Publikasi - Laporan Kegiatan

  • 27 Jun 2020

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Depok - Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih Juara 3 dan Juara Harapan 1 dalam ajang Tazkia Accounting Competition (TAC) 2020 yang diselenggarakan oleh Institut Agama Islam Tazkia, Bogor, Jawa Barat. Tim yang berhasil meraih penghargaan tersebut yaitu Tim 1 yang beranggotakan Anisah Ajeng Jayanti  (Ekonomi Syariah 2017), Indah Nur Maulina (Manajemen 2017), dan Wafa Luthfiyah Azzahra (Akuntansi 2018) dan Tim 2 yang beranggotakan Ahmad Maulana (Ekonomi Syariah 2018), Ali Muhsin (Ekonomi Syariah 2017), dan Nadya Salsabila Haqqoni (Manajemen 2018).

TAC merupakan acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Akuntansi Syariah (HAMAS) IAI Tazkia. TAC merupakan agenda yang diadakan setiap tahun dengan rangkaian acara yaitu Seminar Nasional dan Olimpiade Akuntansi dan Ekonomi Islam tingkat SMA/MA dan Mahasiswa. Acara ini mengusung tema “Penguatan Filantropi Islam dalam Pengembangan Ekonomi dan Akuntansi Syariah Untuk Mencapai SDGS di Era 5.0” Acara ini berlangsung pada 02 – 33 Maret yang bertempat di Kampus IAI Tazkia.

Pada hari pertama (02/03), acara dimulai dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan babak penyisihan Olimpiade Akuntansi dan Ekonomi Islam. Pada tahap penyisihan ini diadakan test tulis dimana setiap peserta secara individu mengerjakan soal pilihan ganda sebanyak 100 soal dengan total waktu 120 menit dengan materi soal ekonomi islam secara keseluruhan. Setelah babak penyisihan, acara kembali dilanjutkan dengan babak perempat final. Pada tahap ini setiap tim mengerjakan soal dalam bentuk 20 soal isian singkat, dan 10 soal uraian singkat. Setelahnya, 12 tim dengan nilai tertinggi maju ke babak perempat final, semua tim dari Universitas Gunadarma Alhamdulillah berhasil maju ke babak semifinal yang dilaksanakan pada hari kedua.

            Selanjutnya hari kedua (03/03), merupakan puncak dari acara TAC 2020 yang dilanjutkan dengan babak semifinal yaitu lomba cepat tepat. Pada babak ini, 12 tim yang lolos dibagi kedalam 3 ronde, dimana setiap ronde terdiri dari 4 tim yang akan bersaing dalam lomba cepat tepat, untuk selanjutnya terpilih 2 tim dengan skor tertinggi dari setiap ronde untuk maju ke babak final. Dalam babak ini, 3 tim dari Universitas Gunadarma harus bersaing dalam 1 ronde dan 2 tim berhasil maju ke babak final. Maka, 6 tim yang lolos untuk masuk pada babak final berasal dari LIPIA, IPB University, UIN Yogyakarta, IAI Tazkia, dan 2 tim dari Universitas Gunadarma. Pada babak final, setiap tim diberikan studi kasus sesuai dengan tema kegiatan untuk dipresentasikan di depan dewan juri dengan waktu persiapan presentasi sebanyak 45 menit untuk pembuatan presentasi dan 30 menit untuk presentasi. Tim 1 Universitas Gunadarma tampil urutan pertama dengan menyampaikan inovasi yaitu sukuk linked waqf, dimana sukuk yang diterbitkan dapat diwakafkan underlying assetsnya untuk pengembangan dan pembangunan pelabuhan serta fasilitas kemaritiman di Indonesia. Sedangkan Tim 2 Universitas Gunadarma tampil pada urutan terakhir dengan memberikan inovasi berupa penerbitan blue sukuk. Setelah sebelumnya terdapat green sukuk yang diperuntukkan untuk pertanian dan perkebunan, maka blue sukuk adalah sukuk yang diperuntukkan bagi pengembangan dan pembangunan perairan.

Photo Pemenang Juara 3 Tim 1 (Wafa - Anisah Ajeng - Indah Nur) 

            Setelah kompetisi berakhir, acara dilanjutkan dengan Seminar Nasional bertemakan “Aktivitas Filantropi Islam dalam Mengembangkan Ekonomi dan Akuntansi Syariah di Era 5.0” yang dihadiri oleh Ibu Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc. selaku Rektor IAI Tazkia. Penyampaian materi seminar ini disampaikan oleh Bapak Drs. H. Ubaidillah Marzuki sebagai Waka 1 Baznas Kabupaten Bogor dan mendapatkan sambutan yang baik dari para mahasiswa serta akademisi yang hadir. Seminar ini diharapkan dapat menambah literasi dan wawasan para peserta mengenai perkembangan ZISWAF beserta dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Setelah seminar berakhir acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang Olimpiade Akuntansi dan Ekonomi Syariah TAC 2020.

Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih penghargaan juara 3 yang diraih oleh Tim 1 (Anisah Ajeng Jayanti,  Indah Nur Maulina, Wafa Luthfiyah Azzahra) dan juara harapan 1 yang diraih oleh Tim 2 (Ahmad Maulana, Ali Muhsin, Nadya Salsabila Haqqoni).

Photo Pemenang Juara Harapan 1 Tim 2 (Maulana - Ali - Nadya)

Laporan: Nadya Salsabila Haqqoni dan Wafa Luthfiyah Azzahra.

 

  • 25 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma bersama Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) pada hari Sabtu, 18 April 2020, menyelenggarakan SEF Talk with AFSI dengan tema “Fintech: Kawan atau Lawan Riba”. SEF Talk merupakan diskusi online ke-dua kalinya yang telah dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi Zoom. Diskusi ini bertujuan untuk menemani rekan-rekan Mahasiswa yang sedang menjalani masa #dirumahaja di tengah semakin mewabahnya pandemi COVID-19 agar keilmuwan Mahasiswa tetap ter-upgrade dan diisi dengan wawasan yang baru. Materi SEF Talk ini disampaikan oleh Bapak Emil Dharma, S.E., Ak., M.Com. selaku Wakil Ketua Umum, Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) dan dimoderatori oleh Saudara Rezaldi Dwinanta Tama selaku Staff Kementerian Pengembangan Sumber Daya Insani (PSDI) 2019/2020. Diskusi dimulai dengan pembacaan CV pembicara oleh moderator terlebih dahulu, selanjutnya masuk kepada sesi materi oleh Bapak Emil.

Sebelum membicarakan tentang Fintech, kita harus memahami tentang digital disruption. Digital disruption merupakan suatu kondisi yang terjadi akibat perubahan teknologi digital dan bentuk model bisnis dalam era digital yang membuat suatu perubahan yang besar sehingga menimbulkan sebuah era baru pada kondisi bisnis yang sudah ada sebelumnya. Kemudian, digital disruption juga menimbulkan pergeseran dari ekspektasi dan perilaku yang selama ini mungkin perilaku manual dan ekspektasi banyak tertahan, tetapi ketika adanya era digital menimbulkan ekspektasi dan perilaku yang baru dan merubah suatu budaya, kondisi pasar, dan kondisi industri. Salah satu contoh digital disruption yang terjadi di Indonesia adalah hadirnya ojek online ada banyak industri yang terganggu dengan adanya hal tersebut, misalnya logistik, transportasi, payment, restoran, dan banyak lagi. Adanya ojek online ini yang banyak berkembang pada bidang teknologi membuat banyak perubahan, hal ini lah yang disebut digital disruption.

Fintech adalah layanan jasa keuangan berbasis teknologi informasi. Jasa-jasa keuangan yang ditawarkan oleh fintech, antara lain: pembayaran, permodalan, digital banking, jasa pendukung, dan lainnya (inovasi keuangan digital). Perkembangan fintech di dunia diawali dengan P2P Lending yang berawal di Inggris dengan lahirnya sebuah perusahaan bernama Zopa pada Februari 2005. Kemudian P2P Lending berkembang di Amerika karena adanya dampak krisis keuangan pada tahun 2008. Lalu disusul oleh China pada tahun 2007. Kemudian P2P Lending berkembang di India dan Australia pada tahun 2012. Di Indonesia, bisnis Fintech baru dimulai sekitar tahun 2015 yang diawali dengan kemunculan P2P Lending Danamas dan Fintech Payment Go-Pay.

Ada banyak jenis fintech yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Fintech P2P atau layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Dasar hukum dari Fintech P2P adalah POJK Nomor 77/POJK.01/2016. Pada saat ini, jumlah akumulasi penyaluran pinjaman periode bulan Februari tahun 2020 mencapai Rp 95.394,57 miliar yang telah disalurkan dalam Fintech P2P Lending. Domisi paling banyak adalah daerah Jabodetabek yaitu sebanyak 151 dan tingkat keberhasilannya sebesar 96,08% dan terdapat outstanding pinjaman sebesar Rp 14,50 triliun. Sebanyak 161 perusahaan P2P Lending yang ada di Indonesia. Perusahaan P2P Lending yang ada di Indonesia hanya terdapat 12 perusahaan.

Meski perkembangan fintech di Indonesia baru berjalan 5 tahun, tetapi sudah mampu menyalurkan dana sebesar Rp 95.394,57 miliar. Berikut jumlah akumulasi penyaluran pinjaman berdasarkan provinsi di Indonesia dengan daerah terbesar adalah DKI Jakarta kurang lebih Rp 29.037,11 miliar.

Kemudian, adapun karakteristik pengguna fintech dari sisi lender yaitu orang yang menyalurkan dana untuk dipinjamkan jumlah laki-laki sebanyak 62,16% dan wanita sebanyak 37,63%. Selain itu, lender banyak di dominasi oleh kaum muda dengan range usia 19-34 tahun yaitu sebesar 69,68%. Kaum muda juga mendominasi pada sisi borrower atau peminjam dana yaitu sebesar 70,40%. Peminjam dana tersebut tidak didominasi oleh badan usaha melainkan orang-orang secara pribadi.

Jenis fintech lainnya adalah IKD (Inovasi keuangan Digital) di sektor jasa keuangan. Dasar hukum dari IKD adalah POJK Nomor 13/POJK.02/2018. Jika P2P Lending memberikan peminjaman atau pembiayaan. IKD memiliki banyak jenis model, antara lain: Agreggator, Planner, Blockchain, Credit Scoring, Claim Service Handling, Robo Advisor, Online Distress Solution, Online Gold Depository, Financing Agent, Digital DIRE, Project Financing, Funding Agent, Verification Non-CCD, Text and Accounting, dan E-KYC

IKD merupakan trobosan atau ide-ide terbaru di bidang teknologi perihal keuangan digital yang pada awalnya hanya terdapat 5 kategori IKD namun kini sudah terdapat 15 kategori IKD. Hal ini menandakan bahwa fintech sudah sangat berkembang. Ketika kita melihat permasalahan perekonomian di Indonesia, ada sekitar 49 juta unit UMKM belum mendapat akses pembiayaan IJK. Kemudian dari GDP dan jumlah penduduk Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN, namun Velocity Ratio dan aktivitas transaksi keuangan elektronik merupakan yang paling rendah di ASEAN. Lalu perihal ekspor, dari sekitar Rp 5.400 triliun output UMKM, nilai ekspornya hanya Rp 182 triliun atau sebesar 3,37%. Total kebutuhan pembiayaan sekitar Rp 1.649 triliun, sementara kapasitas pembiayaan oleh IJK tradisional hanya sekitar Rp 660 triliun sehingga terdapat gap sekitar Rp 988 triliun per tahun. Tingkat rasio gini Indonesia juga masih pada kisaran 0,384. Fintech diharapkan mampu memperbaiki tingkat keseimbangan bagi kesejahteraan penduduk dan menutup gap pembiayaan tadi. Menurut INDEF pada tahun 2019, dengan adanya fintech ternyata memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional yaitu tumbuh sekitar Rp 60 triliun. Kemudian keberadaan fintech juga mendorong penyerapan tenaga kerja hingga mencapai 362 ribu orang. Selain itu, fintech mampu mendorong pendapatan rumah tangga pertanian di desa hingga naik sebesar 1,23%. Lalu jumlah masyarakat miskin yang berkurang 177 ribu orang dan rasio gini menurun dari 0,382 menjadi 0,380.

Tetapi, seiring berjalannya perkembangan financial technology, banyak bermunculan fintech yang ilegal. Saat ini, sudah hampir 2500 fintech ilegal yang ada di Indonesia. Kemudian juga banyak artikel yang memberitakan teror pinjaman online. Hal ini merupakan salah satu dampak buruk dari ada nya fintech, yaitu menciptakan adanya masalah di masyarakat. Adapun laporan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) terkait praktik fintech ilegal yang mendapatkan aduan sebanyak 3.000 kasus, seperti ancaman pembunuhan, pelecehan seksual, pembocoran data pribadi pelanggan, pengenaan bunga yang sangat tinggi, penagihan mengabaikan privasi, dan juga intimidasi. Saat ini, pengenaan bunga pada P2P Lending memang cukup tinggi yaitu sebesar 0,8% per hari yang diperbolehkan oleh OJK. Permasalahan-permasalahan inilah yang menyebabkan sisi positif dari fintech tertutup. Jadi, Rp 95 triliun dana yang sudah disalurkan memiliki masalah yang cukup besar, yaitu sebanyak 98% nya adalah riba. Maka hal ini harus diperhatikan betul oleh kita sebagai Ekonom Rabbani bahwa kita sudah menambah riba lebih dari Rp 90 triliun di Indonesia.

Permasalahan permodalan dan pembiayaan yang ada di Indonesia. Apabila kita mencari modal atau pembiayaan melalui perbankan konvensional, fintech konvensional, perorangan dengan bunga, semuanya adalah haram menurut tinjauan syariat islam. Dikatakan haram, karena mengandung riba, maysir, gharar, bathil, dharar, dan dzalim. Modal bisnis dari riba hukumnya adalah haram. Karena dalam surah Al-Baqarah ayat 276 dijelaskan, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. Ibnu Katsir memberikan tafsir bahwa maksud dari ayat tersebut adalah bahwa Allah akan memusnahkan riba, baik dengan menghilangkan seluruh harta riba dari tangan pemiliknya, atau dengan menghilangkan barakah harta tersebut, sehingga pemiliknya tidak akan bisa mengambil manfaat darinya. Adapun ancaman yang paling berat dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 275 yang artinya “…Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.  Allah juga berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 25, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang dzalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. Arti dari ayat ini bisa saja mengartikan bahwa kejadian-kejadian yang sekarang banyak terjadi merupakan siksaan dari Allah, jadi adanya siksaan yang tidak dikhususkan untuk orang-orang zhalim. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika zina dan riba telah tampak pada suatu daerah maka penduduknya menghalalkan adzab Allah turun atas mereka” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir, dishahihkan oleh Al-Abani). Lalu bagaimana cara kita untuk menghindari adzab dari Allah? Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. Maka sudah kewajiban bagi kita untuk amar ma’ruf nahi mungkar atas kejadian yang ada di Indonesia terkhususkan untuk harta riba.

Atas dasar amar ma’ruf nahi mungkar tersebut maka muncul lah Fintech Syariah Indonesia yang sudah difatwakan oleh DSN MUI No.117/DSN-MUI/II/2018. Fintech Syariah Indonesia menerapkan tanpa bunga, tanpa denda, tanpa akad batil, tanpa agunan, dan tanpa riba. Adapun akad-akad yang ada pada Fintech Syariah adalah sebagai berikut:

  1. Akad Murabahah, Akad jual beli antara pemilik dana dan nasabah dimana pemilik dana membeli barang lalu menjualnya kepada nasabah dan menyebutkan harga perolehan.
  2. Akad Murabahah/Musyarakah, Akad bagi hasil antara pemilik dana dan pengelola usaha dimana perhitungan bagi hasil diambil dari hasil bersih usaha.
  3. Akad Wakalah bil Ujroh, Akad perwakilan antara Fintech Syariah dan pemilik dana, dimana Fintech Syariah dan pemilik dana dalam melakukan pembelian barang.
  4. Akad Ijarah/Jualah, Akad jasa/perantara antara Fintech Syariah dan pengelola usaha, dimana Fintech Syariah mendapatkan ujroh atas upayanya dalam mencarikan pemodal.

Kemudian, kategori dari fintech syariah yang ada saat ini adalah sebagai berikut: Payment, Peer to Peer Lending, Aggregator, Project Financing, Financial Planner, Blockchain Based, Claim Service Handling, Financing Agent, Credit Scoring, Digital Signature/Contract.

Lalu, objek permodalan dan pembiayaan fintech syariah, yaitu:

  1. Untuk pembiayaan UMKM di Indonesia
  2. Untuk project financing
  3. Untuk pembiayaan rumah
  4. Untuk pembiayaan pembelian mobil dan motor

Dilihat dari landscape keuangan syariah indonesia, market share keuangan syariah indonesia sebesar 8,47%. Padahal keuangan syariah di Indonesia telah ada sejak berdirinya Bank Muamalat. Kecilnya keuangan market share, keuangan syariah ini menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menjadi permasalahan yang dihadapi negeri ini, sehingga fintech syariah diharapkan mampu meningkatkan market share tersebut.

Maka jadilah generasi Ath-Thur 21 yaitu generasi penerus yang meneruskan nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu kaum. Jadilah generasi Maryam 42 yaitu generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum. Jadilah generasi Al-Maidah 54, yaitu generasi pengganti yang menggantikan kaum yang memang sudah rusak dengan mencintai dan dicintai oleh Allah, lemah lembut kepada kaum mu’min, tegas kepada kaum kafir, dan tidak takut celaan orang yang mencela.

Setelah berakhirnya sesi materi, dilanjut oleh tanya jawab oleh peserta diskusi.

Sesi Tanya Jawab:

1. Q: Apakah kita bisa untuk berhijrah 100% dengan kondisi dunia yang tidak ada celah bagi manusia untuk lepas dari sistem keuangan yang dimana keseluruhannya adalah unsur kapitalis, baik dalam metode ekonomi konvensional ataupun ekonomi digital? Kemudian, apakah fintech syariah yang ada di Indonesia sudah benar-benar menjalankan ekonomi syariah sesuai dengan Al-Qur’an?

A: Tidak bisa bagi kita untuk berhijrah 100% dari riba. Bahkan Rasulullah bersabda, “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun diantara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia akan tetap terkena debu (riba) nya” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud). Meski kita tetap terkena debu riba tersebut, kita tetap bisa untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Fintech syariah di Indonesia berusaha untuk selalu sesuai dengan Al-Qur’an dengan cara melakukan screening pada perusahaan-perusahaan yang melakukan pendaftaran di fintech syariah, mulai dari modal sampai dengan akad dalam transaksinya.

2.  Q: Terkait dengan fintech syariah khususnya peer to peer lending syariah, sejauh mana penerapan syariah compliance dalam aplikasinya? Bagaimana fintech syariah mengaplikasikan konsep economic value of time menurut islam disaat orang lain banyak yang menganggap bahwa dibutuhkan kompensasi tetap dalam meminjam opportunity loss saat uang dipinjamkan ke pihak peer to peer lending syariah?

A: Jika ada yang ingin bergabung di fintech syariah, selain masuk dalam Asosiasi Fintech Syariah Indonesia perusahaan tersebut juga harus memiliki surat rekomendasi dari DSN MUI setelah itu baru mengajukan diri kepada OJK yang nanti nya akan diproses oleh OJK untuk mengeluarkan izin peer to peer lending. Kemudian, dalam islam tidak ada yang namanya economic value of time. Maka, uang bukan merupakan suatu komoditas dan hanya merupakan suatu alat pembayaran. Hal yang salah adalah ketika uang dijadikan sebagai komoditas dan menyebabkan bunga yang berbunga atau uang diperjual belikan. Sehingga esensi dari uang tersebut sudah hilang dan riba marak terjadi dimana-mana.

3.  Q: Bagaimana perusahaan menyetujui orang atau perusahaan mendapatkan pinjaman dari fintech atau P2P Lending?

A: Dalam meminjamkan dana, ada 2 hal yang dilakukan, dikhususkan untuk UMKM dan konsumsi yang masih bisa diterima secara pribadi, bukan badan usaha. Nantinya orang tersebut atau khususnya UMKM harus melalui sebuah komunitas atau sebuah lembaga inkubasi yang bisa membantu P2P Lending dalam melakukan verifikasi terhadap usaha yang dilakukan. Tetapi untuk kategori project financing, harus merupakan badan usaha.

4.  Q: Kalau kita lihat, fintech syariah sangat berpotensi untuk membantu meningkatkan ekosistem perekonomian kedepannya. Antaranya dilihat dari jumlah muslim terbesar dan juga merupakan pengguna internet terbesar, tetapi dibalik potensi yang ada, tentu terdapat kendala atau masalah. Jika kita lihat pertumbuhan fintech syariah ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan pertumbuhan fintech konvensional. Apakah hambatannya dikarenakan regulasi yang terkesan menyulitkan bagi start up atau karena modal atau ada kendala lain? Selain itu, fintech syariah masih di dominasi oleh P2P Lending, apakah hal itu termasuk fokus dari fintech syariah saat ini?

A: Bukan hanya fintech syariah yang mengalami kesulitan perkembangan di Indonesia, kita juga melihat bahwa total market share di Indonesia kurang dari 9% dari total market share yang ada di Indonesia. Kebanyakan permasalahan yang timbul ini bukan dikarenakan regulator saja. Tapi memang perlu ada regulator khusus untuk mengurus syariah bukan hanya pada level departemen saja. Karena kebijakan dari sebuah institusi khusus akan sangat berbeda dengan institusi yang berada pada level departemen. Kemudian dari sisi para pelaku fintech, memang mayoritas pengguna fintech konvensional adalah para kolongmerat atau dari asing. Sedangkan fintech syariah masih banyak yang berasal dari dana-dana pribadi. Maka permasalahannya adalah kesulitan mencari investor yang ingin menerapkan akad syariah secara benar.

5.  Q: Kehadiran fintech khususnya P2P Lending yang dinilai menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat yang unbankable atau tidak terjamah oleh bank atau tidak mendapatkan pendanaan konvensional. Hal apa aja yang mendasari bahwa persyaratan pembiayaan lebih mudah dengan fintech syariah khususnya dibandingkan perbankan?

A: Jika dibandingkan dengan perbankan, mungkin fintech syariah lebih mudah. Kalau di perbankan harus melihat usia dari perusahaan tersebut. Biasanya, jika usia perusahaan masih di bawah dari 2 tahun, maka akan sulit untuk mendapatkan dana dari perbankan. Kemudian setelah melihat usia perusahaan juga dilihat agunan dari nilai pinjaman perusahaan tersebut. Tentu fintech syariah sangat beda perlakuannya, meski usia perusahaan baru mencapai 6 bulan, fintech syariah sudah bisa memberikan pendanaan. Selain itu, fintech syariah juga tanpa agunan hanya memang melakukan verifikasi terhadap yang meminjam.

6.  Q: Bagaimana langkah yang tepat bagi pemerintah Indonesia untuk meningkatkan fintech syariah demi mewujudkan SDG di Indonesia?

A: Salah satu langkah nya adalah dibentuknya Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), hal ini merupakan langkah yang harus disambut baik dimana lembaga ini berbeda dari lembaga yang ada. Selain itu, pihak regulator juga telah menetapkan cetak biru keuangan ekonomi syariah bahwa kita memiliki goals yaitu menjadi pusat Global Islamic Financial Sector.

7. Q: Apakah sudah ada fintech syariah khusus untuk wakaf? Mengingat potensi keuangan wakaf tersebut sangat terasa kebermanfaatannya terutama di tengah pandemi seperti sekarang ini.

A: Saat ini, fintech wakaf sedang masa pembuatan. Karena lebih banyak berkolaborasi dengan lembaga yang sudah ada.

8.  Q: Terkait materi, kita ketahui bahwa fintech syariah tidak boleh menetapkan denda kepada nasabah, namun di sisi lain DSN MUI mengakomodasi pemberlakuan denda kepada nasabah sesuai dengan fatwa DSN MUI Nomor 17 tahun 2000, tentunya dengan beberapa persyaratan yang jelas. Pemberian denda merupakan suatu bentuk perlindungan kepada pemberi dana terhadap peminjam yang dzalim. Apakah fintech syariah tidak mengacu pada fatwa DSN MUI Nomor 17 tahun 2000?

A: Pada dasarnya denda tidak diperbolehkan dalam syariat, tetapi jika ada unsur ketidaksengajaan dalam transaksi maka beberapa ulama memperbolehkan memberikan denda. Namun, dalam fintech syariah tidak melakukan hal tersebut, melainkan melakukan verifikasi serta edukasi kepada peminjam, maka seharusnya para nasabah sudah paham terhadap konsekuensi yang akan dihadapi.

9.  Q: Berkaitan dengan nasabah yang dapat melakukan pembiayaan atas kontrak pekerjaan dengan customer nya, bagaimana screening atau analisa resiko atas model pembiayaan tersebut? Karena bank dan lembaga besar pun seringkali tertipu dengan SPK fiktif. Kemudian, fintech syariah mana saja yang sudah bekerja sama dengan market place?

A: Untuk project financing atau pembiayaan berdasarkan SPK, fintech syariah melakukan verifikasi pertama melalui SPK tersebut dan melakukan verifikasi langsung ke penerbit SPK. Fintech syariah merinci atau survey proyeknya tuntuk menganalisa risiko tersebut. Memang risiko selalu ada, oleh karena itu screening wajib untuk dilakukan. Selain itu nasabah sudah teredukasi mengenai ekonomi syariah. Kemudian fintech syariah yang sudah bekerja sama dengan market place adalah Syarfi, Syarfi bekerja sama untuk melakukan cicilan syariah di Bukalapak, Tokopedia, dan lain-lain. Ada juga Muslimnesia untuk melakukan cicilan di e-commerce.

10.  Q: Mengapa tiap fintech harus memiliki 1 DPS (Dewan Pengawas Syariah), apakah itu merupakan suatu ketentuan dari DSN MUI? Sebab jika pangsa pasar adalah UMKM bukankah hal tersebut justru memberatkan penyelenggara fintech? Kemudian, kita mengetahui bahwa pada dasarnya fintech dan bank syariah bukan inklusi keuangan yang bersaing melainkan saling mengisi. Mengapa fintech syariah tidak melakukan konglomerasi dengan bank syariah agar inklusi keuangan syariah meningkat secara masif?

A: Untuk DPS memang sudah disyarakan oleh OJK. Jadi, untuk fintech yang akan bergabung wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah yang berasal dari DSN MUI. Tidak ada masalah dengan UMKM sebagai pangsa pasar karena UMKM merupakan seorang nasabah. Lalu kolaborasi dengan bank syariah sudah dicoba, namun belum masif antara kolaborasi fintech konvensional dengan bank konvensional.

Laporan: Dian Ayu Safitri & Ricka Annisa

 

  • 7 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma bersama Islamic Economic Forum For Indonesia (ISEFID) pada hari Sabtu, 04 April 2020, menyelenggarakan SEF Talk with ISEFID dengan tema “Polemik Praktik Inklusi Keuangan Syariah: Sudahkah Sesuai Harapan?”. SEF Talk merupakan diskusi online yang dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi Zoom. Diskusi ini bertujuan untuk menemani rekan-rekan Mahasiswa yang sedang menjalani masa #dirumahaja di tengah mewabahnya pandemi COVID-19 agar keilmuwan Mahasiswa tetap ter-upgrade dan diisi dengan wawasan yang baru. Materi SEF Talk ini disampaikan oleh Bapak Jamil Abbas, B.Com., M.B.A. selaku Kepala Divisi Keuangan Inklusif Syariah, KNEKS dan dimoderatori oleh Saudara Zaki Ilhaam Muhammad selaku Ketua KSEI SEF Gunadarma 2019/2020. Sebelum penyampaian materi, Moderator terlebih dahulu memperkenalkan pembicara hebat dengan membacakan CV serta prestasi Pak Jamil Abbas. Selanjutnya moderator mempersilakan pembicara untuk menyampaikan materi.

Sebelum memulai materi, Bapak Jamil memperkenalkan sedikit gambaran dari KNEKS atau Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah dimana KNEKS adalah sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Nama ini telah berubah dari KNKS pada Februari 2020 setelah keluarnya Perpres No. 28 Tahun 2020. KNEKS hadir untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dengan dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. Joko Widodo.

KEUANGAN INKLUSIF

Belum ada kesepakatan makna mengenai keuangan inklusif, namun terdapat kesamaan pada setiap konsepnya yaitu, keuangan inklusif adalah ketika setiap orang bisa mendapatkan akses keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu menurut World Bank, keuangan inklusif juga berperan sebagai key enabler untuk mendukung pengentasan kemiskinan. Ini bukanlah solusi dari kemiskinan, tetapi keuangan inklusif lebih merupakan pendukung. Tanpa keuangan inklusif ada beberapa dampak yang akan dirasakan diantaranya:

  1. Sulit menabung, jika masyarakat hanya pandai mengkonsumsi maka mereka tidak akan belajar untuk menjadi makmur.
  2. Sulit mendapat pembiayaan yang aman, mengingat saat ini banyak pilihan dalam pembiayaan maka tanpa keuangan inklusif, pembiayaan yang aman akan sulit terjaring.
  3. Sulit bertransaksi sehingga efeknya kepada sulitnya berbisnis, ekonomi Indonesia ditopang oleh 98% pelaku UMKM, apabila para UMKM ini tidak mendapat kemudahan transaksi, ini akan menghambat pertumbuhan UMKM dan ekonomi kedepannya.

KEUANGAN INKLUSIF SYARIAH

Agama Islam mengajarkan bahwa dalam gerakan mendorong kesejahteraan masyarakat tidak cukup hanya dengan tujuan yang baik, tapi caranya juga harus baik. Jangan sampai tujuan mengentaskan kemiskinan menjadi bumerang dengan menggunakan cara yang tidak sesuai syariat, yaitu dengan melibatkan riba di dalamnya. Maka dari itu, keuangan inklusif syariah  merupakan ikhtiar agar semua orang dapat mengakses keuangan syariah dan mendapatkan manfaat darinya.

Selain tujuan sosial, keuangan inklusif syariah juga berkewajiban untuk membantu menghijrahkan masyarakat yang sudah memiliki akses keuangan namun konvensional menjadi syariah. Keuangan inklusif biasa bertujuan sosial semata, pelakunya akan selalu tampak mulia. Namun, keuangan inklusif syariah bukan bertujuan sosial saja tetapi juga merupakan sebuah persaingan bisnis yang sehat. Bagaimana cara agar masyarakat dapat percaya pada keuangan syariah juga adalah tujuan keuangan inklusif syariah.

Sebagai bangsa yang besar, tantangan Indonesia terletak pada besarnya populasi dan luasnya wilayah. Akses keuangan syariah masih belum mampu untuk mencakupi wilayah dan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, keuangan inklusif syariah memiliki ikhtiar sebagai berikut:

  1. Masyarakat luas semakin mampu dan dapat menggunakan serta memanfaatkan layanan keuangan syariah dari lembaga keuangan syariah formal.
  2. Keuangan syariah formal semakin mampu dan dapat melayani masyarakat luas serta semakin mampu bersaing dengan lembaga keuangan konvensional.

Hal diatas didasari karena dari sisi masyarakat yang belum memahami lembaga keuangan syariah dan dari sisi lembaga keuangan syariah juga yang belum mampu atau dapat mengembangkan kuantitas dan kualitas lembaga syariah tersebut, karena terkait pertimbangan bisnis yang dirasa kurang menguntungkan. Disinilah KNEKS berperan, KNEKS hadir untuk menyatukan dua pihak yaitu masyarakat dan lembaga keuangan syariah formal agar mampu dan dapat berinteraksi untuk meningkatkan keuangan inklusif syariah.

Survei nasional literasi dan inklusi keuangan tahun 2016 menyebutkan indeks inklusi keuangan syariah adalah 11,06%. Maka, target pada tahun 2024 indeks inklusi keuangan syariah akan mencapai 20%. Bagaimanakah caranya? Melalui penguatan stakeholder yaitu dua kelompok yang sudah disebutkan ditambah satu kelompok, total menjadi tiga kelompok yaitu sebagai berikut:

  1. Lembaga keuangan syariah, seperti bank syariah, pegadaian syariah, BMT, dsb
  2. Masyarakat
  3. Lembaga pendukung, merupakan lembaga yang berpotensi dan dapat berdampak besar bagi keuangan inklusif syariah apabila dilibatkan seperti, pesantren, masjid, sekolah islam, dsb

Perjalanan keuangan syariah di Indonesia semenjak pendirian Bank Muamalat sudah berjalan selama 25 tahun hingga diadakannya Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan pada tahun 2016. Namun, indeks inklusi keuangan syariah hanya berada diangka 11% yang disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya:

  1. Belum terdapat lembaga keuangan formal syariah yang tersebar luas untuk seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, masyarakat memakai jasa lembaga keuangan konvensional yang sudah banyak tersebar.
  2. Lembaga  keuangan  konvensional tidak ada kaitannya dengan lembaga keuangan syariah untuk berkembang.
  3. Lembaga keuangan konvensional berdiri sendiri sehingga perbedaan kualitas dan kuantitas dengan lembaga keuangan syariah dapat semakin besar.

Lembaga keuangan syariah tidak bisa beroperasi sendiri, mereka harus saling melengkapi. Maka dari itu, KNEKS membentuk KoLaKS (Kolaborasi Layanan Keuangan Syariah) yang merupakan sebuah ajakan kepada seluruh stakeholders untuk berkolaborasi memberikan  layanan keuangan syariah. Saat ini, lembaga keuangan syariah masih kalah dari sisi kualitas dan kuantitas dibandingkan dengan lembaga keuangan konvensional, KoLaKS hadir untuk meningkatkan hal tersebut secara signifikan. Tujuan KoLaKS dalam jangka pendek adalah untuk meningkatkan keterlibatan kelompok ketiga dalam inklusi keuangan syariah.

Kelebihan dari lembaga keuangan syariah adalah harus hadir secara bersamaan untuk bisa saling menutupi kekurangan seperti konsep multiparty agar dapat bersaing dengan lembaga keuangan konvensional secara baik. KoLaKS adalah sinergi dan kolaborasi dengan kemitraan untuk mengurangi risiko dan mengoptimalkan keunggulan dari masing-masing lembaga keuangan syariah. Perlu diakui bahwa bank syariah sendiri belum didesain untuk masyarakat menengah kebawah sehingga tidak bisa  menjangkau masyarakat luas dengan biaya yang ter-cover. Selain itu, KoLaKS juga dapat mengatasi dan meningkatkan literasi keuangan syariah di kelompok ketiga.

Setelah berakhirnya sesi materi, moderator membuka diskusi dengan mempersilakan peserta untuk mengajukan pertanyaan.

SESI TANYA JAWAB

  • M. Faqih Arief (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Apa pendapat Bapak tentang korelasi antara religiusitas dengan inklusi keuangan syariah? Dengan diadakannya KoLaKS di pesantren dan dibuatnya ULKS pesantren, tidakkah ini akan merubah atmosfir pesantren tersebut menjadi bertujuan komersil?

Jawaban:

Religiusitas masih merupakan faktor utama dan berperan penting dalam memilih keuangan syariah, oleh karena itu, saat ini dakwah mengenai keuangan syariah bergerak lebih cepat dari pengembangan layanan keuangan syariah, jika kedua hal ini tidak bisa bergerak bersama, maka tujuan inklusi keuangan syariah akan sulit dicapai. Gerakan pesantren yang bersifat komersil bukanlah hal buruk. Karena konsep muamalah yang dijalankan juga salah satunya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Perlu digaris bawahi bahwa edukasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai ekonomi syariah tidak secara komersil. Bukan mengkomersilkan ilmunya tetapi membuat pesantren mampu berbisnis agar kesejahteraan dapat meningkat.

  • Abdul Latif (Institut Agama Islam Tazkia)

KNEKS optimis mengenai kenaikan indeks inklusi keuangan syariah, terkait konsep KoLaKS yang melibatkan pesantren, bagaimana konsep, strategi, dan langkah KNEKS untuk mewujudkan tujuan tersebut? Dalam kondisi pandemi COVID-19 saat ini, industri keuangan syariah mengalami stagnasi, bagaimana pola gerak KNEKS saat ini?

Jawaban:

KNEKS adalah lembaga peningkat kolaborasi yang bertugas mengkoordinasikan, bukan eksekutor. Fungsinya lebih dominan untuk menyatukan dan merangkul pihak-pihak terkait agar dapat berkolaborasi, karena Indonesia telah memiliki stakeholder yang lengkap untuk berbagai fungsi dalam keuangan, namun karena kurangnya koordinasi kerjasama antara keduanya menjadi sulit. Disinilah KNEKS menjadi jalan tengah dan ditambah oleh kehadiran lembaga netral untuk memberikan kepercayaan antara kedua belah pihak sehingga dapat terhindar dari kesalahpahaman.

Langkah dari KNEKS saat ini adalah “menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan”. Dalam hal ini seperti membantu mempercepat kolaborasi lembaga keuangan dengan masyarakat, misalnya dalam hal ini ialah jalur distribusi berbasis online.

  • Rizal (International Islamic University of Malaysia)

Berapa persen kemungkinan pesantren dapat menerima KoLaKS? Mengingat banyak dari pesantren belum memiliki lembaga keuangan yang stabil serta minimnya edukasi tentang ekonomi syariah, dan apakah ada kriteria untuk pesantren seperti harus sudah memiliki BMT atau belum adanya BMT?

Jawaban:

Persentase tidak dapat dijawab secara pasti karena pelaksanaan kedepannya masih dikembangkan. Namun, faktanya lembaga keuangan dapat diterima di pesantren dan masyarakat sekitarnya tergantung dari kebaikan hatinya melalui donasi misalnya. Lembaga keuangan konvensional melihat ini sebagai kesempatan pula ketika lembaga keuangan konvensional mampu membangun sebuah masjid, maka lembaga keuangan syariah hanya mampu menyumbang kubahnya saja karena keterbatasan dana.

Maka, harus dilakukan bersama agar responnya lebih positif. Dalam hal ini, bukan hanya para senior yang harus turun tetapi para junior dapat menjadi promotor dan ikut berpartisipasi dalam inklusi keuangan syariah. Bagi pesantren yang baru dalam hal keuangan, dapat didirikan ULKS, sedangkan yang berpengalaman dapat langsung mendirikan BMT. Kesimpulannya, KoLaKS dapat disesuaikan dengan metode dan kemampuan dari pesantren itu sendiri.

  • Reita Fabiolyn (Universitas Gunadarma)

Apakah bank wakaf mikro ikut dilibatkan dalam ULKS dan apakah bank wakaf mikro ikut berperan dalam inklusi keuangan syariah?

Jawaban:

Bank wakaf mikro melayani pangsa pasar yang tidak dilirik keuangan umum. Kalau ini berdiri sendiri maka tidak akan cukup. Dapat dijadikan sebagai titik awal untuk menggunakan KoLaKS, dengan adanya lembaga lain untuk saling melengkapi, maka perkembangan akan dapat mengikuti, dengan jumlah bank wakaf mikro yang saat ini masih sangat sedikit maka dampaknya pada inklusi keuangan syariah masih terlalu dini untuk diukur.

  • M. Syamsul B. (Institut Agama Islam Tazkia)

Konsep dari inklusi keuangan syariah adalah perbaikan kualitas dan kuantitas, tapi saat ada kolaborasi, bagaimana bank syariah dapat menyelesaikan masalah tersebut saat ada persaingan atau overpowering antar bank syariah dalam kolaborasi tersebut?

Jawaban:

Konsep inklusi adalah untuk menyediakan layanan yang di sisi lain juga tetap disajikan secara komersil. Perbedaan konvensional dan syariah terletak pada konven yang hanya fokus pada keuntungan semata, sedangkan syariah menekankan jika keuntungan bisa didapat apabila masyarakat meningkat kesejahteraannya. Oleh karena itu, seharusnya lembaga keuangan syariah bergerak lebih proaktif. Mengenai kompetisi, ini merupakan pendorong inovasi dan prestasi untuk bersaing dalam pelayanan dengan memberikan produk atau jasa yang lebih baik bagi masyarakat yang bekerja sama.

  • Zaki Ilhaam Muhammad (Universitas Gunadarma)

Saat ini Indonesia menempati posisi pertama dalam perkembangan keuangan syariah, melihat hal ini seberapa mampu konsep KoLaKS terimplementasi disaat kita melihat sumber daya baik alam maupun manusia yang saat ini dimiliki Indonesia?

Jawaban:

Ini merupakan masalah klise, hal terpenting adalah keinginan atau minat karena untuk selanjutnya, SDM yang memiliki keinginan atau minat terhadap hal tersebut akan diberikan bimbingan sehingga nantinya akan menumbuhkan skill yang dibutuhkan. Menghindari mubadzir terhadap keinginan karena minimnya komunikasi antar masyarakat, sehingga masyarakat tidak mendapat kebermanfaatan dari adanya lembaga keuangan syariah tersebut.

Laporan: Ricka Annisa dan Wafa Luthfiyah Azzahra

  • 5 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sabtu, 29 Februari 2020 Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma telah menyelenggarakan program sosial yaitu SEF Class of Inspiration  Batch 5 dan SEF Goes to Village. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja tahunan dari Kementerian Sosial KSEI SEF Universitas Gunadarma. Pada tahun ini Kementerian Sosial berhasil melaksanakan agenda di Desa Ciuyah, Cirebon, Jawa Barat.  

SEF Class of Inspiration Batch 5 kali ini diadakan di SD Negeri 2 Ciuyah, Cirebon. Tujuan diadakannya SEF Class of Inspiration adalah untuk memberikan pengetahuan dan gambaran profesi sejak dini terhadap adik-adik Sekolah Dasar dengan harapan kedepannya mereka dapat termotivasi dan memiliki mimpi untuk bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi  sehingga bisa mencapai cita-cita dan profesi yang diinginkan. Kegiatan ini dihadiri oleh 200 siswa Sekolah Dasar Negeri Ciuyah 2 dan enam inspirator dengan berbagai profesi yang dibawakan,  diantaranya sebagai Pegawai Swasta, Guru, Pengusaha, Koki, dan Traveller. Rangkaian acara meliputi opening ceremony dilanjutkan dengan sambutan oleh Kepala Sekolah serta Koordinator Kementerian Sosial, Saudara Nanang Yuwiranto. Setelah itu dimulailah pengenalan dunia profesi kepada adik-adik Sekolah Dasar 2 Ciuyah dengan memasuki setiap kelas mereka secara bergantian di setipa profesinya. Closing Ceremony dilakukan dengan menempelkan kertas kecil berisi tulisan cita-cita mereka pada spanduk yang sudah disiapkan dengan harapan cita-cita tersebut dapat mereka ingat sehingga menumbuhkan rasa semangat untuk menggapai cita-cita tersebut.

Selanjutnya masuk kedalam rangakaian acara SEF Goes to Village, yaitu kegiatan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang bekerja sama dengan HMP UI (Himpunan Mahasiswa Keperawatan) Universitas Indonesia. Tujuan dari kegiatan SEF Goes to Village yaitu untuk mengajarkan rasa saling peduli sesama, mewujudkan rasa cinta kasih, dan saling tolong-menolong bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Dalam kegiatan SEF Goes to Village mahasisiwa mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran terutama pada lingkungan sosial masyarakat bahwa sebagaimana kita manusia memiliki kewajiban untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Selain itu Kementerian Sosial melakukan agenda sosialisasi kepada masyarakat mengenai Ekonomi Syariah secara mendasar. Harapannya dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap Ekonomi Syariah baik berupa transaksi dalam kehidupan sehari-hari mereka sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Acara ini diikuti kurang lebih 100 warga Desa Kecamatan Ciuyah dengan rangkaian acaranya meliputi Sosialisasi Ekonomi Syariah, Pemeriksaan Kesehatan Gratis (pemeriksaan tekanan darah, gula darah, asam urat) dan pembagian sembako yang kami himpun dari donasi para donatur Sharia Economic Forum. Opening Ceremony diisi oleh sambutan ketua pelaksana oleh saudara Muhammad Irfan Zikrullah, setelah itu dimulai Sosialisasi terkait Ekonomi Syariah yang disampaikan oleh saudara Taufik Ikhsan Muchlysin (Koordinator Kementerian Media Komunikasi dan Informasi 2019/2020) dan Penyuluhan Kesehatan. Closing Ceremony dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan gratis warga Desa Ciuyah. Setelah periksa kesehatan, masyarakat menukarkan kupon sembako yang sebelumnya dibagikan oleh Panitia.

Diharapkan dengan adanya agenda ini yaitu SEF Class of Inspiration dan SEF Goes to Village, mampu membentuk kepribadian dan karakter pemuda khususnya pengurus Sharia Economic Forum menjadi pemuda dengan jiwa sosial yang tinggi sehingga bisa lebih peka terhadap kondisi yang terjadi dan berkembang di masyarakat. Karena dengan mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan rutin bertemu secara langsung dengan masyarakat akan membuat kita menjadi sosok manusia yang benar-benar memahami kondisi serta perilaku masyarakat.

Report: Aulia Maulitda dan Muhammad Irfan Zikrullah.

 

  • 30 Jan 2020

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma bersama Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam Jabodetabek (FoSSEI Jabodetabek) pada hari Sabtu, 18 Januari 2020 menyelenggarakan 2 Seminar Nasional dengan tema “Increasing Youth Enthusiasm of Research and the Impact to Society dan Writings with Benefit: Carrier and Study Abroad” dari pukul 08.30-16.00 WIB di Auditorium F8, Kampus F8 Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat.

Research Camp merupakan agenda tahunan dari Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam Jabodetabek (FoSSEI Jabodetabek). Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari yang dimulai dengan Kelas Intensif dan diakhiri dengan dua Seminar Nasional. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya menulis dan meneliti serta meningkatkan kemampuan dan membantu mengembangakan kemampuan menulis bagi Mahasiswa. Harapannya mahasiswa menjadi termotivasi dan semangat dalam hal penelitian serta memberikan pemahaman mengenai literasi riset terkhusus bidang Ekonomi Syariah. Pada sesi pertama acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Rani Puspita Sari, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Ahmad Maulana (Arab), Fitria Putri Aprilia (Inggris), dan Nita Wirianti (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan oleh Muhammad Irfan Zikrullah selaku Ketua Pelaksana Research Camp 2020. Sambutan kedua disampaikan oleh Presidium Nasional Bidang Keuangan Saudara Agus Sulaeman dan terakhir sambutan sekaligus pembukaan disampaikan oleh Bapak Dr. Teddy Oswari selaku Kepala Bagian Pengembangan Minat dan Bakat Mahasiswa. Seminar Nasional 1 dipandu oleh seorang moderator yaitu Ibu Nur Azifah, S.E., M.Si. selaku Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Selanjutnya masuk kepada sesi pemateri yang disampaikan oleh para pembicara yang ahli dibidang riset dan kepenulisan mengenai Ekonomi Syariah. Pembicara pertama adalah ibu Dr. Ai Nur Bayinah, S.E.I., M.M. selaku Dosen dan Peneliti Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI.  Beliau menyampaikan bahwa menurut John Creswell research is a process of steps used to collect and analyze information to increase our understanding of a topic or issue. Sejak kedatangan Thariq bin Ziyad pada 711 M hingga akhirnya terjadi “Inkuisisi Spanyol”, menurutnya tidak hanya berdampak pada yang menyebabkan hilangnya jejak Islam di tanah Eropa. Melainkan pula lenyapnya kepercayaan terhadap seluruh agama. Karena kurangnya akses terhadap ajaran gereja yang asli, tidak ada pilihan bagi masayarakat saat itu, kecuali mencoba menciptakan sendiri sebuah pemahaman rasional bagi eksistensi mereka, yang akhirnya melahirkan dilema bernama “Spirit Ilmiah”. Terakhir ibu Ai menyampaikan manfaat penelitian diantaranya; memberi nilai tambah bagi pengetahuan, meningkatkan keoptimalan implementasi, membuka ruang diskusi mengenai kebijakan, dan memberikan pemahaman yang lebih baik.

Pembicara kedua disampaikan oleh Bapak Muhammad Quraisy, Ph.D. selaku.... Beliau menyampaikan materi terkait Strategi Riset Nasional dalam Mendukung Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia. Strategi dasar yang dapay dilakukan dalam riset ialah: peningkatan kapasitas riset dan pengembangan, peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia, penguatan fatwa regulasi dan tata kelola, serta peningkatan kesadaran publik. Beliau membagi prioritas topik bahasan riset kedalam tiga topik bahasan yaitu: syariah dan fiqh muamalah, ilmu ekonomi islam, dan bisnis islam.

Terakhir, materi ketiga disampiakan oleh Bapak Prof. H. Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D. selaku Kepala Bagian Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI. Beliau menyampiakan materi tentang “Asyiknya Meneliti untuk Kebijakan Isu Kontemporer”

Menurut beliau, penelitian dasar adalah Penelitian yang dilakukan untuk tujuan mengembangkan teori-teori ilmiah atau prinsip-prinsip dasar suatu disiplin ilmu. Penelitian terapan adalah Penelitian yang diarahkan pada perumusan atau penemuan prinsip-prinsip ilmiah yang dapat digunakan untuk memecahkan beberapa masalah praktis (bisnis, pemerintahan, dll.). Penelitian kebijakan adalah penelitian (deskriptif, analitis, kausasional) yang diarahkan pada perumusan atau penemuan prinsip-prinsip ilmiah untuk merekomendasikan, mengevaluasi implementasi dan dampak, mengembangkan proyeksi, atau menyangkal kebijakan pemerintah. Sedangkan Penelitian kebijakan keagamaan adalah penelitian (deskriptif, analitik, atau kausal) yang diarahkan pada perumusan atau penemuan prinsip-prinsip ilmiah untuk merekomendasikan, mengevaluasi implementasi dan dampak, mengembangkan proyeksi, atau menyangkal kebijakan pemerintah tentang masalah agama. Menurut beliau, isu kontemporer dapat dijaring dari dinamika keseharian sebagaimana terekam dalam pemberitaan media massa, bisa juga dari evaluasi implementasi program yang telah (existing) berjalan. Isu sangat dinamis, topiknya beragam dan memerlukan kepekaan peneliti.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dan bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama Ketua SEF, Presidium Nasional,  Koordinator Regional dan Ketua Pelaksana.

 
   

Selanjutnya, Seminar Nasional 2 dimulai pada pukul 12.30-16.00 WIB. Pada sesi kedua acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Gafar Ali Haji dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Edwin Pija Yenra Purba (Arab), Rizki Dwi Darmawan (Inggris), dan Lia Mubarokah (Indonesia). Sambutan pertama disampaikan oleh Koordinator Regional FoSSEI Jabodetabek saudara Hadi Aupa dan sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Sharia Economic Forum saudara Zaki Ilhaam Muhammad.

Pembicara pertama ialah Bapak Greget Kalla Buana selaku Pengamat Ekonomi Syariah, United Nations Development Programme. Beliau menyampaikan bahwa Pada tahun 2045 Indonesia akan diisi dengan generasi emas yang berasal dari generasi milenial atau Y (lahir tahun 1981-1995) dan generasi homelanders atau generasi Z (lahir tahun 1995-2010). Tahun 2045, Indonesia akan merayakan 100 tahun hari kemerdekaan. Sekitar 70% dari total populasi di Indonesia akan diisi dengan umur 15-64 tahun atau disebut dengan usia pekerja. Indonesia juga akan masuk 4 besar ekonomi diikuti Cina, India, dan Amerika Serikat. Untuk menghadapi cosmopolitan, creative, dan competitive di tahun 2045 nanti yaitu dengan 4C (concept, competence, connection, dan confidence).

Generasi Emas pada tahun 2045 merupakan generasi yang Egalitarian, Multitalent, Active, dan Spiritual. Egalitarian adalah generasi yang nantinya memiliki pola pikir yang terbuka dan menerima perubahan. Selanjutnya, generasi emas harus bisa memiliki lebih dari satu kemampuan, aktif dalam berbagai kegiatan, dan memiliki spiritual yang baik.

Setelah itu masuklah kita pada pembicara kedua yaitu Bapak Rifki Ismal selaku Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia. Beliau menyampaikan beberapa alasan bahwa penting adanya peneliti, salah satunya adalah untuk pengambilan keputusan ekonomi dan bisnis yang membutuhkan penelitian agar berdasar karena sebuah keputusan akan lebih dapat diterima jika memiliki basis yang kuat. Beliau menyampaikan adanya jenjang dan jabatan bagi seorang peneliti berdasarkan pengalaman dan jam terbang dari Fresh Graduate yang disebut dengan Peneliti muda atau junior economist hingga peneliti utama atau chief economist. Bapak Rifki menyampaikan ragam tulisan dalam dunia riset, seperti Laporan yang bersifat explanatory, deskriptif, dan tidak membutuhkan (mensyaratkan) riset, laporan ekonomi yang terkadang membutuhkan analisa ilmiah, artikel yang sifatnya hanya informasi, melaporkan, dan tidak mensyaratkan adanya metode ilmiah, skripsi yang umumnya dilakukan dengan penelitian untuk membuktikan sesuatu, disertasti yang digunakan untuk membuka tabir pengetahuan dan menemukan solusi dari masalah penting serta tesis yang dilakukan dengan penelitian menganalis dan merekomendasikan atas sesuatu.

Pembicara ketiga ialah Bapak Dr. Irwan Abdalloh selaku Kepala Divisi Pasar Modal Syariah, Bursa Efek Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa menjadi researcher dan berpikir researcher itu berbeda. Pola berpikir researcher itu terstruktur dan terbuka dalam pikiran. Selanjutnya, sebagai researcher jangan sampai hasil penelitian atau risetnya hanya selesai saat praktik. Saat ini sekitar 49% penduduk dunia merupakan pengguna internet dan persentase ini bisa naik kedepannya. Selanjutnya pengguna mobile phone mengalami kenaikan 130% yang mana berbanding terbalik dengan fixed phone yang penggunaannya menurun. Untuk market lebih banyak retail dan teknologi. Dari data tersebut bisa menjadi peluang salah satunya untuk masalah Islamic finance. Peluang ini sangat besar tapi pertumbuhan Islamic finance ini lambat, di Indonesia untuk Islamic Capital Market mengalami kenaikan sedangkan untuk Islamic Banking dalam market share mengalami penurunan.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya. Bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Acara seminar ini disambut oleh antusias yang luar biasa dari Mahasiswa dari seluruh Universitas di Jabodetabek serta dukungan dari para penggiat Ekonomi Islam. Seminar Nasional ini didukung dan disponsori oleh BEM Fakultas Ekonomi (BEM FE) Universitas Gunadarma, Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), iB, Bursa Efek Indonesia (IDX), Komiten Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Kementerian Agama, Bank DKI Syariah, BAZNAS, ZIS Indosat, Mandiri Amal Insani, Sabana, dan Dompet Dhuafa.

Laporan: Lia Mubarokah dan Nadya Salsabila Haqoni

Editor: Putri Yunela Sari

 

 

 

  • 22 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Depok - Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada Sabtu, 16 November 2019 telah menyelenggarakan salah satu acara dari rangkaian Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR)  yakni SEF Super Mentor dengan tema “Let’s Get the Insight and Unleash the Potential Within You!” acara ini dimulai dari pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB di Auditorium D462, Universitas Gunadarma.

Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma. SEF Super Mentor adalah salah satu rangkaian kegiatan rutin tahunan AKSYAR dalam rangka memfasilitasi generasi muda penerus bangsa agar memiliki kemampuan berpikir kreatif dan inovatif untuk masa depan lebih baik, selain itu acara ini merupakan ajang pengenalan kepengurusan SEF satu periode.

Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh saudari Ricka Annisa, dilanjutkan dengan pembacaan Tilawah oleh saudara Gafar Ali dan teman-teman. Kemudian, sambutan pertama disampaikan oleh saudara Zaki Ilhaam Muhammad selaku Ketua Sharia Economic Forum (SEF) 2019/2020. Dilanjutkan oleh sambutan kedua yang disampaikan oleh Bapak Dr. Riskayanto, Ir., M.M. selaku Kepala Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Beliau menyampaikan bahwa sangat penting khususnya para pemuda untuk menggali potensi diri dan dalam hal pengembangan diri karena merupakan salah satu bentuk upaya untuk meraih kehidupan layak dan sukses di masa yang akan datang.

Setelah itu, masuklah pada acara inti. Pertama adalah pemaparan materi dari para pembicara yang dipandu oleh Moderator yakni saudara Rahmat Ramdani, yang merupakan Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Gunadarma tahun 2019, beliau juga merupakan Alumni dari Sharia Economic Forum.

Pembicara pertama yaitu saudari Fitra Amelia, beliau menyampaikan bahwa dalam proses pembelajaran tidak ada belajar yang nyaman, justru jadikan ketidaknyamanan tersebut sebagai pelajaran untuk kita. Seseorang dengan growth mindset selalu menjadikan setiap kesempatan sebagai peluang dan memikirkan proses karena hidup bukan tentang hasil, tetapi tentang bagaimana prosesnya. Beliau memberikan kiat-kiat bagaimana agar kita dapat berpikir besar, yang pertama adalah percaya bahwa kita bisa sukses. Kedua yaitu sembuhkan diri dari banyak mencari alasan dalam menghadapi sesuatu. Ketiga adalah jangan berpikir kecil mengenai diri sendiri. Keempat adalah membuat lingkungan yang dapat bekerja sama dengan kita, bukan memusuhi kita. Kelima adalah selalu berbuat baik pada setiap orang. Terakhir adalah gunakan goals untuk membantu dalam bertumbuh. Tak lupa beliau mengingatkan untuk selalu menanamkan mindset Keep learning, keep growing and stay humble.

Pembicara kedua yaitu saudara Ricky Dwi Apriyono, beliau menyampaikan perihal kontribusi hidup untuk umat, melihat dan memikirkan serta bertindak untuk orang-orang yang membutuhkan peran kita sebagai pemuda hebat. Beliau memberikan nasihat bagaimana cara membangun passion diri, yaitu dimulai dengan mencari kelompok yang sesuai dengan passion diri. Tahap kedua adalah menentukan pilihan selanjutnya yaitu ingin bekerja atau melanjutkan pendidikan. Tahap ketiga adalah menikah. Tahap keempat yaitu selama kita hidup teruslah memberikan kontribusi untuk ummat. Ketika meniti karir, ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam dunia kerja, yaitu integritas dan professional, hal ini merupakan poin penting. Apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan atau katakan haruslah sesuai. Kita juga tidak boleh menganggap hal-hal kecil sebagai hal yang tidak penting. Lalu sinergi, pelayanan dan kesempurnaan dimana semua pekerjaan yang diberikan harus dikerjakan dengan benar dan tuntas.

Pembicara ketiga yaitu saudara Qodhyan Fatahillah, beliau menyampaikan bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Tetapi manusia memiliki dua kepribadian, yang mana baik dan buruknya dipengaruhi oleh pemikiran dan lingkungan. Kita harus mengetahui kemana kita harus pergi. Karena mencari tujuan hidup adalah hal yang sia-sia, tujuan sejati kita adalah mencari jati diri atau mengenali diri sendiri. Beliau juga menyampaikan mengenai teori The Butterfly Effect. Teori ini lahir dari ahli matematika dari MIT yaitu Edward Lorenz, di dalam teori tersebut dijelaskan bahwa satu kepak kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas, yang artinya suatu tindakan yang kecil bisa berdampak besar disuatu tempat. Bermimpi dan lakukanlah, perjalanan menuju mimpi itu tidak gratis dan tidak mudah. Karena untuk menjadi pelaut yang tangguh dibutuhkan samudera yang ganas. Percaya diri dan yakinlah bahwa semua mimpi akan tercapai.

Setelah para pembicara menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi kesempatan bagi peserta untuk bertanya, selain itu sesi pertanyaan juga dibuka melalui pertanyaan dari followers instagram @KSEI_SEF dan 2 orang penanya diberikan hadiah. Selanjutnya yaitu pemberian plakat kepada moderator dan para pembicara disertai dengan foto bersama. Acara diakhiri dengan suatu persembahan dan penampilan istimewa dari Pengurus SEF serta pemutaran dan video pengenalan kepengurusan SEF periode 2019/2020.

Laporan: Dian Ayu Safitri

  • 1 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Iqtishoduna yang merupakan agenda tahunan terbesar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (HIMA EKIS-FEB) UNAIR diantaranya Sharia Call for Paper (SCFP) tingkat mahasiswa, Olimpiade Ekonomi Islam tingkat SMA/MA, International Debat, Sharia Fair dan International Seminar.

SEF Prestasi LKTI Iqtishoduna 2019, TIM SEF Universitas Gunadarma Juara 3

Link LKTI:

/uploads/ckeditor/attachments/67/Ringkasan_LKTI_Iqtishoduna_2019.pdf

         Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih Juara III dalam ajang International Seminar and Call for Paper Iqtishoduna 2019 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (HIMA EKIS-FEB) Universitas Airlangga, Surabaya. Pada perlombaan ini Gunadarma mengirimkan 3 tim delegasi untuk menampilkan karya terbaik mereka. Tim 1 diwakili oleh Cici Indriyani (Akuntansi 2016), Putri Yunela Sari (Akuntansi 2016) dan Rika Aulia (Akuntansi 2016). Tim 2 diwakili oleh Ricka Annisa (Ekonomi Syariah, 2017), Indah Nur Maulina (Manajemen, 2017) dan Aulia Maulitda (Manajemen, 2016). Sedangkan Tim 3 diwakili oleh Abdurraafi Rasyid Ridho (Ekonomi Syariah, 2016), Chntia Cahya Safitri (Ekonomi Syariah, 2016) dan Ilham Fadhilah (Ekonomi Syariah, 2016). Tim yang berhasil meraih penghargaan tersebut ialah dari Tim 1 dengan ketua kelompok Cici Indriyani.

Iqtishoduna yang merupakan agenda tahunan terbesar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (HIMA EKIS-FEB) UNAIR diantaranya Sharia Call for Paper (SCFP) tingkat mahasiswa, Olimpiade Ekonomi Islam tingkat SMA/MA, International Debat, Sharia Fair dan International Seminar. SCFP adalah ajang kompetisi karya tulis tingkat nasional yang diikuti oleh 10 Universitas di seluruh Indonesia dengan mengirimkan karya terbaik untuk bisa menjadi pemenang di acara tahunan ini. Acara ini berlangsung pada 15 - 17 Oktober 2019 bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

        Pada hari pertama (15/10), dimulai dengan presentasi karya tulis dari 10 tim yang terpilih diantaranya; Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Univerisitas Airlangga, Universitas Gajah Mada, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Institute Tazkia dan Universitas Gunadarma. Acara ini  mengangkat tema "Accelerating Economic Growth Through Halal Industry Development” yang bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan digital yang ada di era ini oleh ekonom Rabbani untuk mendukung perkembangan industry halal.  Melalui tema ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi mahasiswa dan masyarakat luas untuk lebih mengenal, mengetahui bahkan mempelajari ekonomi syariah untuk perekonomian yang lebih baik dengan mengembangkan produk-produk halal yang sesuai dengan prinsip syariah.  Tim 1 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-1 dengan mengangkat topik mengenai lembaga perwakafan dan teknologi blockchain dengan judul paper  “IMPLEMENTASI WAQF BLOCKCHAIN UNTUK MENINGKATKAN ACCOUNTABILITY DEMI MEWUJUDKAN SOCIETY TRUST TERHADAP LEMBAGA PERWAKAFAN DI INDONESAI (STUDI KASUS: BADAN WAKAF AL QURAN). Topik tersebut membahas mengenai bagaimana mengoptimalkan potensi teknologi blockchain pada lembaga perwakafan untuk menciptakan akuntabilitas, efisiensi dan transparani pada lembaga perwakafan dengan output menciptakan nazhir yang professional agar dana wakaf yang telah ada dapat dimaksimalkan dan dikelola dengan baik. Tim 2 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-5 dengan mengangkat topik mengenai para TKI  dan Ekonomi dengan judul Paper “PEMBERDAYAAN PENYANDANG DISABILITAS BERBASIS KOMUNITAS DALAM MENCAPAI ECONOMIC GROWTH MELALUI PENGEMBANGAN WAQF FOR US DALAM BIDANG HALAL FASHION (PILOT PROJECT: PEKALONGAN, JAWA TENGAH)”. Topik tersebut membahas mengenai suatu Komunitas yaitu Bisabilitas yang merupakan upaya dalam mendorong eksitensi para tunadaksa untuk memberdayakan dan menjembatani mereka agar dapat menjadi individu mandiri khususnya dalam bidang ekonomi kreatif untuk meningkatkan kapabilitas diri terlepas dari keterbatasan yang dimiliki sehinga dapat terciptanya lapangan pekerjaan yang semakin meluas dan berkelanjutan serta dapat terciptanya economic growth. Tim 3 tampil pada urutan ke-2 dengan mengangkat topik mengenai Pariwisata Halal dengan judul Paper “IOT METHOD: OPTIMALISASI MANAJEMEN WISATA HALAL UNTUK AMENITAS PENGUNJUNG (STUDI KASUS: DESTINASI WISATA LABUAN BAJO, MANGGARAI BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR)”. Topik tersebut membahas mengenai solusi bagaimana cara menyelesaikan permasalahan sampah, aksesibilitas dan daya tampung pengunjung pada destinasi wisata di Labuan Bajo dengan tujuan untuk mengembalikan tingkat rasa kepuasan (amenitas) dari pengunjung Labuan Bajo.  Setelah tahapan presentasi berakhir, lima tim dengan poin presentasi tertinggi akan melaju ke tahapan terakhir yaitu study case. Lima tim tersebut ialah:  Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Gunadarma (Tim Cici), Universitas Diponegoro dan Universitas Gunadarma (Tim Ricka).

Foto bersama Dewan Juri dan para Finalis

         Pada hari kedua (16/10), merupakan acara International Seminar Iqtishoduna 2019  yang bertemakan "Accelerating Economic Growth Through Halal Industry Development. Seminar tersebut dimoderatori oleh Bapak Imam Wahyudi Indrawan, S.E.I, M.EC. dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Bapak M. Ali Irsyad, S.Ikom, Ch, Cht. (CEO & Founder of PT. Ijad Group). Bapak Ali Irsyad memaparkan bahwa saat ini populasi manusia meningkat namun hasil pangan semakin berkurang, terbukti dari data yang beliau paparkan yaitu pertumbuhan PDB Pangan dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Data lain juag menyebutkan bahwa jumlah petani di Indonesia juga semakin turun yang di akibatkan karena masyarakat menganggap bahwa petani itu adalah pekerjaan turun temurun. Tiga masalah yang beliau paparkan dalam industri halal dalam bidang pangan adalah; capital (modal), land (lahan) dan market (pasar).

Bapak Raden Ali Ferdian (CEO of Danaprospera) memaparkan materi terkait literasi keuangan syariah di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa saat ini literasi keuangan syariah hanya 8,11% dengan indeks inklusinya sebesar 11,6%. Saat ini kita sedang berada dalam situasi ketika dunia bukan hanya berubah, namun berkembang pesat menerobos kemapanan sistem lama. Dahulu transaksi hanya diperkenankan melalui tunai saja, namun saat ini telah bertumpu kepada transaksi non tunai seperti virtual account cashless dan fintech. Financial Technology juga telah berkembang pesat di Indonesia. Perkembangan ini bahkan mengalahkan pertumbuhan e-commerce.

Bapak Muhammad Quraisy, Ph.D (Principal Analyst at National Committee of Islamic Finance) memaparkan materi tentang peluang dan tantangan industry halal di Indonesia. Peluang Indonesia saat ini yaitu Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di Dunia. Indonesia juga menduduki peringkat terunggul dalam berbagai sektor seperti, makanan dan minuman halal, fesyen muslim, pariwisata halal, industri keuangan islam, media dan rekreasi halal. Bapak Quraisy merumuskan beberapa tantangan yang dihadapi oleh Indonesia yaitu: bagaimana menciptakan Indonesia sebagai pemain industri halal di Dunia, regulasi dan standarisasi sektor industri, research and development & technology serta keuangan dan pembiayaan dari lembaga keuangan islam masih terbatas.  

Pemateri terakhir yaitu Associate Profesor DR. Asmak Ab Rahman (Academy of Islamic Studies, University of Malaya). Beliau menjelaskan tentang mekanisme pencantuman logo halal dan biaya sertifikasi halal di Malaysia. Malaysia telah menjadi Role Model dalam industri halal untuk pertumbuhan ekonomi mereka. Seminar ini mendapatkan antusias yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa dan para praktisi serta akademisi lainnya. Diharapkan dari seminar ini menambah literasi dan wawasan para peserta khususnya generasi millenial dalam memanfaatkan peluang industri halal yang semakin meningkat.

Foto bersama Moderator dan Pembicara

Setelah sesi seminar berakhir, dilanjutkan dengan pengumuman lomba Call for Paper oleh panitia. Juara I yaitu dari Universitas Indonesia, Juara II yaitu dari Universitas Diponegoro (Tim 1), Juara III yaitu Universitas Gunadarma (Cici Indriyani) dan Best Presentation yaitu Universitas Diponegoro (Tim 2).

Foto bersama para pemenang

         Pada hari ketiga (18/10), finalis diajak field trip mengelilingi kota Surabaya untuk mengenalkan secara langsung tempat wisata yang ada di Surabaya. Museum Perjuangan Sepuluh November dan Museum Bank Indonesia menjadi destinasi wisata yang kami kunjungi. Filed trip membawa kesan bahwa kita harus selalu mengingat sejarah. Kami diajak berkeliling dan di ceritakan oleh salah satu tour guide bagaimana sejarah-sejarah para pahlawan terdahulu dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Rasa senang dan bangga karena bisa mengharumkan nama baik KSEI SEF serta nama baik Gunadarma di kancah nasional dengan membuktikan prestasi-prestasi terbaik.

“Alhamdulillah senang bisa ikut berpartisipasi dalam Seminar and Call For Paper yg diselenggarakan oleh Universitas Airlangga. Mendapatkan juara III menurut saya itu bonus karena yang terpenting adalah pengalaman dan rasa berkompetisi dengan mahasiswa dari universitas lain. Di atas langit masih ada langit dan hal ini tentu saja tidak mungkin dapat diraih tanpa kerja keras dan bantuan dari saudara-saudari dan kakak alumni Sharia Economic Forum yang turut membantu dalam mempersiapkannya” Ujar Cici

Selain itu, banyak pengalaman baru yang dirasakan oleh para finalis. Dapat berdiskusi bersama dan bertukar pikiran dengan teman-teman dari berbagai universitas menjadi kebahagian tersendiri karena selain menjalin silaturahim juga menambah ikmu dan wawasan baru.  

“Hikmah yg didapat dalam mengikuti perlombaan tentunya menambah banyak sekali relasi dari berbagai mahasiswa asal universitas yg berbeda-beda dan pengalaman yg didapat sangat luar biasa, serta mendapatkan banyak tambahan ilmu terkhusus bidang industri halal yg memang saat ini sedang melesat perkembangannya” Tutur Ricka

Laporan: Putri Yunela Sari

  • 30 Sep 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

SEF Prestasi LKTI SESO 2019, TIM SEF Universitas Gunadarma Juara 1 dan 2

Link LKTI:

/uploads/ckeditor/attachments/58/Ringkasan_LKTI_SESO_2019_Tim_SEF_Gunadarma.pdf

          Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih Juara 1 dan Juara 2 dalam ajang Sharia Economic Smart Olympiad (SESO) 2019 yang diselenggarakan oleh IPB University, Bogor, Jawa Barat. Tim yang berhasil meraih penghargaan tersebut yaitu Tim 1 yang beranggotakan Putri Yunela Sari (Akuntansi 2016), Taufik Ikhsan Muchlisyn  (Ekonomi Syariah 2016) dan I Putu Kemal Pratama (Manajemen 2017). Dan Tim 2 beranggotakan Lailatul Munawaroh (Manajemen 2016), Reren Anggun Wulandari (Manajemen 2016) dan Erwin Faridah (Manajemen Pemasaran 2016). SESO merupakan rangkaian acara dari The 15th SEASON yang merupakan agenda tahunan terbesar yang diadakan oleh KSEI SES-C Fakultas Ekonomi dan Manajemen Departemen Ilmu Ekonomi Syariah IPB yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat mahasiswa dan Olimpiade Ekonomi Islam tingkat SMA/MA dan Mahasiswa.  LKTI adalah ajang kompetisi karya tulis tingkat nasional yang sudah memasuki tahun ke 15 dan diikuti oleh 12 Universitas di seluruh Indonesia dengan mengirimkan karya terbaiknya untuk bisa menjadi pemenang di event tahunan ini. Acara ini berlangsung pada 25 - 26 September 2019 bertempat di Kampus Darmaga, IPB University. 

            Pada hari pertama (25/09), dimulai dengan pembukaan acara dan dilanjutkan dengan persentasi karya tulis dari 12 tim yang terpilih yakni diantaranya Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Univerisitas Negri Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Airlangga, Institut Tazkia, Universitas Islam Malang, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Gunadarma. Acara ini  mengusung tema "Membangun Jiwa Sociopreneur untuk mengoptimalisasi Wakaf Produktif di Indonesia" yang bertujuan untuk mengoptimalkan salah satu Filantropi Islam, yaitu wakaf produktif dalam segala aspek baik dalam perekonomian, pendidikan Islam maupun UMKM di Indonesia. Tim 1 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-12 dengan mengangkat topik mengenai anak-anak marjinal dan pendidikan Islam dengan judul Paper “RUMAH WAKAF (RU KAF): OPTIMALISASI WAKAF PRODUKTIF DENGAN KOLABORASI CROWDFUNDING DAN CROWDSOURCHING DALAM PEMBIAYAAN PENDIDIKAN ISLAM MENUJU INDONESIA CERDAS (PILOT PROJECT: SEKOLAH MASTER, DEPOK)”. Topik tersebut membahas mengenai pengumpulan dana wakaf dengan platform kolaborasi crowdfunding dan crowdsourching untuk pembiayaan gedung ataupun operasional Sekolah Master dengan menghadirkan sistem program  pembelajaran kepada anak-anak yang disebut dengan Kidz Preneur dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia terutama pada Sekolah Master yang diharapkan anak-anak disana dapat mandiri dan mempunyai karakter yang baik kedepannya. Sedangkan Tim 2 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-5 dengan mengangkat topik mengenai para TKI  dan Ekonomi dengan judul Paper “BANGKITKAN KEMANDIRIAN EKONOMI TKI MELALUI “KAMPUNG KABAHAN” DENGAN METODE SOCIAL GROUP WORK BERBASIS WAKAF (PILOT PROJECT: KABUPATEN INDRAMAYU)”. Topik tersebut membahas KABAHAN yang merupakan konsep reaktualisasi peran TKI yang bersinergi langsung dengan petani mangga sebagai supplier mangga, lalu menjadikan wakaf & akad syariah sebagai instrument dasar pemberdayaan TKI sociopreneur industri mangga.

           Pada hari kedua (26/09), merupakan puncak dari acara The 15 th Season dengan pemberian hadiah kepada para pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Olimpiade Ekonomi Islam dan diakhiri dengan Seminar Internasional & BWI Wakaf Goes to Campus bertemakan “Membangun Wakaf sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia”  Di hadiri oleh Bapak Prof. Dr. Ir Mohammad Nuh, DEA (Head of Badan Wakaf Indonesia) sebagai. Seminar ini dimoderatori oleh Bapak Dr. Muhammad Iqbal Irfany, SE, MappEC (Dosen Ilmu Ekonomi Syariah IPB) dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Bapak Dr.Ibrahim F. Khojah (Technical and Vocational Training Corporation Saudi Arabia), Bapak H. Muhammad Fuad Nassa, S.Sos, M.sc (Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf  Kemenag) dan Bapak Drs. Susono Yusuf (Divisi Humas, Sosialisasi dan Literasi BWI). Seminar ini mendapatkan antusias yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa dan para praktisi serta akademisi lainnya. Diharapkan dari seminar ini menambah literasi dan wawasan para peserta khususnya generasi millenial dalam memanfaatkan potensi wakaf produktif Indonesia yang begitu besar. SEF UG berhasil meraih penghargaan juara 1 yang diwakili oleh oleh Tim 1 (Putri Yunela Sari, Taufik Ikhsan Muchlisyn, I Putu Kemal Pratama) dan juara 2 yang diwakili oleh Tim 2 (Lailatul Munawaroh, Reren Anggun Wulandari, Erwin Faridah) dan juara 3 diraih oleh Universitas Padjadjaran.

Laporan: Putri Yunela Sari

  • 6 Apr 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan
Perkembangan pasar muslim yang pesat membuat banyak negara mulai sangat serius untuk membangun industri halal. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, Indonesia harus menjadi pelaku utama dalam Industri Halal. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus menguatkan kapasitas untuk bersaing di kancah global. Paradigma Lembaga Keuangan Mikro yang benar-benar melek literasi hanya 31%. Tujuan dari Lembaga Keuangan Mikro yaitu pengentasan kemiskinan dan menjadikan UKM yang sehat dan berkembang dengan menitikberatkan pada masyarakat ekonomi yang lemah. SDM merupakan aset yang paling berharga guna mewujudkan tujuan organisasi. Dalam HRD Syariah sendiri menggunakan metode benchmarking sebagai landasan dalam Manajemen HRD Syariah, dengan mengambil esensi-esensi pada generasi terbaik, kemudian di refleksikan pada keadaan terkini. Dengan membuat inovasi seperti penciptaan teknologi digital yang dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi. 
Ekonomi Digital terdiri dari berbagai elemen yang identik dengan penggunaan teknologi. Dalam penggunaannya diperlukan keseimbangan untuk memanfaatkan peluang & tantangan ekonomi digital serta mendorong inovasi dan menjaga stabilitas. Tentunya dengan menerapkan nilai-nilai Islam dari industri halal yang mengandung kebijakan, prinsip, motif, arahan dan etika dalam melakukan kegiatannya. Dalam penerapan pembangunan ekonomi, ziswaf sangat berpengaruh didalamnya. Meliputi pembangunan yang berorientasi pada pemerataan Ekonomi melalui penciptaan lapangan pekerjaan sehingga dapat menurunkan angka kemiskinan dan memenuhikebutuhan dasar masyarakat.
Berkaitan dengan pembangunan ekonomi, sebagai negara yang memiliki berbagai bentuk keindahan alam, andil pariwisata halal tidak dapat  diragukan lagi. Hal tersebut terbukti dimana pariwisata  khususnya pariwisata halal telah memberikan kontribusi terhadap PDB di negara Indonesia. Selain itu, Indonesia mendapatkan penghargaan dalam ajang “World Halal Tourism Awards 2016” dan pada saat ini Indonesia memprioritaskan 10 destinasi wisata yang ada diberbagai daerah, seperti Aceh, Riau, Sumatra Barat, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lombok dan Jawa Tengah. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia tentu menjadikan makanan yang halal lagi baik telah menjadi suatu hal yang wajib. Untuk menjamin kehalalan produk, pemerintah telah membentuk Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Ulama Indonesia (LPPOM MUI). LPPOM MUI dapat membantu umat Islam untuk menerapkan pola hidup sehat sesuai dengan tuntunan Islam yang telah diatur dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 173 yang menjelaskan terkait hukum halal dan haram. Kesehatan dalam Islam memiliki makna yang benar-benar harmonis dan proporsional dalam berbagai aspek kehidupan manusia secara sempurna seperti jasad, pikiran, dan spiritual (ruh).
Dengan menerapkan kesehatan sesuai tuntunan Islam. Maka, secara otomatis kita dapat menerapkan prinsip Halal Is My Life sebagai gaya hidup kita. Sebab dalam Islam kebersihan adalah sebagian dari iman dan kebersihan merupakan cikal bakal dari kesehatan. Jika masyarakat sudah membudayakan kesehatan, maka kesehatan roda perekonomian pun akan tumbuh dengan sendirinya.
Laporan: Anesi
  • 10 Jan 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

[COMING SOON ON APRIL 2019]

Welcoming our PRESTIGIOUS ANNUAL EVENT
By Sharia Economic Forum (SEF) of Gunadarma University

GUNADARMA SHARIA ECONOMIC EVENT (GSENT) 2019

Our Agenda:
- National Seminar
- International Seminar
- Student Conference
- National Islamic Economic Olympiad
- Video Competition

For further information follow at: @gsent_sef

Stay close with us at: gsent.shariaeconomicforum.org

#GSENT2019 #KSEISEFUG
#PemudaSEF #EkonomRabbani
#PemudaPenggerakPeradaban