Publikasi - Internasional

  • 11 May 2017

  • 0 Comments

  • Internasional

Otoritas Jasa Keuangan terus menyatakan komitmennya dalam mendorong perbankan syariah memperluas jaringan bisnis ke negara-negara kawasan Asia. Salah satu negara yang dianggap bisa menjadi destinasi potensial bagi perbankan syariah karena memiliki keuntungan, adalah Filipina.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengungkapkan, potensi bagi perbankan syariah nasional mengibarkan sayap ke Filipina sangat terbuka lebar. Terlebih, otoritas perbankan negara tersebut yang justru mengajukan diri untuk melakukan kerja sama dengan perbankan nasional.

“Mereka meminta bantuan kerja sama dari bank syariah untuk Filipina Selatan,” jelas Muliaman, Jakarta, Rabu 10 Mei 2017.

Meski begitu, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu menegaskan, kedua belah pihak baru saja memulai pembicaraan. Namun, peluang untuk membahas kerja sama kedua otoritas bisa kembali dilakukan, pada saat pimpinan Bank Sentral Filipina menyambangi Indonesia pada 3-4 Juni 2017.

Nantinya, kerja sama bilateral sesuai dengan kerangka ASEAN Banking Integration Framework itu akan mengedepankan asas dan prinsip-prinsip resiprokal dalam kerja sama bilateral. Implementasi ABIF di kawasan Asia Tenggara sendiri, akan efektif diterapkan pada 2020 mendatang.

Sejauh ini, lanjut Muliaman, memang belum ada perbankan nasional yang berencana melakukan ekspansi ke Filipina, maupun sebaliknya. Muliaman pun belum mengetahui, apakah kerja sama antar kedua negara bisa direalisasikan pada tahun ini atau tidak.

“Pembicaraan masih tahap awal. Seperti orang pacaran dululah,” katanya.

Sumber: Viva.co.id

  • 16 Apr 2017

  • 0 Comments

  • Internasional

Negara dengan penduduk mayoritas Kristen, Kenya, berkeinginan menjadi pusat pariwisata dan perbankan syariah. Untuk menunjukkan keseriusannya, Kenya mengadakan pertemuan para ahli ekonomi syariah se-Afrika Timur untuk mengeksplorasi upaya-upaya yang bisa dilakukan agar bisa menggaet pangsa pasar 1,6 miliar penduduk Muslim dunia.

Kenya hendak menawarkan barang dan jasa yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Perekonomian Islam tidak hanya mencakup industri makanan halal, tapi juga sektor lain seperti pariwisata, perbankan, asuransi dan pasar modal syariah. 

Salah satu pejabat di Kementerian Pariwisata Kenya Najib Balala mengatakan bahwa kementerian berencana menerbitkan panduan untuk hotel dan penginapan syariah. Hal ini tidak lain demi menarik wisatawan Muslim dunia yang diperkirakan mengeluarkan uang 230 miliar dolar AS pada 2020 untuk sektor pariwisata. 

"Kenya juga telah membantuk tim ahli untuk mengidentifikasi kebijakan pasar modal negara agar sesuai dengan hukum perbankan syariah," ujar Kepala Otoritas Pasar Modal Kenya Paul Muthaura seperti dilansir dari Gulf News, baru-baru ini. 

Para ahli menyebut perekonomian syariah memiliki beberapa tantangan. "Sangat sulit mengembangkan konsep yang dapat diterima oleh pemerintah di negara-negara liberal seperti Italia," kata Presiden Pengembangan Halal Dunia (salah satu organisasi di Italia) Anna Maria Tiozzo.

Dia menyebut organisasinya membutuhkan waktu 10 tahun untuk mendorong sertifikasi produk makanan halal. Pemerintah Italia khawatir sertifikasi tersebut diartikan bahwa mereka mendukung agama tertentu. Tantangan lainnya yakni dalam bisnis hotel syariah yang hanya menSulut pasangan tamu sudah menikah untuk pemesanan satu kamar.

Persyaratan ini sulit dipraktikkan di negara liberal. Beberapa hotel syariah di negara liberal sering mendapat kritik karena menolak pasangan tamu yang belum menikah tinggal dalam satu kamar. Lebih dari 80 persen warga beragama Kristen, sementara populasi Muslim hanya 12 persen.

Sumber: Ihram.co.id

  • 3 Dec 2016

  • 0 Comments

  • Internasional

Universitas Sultan Qaboos (SQU) Oman, London, perguruan tinggi negeri pertama dan satu-satunya di Oman sejak 1986, menyatakan ketertarikan untuk mempelajari perkembangan bank syariah dari Indonesia.

Hal itu dikemukakan Vice Chancellor SQU, Ali Saud Al Bemani, dan Assistant Vice Chancellor for International Cooperation, Mona Al Fahad Al Said dalam pertemuan dengan Dubes RI KBRI Muscat Musthofa Taufik Abdul Latif, bersama delegasi dari Institut Agama Islam Sahid (INAIS), demikian keterangan Penerangan, Sosial dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Muscat, R.M. Virgino Rikaryanto.

Kedatangan delegasi perguruan tinggi INAIS di bawah naungan Yayasan Wakaf Sahid Husnul Khotimah yang dibentuk pada 2008, dalam rangka penjajakan kerja sama dengan dua perguruan tinggi terkemuka di Oman, yaitu Sultan Qaboos University University dan College of Sharia Sciences.

Dalam kunjungan itu INAIS dipimpin Ketua Harian/Pembina dan Pengembang Yayasan Wakaf Sahid Husnul Khotimah, Sri Bimastuti Handayani Sukamdani, serta Rektor INAIS Prof. Dr. Musa Hubeis.

Meskipun Oman negara muslim, namun perbankan syariah relatif baru berkembang dengan dikeluarkannya ketentuan perbankan syariah pada 2011.

Pertemuan itu juga menjajaki kerja sama lainnya, seperti riset bersama dan pertukaran dosen maupun mahasiswa.

Terdapat sembilan fakultas di SQU, yaitu Hukum, Pendidikan, Ekonomi dan Politik, Pertanian dan Maritim, Kedokteran, Teknik, Seni dan Budaya, Ilmu Pengetahuan Alam dan Keperawatan dengan pengajaran dalam bahasa Inggris (70%) dan bahasa Arab (30%).

SQU memiliki lebih dari 18.000 mahasiswa dan sekitar 6.000 staf, termasuk dua dosen dari Indonesia.

Rombongan INAIS juga berkunjung ke College of Sharia Sciences (CSS) yang disambut Dekan CSS Abdullah Al Hashimi, serta Penasihat Menteri, Zeyad Talib Al Mawaly, dan sejumlah pengurus fakultas.

CSS merupakan insitut ilmu agama Islam yang dibentuk tahun 2000, perguruan tinggi negeri berada di bawah naungan Kementerian Wakaf dan Agama Oman. Saat ini, hanya ada dua mahasiswa asal Indonesia yang tengah menuntut ilmu di sana.

Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak menyatakan ketertarikan menjalin kerja sama yang lebih erat, antara lain pemberian beasiswa bagi mahasiswa Indonesia maupun dengan metode perkuliahan jarak jauh.

Dubes RI untuk Oman, Musthofa Taufik Abdul Latif, menyatakan bahwa pihak Oman terkesan dengan sambutan dan sangat antusias untuk menjalin kerja sama dengan mitranya dari Indonesia, terlebih dalam perbankan syariah yang lebih dulu dipraktikkan di Indonesia.

Menurut Musthofa, kedatangan pengurus perguruan tinggi INAIS ke Oman menunjukkan Indonesia memiliki potensi kerjasama di bidang akademik yang bisa dikembangkan lebih jauh bersama Oman.

Sumber: BANJARMASINPOST

  • 30 Nov 2016

  • 0 Comments

  • Internasional

Langkah Al Rayan Bank (ARB) ini disambut baik otoritas keuangan Inggris. Keuangan syariah mulai mengembangkan sayapnya di Skotlandia.

Hal ini ditandai dengan beroperasinya bank syariah, Al Rayan Bank (ARB) di Glasgow, Skotladia.

Dilansir dari Herald Scotland, Rabu 30 November 2016, ARB ini dulunya bernama Islamic Bank of Britain (IBB). Bank tersebut menawarkan sistem perbankan yang tidak memberikan bunga serta bagi hasil dan risiko kepada masyarakat Skotlandia.

Sekadar informasi, IBB mencetak laba setelah pajak sebesar 10,3 juta pound sterling pada 2015. Angka ini melesat dari laba tahun 2014 yang hanya 1,2 juta poud sterling.

Tujuan utama membuka cabang bank syariah di Skotlandia adalah membuat kemitraan antara Glasgow dengan Komisi Keuangan Syariah Inggris. Tak hanya itu, pemilihan Skotlandia sebagai wilayah ekspansi pasar, sesuai dengan bisnis bank.

Sekretaris kabinet untuk ekonomi, pekerjaan, dan keadilan dunia kerja, Keith Brown, mengatakan ARB menyambut baik perluasan pasar bank syariah di Skotlandia untuk pertama kalinya dalam menawarkan sistem keuangan syariah kepada masyarakat Skotlandia.

Untuk diketahui, ARB ini menawarkan produk perbankan syariah berupa tabungan, giro, pembiayaan rumah dan properti, serta pembiayaan korporasi.

Direktur Eksekutif ARB, Sultan Choudhury, mengatakan bank syariah ini memang punya banyak nasabah dari Skotlandia sebelum menghadirkan kantor di negara tersebut.. Nasabah tersebut melakukan transaksi perbankan via internet dan telepon.

" Kini, kami menghadirkan kantor bank kami di Skotladia," kata Choudhury.

Sebelum berada di Skotlandia, bank ini sudah melakukan kerja sama pembiayaan dengan sebuah organisasi non profit untuk pedidikan Islam di Glasgow, Al-Meezan pada 2013. Nilai pembiayaannya mencapai 400 ribu poundsterling dan ditujukan untuk pembangunan bangunan tempat mengajar seperti pembangunan 10 ruangan kelas, toilet, aula, dan renovasi teater.

Sumber: Dream.co.id

  • 7 Sep 2016

  • 0 Comments

  • Internasional

Keuangan syariah akan mendapatkan tempat di Rusia. Pemerintah Rusia melihat potensi yang cukup baik dari keuangan syariah untuk memperbaiki perekonomiannya. Dilansir dari Gulf Times, Rabu 7 September 2016, selain untuk memfasilitasi 20 juta penduduk muslimnya, Negeri Beruang Merah itu mulai melirik keuangan syariah karena industri ini diyaini bisa memulihkan perekonomian pasca dikenakannya sanksi dari Barat.

Keuangan syariah mulai mendapat sorotan ketika ada tiga bank yang bersiap untuk merilis produk keuangan syariah, yaitu Vnesheconombank, Sberbank, dan Taftondbank. Ketiganya ini telah meneken kerja sama dengan Islamic Development Bank untuk meluncurkan produk keuangan syariah.

Misalnya, Sberbank, bank terbesar di Rusia, membidik pendapatan sebesar US$200 juta-US$300 juta (Rp2,61 triliun-Rp3,92 triliun) dari keuangan syariah. Lain itu, ada juga Vnesheconombank, bank pembiayaan pembangunan terbesar di Rusia, telah membiayai beberapa proyek industri halal di Rusia dan ingin meningkatkan pendanaan lewat instrumen pembiayaan keuangan syariah.

Sementara itu, Vneshemeconombank berinisitiatif untuk meningkatkan ekspor ke negara Muslim. CEO Vneshemeconombank, Sergei Gorkov, mengatakan Rusia telah memasok produknya kepada negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan nilai ekspornya mencapai US$3 miliar. Angka ini diyakini bisa meningkat dua kali lipat dengan mudah.

“ Kami bekerja dengan intstrumen keuangan syariah untuk mendukung transaksi ekspor dan impor serta membiayai produk halal,” kata Gorkov yang menyebut banknya telah bekerja sama dengan IDB senilai US$100 juta (Rp1,3 triliun) itu.

Tiga bank ini akan turut serta dalam konferensi perbankan syariah di Bahrain. Selain untuk membangun jaringan dalam keuangan syariah internasional, mereka juga ingin membuat sebuah peta jalan keuangan syariah di Rusia dan negara pecahan Soviet (Commonwealth of Independent States/CIS).

“ Saat ini, sudah ada kemauan politik untuk keuangan syariah dibangun di Rusia. Kini, masyarakat sadar perbankan syariah bisa menjadi sebuah peluang,” kata Executive Director Divisi Corporate and Investment Banking Sberbank, Maxim Osintsev.

Meskipun demikian, progres keuangan syariah di Rusia bergantung kepada kesiapan regulator untuk membuat payung hukum kerangka kerja keuangan syariah, membuat biaya efektif lewat keringanan pajak, dan memfasilitasi pendanaan bagi industri. Anggota parlemen Rusia melihat masalah utamanya adalah hukum Rusia melarang bank terlibat dalam kegiatan komersial di luar kegiatan perbankan, seperti jual beli aset tertentu.

Untuk tahap awal, kerangka hukum keuangan syariah di Rusia memungkinkan hanya pada aset yang terbatas, seperti logam mulia. Untuk membuat regulasi yang lebih luas yang memungkinkan memfasilitasi keuangan syariah secara penuh di Rusia, tentu memerlukan waktu yang lama.

Sumber : dream.co.id