Publikasi

  • 23 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

"Diantara Reksadana, Saham Atau Emas Yang Manakah Yang Cocok Untuk Anak Muda?"

Setiap orang pasti memiliki cita-cita kehidupan mapan dan nyaman di masa depan. Tapi, hidup seperti itu perlu dicapai dengan berbagai persiapan, terutama yang berkaitan dengan pengaturan keuangan. Salah satu caranya adalah dengan berinvestasi sejak usia muda.

Sama seperti menabung, investasi atau menanamkan modal pada aset-aset tertentu perlu dilakukan sejak dini. Tidak perlu menunggu  berpenghasilan yang cukup besar dan berusia matang baru memulai berinvestasi.Hal ini dapat terlihat saat ini dimana saat ini telah banyak anak muda yang sudah tidak asing dengan investasi.

Sejak mereka telah memiliki penghasilan, anak muda zaman saat ini telah memulai persiapkan kebutuhan masa depan seperti keinginan memiliki rumah , keinginan memiliki kendaraan, kebutuhan dana pernikahan,traveling dan shopping. Oleh karena itu, wajar kalau kalangan usia ini perlu mulai mengatur keuangannya dan mulai berinvestasi dengan menyisihkan dana untuk investasi sejak masih muda meskipun penghasilan yang rekan-rekan terima saat ini belum terlalu besar.

Mengapa perlu berinvestasi sejak dini ? dengan memulai menginvestasikan penghasilan sejak dini maka rekan-rekan memiliki peluang dimana dana rekan-rekan yang telah di investasikan akan tumbuh pesat sehingga dapat mengalahkan inflasi dalam jangka panjang.
Selain itu karena dengan kita memulai berinvestasi sejak usia muda, rekan-rekan memiliki kelebihan dimana rekan-rekan masih memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan uang dan mengembangkan dana investasi tersebut menjadi lebih besar dengan ditempatkan kedalam instrumen-instrumen investasi saat ini yang telah tersedia baik itu dalam bentuk reksadana, saham, ataupun emas.

Namun, ada kalanya anak muda galau disaat akan memutuskan hendak berinvestasi di reksadana,saham atau emas dikarenakan tidak memiliki rekomendasi yang cukup untuk menjelaskan hal tersbeut dan pada akhirnya karena kelamaan galau, tidak jadi berinvestasi. Sehingga penghasilan yang seharusnya sudah mulai disisihkan untuk kebutuhan hari depan, akhirnya habis tak berbekas sekadar untuk konsumsi semata.

Penulis: Arief Tri Setiaji

Sumber: http://akucintakeuangansyariah.com

  • 17 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Sharia Economic Event Southeast Asia (SEVENTSEAS) 2018 yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Tim yang berhasil meraih penghargaan tersebut beranggotakan Septian Nudin (Manajemen 2016), Lailatul Munawaroh (Manajeman 2016) dan Yolanda Regita Cahyani (Manajemen 2016). 

SEVENTSEAS merupakan rangkaian acara tahunan terbesar yang diadakan oleh KSEI CIES Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya yakni Call for Paper dan Bussiness Plan. Call for Paper adalah ajang kompetisi Paper tingkat nasional yang di ikuti oleh 8 Universitas di seluruh Indonesia yang mengirimkan Paper terbaiknya untuk bisa menjadi pemenang di event tahunan ini. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 15 sampai 17 November 2018.

Pada hari pertama (15/11), acara langsung dibuka dengan persentasi Paper dari 12 tim yang terpilih yakni diantaranya Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Airlangga, dan Universitas Gunadarma. Call for Paper mengusung tema "Optimalisasi Potensi Filantropi Ekonomi Islam dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045" bertujuan untuk mengoptimalkan Filantropi Islam, yaitu Zakat, Infaq Sodaqah, Wakaf (ZISWAF) sebagai penggerak utama dalam membangun Indonesia Emas pada tahun 2045 mendatang. Tim Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-2 dengan mengangkat topik mengenai Disabilitas dan Ekonomi dengan judul Paper “RUMAH TUNA INDONESIA (RT ID): SOLUSI WAKAF PRODUKTIF MELALUI PEMBERDAYAAN ENTREPRENEURSHIP TUNARUNGU DAN TUNANETRA BERBASIS CROWDFUNDING DEMI MEWUJUDKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGS)”. Topik tersebut mengenai platform yang disebut dengan RT ID merupakan wadah khusus yang menaungi para Tunarungu dan Tunanetra dalam bidang entrepreneurship khususnya industri ekonomi kreatif melalui kolaborasi antara metode crowdfunding dengan pemanfaatan wakaf tanah yang diharapkan dapat mendanai RT ID dalam menjalankan kegiatan operasional.

Pada hari kedua (16/11), para finalis diajak berkeliling Kota Batu dan Malang untuk mengenalkan secara langsung tempat wisata disana. Alun-alun Batu yang menjadi ikon Kota Batu juga turut menjadi salah satu destinasi. Setelahnya, kami mengunjungi Green Eco Park sebagai salah satu tempat wisata menarik di Kota Malang.

Pada hari ketiga (17/11) merupakan puncak dari ajang Sharia Economic Event Southeast Asia (SEVENTSEAS) 2018 yang dibuka dengan Seminar Internasional dan diakhiri dengan Seminar Nasional bertemakan "Optimizing the Philantrophy of Islamic Economics to achieve an Independent Society’s Economy" dihadiri oleh Bapak M Nuh sebagai Keynote Speaker mendapatkan antusiasme yang sangat luar biasa dari kalangan Mahasiswa maupun praktisi ekonomi syariah. Acara ditutup dengan pemberian hadiah kepada para pemenang Call for Paper dan Bussiness Plan yang langsung diserahkan oleh Para Undangan Pembicara dan diakhiri dengan foto bersama dengan seluruh ketua tim pemenang SEVENTSEAS 2018.

  • 16 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

#SEFNews

Berita Ekonomi Syariah Edisi November 2018

"Ekonom Rabbani, fatal bila tidak update berita"

Selamat Membaca

[LPDB Targetkan Pembiayaan Syariah UMKM Rp 450 Miliar]

Pembiayaan syariah menawarkan berbagai skema untuk pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Syariah memiliki beragam skema untuk menyalurkan Rp 450 miliar dana yang khusus dialokasikan pada 2018 bagi UMKM.

Direktur Pembiayaan Syariah LPDB Zaenal Aripin mengatakan dari total dana tersebut baru 23 persen yang termanfaatkan. Sisanya akan dimaksimalkan pada acara Kementerian Koperasi dan UKM melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB–KUMKM), Indonesia Syariah Fair (Insyaf) pada tanggal 27-29 November 2018.

"Dana LPDB secara total ada Rp 1,2 triliun, Rp 450 miliar khusus untuk skema syariah, kita harapakan 70 persennya terserap pada acara Insyaf nanti, hingga akhir tahun semoga tercapai," kata Zaenal, Rabu (14/11). Tahun depan, dananya akan meningkat jadi Rp 520 miliar.

Meski demikian, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 75 Tahun 2011 LPDB harus menyalurkan dana tersebut lewat lembaga keuangan. Sehingga LPDB bekerja sama dengan sejumlah bank untuk penyaluran, seperti BPD Jateng Syariah, BJB Syariah, koperasi simpan pinjam syariah di Jabar dan jateng serta BPRS di Aceh dan Magelang. Selain itu, ada sekitar 12 lembaga keuangan, 7 koperasi simpan pinjam syariah, dan PBMT Ventura.

Penyaluran tersebut memiliki imbal hasil kompetitif dan tidak memberatkan. Menurut penentuan tarif dasar berdasarkan PMK No.75/PMK.05/2011, LPDB-KUMKM menyalurkan melalui KSPPS/USPPS/LKB/LKBB dengan akad mudharabah nisbah maksimal 40:60 persen.

Dari KSPPS/USPPS/LKB/LKBB kepada UMKM dengan akad murabahah sebesar 24 persen. LPDB menyasar semua kategori dan sektor UMKM. Syarat utamanya adalah jenis usaha halal, memiliki laba bersih dan minimal masa usaha dua tahun.

Zaenal mengatakan LPDB saat ini sedang mengajukan revisi untuk PMK No 75 tahun 2011 agar dapat menyalurkan pembiayaan secara langsung pada kelompok usaha, tanpa melalui lembaga keuangan lain. Dengan begitu, nisbah bisa ditetapkan lebih rendah.

"Kita sudah ajukan revisi pada Kementerian Keuangan, mungkin ada pembahasan selama dua bulan, awal 2019 kita harapkan sudah bisa menyalurkan dana direct ke UMKM," kata Zaenal.

Meski demikian, perubahan penyaluran dana langsung hanya bisa untuk pembiayaan Rp 250 juta hingga Rp 10 miliar. Di bawah itu, LPDB akan tetap bekerja sama dengan lembaga keuangan.

Sejumlah sektor akan menjadi prioritas seperti usaha ekonomi kreatif syariah. Sektor ini memiliki potensi yang besar karena mulai jadi fokus pihak global.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Fadjar Hutomo mengatakan Uni Emirat Arab telah mulai mencanangkan inisiatif ekonomi kreatif syariah tersebut, seperti dalam hal halal industri, keuangan syariah, hingga gaya hidup Islami.

"Memang agak sedikit bersinggungan dengan pasar halal yang sudah ada, tapi sektor ini fokus pada mengutamakan nilai tambah dari produk sektor halal yang sudah tersedia itu," katanya.

Misal, industri halal fokus pada produksi makanan halal. Maka inisiatif ekonomi kreatif syariah fokus pada inovasi makanan ini agar lebih memiliki nilai tambah. Jaenal mengatakan UMKM di Indonesia saat ini lebih banyak menjadi reseller.

Produk yang dipasarkan pun minim inovasi sehingga dijual dengan harga standar. Jika inovasi dan kreatifitas ditingkatkan pada produk-produk halal, maka nilai jual akan semakin tinggi. Fadjar berharap UMKM di Indonesia bisa mengembangkan volume bisnis dengan skema kreatif seperti ini.

Zaenal sepakat, pembiayaan syariah LPDB menjadi salah satu sumber pendanaan yang mendorong peningkatan volume usaha. Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), M Bagus Teguh menyampaikan pembiayaan syariah kini telah menjadi satu alat yang menjembatani masyarakat untuk berdikari sesuai syariat.

UMKM yang peduli pada cara mendapatkan pinjaman sesuai syariat kini tidak perlu khawatir lagi. Pembiayaan syariah mulai menjamur di masyarakat, baik dari pemerintah, korporasi seperti perbankan syariah, teknologi digital, hingga lembaga filantropi Islam.

Pemanfaatan lembaga-lembaga syariah ini memang masih perlu keberpihakan. Indonesia adalah negara dengan mayoritas umat Islam. Maka pengusaha Muslim pun diharapkan bisa lebih mengutamakan sistem keuangan yang berbasis hukum Islam.

"Kita sebagai Muslim memang perlu keberpihakan pada lembaga keuangan syariah, jika ingin keuangan syariah Indonesia maju maka perlu kita dukung dengan menggunakannya," kata Teguh.

Banyaknya pembiayaan syariah, salah satunya dari LPDB ini, menurutnya, menjadi kesempatan baik yang harus dimanfaatkan. Partisipasi pengusaha pada sektor ini sekaligus dapat meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih sangat rendah di negara mayoritas penduduk Muslim ini.

Target penyaluran tahun 2018 Direktorat Pembiayaan Syariah LPDB-KUMKM diantaranya Rp 247,5 miliar untuk KSPPS/USPPS, Rp 67,5 miliar untuk Koperasi sektor riil, dan Rp 135 miliar untuk LKB/LKBB.

Akumulasi penyaluran sejak 2008 hingga 2018 telah mencapai Rp 8,5 triliun kepada lebih dari tiga ribu UMKM di seluruh Indonesia. Proporsi pencairan dana bergulir yakni 18 persen untuk syariah sebesar Rp 1,5 triliun, dan 82 persen untuk konvensional sebesar Rp 7 triliun.

Sumber: Republika.co.id

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 10 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 10 November 2018 menyelenggarakan Sef Super Mentor dengan tema Beyond The Average: Unlocking Your Mind and Think Creative! dalam satu sesi dari pukul 08.30 – 11.30 WIB di Ruang Auditorium D462, Universitas Gunadarma, Depok.

Sef Super Mentor adalah event setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Depok. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Reren Anggun Wulandari, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Ali Muhsin (Arab), Endang Sulastri (Jepang), Poppy Irani (Inggris), dan Adam al-Aziz (Indonesia)

Sambutan pertama disampaikan  oleh M. Alfian Darmawan selaku ketua Sharia Economic Forum 2018/2019. Beliau mengatakan  bahwa  pemuda adalah penggerak peradaban, pemuda sebagai tonggak dalam sebuah peradaban, pemuda harus bebas akan finansial dan pemuda juga harus berintelektual baik itu pikiran maupun emosi.

Sambutan kedua disampaikan oleh  Pak Riskayanto selaku Ketua Jurusan Ekonomi Syariah. Beliau mengatakan bahwa acara ini menjadi ajang bagi para peserta dalam meniti karir dan mengarungi lautan setelah masa perkuliahan nanti. Diharapkan acara ini dapat memotivasi dan menggerakan cita-cita yang sudah di canangkan oleh para peserta.  

Setelah itu masuklah kita pada acara inti. Moderator pada kali ini ialah saudara Abdul Roqqib yang merupakan ketua SEF 2017/2018. Beliau mengatakan bahwa pemuda sebagai penggerak peradaban harus mempunyai pemikiran yang terbuka dan kreatif disamping dengan tuntutan kemajuan zaman yang menuntut kita untuk berfikir kreatif.

Pembicara pertama yaitu Bapak Ahmad Fajri Shauti. Beliau memaparkan tujuan dari acara ini adalah untuk menginspirasi semua mahasiswa/i agar menjadi mahasiswa/i yang mempunyai value. Perubahan zaman yang sudah masuk pada era Revolusi Industri 4.0 yang berpengaruh kepada penurunan penggunaan SDM ke teknologi, perubahan model bisnis, perubahan penilaian investor, perubahan jenis profesi. Kemudian, solusinya adalah mempersiapkan diri dengan menambah skill. Salah satu bentuk mempersiapkan dirinya adalah dengan berorganisasi, bentuk kelompok belajar yang solid, travelling dengan tujuan mencari skill.

Pembicara kedua yaitu Bapak Santoso Permadi. Beliau memaparkan bahwa mahasiswa harus mempunyai softskill, hardskill, mindset, dan relations. Untuk dapat dikenal oleh dunia, maka pemuda harus membuat karya atau kegiatan produktif lainnya yang menjadikan kita pantas disebut sebagai pemuda "Beyond The Average". Beliau juga mengatakan bahwa karir itu adalah ketika kesiapan, kesempatan, dan kepantasan datang bersamaan. Disamping itu, 4 hal yang harus di perhatikan adalah kombinasi antara iman, adab, ilmu dan amal.

Pembicara ketiga yaitu Bapak Muhamad Rizky Rizaldy. Beliau memaparkan bahwa be yourself bukanlah suatu seruan yang tepat, namun justru menjebak. Kita harus mempunyai mentor/tokoh yang dapat diteladani. Untuk menjadi orang hebat adalah dengan berteman dengan orang hebat. Ciri khas orang hebat adalah mempunyai tujuan, berani, serta senantiasa memegang kalimat "Smooth Seas Never Made Great Sailors", artinya orang hebat tidak terlalu memikirkan masalah tetapi lebih kepada berani akan tantangan.  Avoid averageness, get faster, embrace the greatest power, be altruistic juga merupakan beberapa kalimat yang dapat dijadikan sebagai motivasi para pemuda.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana terdapat 5 penanya dari 2 sesi tersebut. Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan : Anisah Ajeng Jayanti

  • 9 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

#SEFNews

Berita Ekonomi Syariah Edisi November 2018

"Ekonom Rabbani, fatal bila tidak update berita"

Selamat Membaca

[BI Optimistis Keuangan Syariah Semakin Berkembang]

Bank Indonesia (BI) optimis industri keuangan syariah akan semakin berkembang di Indonesia. Bank sentral pun terus mendukung agar hal itu terjadi.

"Di Bank Indonesia pun, kita ada Departemen Keuangan Syariah. Kita sangat dukung," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman Zainal saat ditemui di Acara Anugerah Syariah Republika (ASR) di Hotel JW Marriot, Jakarta, Kamis, (8/11).

Lebih lanjut, Agusman menyatakan, langkah Republika mengadakan ASR sangat tepat. Pasalnya, itu semakin menunjukkan dedikasinya terhadap kemajuan keuangan syariah.

"Ini dedikasi yang sangat luar biasa dan strategis untuk ekonomi syariah. Khususnya bank syariah," kata Agusman.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan penguatan ekonomi dan keuangan syariah dapat dilakukan melalui pengembangan rantai nilai halal regional. Ini meliputi pengembangan ekosistem dari berbagai tingkatan usaha syariah, dari hulu ke hilir.

Di Kawasan Timur Indonesia (KTI), secara khusus, terdapat banyak potensi yang dapat dikembangkan. Seperti penerapan sistem pertanian terintegrasi, pengembangan produk makanan halal, pengembangan kain tenun dan produk kerajinan daerah, serta pengembangan pariwisata halal.

Penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) tahun 2018 menjadi salah satu langkah untuk mengembangkan ekonomi syariah secara serentak di seluruh Indonesia, untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional. Dody  mengatakan potensi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah perlu didukung oleh penguatan ekosistem rantai nilai halal.

Maka dalam hal ini, kata dia, diperlukan skema business matchinguntuk mendorong terhubungnya sisi penawaran produk usaha syariah. Dengan sisi permintaan dari pasar domestik, regional, maupun pasar global.

Sumber: Republika.co.id

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 2 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

#SEFNews

Berita Ekonomi Syariah Edisi November 2018

"Ekonom Rabbani, fatal bila tidak update berita"

Selamat Membaca

[SBSN Bantu Peningkatan Pembiayaan Syariah]

Sukuk Negara menempati porsi 18 persen dari total Surat Berharga Negara (SBN) yang dikeluarkan pemerintah Indonesia sejak 2008. Menurut Data Islamic Finance Development Report 2017 Thomson Reuters, porsi sukuk sebesar 16 persen dalam distribusi aset keuangan syariah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan pembiayaan dengan instrumen syariah saat ini menempati porsi 20 persen dari total pembiayaan. Ini termasuk sukuk dan pembiayaan perbankan juga lembaga keuangan syariah lainnya.

Ia yakin angka tersebut bisa berkembang dua kali lipat dalam 10 tahun kedepan. Pembiayaan dengan instrumen syariah akan sebanding dengan konvensional jika semua pihak berkolaborasi untuk mempopulerkannya.

"Kita bisa memperbesar pembiayaan syariah jika memperbanyak instrumen syariah, investor base dan bagaimana membesarkan lembaga keuangan syariah," kata dia dalam acara Satu Dasawarsa Sukuk Negara, Kamis (1/11).

Bank Indonesia, tambahnya, telah berupaya untuk menciptakan iklim yang ramah pada pertumbuhan pembiayaan keuangan syariah tersebut. Seperti menerbitkan sertifikat deposito syariah yang bisa diperdagangkan hingga aturan untuk lindung nilai syariah.

Perry juga membocorkan BI pun akan mengeluarkan sukuk BI namun masih dalam pembahasan. Sukuk ini adalah hasil inovasi dengan tenor pendek mulai bulanan bahkan mingguan. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

BI menilai beredarnya sukuk telah memperbaiki likuiditas di pasar sehingga berimbas positif pada kondisi makro ekonomi negara. Jadi sukuk tidak hanya membantu dalam pembiayaan sektor riil tapi juga memberi dampak pada likuiditas.

Kedepannya, Perry mengatakan BI mengharapkan peran perbankan syariah yang lebih luas di pasar. Perbankan jadi bukan hanya penghimpun dana masyarakat tapi juga mengarah pada sekuritas. Perbankan syariah bisa fokus pada upaya investasi untuk penyaluran dana, tidak hanya pembiayaan.

"Jadi lebih ke investment banking. Financing-nya tidak hanya loan tapi juga bisa membeli corporate bond, sukuk, dan lainnya, ini untuk mendorong peran," kata dia.

Selain itu, pengembangan keuangan syariah juga harus lebih luas. Tidak hanya perbankan saja tapi juga pengembangan jaringan ekonomi halal dari hulu ke hilir. "Tentu dari itu semua, paling penting adalah edukasi dan menyampaikan informasi, agar populer dan masyarakat ikut andil," katanya.

Sumber: Republika.co.id

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 26 Oct 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

#SEFNews

Berita Ekonomi Syariah Edisi Oktober 2018

"Ekonom Rabbani, fatal bila tidak update berita"

Selamat Membaca

[Baznas Luncurkan Program Mustahik Pengusaha]

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meluncurkan program Mustahik Pengusaha. Ini adalah program pemberdayaan ekonomi bagi mustahik yang akan atau sudah menjalankan usaha dari berbagai jenis produk.

Program Mustahik Pengusaha diawali dengan pemberdayaan kelompok usaha budidaya lele dan tanaman terong di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kepala Divisi Pendayagunaan Baznas, Randi Swandaru mengatakan, program ini bertujuan untuk mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sehingga mampu menjalankan usaha secara berkelanjutan.

“Jenis usaha yang dijalankan berupa usaha skala rumah tangga seperti makanan ringan, kue, turunan hasil pertanian, peternakan dan perikanan. Kami juga mendukung bagi UMKM yang bergerak di bidang industri kreatif seperti batik, ukiran, konveksi, kerajinan tangan, desainer, periklanan, kesenian dan arsitektur,” katanya dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (25/10).

Bantuan yang diberikan berupa modal usaha sebesar Rp 115 juta kepada 23 orang di kelompok budidaya lele di Kampung Bakung, Desa Karangpatri, Kecamatan Pabayuran. Sedangkan kelompok usaha pertanian budidaya terong di Desa Sukakerta, Kecamatan Sukawangi yang beranggotakan 25 orang memperoleh bantuan sebesar Rp 180,9 juta atau berkisar antara Rp 5 juta sampai dengan Rp 7 juta per orang.

“Bantuan modal untuk kelompok usaha budidaya lele akan digunakan untuk pembangunan kolam bioflok, pembelian benih lele, dan pengadaan pakan. Lokasi usaha kolam lele bioflok difokuskan pada satu lahan bersama,” katanya.

Sedangkan untuk usaha budidaya terong, modal usaha digunakan untuk pembelian bibit, pupuk, biaya perawatan dan penanganan pasca panen. Adapun dua kelompok usaha ini telah memiliki jaringan pasar sehingga anggota kelompok dapat lebih fokus dalam meningkatkan kualitas usaha dan disiplin dalam usaha yang dilaksanakan.

Dalam pelaksanaan program ini, tim Baznas melalui Lembaga Pengembangan Ekonomi Mustahik (LPEM) juga melakukan pendampingan. Kegiatan pendampingan ini menjadi salah satu faktor keberhasilan program untuk menjaga semangat mustahik dan memastikan usaha berjalan sesuai dengan rencana. Melalui kegiatan pendampingan ini, mustahik didorong untuk kreatif dan inovatif.

“Kegiatan pendampingan ini dilakukan melalui 3 tahapan, yakni tahap perintisan terdiri dari penumbuhan dan pembentukan kelompok, tahap penguatan untuk menumbuhkan aktivitas usaha dan kelompok penerima manfaat serta tahap pemandirian,” katanya.

Diharapkan dengan kegiatan peluncuran ini dapat memberikan motivasi usaha tidak hanya kepada anggota di dalam kelompok tapi juga masyarakat sekitar tempat usaha. “Selanjutnya untuk melakukan percepatan program ini, Baznas akan bersinergi dengan berbagai pihak, baik Pemerintah Daerah dan Baznas di daerah setempat untuk membantu mustahik keluar dari kemiskinan,” kata Randi.

Sumber: Republika.co.id

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 19 Oct 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

#SEFNews

Berita Ekonomi Syariah Edisi Oktober 2018

"Ekonom Rabbani, fatal bila tidak update berita"

Selamat Membaca

[Potensi Wisatawan Muslim Milenial Capai 180 Miliar Dolar AS]

Potensi wisatawan Muslim milenial dan generasi Z di pasar daring mencapai 180 miliar dolar AS pada 2026. Hal ini karena peningkatan ketergantungan terhadap internet, media sosial, dan  smartphone  untuk menemukan tempat-tempat wisata dan melakukan reservasi perjalanan secara  online . 

Dalam siaran pers yang diterima Republika, Jumat (19/10), Mastercard-Crescent Rating Digital Muslim Travel Report 2018 (DMTR2018) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pembelian online oleh wisatawan Muslim pada masa yang akan datang. Penelitian juga menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen wisatawan Muslim adalah Generasi Milenial ataupun Generasi Z. 

DMTR2018 merupakan laporan komprehensif pertama yang menyuguhkan informasi mengenai pola perjalanan online dan sikap wisatawan Muslim dari berbagai kelompok demografis yang berbeda. Laporan ini memperluas penelitian pada populasi wisatawan Muslim digital, sebagai bagian yang lebih besar dari Muslim Milennial Travelers (MMT) pada Muslim Millenial Travel Report 2017. 

Laporan ini disampaikan pada acara Halal-In-Travel Asia Summit yang diselenggarakan oleh CrescentRating di ITB Asia 2018. CEO CrescentRating dan HalalTrip, Fazal Bahardeen mengatakan DMTR2018 mengungkapkan hal-hal penting mengenai perilaku dan preferensi online wisatawan Muslim.

Vice President Market Development Mastercard, Davesh Kuwedekar mengatakan pasar perjalanan Halal senantiasa menjadi salah satu segmen perjalanan yang bertumbuh paling cepat secara global. Dilihat dari kedatangan wisatawan Muslim yang mewakili sekitar 10 persen dari keseluruhan industri perjalanan global pada tahun 2017. 

Wisatawan Muslim menghabiskan lebih banyak waktu untuk meneliti dan membandingkan informasi online sebelum akhirnya memilih dan membayar pengalaman perjalanan ideal mereka. Mastercard bekerja sama dengan mitra-mitra untuk menciptakan penawaran khusus di berbagai bidang yang menjadi minat para konsumen. 

Seiring dengan meningkatnya jumlah konsumen yang menjelajahi lebih banyak negara dan wilayah, Mastercard melihat adanya peningkatan dalam penggunaan pembayaran non-tunai dan digital. Melalui opsi prabayar dan debit sebagai metode pembayaran elektronik yang lebih aman, nyaman, dan dapat diandalkan untuk memberikan ketenangan selama bepergian. 

Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 yang dirilis pada bulan April tahun ini, menegaskan bahwa pasar perjalanan Muslim akan terus mengalami pertumbuhan yang cepat hingga mencapai 300 miliar dolar AS pada tahun 2026. Pada tahun 2017, diperkirakan terdapat 131 juta wisatawan Muslim secara global.

Sumber: Republika.co.id

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 12 Oct 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

#SEFNews

Berita Ekonomi Syariah Edisi Oktober 2018

"Ekonom Rabbani, fatal bila tidak update berita"

(Selamat Membaca)

[OJK: Investasi Dana Haji Bisa Masuk Pasar Modal]

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong permintaan instrumen pasar modal dan perbankan untuk berinvestasi dalam infrastruktur. Salah satu yang bisa digunakan adalah penggunaan dana haji yang saat ini dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Kendati begitu, menurut Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida, saat ini dana haji tidak secara langsung masuk ke investasi proyek infrastruktur. Berdasarkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji, terdapat beberapa pilihan instrumen yang bisa digunakan untuk mengelola dana haji.

Instrumen dipilih sesuai prinsip syariah dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kehati-hatian, nilai manfaat, dan likuiditas, seperti produk perbankan syariah seperti giro, deposito berjangka, dan tabungan. Kemudian, sisanya dialokasikan untuk investasi, mulai dalam bentuk surat berharga, emas, investasi langsung, dan investasi lainnya.

Untuk pengelolaan dana haji dalam bentuk penempatan pada perbankan syariah paling banyak 50 persen dari total penempatan dan investasi keuangan haji. Namun, setelah tiga tahun BPKH terbentuk, jumlah dana pengelolaan di perbankan syariah turun menjadi 30 persen.

“Jadi dana haji setelah tiga tahun harus dikurangi jadi 30 persen ke instrumen perbankan. Dalam hal ini akan ada perubahan, instrumen lain yang perlu dimasuki atau dipegang oleh dana BPKH. Bukan lagi di perbankan Syariah,” jelas Nurhaida saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).

Menurut Nurhaida, setelah tiga tahun, dana haji yang sebesar 20 persen yang tadinya di perbankan Syariah, seharusnya dapat dipindahkan untuk berinvestasi di instrument lain. Misalnya pasar modal melalui instrument sukuk, reksadana Syariah dan asset backed security Syariah. Saat ini OJK tengah mendorong peningkatan instrument investasi modal.

“Tapi memang pemahaman masyarakat atau market players masih perlu ditingkatkan. Sehingga masyarakat tahu ini ada instrumennya, ada issuer, dan ada produk-produk tertentu yang mereka bisa keluarkan agar kemudian bisa jadi pendanaan dari infrastruktur,” papar Nurhaida.

Selain dari dana haji, salah satu yang sudah dilakukan terkait dengan sisi permintaan yakni dengan menginvestasikan sebanyak 30 persen dana pensiun dan asuransi ke dalam Surat Berharga Negara (SBN) atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Menurut Nurhaida, ketentuan tersebut dapat dipenuhi ketentuannya sebagian dari instrumen infrastruktur yang diterbitkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).  

“Jadi kalau ada sukuk diterbitkan oleh BUMN dan itu bisa dianggap sebagai pemenuhan untuk SBN. Itu beberapa ketentuan yang sebetulnya akan kita keluarkan agar demand side dari produk itu bisa meningkat,” katanya.

Sumber: Republika.co.id

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 10 Oct 2018

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih Juara III National Essay Competition dalam ajang Sharia Economic Festival 2018 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Tim yang berhasil meraih penghargaan tersebut beranggotakan Indah Nur Maulina (Manajemen 2017), Reita Fabiolyn Qamaril (Manajemen 2016) dan Dwi Rahayu (Manajemen 2015).

Sharia Economic Festival (Sharia Ecofest) merupakan rangkaian acara tahunan yang diadakan oleh HMJ Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah kategori National Essay Competition yang merupakan ajang kompetisi essay tingkat nasional dan diikuti oleh delegasi dari 10 Universitas di Indonesia yang terpilih untuk menampilkan essay terbaiknya dalam event tahunan ini. Kegiatan National Essay Competition diselenggarakan pada tanggal 10 Oktober 2018.

Pada 10 Oktober 2018 acara dimulai dengan persentasi essay dari 8 tim yang terpilih yakni diantaranya Universitas Andalas, Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, STEI SEBI, Universitas Diponegoro, IAIN Lampung, dan Universitas Gunadarma. National Essay Competition ini mengusung tema besar "The Golden Age of Sharia Economic" bertujuan untuk mencari serta mengoptimalkan peran para pemuda sebagai penggerak utama dalam membangun bangsa melalui pemikiran kreatif dan inovatif dalam Ekonomi Islam. Tim Universitas Gunadarma mengangkat topik mengenai Bank Wakaf Mikro dengan judul essay “Optimalisasi Wakaf Uang untuk Pemberdayaan Colleaguepreneur dalam Menghadapi Bonus Demografi 2020 melalui E-Wacopers”. Dalam penulisan essay ini Tim Gunadarma menggagas sebuah ide melalu pembuatan sebuah platform yang dapat menanugi colleaguepreneur atau pengusaha mahasiswa agar dapat menjalankan bisnis dengan optimal namun tetap dalam koridor prinsip syariat Islam, sehingga dapat mendongkrak angka UMKM di Indonesia dan mampu memanfaatkan fenomena bonus demografi 2020 yang akan berdampak besar bagi kemajuan perekonomian Indonesia. Pada platform ini colleaguepreneur akan diberdayai melalu pemanfaatan wakaf uang yang dikelola melalui Bank Wakaf Mahasiswa dan kemudian untuk mempermudah transaksi antara pihak-pihak yang terkait dibentuk sebuah aplikasi penunjang bernama E-Wacopers.

Setelah seluruh tim telah mempresentasikan essay masing-masing, acara selanjutnya adalah pengumuman hasil penilaian dari National Essay Competition. Kemudian scara ditutup dengan Pemberian hadiah kepada para pemenang National Essay Competition dan foto bersama dengan seluruh peserta dan panitia Sharia Ecofest 2018.