Publikasi

  • 1 Dec 2016

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Kapitalisasi saham syariah mencapai lebih dari Rp 3000 triliun.

Wakaf produktif di Indonesia kini sedang mulai digalakkan. Tak hanya mendorong pemberdayaan aset wakaf berupa tanah atau bangunan agar menjadi lebih produktif, sekarang muncul pula wakaf produktif berupa wakaf saham. Dalam hal ini wakif mewakafkan saham yang dimilikinya.

Direktur Bursa Efek Indonesia Nicky Hogan mengatakan, nilai saham memang akan selalu berfluktuasi. Namun, dalam wakaf saham, jika saham diwakafkan memang sahamnya tidak akan diperjualbelikan, hanya dividen dari saham yang akan diwakafkan,” jelasnya dalam Indonesian Islamic Finance Forum.

Ia memaparkan, jika berbicara mengenai wakaf saham, banyak saham perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang memberi dividen minimal antara 30-50 persen. “Itu tentunya hampir semua saham pemerintah, kecuali saham perbankan, masuk ke saham syariah,” cetus Nicky.

Tak hanya saham perusahaan BUMN, lanjut Nicky, beberapa saham korporasi juga bahkan bisa memberi dividen hingga 50 persen. “Jadi tentu untuk wakaf saham pilihan sahamnya adalah memang yang memberikan dividen, sementara kalau fluktuasi harga saham memang selalu terjadi,” tukasnya.

Oleh karena itu, tuturnya, kalau berbicara potensi wakaf saham di Indonesia maka sangatlah besar. Total kapitalisasi saham di pasar modal Indonesia sekitar Rp 5600 triliun. Dari jumlah tersebut sebesar 61 persen adalah saham syariah, dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp 3000 triliun. “Itu besaran kapitalisasi pasar saham syariah, tentu tidak semua diwakafkan tapi wakaf saham potensinya besar,” tandas Nicky.

Sumber: AKUCINTAKEUANGANSYARIAH.COM

  • 30 Nov 2016

  • 0 Comments

  • Internasional

Langkah Al Rayan Bank (ARB) ini disambut baik otoritas keuangan Inggris. Keuangan syariah mulai mengembangkan sayapnya di Skotlandia.

Hal ini ditandai dengan beroperasinya bank syariah, Al Rayan Bank (ARB) di Glasgow, Skotladia.

Dilansir dari Herald Scotland, Rabu 30 November 2016, ARB ini dulunya bernama Islamic Bank of Britain (IBB). Bank tersebut menawarkan sistem perbankan yang tidak memberikan bunga serta bagi hasil dan risiko kepada masyarakat Skotlandia.

Sekadar informasi, IBB mencetak laba setelah pajak sebesar 10,3 juta pound sterling pada 2015. Angka ini melesat dari laba tahun 2014 yang hanya 1,2 juta poud sterling.

Tujuan utama membuka cabang bank syariah di Skotlandia adalah membuat kemitraan antara Glasgow dengan Komisi Keuangan Syariah Inggris. Tak hanya itu, pemilihan Skotlandia sebagai wilayah ekspansi pasar, sesuai dengan bisnis bank.

Sekretaris kabinet untuk ekonomi, pekerjaan, dan keadilan dunia kerja, Keith Brown, mengatakan ARB menyambut baik perluasan pasar bank syariah di Skotlandia untuk pertama kalinya dalam menawarkan sistem keuangan syariah kepada masyarakat Skotlandia.

Untuk diketahui, ARB ini menawarkan produk perbankan syariah berupa tabungan, giro, pembiayaan rumah dan properti, serta pembiayaan korporasi.

Direktur Eksekutif ARB, Sultan Choudhury, mengatakan bank syariah ini memang punya banyak nasabah dari Skotlandia sebelum menghadirkan kantor di negara tersebut.. Nasabah tersebut melakukan transaksi perbankan via internet dan telepon.

" Kini, kami menghadirkan kantor bank kami di Skotladia," kata Choudhury.

Sebelum berada di Skotlandia, bank ini sudah melakukan kerja sama pembiayaan dengan sebuah organisasi non profit untuk pedidikan Islam di Glasgow, Al-Meezan pada 2013. Nilai pembiayaannya mencapai 400 ribu poundsterling dan ditujukan untuk pembangunan bangunan tempat mengajar seperti pembangunan 10 ruangan kelas, toilet, aula, dan renovasi teater.

Sumber: Dream.co.id

  • 28 Nov 2016

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I mencatatkan perdagangan sukuk ijarah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut menerbitkan sukuk ijarah I sebesar Rp 500 miliar.

Penerbitan sukuk ijarah merupakan bagian dari pendanaan eksternal yang diperkirakan mencapai Rp 25 triliun sampai dengan 2020. Direktur Keuangan & TI Angkasa Pura I Novrihandi mengatakan, pendanaan eksternal ini diperlukan untuk pembangunan dan pengembangan lima bandara yaitu Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Baru Yogyakarta, Terminal 3 Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Hasanuddin Makassar.

Pembangunan dan pengembangan bandara tersebut mendesak dilakukan karena sudah mengalami lack of capacity. "Ke depan kami akan mengoptimalkan sumber dana eksternal dari penerbitkan obligasi dan sukuk, serta pinjaman dari lembaga keuangan bank dan non bank untuk membiayai capital expenditure," ujar Novrihandri di Jakarta, Senin (28/11).

Selain menerbitkan sukuk ijarah, perseroan juga menerbitkan surat utang konvensional (obligasi) sebesar Rp 2,5 triliun. Obligasi dan sukuk ijarah yang diterbitkan dalam tiga seri yakni Seri A dengan tenor 5 tahun, Seri B dengan tenor 7 tahun, dan Seri C dengan tenor 10 tahun.

Seri A memiliki bunga tetap 8,10 persen, Seri B 8,40 persen, dan Seri C 8,55 persen. Obligasi dan sukuk ijarah tersebut telah diperingkat oleh Pefindo dengan rating triple A dan outlook stable.

Sumber : Republika.co.id

  • 24 Nov 2016

  • 0 Comments

  • Artikel

Menjadi rasional atau berpikir dan bertindak logis adalah salah satu bentuk respon manusia terhadap pilihan-pilihan yang ditawarkan kepadanya sepanjang hidupnya.Namun, sudah benarkah pilihan-pilihan yang diambil dari beragam pilihan yang ada ? Mari kita perhatikan dari sudut pandang ekonomi konnvensional serta ekonomi Islam dalam memandang hal ini. Pada ekonomi konvensional, konsumen  dipandang sebagai utility maximizer terhadap kebutuhan dan keinginan, yang dimana norma dan nilai-nilai religiusitas tidak terdapat di dalamnya (Friedman, 1979). Sehingga tidak mengherankan jika di dalam teori ekonomi konvensional terdapat beberapa perilaku yang sebenarnya menyimpang dari norma dan aturan, namun hal tersebut masih dinilai logis atau rasional. Karena segregasi yang kentara antara ilmu yang dianggap ‘ilmiah’ dengan norma yang berlaku di masyarakat inilah, sehingga kemudian ilmu ekonomi konvensional kerap kali disebut sebagai ‘ekonomi positif’.

Kontras dengan ekonomi konvensional, ekonomi Islam yang merupakan derivasi dari Islam itu sendiri, memandang bahwa perilaku konsumen harus berlandaskan kepada syariat Islam yang ada (Hamid, 2009). Meskipun begitu, rasionalisme dalam Islam tidak menyangkal kepentingan diri sebagai basis maksimisasi utilitas dalam perilaku manusia tetapi memurnikannya melalui filter sosial, moral dan agama (Khurshid, 1992). Hal ini didukung pula oleh aksioma-aksioma universal berikut yang merupakan syarat seseorang dianggap melakukan tindakan rasional secara Islami (yang selanjutnya pelakunya disebut rasional Islami) diantaranya :

1.  Setiap pelaku ekonomi bertujuan untuk mendapatkan maslahah (memelihara tujuan syara’ dan meraih manfaat atau mengindari kemudharatan) dengan aksioma sebagai berikut :

  • Monotonicity maslahah: Merupakan keadaan dimana kemaslahatan yang tingkatannya lebih tinggi lebih disukai dibandingkan kemaslahatan yang lebih rendah. Karena kemaslahatan yang lebih tinggi dapat memberikan kebahagiaan yang lebih, begitupun sebaliknya. Hal ini bersesuaian dengan kaidah fiqh berikut: “Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan”
  • Quasi concavity: Merupakan keadaan dimana seorang rasional Islami akan terus mengupayakan kondisi kemaslahatan yang meningkat sepanjang waktu. Dengan pola non-decreasing yang berbanding terbalik dengan konsep marginal diminishing utility yang berpola decreasing setelah dicapainya utilitas maksimum.

2. Setiap pelaku ekonomi selalu mengupayakan untuk menghindari israd atau perilaku mubazir. 

Umat Islam dianjurkan untuk bersikap pertengahan, yakni tidak berlaku bakhil atau pelit dan menghindari sikap berlebihan atau mubadzir, sebagaimana firman Allah berikut :

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra : 29)

3. Setiap pelaku ekonomi selalu berupaya untuk meminimumkan risiko (risk aversion)

Risiko merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Terlebih risiko memiliki kecenderungan negatif, karenanya risiko selalu diupayakan seminimum mungkin. Namun sejatinya, hanya risiko yang dapat diantisipasi (anticipated risk) saja yang dapat dihindari atau diminimumkan

4. Setiap pelaku ekonomi dihadapkan pada situasi ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan hal yang pasti terjadi. Karena masa depan sejatinya hanya diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, adapun manusia hanya mampu untuk memprediksi dan mempersiapkan yang terbaik dari segala kemungkinan yang ada. Sebagaimana firman Allah :

“Katakan –Wahai Muhammad-, tidak ada yang mengetahui, baik penduduk yang ada di langit maupun penduduk yang ada di bumi, terhadap sesuatu yang ghaib kecuali hanya Dia (Allah). (QS. an-Naml: 65).

5. Setiap pelaku ekonomi berusaha untuk selalu melengkapi informasi

Hal ini amat penting untuk dilakukan. Karena saat terjadi asimetris informasi atau ketidak lengkapan perolehan informasi, dapat membuka celah penipuan (tadlis) yang dapat merugikan salah satu pihak. Selain itu, terdapat pula aksioma lainnya yang dapat melengkapi aksioma universal sebelumnya, diantaranya:

Adanya kehidupan setelah mati. Islam sebagai agama yang komprehensif, turut mempertimbangkan aspek spiritual dan adanya kehidupan lain setelah kehidupan sebagai landasan konsumen dalam menentukan pilihan.

Kehidupan akhirat merupakan pembalasan final atas kehidupan di dunia. Hukum sebab-akibat dalam Islam, tidak berhenti prosesnya di dunia semata, namun juga di akhirat. Oleh karenanya, amat perlu bagi rasional Islami untuk menginjeksikan nilai-nilai keislaman sebagai wujud pemahaman bahwasanya terdapat akibat atau pembalasan pada fase kehidupan selanjutnya (re: kehidupan di akhirat).

Sumber informasi yang sempurna hanyalah Al-Qur’an dan Hadits. Karena nilai-nilai religiusitas amat melekat pada ekonomi Islam, maka elemen-elemen mendasar seperti acuan utama (Al-Qur’an dan Hadits) dipercaya sebagai sumber hukum dan sumber informasi tertinggi yang tiada luput dari kesalahan karena memang berasal dari Sang Khaliq.

PenulisIren Karina (Staff Manajemen Aset SEF UG) | Red: Fauziah

Referensi:

Friedman, Milton (1979). The Methodology of Positive Economics, published by Univ of Chicago Press, USA

Hamid .M.A (2009), Islamic Economics: An Introductory Analysis, pp.47, first edition: 2009 published by-Md.Iqbal Aziz Khan, CSE, Rajshahi University, Bangladesh.

Ahmad, Khurshid. (1992). Nature and Significance of Islamic Economics, in Lectures on Islamic

Economics, pp. 7-23, Jeddah: Islamic Research and Training Institute.

Hosen, dkk. 2008. Materi Dakwah Ekonomi Syariah. Jakarta : Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah

Al Manhaj.(2015). Kaidah ke 33 Jika ada Kemaslahatan Bertabrakan Maka Masalahat yang Lebih Besar Harus didahulukan. Retrieved from https://almanhaj.or.id/4072-kaidah-ke-33-jika-ada-kemaslahatan-bertabrakan-maka-maslahat-yang-lebih-besar-harus-didahulukan.html

 

  • 24 Nov 2016

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Akan ada dua fokus pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang akan dibidik.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo berjanji bakal meluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi dan keuangan syariah pada akhir 2016. Dalam cetak biru tersebut, BI akan fokus pada upaya penguatan sektor keuangan sosial syariah (islamic social finance) maupun pendalaman pasar keuangan syariah.

Mengutip sambutan Gubernur BI dalam Pertemuan Tahunan BI, Rabu, 23 November 2016, sisi penguatan keuangan sosial syariah diharapkan mampu memperkuat social safety net maupun pemenuhan dana untuk pembiayaan infrastruktur.

"BI akan fokus pada peningkatan peran keuangan sosial syariah seperti zakat dan wakaf serta melanjutkan inisiasi pendirian Islamic Inclusive Financial Service Board (IFSB)," kata Agus. Dengan pembentukan IIFSB itulah, Indonesia diharapkan menjadi centre of excelence sektor keuangan syariah global.

Sementara itu di sisi pendalaman pasar keuangan syariah, BI akan mendorong implementasi Sukuk Linked Wakaf. Untuk program ini, BI akan bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, KementerianBUMN, Badan Wakaf Indonesia, dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional untuk memastikan status sertifikasi bagi tanah-tanah wakaf yang ada, sehingga pemanfaatannya dapat lebih optimal.

Selain itu, BI juga akan menyempurnakan kajian-kajian terkait dengan penerbitan instrumen pasar uang syariah berdasarkan underlying Surat Berharga Syariah Negara, menyempurnakan mekanisme transaksi, serta melengkapi infrastruktur pasar keuangan syariah lainnya.

"Bank Indonesia juga akan memperkuat aliansi strategis dengan kementerian dan otoritas terkait pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dalam wadah Komite Nasional Keuangan Syariah," ujar Agus.

Sumber: Dream.co.id

  • 23 Nov 2016

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menyatakan bahwa perbankan syariah di Indonesia memiliki momentum untuk tumbuh. Hal ini ditandai dengan data statistik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat total aset perbankan syariah per 30 September 2016 mencapai Rp 331,76 triliun. Pertumbuhan aset ini menunjukkan bahwa perbankan syariah mengalami pertumbuhan sebesar 17,58 persen year on year.

Sekretaris Jenderal Asbisindo Achmad K Permana mengatakan, pencapaian total aset tersebut adalah yang tertinggi dalam sejarah. Dengan demikian, secara keseluruhan pangsa pasar perbankan syariah terhadap perbankan nasional sudah mencapai 5,3 persen. Menurutnya, pencapaian ini patut disyukuri karena situasi ekonomi makro dunia dan domestik masih kurang kondusif untuk pertumbuhan usaha.

"Pencapaian ini akan dijadikan momentum bagi perbankan syariah untuk terus tumbuh dengan konsisten, berkualitas, dan berkesinambungan sampai 2016 dan menjelang 2017," ujar Permana.

Oleh karena itu, untuk mendukung hal tersebut hal-hal positif terus digali dan dikembangkan. Salah satu yang mendukung perkembangan perbankan syariah antara lain kesempatan menjadi BO 1 dan BO 2. Dengan hal tersebut, maka perbankan syariah telah memiliki akses dalam melayani rekening lembaga atau institusi pemerintah, berkontribusi penting terhadap dana haji yang terus bertumbuh, dan secara konsisten mendalami pasar retail melalui campaign iB Marketing.

Untuk mendukung perkembangan industri syariah ke depan, Asbisindo memiliki beberapa usulan strategis yang potensial. Usulan ini akan disampaikan kepada OJK, Bank Indonesia, maupun regulator terkait. Permana mengatakan, usulan tersebut yakni terkait dengan sertifikasi halal. Menurutnya, perusahaan yang mengajukan sertifikasi halal diwajibkan memiliki sejumlah persentase tertentu atas dana maupun pembiahaannya di bank syariah. Hal ini sangat penting, karena potensi pasar produk halal di Indonesia terus terbuka luas.

"Kalau perusahaan mengklaim halal seharusnya dari sisi transaksi keuangannya juga harus halal, dan ini merupakan sesuatu yang wajar," kata Permana.

Sumber: Republika.co.id

  • 21 Nov 2016

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma melakukan kegiatan sosialisasi yang bertemakan ‘Literasi Keuangan Syariah’ kepada siswa di Sekolah Menengah Atas. Kegiatan ini dilaksanakan di SMKN 22 Jakarta di Jl. Raya Condet, Kel. Kampung Gedong, Kec. Pasar Rebo, Jakarta Timur. Agenda ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan sosial dari Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengedukasi siswa dan siswi SMA sederajat untuk memahami Ekonomi Syariah sejak dini sehingga diharapkan kedepannya ketika sudah masuk dunia perkuliahan maupun kerja, mereka sudah paham mengenai sistem Ekonomi Islam maupun Lembaga Ekonomi Syariah dan akhirnya mereka sudah mempunyai pilihan untuk selalu menggunakan produk-produk syariah yang ditawarkan oleh perbankan maupun lembaga keuangan syariah lainnya.

Sambutan Kepala Sekolah SMKN 22 Depok

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Eka Purwati selaku Ketua Pelaksana kegiatan SEF UG Goes to School dan dibuka secara resmi oleh Bapak Prihatin Gendra Priyadi, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMKN 22 Jakarta. Kemudian dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al Qur’an oleh Aji Hasan Agung.

Materi sosialisasi ini disampaikan oleh Qodhyan Fatahillah selaku Ketua Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma. Materi yang disampaikan meliputi perkembangan ekonomi syariah di dunia, pengertian dari ekonomi syariah, pentingnya urgensi ekonomi syariah, gambaran kondisi ekonomi Indonesia dan prospek terhadap sistem ekonomi dan keuangan syariah, serta motivasi dalam pembelajaran ekonomi syariah.

Sosialisasi ekonomi syariah kepada siswa SMKN 22 Jakarta

Dalam pemaparannya Qodhyan menyampaikan gambaran mengenai keadaan perekonomian dunia akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalis yang tidak mengenal prinsip keadilan dimana yang mempunya modal (capital) besar mereka mampu berkuasa, sehingga dampaknya banyak terjadi ketimpangan sosial dan kemiskinan terutama yang dialami oleh saudara-saudara kita di Negara Afrika. Hal ini tentu saja berlainan dengan sistem ekonomi islam yang mengutamakan prinsip keadilan di dalamnya.

Dalam sosialisasi ini, Qodhyan Fatahillah juga mengajak semua siswa menerapkan kegiatan yang sesuai dengan nilai-nilai syariah dalam praktek kehidupan sehari-hari. Selain itu, Qodhyan memberikan motivasi untuk membangkitkan para siswa agar mempunyai semangat untuk terus belajar dan berinovasi di bidang ekonomi syariah, sehingga mereka memiliki wawasan dan daya pikir yang luas dalam bidang ekonomi syariah. Di akhir acara dilakukan ice breaking untuk menambah semangat para siswa untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh MC dan membagikan doorprize menarik bagi mereka yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar.

Penyerahan plakat secara simbolis kepada SMKN 22 jakarta

Dengan adanya kegiatan sosialisasi ekonomi syariah ditingkat SMA/SMK, diharapkan siswa-siswi dapat mengenal apa itu ekonomi syariah, selain itu juga memberikan wawasan kepada mereka terkait keadaan ekonomi syariah di Indonesia dan sebagai acuan jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dapat memilih prodi yang mampu membuat ekonomi syariah lebih baik lagi.

Laporan: Titin Arhaeni Putri | Red: Annisa Lestari

 

  • 26 Sep 2016

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Bank Indonesia (BI) merilis posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia akhir Agustus 2016 tercatat sebesar 113,5 miliar dolar AS, lebih tinggi 2,1 miliar dolar AS dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2016 sebesar 111,4 miliar dolar AS. Peningkatan cadangan devisa mengindikasikan bahwa neraca pembayaran berpotensi untuk kembali surplus pada kuartal III tahun ini.

Peningkatan cadangan devisa pada bulan Agustus didorong oleh penerimaan pajak, devisa sektor migas serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, yang melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo. Sementara permintaan valas dalam negeri masih terkendali.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kenaikan cadangan devisa terjadi meskipun rupiah cenderung melemah sekitar 0,40 persen month to month (mtm). “Dengan meningkatnya tren cadev mengindikasikan bahwa neraca pembayaran berpotensi untuk kembali surplus pada kuartal III tahun ini,” ujar Josua Pardede pada Republika, Kamis (8/9). Josua mengatakan, kedepannya BI dan pemerintah perlu meningkatkan koordinasi supaya menjaga iklim investasi dengan tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah serta meningkatkan fundamental ekonomi di tengah meningkatnya risiko fiskal.

Berdasarkan data Ditjen Pajak pada Rabu (7/9), dana repatriasi kebijakan amnesti pajak yang sudah masuk yakni sebesar Rp 14,7 triliun atau sekitar 1,13 miliar dolar AS. Kendati begitu, Josua menilai dana repatriasi yang masuk belum signifikan. Sehingga, sambung dia, peningkatan cadangan devisa bukan disebabkan karena amnesti pajak tapi karena pasokan dolar AS ke dalam negeri meningkat serta penerimaan devisa dan ekspor.”Sementara permintaan dolar AS dalam negeri khususnya dari korporasi juga menurun cukup signifikan karena utang luar negeri swasta yang trend nya menurun dan juga karena upaya BI untuk menjaga permintaan valas dengan PBI kewajiban penggunaan rupiah dalam negeri,” jelasnya.

Sumber: Republika.co.id

  • 8 Sep 2016

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) mencatat pada semester I 2016 telah terjadi peningkatan nilai investasi asuransi syariah sebesar 25,19 persen dan kontribusi bruto tumbuh sebesar 16,04 persen. Sampai akhir Juli 2016, tren positif tetap dicatatkan dengan besaran aset mencapai Rp 31,77 triliun dan kontribusi sebesar Rp 6,85 triliun.

Ketua Umum AASI Taufik Marjuniadi mengatakan, angka-angka statistik yang membaik di semester I 2016 menjadi kerangka acuan dalam pengembangan industri asuransi syariah ke arah yang lebih baik lagi. Kebijakan pemerintah untuk memberikan peluang bagi asuransi syriah dalam mengembangkan ruang lingkup usahanya menjadi optimisme untuk meraup ceruk pasar yang baru.

“Kebijakan pemerintah terkait dengan repratiasi aset dan tax amnesty membuka peluang tersendiri bagi asuransi syariah. Bukan hal yang mustahil, dana tersebut bisa digunakan untuk mendorong permodalan asuransi syariah agar mempunyai tingkat permodalan yang mumpuni,” ujar Taufik di Jakarta, Kamis (8/9).

Faktor lain yang mendorong optimisme yakni semakin banyaknya aksi korporasi perusahaan reasuransi yang mengubah unit syariahnya menjadi perusahaan reasuransi yang beroperasi secara penuh. Taufik optimistis dalam kurun waktu lima tahun ke depan akan semakin banyak perusahaan asuransi syariah yang berdiri secara penuh.

Dengan kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini, AASI optimistis bahwa pertumbuhan asuransi syariah pada semester II 2016 akan mencapai angka 20 persen. Harapannya ke depan perusahaan reasuransi syariah Indonesia bisa tampil di tingkat regional maupun global.

“Saat ini market base sudah memadai, keberadaan regulasi dan fatwa juga mendukung, serta tingkat kemampuan keahlian asuransi syariah terus berkembang,” kata Taufik.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

  • 7 Sep 2016

  • 0 Comments

  • Internasional

Keuangan syariah akan mendapatkan tempat di Rusia. Pemerintah Rusia melihat potensi yang cukup baik dari keuangan syariah untuk memperbaiki perekonomiannya. Dilansir dari Gulf Times, Rabu 7 September 2016, selain untuk memfasilitasi 20 juta penduduk muslimnya, Negeri Beruang Merah itu mulai melirik keuangan syariah karena industri ini diyaini bisa memulihkan perekonomian pasca dikenakannya sanksi dari Barat.

Keuangan syariah mulai mendapat sorotan ketika ada tiga bank yang bersiap untuk merilis produk keuangan syariah, yaitu Vnesheconombank, Sberbank, dan Taftondbank. Ketiganya ini telah meneken kerja sama dengan Islamic Development Bank untuk meluncurkan produk keuangan syariah.

Misalnya, Sberbank, bank terbesar di Rusia, membidik pendapatan sebesar US$200 juta-US$300 juta (Rp2,61 triliun-Rp3,92 triliun) dari keuangan syariah. Lain itu, ada juga Vnesheconombank, bank pembiayaan pembangunan terbesar di Rusia, telah membiayai beberapa proyek industri halal di Rusia dan ingin meningkatkan pendanaan lewat instrumen pembiayaan keuangan syariah.

Sementara itu, Vneshemeconombank berinisitiatif untuk meningkatkan ekspor ke negara Muslim. CEO Vneshemeconombank, Sergei Gorkov, mengatakan Rusia telah memasok produknya kepada negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan nilai ekspornya mencapai US$3 miliar. Angka ini diyakini bisa meningkat dua kali lipat dengan mudah.

“ Kami bekerja dengan intstrumen keuangan syariah untuk mendukung transaksi ekspor dan impor serta membiayai produk halal,” kata Gorkov yang menyebut banknya telah bekerja sama dengan IDB senilai US$100 juta (Rp1,3 triliun) itu.

Tiga bank ini akan turut serta dalam konferensi perbankan syariah di Bahrain. Selain untuk membangun jaringan dalam keuangan syariah internasional, mereka juga ingin membuat sebuah peta jalan keuangan syariah di Rusia dan negara pecahan Soviet (Commonwealth of Independent States/CIS).

“ Saat ini, sudah ada kemauan politik untuk keuangan syariah dibangun di Rusia. Kini, masyarakat sadar perbankan syariah bisa menjadi sebuah peluang,” kata Executive Director Divisi Corporate and Investment Banking Sberbank, Maxim Osintsev.

Meskipun demikian, progres keuangan syariah di Rusia bergantung kepada kesiapan regulator untuk membuat payung hukum kerangka kerja keuangan syariah, membuat biaya efektif lewat keringanan pajak, dan memfasilitasi pendanaan bagi industri. Anggota parlemen Rusia melihat masalah utamanya adalah hukum Rusia melarang bank terlibat dalam kegiatan komersial di luar kegiatan perbankan, seperti jual beli aset tertentu.

Untuk tahap awal, kerangka hukum keuangan syariah di Rusia memungkinkan hanya pada aset yang terbatas, seperti logam mulia. Untuk membuat regulasi yang lebih luas yang memungkinkan memfasilitasi keuangan syariah secara penuh di Rusia, tentu memerlukan waktu yang lama.

Sumber : dream.co.id