Seminar Nasional Kalimalang “The Economyc Crisis Cycle”

Semnas

Seminar Nasional 1:

“The Economic Crisis Cycle: Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges”

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 01 Desember 2018 menyelenggarakan Seminar Nasional Kalimalang dengan tema besar The Economyc Crisis Cycle. Seminar ini dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama yaitu dalam sesi 1 dengan sub tema Actualizing the Islamic Paradigm in Facing Global Economic Challenges dari pukul 08.30 – 12.00 WIB di Ruang Cinema J167 Universitas Gunadarma Kalimalang.

Seminar Nasional adalah event setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Kalimalang. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Anisah Ajeng Jayanti, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Ali Muhsin (Arab), Anesi (Inggris), dan Indah Sari (Indonesia)

Sambutan pertama disampaikan oleh Zaki Ilhaam Muhammad selaku ketua pelaksana Aktualisasi Ekonomi Syariah. Beliau mengatakan  bahwa  Pemuda yang sakit adalah pemuda yang merasa bahwa dunia ini sedang baik-baik saja, sedangkan pemuda yang sehat adalah pemuda yang merasa bahwa dunia ini sedang tidak baik (sakit). Pemuda menjadi tonggak peradaban dunia.

Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Imam Subaweh selaku Ketua Jurusan Ekonomi. Beliau mengatakan bahwa SEF merupakan organisasi yang sangat dibanggakan oleh Gunadarma. Manusia menjadi khalifah di muka bumi ini, harus menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya. Tugas kita ialaha menegakkan ekonomi islam dan memberantas riba.

Setelah itu masuklah kita pada acara inti. Moderator pada kali ini ialah Ibu Nur Azifah yang merupakan Sekretaris Prodi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma.

Pembicara pertama yaitu Bapak Dr. Muhammad Muflih. Beliau memaparkan materi yang berjudul “Pandangan Islam Terhadap Penetapan Mata Uang Dunia dan Krisis Global”

Dunia mengalami krisis ekonomi pada 1900-an. Krisis merupakan history yang ada disetiap zamannya. Bagaimana pandangan Islam terhadap dollar?. Dollar mengalami beberapa fase yaitu yang dibackup dengan emas. Pada Perang Dunia II, Amerika memenangkan Perang sehingga membuat Amerika menjadi negara adikuasa. Pada tahun 1994 masyarakat dunia mencari sistem moneter yang dikumpulkan di Bretton Woods yang menyepakati transaksi yang berlaku didunia. Dollar AS di patok pada tingkat bunga tetap ke emas yang membuat dollar AS sepenuhnya dapat dikonversi menjadi emas pada tingkat tetap $35. Uang yang terlalu benyak menyebabkan inflasioner, sedangkan barang yang terlalu banyak menyebabkan deflasioner.

Pada tahun 1971, Bretton Woods menurun karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap dollar sehingga ekonomi tidak bergairah. Mulai 1970 awal amerika menetepakan fightnmoney, yang menetapkan Dollar sebagai patokan nilai tukar dunia. Menurut kelompok Dinaris, dinar merupakan keseimbangan sedangkan dollar itu riba karena nilai instrisiknya tidak sama. Namun menurut Zubair Hasan dari Malaysia yang menolak karena setiap negara mempunyai stándar emas masing-masing. Jadi dapat disimpulkan bahwa kunci terjadinya krisis adalah karena perilaku. Islam meningkatkan money demand untuk orang miskin. Dalam Islam uang tidak boleh menganggur harus berputar. Zakat mampu mengubah struktur permintaan mata uang.

Pembicara kedua yaitu Bapak Prayudhi Azwar. Beliau memaparkan materi yang berjudul “Fokus Kebijakan dalam Mengantisipasi Krisis Ekonomi Global”

Knowladge akan dibayar mahal daripada tenaga. Tantangan Dinamika Ekonomi Global



  • Small Open Economy, pada 2008 Amerika melakukan ekspansi, bukan melakukan pengurangan mata uang. Sedangkan Indonesia pada 2008 mengalami krisis yaitu harga naik. Pada 2010, negara-negara lain mengejar Indonesia maka terjadilah massive capital inflow. Untuk mempelajari ekonomi syariah, kita juga harus mempelajari ekonomi konvensional, agar dapat mematahkan teori ekonomi konvensional. Indonesia saat ini terjadi rezim devisa bebas dan kebijakan moneter independen.

  • Melandainya yield curve dari Surat Utang Pemerintah AS, pada 2007 Amerika keluarkan obligasi baru. China memegang 1 ½ T USD dari devisa mereka. Pada 2017 China mulai menjual cadangan devisanya. Ketika China mulai tidak selera memegang bond Amerika, sehingga bond turun, sehingga investor yang tidak mengerti menginvestasi ke Amerika.

Tugas BI adalah hakikatnya sebagai rem. Tujuan BI menurut UU N0 23 Tahun 1999 tentang BI (pasal 7) bahwa Bank Indonesia bertujuan mencapai dan memelihara kestabilan Nilai Rupiah.

Tantangan untuk kita semua yaitu Adanya eksternal shock


  • Defisit neraca dagang Oktober, terparah kedua kalinya di 2018

  • Neraca dagang migas tekor Rp 158 T terparah sejak 2014

Pembenahan disektor ini Y= C+I+G+X-M

Kondisi saat ini ialah 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan 100 orang kekayaan masyarakat Indonesia. Untuk ini dipegang oleh pengusaha sektor rokok. Kehebatan Islam yaitu mempunyai instrument zakat, impact zakat yaitu mendorong orang yang mempunyai emas dengan nisab zakat.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana terdapat 5 penanya dari 2 sesi tersebut.

Pertanyaan dan Jawaban sesi 1


  1. Ade Saputra dari Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara

Petanyaan ditujukan kepada Bapak Muflih. Apa upaya pemerintah dalam menangani krisis dan apa dampaknya pada saat ini?

Bapak Muflih: Krisis 2008 menciptakan ekonomi yang menakutkan untuk Indonesia. Krisis luar biasa 1997. 1998 masyarakat Indonesia mulai memperhitungkan kembali krisis yang dibangun. Yang dikhawatirkan Indonesia pada tahun 2008 adalah kenaikan suku bunga. Dalam rangka mengantisispasi krisis 2008, masyarakat ekonomi syariah memberikan gairah untuk Indonesia dengan BI mengeluarkan wakaf.

 


  1. Anissa Febi dari Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara

Pertanyaan ditujukan kepada Bapak Prayudhi. Bagaimana open mind untuk berinvestasi dinegara sendiri.

Bapak Prayudhi: Perlu bangun enterpreunership skills dan manfaatkan waktu kita yang dipakai untuk nilai tambah. Apapun yang menambah daya saing kumpulkan dari sekarang. Jangan pernah menyalahkan keadaan, eskplor keluar dan produksi dalam negri.

 


  1. M. Iqbal dari Universitas Gunadarma

Pertanyaan ditujukan untuk Bapak Prayudhi. Bagaimana strategi memutuskan mata rantai di Indonesia

Bapak Prayudhi: pemerintah mengefektifkan programnya. Pendanaan sebisa mungkin dari BUMN bukan pendanaan dari luar.

Pertanyaan dan Jawaban sesi 2


  1.  

Apakah ada pengaruh dari siklus ekonomi terhadap peraturan negara?

Bapak Muflih: Siklus ekonomi bisa mempengaruhi wujud regulasi, pun sebaliknya. Setiap negara harus protect negaranya agar tidak kalah dikompetensi negara. Kunci utamanya adalah regulasi dan kemajuan ekonomi dapat terstimulasi.


  1. Fitria Ayudha dari Universitas Bhayangkara

Apakah riba tersebut mempengaruhi kas negara dan apa upaya pemeribtah untuk menanggulanginya?

Bapak Prayudhi: Sekarang krisis terjadi karena kerusakan tangan-tangan manusia sehingga terjadi bubble. Supaya riba tidak berkembang yaitu mensosialisasikan ekonomi syariah agar masyarakat mau menabung di bank syariah sehingga bank syariah dapat me-landing uang tersebut.

Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan: Putri Yunela Sari

 

 

 

 

Seminar Nasional 2:

Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of The Economic Crisis Cycle

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 01 Desember 2018 menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Youth Contribution through Islamic Economics in Diminishing Inequality as an Impact of The Economic Crisis Cycle” pada sesi dua pukul 13.00 – 16.00 WIB di Ruang Cinema J167, Kampus J1, Universitas Gunadarma, Kalimalang.

Seminar Nasional Kalimalang adalah acara setahun sekali yang diadakan oleh SEF di Kalimalang. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Adam Al-Aziz, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Bintang Widya Atmojo (Arab), Alief Sucianingsih (Inggris) dan Ricka Annisa (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan  oleh M. Alfian Darmawan selaku ketua Sharia Economic Forum periode 2018/2019. Beliau mengatakan  bahwa  kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia sangat memprihatinkan, maka dari itu sebagai generasi milenial kita harus mampu mengatasi konflik kesenjangan ekonomi. Sebagaimana data membuktikan bahwa empat orang terkaya di Indonesia dapat mensejahterakan seratus juta jiwa penduduk Indonesia.

Sambutan kedua disampaikan oleh  Pak Imam Subaweh  selaku Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi. Beliau mengatakan bahwa tugas kita saat ini adalah mengembalikan kehidupan kita yang semula menggunakan sistem ekonomi kapitalisme menjadi sistem ekonomi Islam, acara ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi pemuda untuk kritis dan mempunyai semangat membangun bangsanya melalui ilmu yang diberikan.

Moderator pada sesi ini ialah Ibu Stevani Adinda Nurul Huda yang merupakan Dosen Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Beliau mengatakan bahwa pemuda harus memiliki semangat dalam mengatasi krisis ekonomi yang terjadi dengan kemudahan teknologi di zaman sekarang.

Pembicara pertama yaitu Bapak Ahmad Riawan Amin. Beliau memaparkan bahwa penjajahan yang terjadi sekarang adalah penjajahan etis. Penjajahan yang dilakukan tanpa senjata dan pertumpahan darah namun lebih menyengsarakan. Kenyataannya ini terjadi pada ekonomi kita, tidak semua infalsi mengakibatkan seseorang miskin, semakin tinggi inflasi dapat juga membuat seseorang semakin kaya. Maka yang paling berharga dari Islam adalah Sistem Ekonomi Islam karena disinilah solusi tercipta. Jumlah uang yang beredar memperesentasikan kekayaan suatu negara pada periode tertentu. Maka dalam suatu negara tidak perlu merubah sistem ekonomi, cukup dengan memperbaiki sistem ekonomi.

Pembicara kedua yaitu Bapak Agus Kalifatullah Sadikin. Beliau memaparkan bahwa problem UMKM di Indonesia adalah pada pendanaan yang terbatas. Financial Tecnology diharapkan dapat meembantu pendanaan UMKM, terutama pada masyarakat yang memiliki akses lokasi yang sulit terjangkau. Total 70 Financial Tecnology yang terdaftar pada OJK. Perbedaan Financial Tecnology syariah dengan konvensional terletak pada akadnya.

 

Pembicara ketiga yaitu Ibu Aldilla Kusumawardhani. Beliau memaparkan bahwa sebagai pemuda mulailah berhenti berbicara soal “Aku” dan mulailah berbicara tentang “Kita dan Mereka”. Menjadi pemuda yang peduli dengan masa depan Indonesia merupakan suatu hal yang harus dibuat dalam bentuk aksi nyata. Kesenjangan yang yang terjadi terutama pada masyarakat pedesaan, memerlukan pendidikan untuk dapat merepresentasikan potensi yang ada padanya. Solusinya pada pemuda, mulailah berfikir kritis (ada keresahan) dan mulai dengan aksi nyata (beraksi atau gerakan)..

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya dari 1 sesi tersebut. Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah oleh Panitia. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan : Indah Sari