleh pihak kampus. Barulah pada masa kepemimpinan presiden dan wakil presiden BEM FE periode 2005-2006 yaitu Saudara Panji dan Vicky, lembaga tersebut dideklarasikan pada bulan Januari 2006 oleh Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi, Bapak Budi Prijanto dengan sebuah nama baru yang cukup indah didengar yaitu SEF (Sharia Economic Forum). Pada masa itu lembaga ini berada di dalam struktur BEM Fakultas Ekonomi sebagai Badan Semi Otonom. Pada tahun 2006-2007, terpilihlah Saudara Winardhi Wareham sebagai ketua SEF yang pertama. Beliau memimpin SEF selama dua periode yakni 2006-2007 dan 2007-2008.

Sebagai Badan semi Otonom dan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) di Universitas Gunadarma, SEF terus berupaya mencetuskan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dari segi ruhiah dan ilmiah melalui program-program unggulannya, di antaranya adalah Gunadarma Sharia Economic Event, Temu Alumni, Kuliah Informal Ekonomi Syariah, Aktualisasi Ekonomi Syariah, dan Media Syar’i untuk mensosialisasikan Ekonomi Syariah. Setelah masa kepemimpinan Saudara Winardhi Wardhana, estafet kepemimpinan SEF dilanjutkan oleh Saudara Aulia Reza Utama. Organisasi ini masih seperti balita yang sedang tumbuh, namun terus mencoba menjadi luar biasa dengan terus memperbaiki diri dan belajar dari setiap kesalahan. Sharia Economic Forum juga mendapat banyak masukan dari rekan-rekan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) lainnya yang tergabung dalam Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI).

Pada periode 2009-2010, setelah berdiskusi dengan dosen-dosen pengajar di Universitas Gunadarma, SEF mendapat masukan agar segera mengembangkan kegiatannya, karena forum ini bisa digunakan sebagai sarana berdiskusi mahasiswa fakultas ekonomi khususnya dan di luar fakultas ekonomi yang memang tertarik dengan ekonomi syariah, selain pengetahuan ekonomi syariah yang memang perlu untuk dipelajari oleh setiap orang. Atas dasar itu, maka dilakukan open recruitment untuk anggota forum yang ingin belajar ekonomi syariah, setelah periode sebelumnya yang hanya terdiri dari BPH SEF saja juga merupakan anggota BEM FE. Selanjutnya, pada era kepemimpinan SEF oleh Saudara Muhamad Rizky Rizaldy (Manajemen, 2008) selama dua periode berturut-turut yakni pada tahun 2010-2011 dan 2011-2012. Beliau memberikan sentuhan unik dan berpengaruh besar terhadap perkembangan SEF.

Cita-citanya untuk membuat organisasi ini lebih dikenal oleh seluruh civitas Universitas Gunadarma, sebagai upaya syiar ekonomi Islam pun tercapai. Eksistensi SEF di regional Jabodetabek juga mulai terlihat sejak dikirimnya 10 anggota untuk mengikuti Sharia Economist Training di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Islam Tazkia Bogor asuhan Bapak Syafi’i Antonio, dan berhasil meraih prestasi sebagai penulis essay terbaik untuk kategori penulis laki-laki maupun perempuan. SEF kini dikenal sebagai komunitas mahasiswa yang eksis di Universitas Gunadarma dalam pekatnya nuansa kemuliaan etika di sisi keilmiahannya. “Kami hanya berupaya siapa pun yang belajar di SEF bisa jadi orang baik, dan punya semangat untuk memperbaiki” ujar Rizaldy. Perjalanan SEF terus ditandai dengan bergantinya kepemimpinan pada periode 2012-2013, yang di ketuai oleh Saudara Khairul Ardianto (Akuntansi, 2009).

Di bawah kepemimpinan Khairul, SEF berupaya untuk lebih di kenal bukan hanya di kalangan kampus dan Jabodetabek, melalui Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) melainkan juga ingin melebarkan prestasinya di wilayah Jabodetabek. Di buktikan dengan prestasinya sebagai Media Terbaik serta terpilih menjadi 5 besar KSEI Terbaik Nasional yang di raih pada acara Musyawarah Nasional (MUNAS) yang memang merupakan agenda tahunan FoSSEI. hal itu pun terwujud dengan semakin di kenalnya program-program SEF oleh FoSSEI Jabodetabek serta semakin eratnya ikatan silaturahim antar KSEI. Seiring berjalannya waktu, SEF semakin menunjukan performanya dalam menyebarkan kebaikan melalui Ekonomi Syariah. kepemimpinan SEF kemudian beralih kepada Saudara Ashabul Kahfi periode 2013-2014 yang berhasil membawa SEF lebih luas lagi dalam menjalin relasi di ranah Nasional dengan terpilihnya kembali SEF sebagai KSEI dengan Media Terbaik Nasional melalui MUNAS. Bersama Kahfi, SEF mampu bertahan 2 (dua) tahun berturut-turut dengan prestasi tersebut.

Setelah itu Ashabul Kahfi juga terpilih menjadi Presidium Nasional (Presnas) dan di lantik pada saat MUNAS FoSSEI 2014, merepakan kebangsaan tersendiri bagi Kahfi untuk membawa nama baik SEF dan menjalin silaturahim dengan KSEI di seluruh Indonesia. Ekonomi Syariah di Indonesia yang kian memberikan progres positif memicu SEF untuk terus maju dan berkembang serta dapat menjadi tolak ukur kesuksesan sebuah Forum. Estafet dakwah pun di lanjutkan dengan terpilihnya Saudara Ahmad Husin (Akuntansi, 2011) sebagai Ketua SEF periode 2014-2015, bercermin dari prestasi yang mampu di wariskan Oleh para alumni SEF sebelumnya, Ahmad Husin dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh, memimpin para anggotanya untuk mempertahankan prestasi yang telah di raih. Ia berupaya memberikan kekuatan bagi internal SEF sendiri agar dapat menjadi contoh bagi para Ekonom Rabbani lainnya, bersama Husin, SEF yang dinilai masih dalam masa pertumbuhan mampu membuktikan kualitas stakeholdersnya dengan menjuarai berbagai kompetisi di ajang Temu Ilmiah Regional (TEMILREG) 2015 hingga berhasil menjadi Finalis 6 besar Olimpiade Ekonomi Islam Nasional pada Temu Ilmiah Nasional (TEMILNAS) 2015. Husin beserta jajarannya selalu menumbuhkan semangat kepada para SDM SEF dan menciptakan mimpi-mimpi baru yang luar biasa bagi perkembangan Ekonomi Islam di dunia.

SEF juga menjalin hubungan baik dengan berbagai lembaga ekonomi syariah, mulai dari Bank Indonesia, sesama KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) di seluruh universitas di Indonesia, sampai berbagai institusi keuangan. Hingga kini, bertepatan dengan 1 (satu) dekade usia SEF. Pada periode 2015-2016, SEF dipimpin oleh Saudara Rivaldi Samah (Akuntansi, 2012). Rivaldi mempunyai design kepemimpinannya sendiri untuk seluruh stakeholders SEF yang ingin mempunyai kualitas yang mumpuni untuk menjawab tantangan zaman melalui perwujudan visi misinya satu tahun kedepan. Semoga harapan dan cita-cita Rivaldi dalam membangun keluarga SEF dapat terealisasi dengan ukhuwah islamiyah yang selalu menjadi kekuatan berdakwah, selaras dengan budaya SEF yakni Ikhlas dan Professional.