Publikasi - Berita Eksyar

  • 6 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso menilai perbandingan pangsa pasar keuangan syariah dibanding konvensional bukan merupakan hal substansial. "Target pangsa pasar lima persen itu mudah. Mau 20 persen juga bisa," ujarnya dalam Seminar Industri Syariah dan Pemerataan Perekonomian, Kamis, 5 Oktober 2017.
Wimboh optimistis pangsa pasar perbankan syariah bisa mencapai 20 persen dalam beberapa tahun ke depan. Namun, menurut dia, hal itu tak terlalu penting. 
Yang jauh lebih penting, menurut Wimboh, adalah otoritas dan pelaku industri keuangan syariah fokus mendorong masyarakat untuk mengadaptasi seluruh aspek keuangan syariah. "Tidak hanya berkutat pada statistik," ucapnya.
Pernyataan Wimboh tersebut menanggapi sindiran yang selalu disuarakan terhadap industri keuangan syariah. Selama ini, industri keuangan syariah khususnya sektor perbankan yang sulit meningkatkan level pangsa pasar dari lima persen terhadap pasar perbankan nasional.
Baru pada 2016, pangsa pasar perbankan syariah dapat mencapai lima persen, setelah dalam beberapa tahun sebelumnya selalu berada di bawah lima persen. Saat ini pangsa perbankan syariah berada di 5,32 persen.
Wimboh mengatakan lebih baik industri keuangan syariah memikirikan upaya untuk meningkatkan kontribusinya terhadap pemerataan perekonomian. Beberapa upayanya adalah dengan meningkatkan pembiayaan untuk segmen mikro.
Menurut Wimboh, boleh saja perbankan syariah juga menyalurkan pembiayaan ke segmen korporasi seperti infrastruktur, tetapi harus terukur dan tidak berlebihan. Sedangkan untuk konsumer, risikonya terlalu besar dan berpotensi meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah (Non-Perfroming Financing/NPF). "Lebih baik fokus ke mikro, perluas jaringan ke daerah dan juga kembangkan semua produk dan jasa keuangan."
Wimboh juga meminta industri keuangan syariah untuk mampu bersaing dengan konvensional dalam hal pembaruan produk. Industri keuangan syariah diminta untuk juga agresif mengadaptasi perkembangan teknologi dalam produk dan jasa keuangannya. "Sehingga masyarakat berminat pindah ke syariah," ujar Mantan Komisaris Utama PT. Bank Mandiri Persero Tbk ini.
Saat ini, kata Wimboh, pangsa pasar perbankan syariah di dalam perbankan nasional mencapai 5,32 persen. Aset perbankan syariah sebesar Rp 380 triliun dengan jumlah 13 bank umum syariah, 21 unit usaha syariah di bank dan 167 bank pembiayaan rakyat syariah.

Sumber: Tempo.co

  • 3 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Menurut KH. Ma’ruf Amin, keuangan syariah sebagai salah satu penggerak ekonomi syariah akan sangat menentukan perkembangan keuangan syariah kedepan.Ekonomi syariah itu pilar utama arus baru ekonomi Indonesia. Dikatakan dia, ekonomi syariah, mampu menjadi ekonomi secara keseluruhan dan mendorong kemitraan kerjasama antara pengusaha besar dan kecil.

“Jadi sekarang keuangan syariah juga termasuk arus baru ekonomi Indonesia,” kata Ketua Dewan Syariah Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) KH.Ma’ruf Amin pada acara Ijtima’ Sanawi DPS LKS di Hotel Millenia, Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Kedepan ekonomi Indonesia ini ditandai oleh hadirnya tiga hal utama. Yaitu, pertama, ungkap Ma’ruf, lahirnya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketua langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kedua, pencanangan Jakarta sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” ujar Ketua Umum MUI, ini.

Adapun ketiga adalah arus baru ekonomi Indonesia yang didukung oleh ekonomi syariah yang penggerak LKS baik itu perbankan syariah, Industri Keuangan Syariah Non Bank (IKNB Syariah), maupun pasar modal syariah.

Disampaikan lebih lanjut, arus baru ekonomi Indonesia juga merupakan momentum perubahan paradigma ekonomi yang semula lebih banyak menggunakan pendekatan dari atas ke bawah (top down).Tapi, dalam waktu mendatang akan lebih melakukan pendekatan dari bawah ke atas (buttom up).

Kedepan ekonomi nasional diperkuat oleh ekonomi umat bukan seperti sebelumnya dikuasai oleh sekelompok konglomerat.”Potensi besar tapi marketnya masih kecil. Jadi sekarang bagaimana mengubah riil market menjadi potensial market,” imbuhnya.

Ma’ruf berharap arus baru ekonomi Indonesia bisa meningkatkan pemberdayaan ekonomi umat. Ini menurutnya,  karena umat Muslim Indonesia adalah populasi terbesar dari bangsa ini yakni 90 persen.Karena itu, kalau umat kuat, bangsa ini kuat. Sebaliknya kalau umat lemah maka bangsa ini lemah.

Karena itu menurutnya, ara tema dalam Ijtima’ Sanawi ini, untuk penguatan atau pemberdayaan ekonomi umat. Dan diharapkan ekonomi syariah jadi pilar utama arus baru  ekonomi Indonesia.

Menurutnya, dalam kongres ekonomi umat yang digelar MUI di Grand Hotel Sahid belum lama ini, presiden Jokowi mengatakan akan membangun umat  dengan distribusi aset dan kemitraan antara konglomerat dan masyarakat dalam berbagai komoditi.

Distribusi aset, jelasnya, mengandung arti bahwa presiden akan mengumpulkan tanah yang tidak dimanfaatkan baik itu milik negara maupun konglomerat.  Presiden mengatakan ditangan beliau sudah ada 12, 7 juta hektar tanah yang akan dibagikan kepada masyarakat. Tanah tersebut bisa digunakan untuk pembangunan pondok pesantren, koperasi, lahan usaha, pertanian, dan lainnya.

“Jadi, mari bung rebut kembali aset umat yang sudah hilang itu. Seperti halnya warung-warung yang rubuh diganti maraknya mart-mart asing. Diharapkan kedepan lebih marak mart basballah, Gontor Mart, Ireng Mart, dan mart Islami lainnya, ” tukas Ma’ruf.

Untuk merebut aset itu, lanjut dia, yang harus diangkat oleh arus baru ekonomi Indonesia dengan kebijakan keberpihakan pemerintah kepada umat.

“New Economic Policy, dalam rangka mempercepat tumbuh ekonomi syariah,” ujarnya.

Kebijakan ini, lanjut dia, juga untuk penentuan dan membenahi peraturan pemerintah yang dinilai menghambat percepatan ekonomi syariah.

“MUI tidak masuk, hanya mendorong, merangkul, dan menarik,” tegas Ma’ruf.

Mendorong, jelas dia, mengandung makna mendorong umat supaya punya kemauan keras untuk membangun ekonomi. Sedangkan merangkul. Yakni, MUI merangkul pemerintah untuk membenahi kebijakan-kebijakan yang mendorong tumbuhnya kekuatan ekonomi masyarakat.

Adapun menarik. Menurut Ma’ruf, yakni MUI menarik konglomerat supaya masuk didalam gerakan pemberdayaan ekonomi umat.

Menurutnya, apabila pemerintah komitmen terhadap kebijakan, maka dipastikan Indonesia dapat menjadi pemain di pasar ekonomi syariah yang memiliki prospek cerah.

Oleh karena itu, selain Indonesia menjadi potensial market jumlah penduduk Muslim yang terbesar, juga karena ekonomi syariah menduduki manfaat ekonomi bagi para pelaku usaha. “Ini momentum emas, golden momen,” pungkas Ma”ruf.

Sumber: Mysharing.co

  • 2 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang akan diselenggarakan di Grand City, Surabaya, pada 7-11 November 2017. ISEF 2017 ini akan mengusung tiga bidang yang menjadi fokus utama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, menyebutkan ketiga bidang yang diangkat dalam ISEF 2017 meliputi penguatan sektor ekonomi syariah, peningkatan efisiensi di pasar keuangan syariah, dan penguatan fungsi riset dan edukasi dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Penyelenggaraan ISEF kali ini menjadi momentum kolaborasi antara Bank Indonesia dengan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang terdiri dari Bappenas, Kemenkeu, OJK, LPS, Kemenkop, Kemeneg BUMN, DSN MUI, Kemenko Perekonomian, Kemenag, kemudian Pemprov Jawa Timur, serta lembaga terkait lainnya.
"Kolaborasi penyelenggaraan ISEF 2017 tersebut sesuai dengan tema yang diangkat, yakni memperkuat pertumbuhan ekonomi inklusif," jelasnya melalui siaran pers, Rabu (1/11).
Agusman menambahkan, kegiatan ISEF 2017 didahului oleh Festival Syariah (Fesyar) yang dilaksanakan di tiga wilayah utama ekonomi syariah lainnya. Fesyar pertama dilaksanakan di Makassar pada 25-27 Agustus 2017, dengan tema Peran "Islamic Social Finance Dalam Pemberdayaan Ekonomi".
Fesyar kedua dilaksanakan di Bandung pada 13-15 September 2017 mengangkat tema "Mewujudkan Jawa sebagai Poros Pemberdayaan Ekonomi Syariah Nasional". Sementara Fesyar ketiga dilaksanakan di Medan pada 68 Oktober 2017, mengusung tema "Membangun Ekonomi Syariah Berlandaskan Konektivitas Regional".
Salah satu misi ISEF untuk mengintegrasikan pemikiran dan inisiatif nyata dalam ekonomi syariah, agar memberi dampak terhadap perekonomian nasional dan internasional. "Dalam mewujudkan hal tersebut, rangkaian kegiatan ISEF terdiri atas forum syariah danpameran syariah," kata Agusman.
Forum syariah terdiri dari forum ilmiah yang mengintegrasikan pemikiran dan inisiatif nyata, serta forum komunikasi/promosi/edukasi yang merangkai berbagai program, kebijakan dan produk antar-lembaga dan entitas bisnis syariah.
Sementarapameransyariah menghadirkan beragam produk dan jasa yang ditawarkan oleh lembaga, dunia usaha termasuk kewirausahaan dan UMKM, serta pesantren berbasis ekonomi dan keuangan syariah.

Sumber: Republika.co.id

  • 31 Oct 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong kemajuan industri keuangan syariah yang telah berkembang pesat dalam lima tahun terakhir, baik dari sisi jumlah pelaku maupun aset keuangan syariah di perbankan, pasar modal dan IKNB.

Menurut keterangan pers terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diterima MySharing hari ini (30/10/2017),  berdasarkan data OJK hingga Agustus 201, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk Saham Syariah) mencapai Rp 1.048,8 triliun, yang terdiri aset Perbankan Syariah Rp 389,74 triliun, IKNB Syariah Rp 99,15 triliun, dan Pasar Modal Syariah Rp 559,59 triliun.

Jumlah tersebut jika dibandingkan dengan total aset industri keuangan yang mencapai Rp 13.092 triliun, maka market share industri keuangan syariah sudah mencapai 8,01%.Industri perbankan syariah sendiri saat ini terdiri dari 13 bank umum syariah, 21 bank unit syariah, dan 167 BPR syariah, memiliki total aset Rp 389,7 triliun atau 5,44 persen dari total aset perbankan nasional.

IKNB syariah terdiri dari 59 asuransi syariah, 38 pembiayaan syariah, 6 penjaminan syariah, 10 LKM syariah dan 10 IKNB syariah lainnya, memiliki aset Rp99,15 triliun atau 4,78 persen dari total aset IKNB nasional.

Sampai Agustus 2017 lalu, jumlah Sukuk Negara outstanding mencapai 56 seri atau 33,53% dari total jumlah Surat Berharga Negara outstanding sebanyak 167. Nilai Sukuk Negara outstanding mencapai Rp524,71 triliun atau 16,99% dari total nilai surat berharga negara outstanding sebesar Rp3.087,95 triliun.

Sementara itu, Sukuk Korporasi outstanding per 31 Agustus 2017 sebanyak 68 seri dengan nilai sebesar Rp14,259 triliun. Dari 68 Sukuk korporasi yang outstanding saat ini, terdapat 53 sukuk yang menggunakan akad ijarah (77,94%) dan 15 sukuk yang menggunakan akad mudharabah (22,06%). Nilai sukuk ijarah mencapai Rp. 8,92 triliun (62,59%) sementara sukuk mudharabah mencapai Rp5,36 triliun (37,41%) .

Sedangkan, jumlah reksadana syariah per 31 Agustus 2017 sebanyak 160 atau meningkat sebesar 17,65 % dibandingkan akhir tahun 2016 yaitu 136. Sementara NAB per 31 Agustus 2017 sebesar Rp 20,62 triliun atau meningkat 38,30% dibandingkan NAB akhir tahun 2016 sebesar Rp14,91 triliun.

Sumber: mysharing.co

  • 13 Jul 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Laman-laman yang memuat hedonic treadmill (Michael Eysenck,1991) akan mengupas tentang hubungan antara uang dan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga merupakan elemen krusial dalam kehidupan.

Yodhia Antariksa (2014) selanjutnya menjelajahi hasil studi saintifik yang mengulik tentang relasi kedua hal tersebut. Sejatinya, studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal dilakukan oleh Daniel Kahneman, seorang pakar financial psychology yang juga pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2002. 

Dalam risetnya, Kahneman menemukan fakta yang dikenal dengan istilah income threshold. Income threshold adalah ambang batas pendapatan yang akan menentukan apakah uang masih berdampak terhadap kebahagiaan seseorang atau tidak. 

Dalam laporan penelitian itu disebutkan, angka batas pendapatan itu adalah 6.000 dolar AS per bulan. Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka 6.000 dolar AS itu setara dengan angka Rp 15-20 juta perbulan jika diubah dalam konteks Indonesia.  

Nah, sebelum pendapatan menembus angka 6.000 dolar AS perbulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan seseorang. Namun, begitu pendapatan  melampaui 6.000 dolar AS, maka peran uang dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap. Dalam konteks ini, benar jika ada yang menyebutkan bahwa semakin Anda kaya, belum tentu semakin bahagia.

Mengapa semakin tinggi pendapatan seseorang, ternyata semakin menurunkan peranan uang dalam membentuk kebahagiaan? Jawabannya kemudian dikenal dengan hedonic treadmill itu. Ilustrasinya, jika gaji Anda Rp 5 juta, semuanya terkonsumsi habis. Saat gaji Anda naik menjadi 25 juta, ternyata semuanya habis juga. 

Ekspektasi gaya hidup Anda ternyata juga akan ikut naik sejalan dengan kenaikan penghasilan Anda. Saat pendapatan Rp 10 juta per bulan cukup naik City Car. Saat pendapatan menjadi Rp 50 juta per bulan merasa perlu naik sedan mewah. Itulah mengapa kebahagiaan seseorang itu bisa stagnan, meskipun pendapatan makin tinggi. 

Jadi, apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Agar lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti? Di sinilah letak relevansi untuk memraktekkan gaya hidup yang bersahaja, sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Prinsip hedonic treadmill adalah more is better. Makin banyak materi yang Anda miliki makin bagus. Makin banyak properti dan mobil yang Anda beli, makin kaya.  Gaya hidup bersahaja punya prinsip yang berkebalikan: less is more, terasa keindahan dunia ini jika kita hidup sederhana. Kebahagiaan hakiki bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada seberapa besar rasa syukur kita dalam menerima apapun materi atau harta yang ada. Rasa syukur melahirkan rasa berkecukupan (qona’ah). 

Nah, pemahaman ini seharusnya tidak sekadar dimengerti oleh para nasabah bank syariah. Justru para pegawai bank syariah harus memahami kapan si nasabah atau calon nasabah sudah masuk ke dalam jebakan hedonic treadmill ini. Fenomena masih besarnya pembiayaan bermasalah pada bank syariah (masih bertengger pada 4,16 persen, Desember 2016) bisa dikontribusi oleh pembiayaan konsumsi yang dikucurkan oleh bank syariah secara tidak bijaksana. 

Nasabah dipacu dan ditawari beragam pembiayaan (konsumtif) yang justru menjauhkan dirinya dari sikap Islami yang produktif. Dan produktivitas selalu berlawanan jalur dengan semangat para pengejar gaya hidup konsumtif.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). (QS. At-Takaatsur: 1-3).

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

 

  • 23 Jun 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Medco Group dan BUMN PT Bahana Artha Ventura (BAV) meluncurkan 'Program Arus Baru Ekonomi Indonesia'. Program ini merupakan program pemberdayaan ekonomi umat yang melibatkan banyak pihak termasuk pondok- pondok pesantren dan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.

Peluncuran program dan penandatanganan nota kesepakatan (MoU) ini dilakukan oleh founder Medco Group Arifin Panigoro, Ketua MUI KH Ma'ruf Amin dan disaksikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki di Griya Jenggala, Jakarta, Rabu (21/6).

Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin menjelaskan, Kongres Ekonomi Umat yang dibuka Presiden RI Joko Widodo pada 22-24 April lalu menghasilkan berbagai rekomendasi untuk memajukan perekonomian umat di Indonesia. Di antara rekomendasi tersebut adalah komitmen untuk menggerakkan koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pelaku usaha utama perekonomian nasional.

Tidak hanya berniat menggerakkan, Kongres Ekonomi Umat juga merekomendasikan adanya mitra sejajar antara pengusaha besar dengan koperasi dan UMKM dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi.

"Dari tingkat pusat hingga MUI di daerah-daerah akan terlibat dalam gerakan ini sehingga perekonomian umat bisa terangkat," ujar KH. Ma'ruf Amin.

Founder Medco Group, Arifin Panigoro mengungkapkan, sejak awalh Medco Group memang berkomitmen untuk terlibat dalam gerakan pemberdayaan ekonomi umat ini. Peluncuran program ini merupakan upaya untuk mempercepat pelaksanaan pemberdayaan ekonomi umat di Indonesia.

"Karena tujuannya jelas, agar masyarakat punya budaya entrepreneurship, meningkatkan penghasilan dan pada akhirnya menyejahterakan umat," kata Arifin Panigoro.

Sebagai tahap awal, sejumlah pondok pesantren, ormas Islam, koperasi dan UMKM dari empat provinsi di Indonesia dilibatkan dalam program ini. Dua perusahaan inti dan Perusahaan Modal Ventura Daerah yang terafiliasi dengan BAV juga ikut dalam penandatanganan kesepakatan ini. Bersama MUI dan Medco, berbagai pihak yang akan terlibat dalam program juga melakukan penandatanganan MoU untuk beberapa pilot project penguatan ekonomi umat.

 

Sumber: Republika.co.id

  • 12 Jun 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Sehubungan dengan berkembangnya sistem ekonomi syariah baik di Indonesia maupun di dunia, permintaan terhadap tenaga-tenaga ahli di bidang itu pun semakin tinggi. Guna mewujudkan partisipasi aktif dalam pembangunan nasional Universitas Gunadarma pun membuka Fakultas Ekonomi Syariah.


Panitia Kuliah Informal Ekonomi Syariah atau Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma 2017 Ndalu Girindhana mengatakan, tujuan membuka pendaftaran kuliah informal Ekonomi Syariah yang akan digelar pada tanggal 10-15 Juli 2017.

 

"Syariah Economic Forum ini untuk mengenalkan ekonomi syariah kepada mahasiswa-mahasiswi Universitas Gunadarma yang akan digelar pada tanggal 10-15 Juli," kata Ndalu di Kampus E Universitas Gunadarma di Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, Senin (12/6).

 

Ekonomi syariah atau Sharia Economic, kata Ndalu, pada dasarnya belajar ekonomi dengan dilandasi dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.

 

"Ekonomi itu sendiri maksudnya aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya, jadi dalam ilmu ekonomi, kita mempelajari teori-teori ekonomi secara mikro maupun makro. Kita jadi biasa berpikir logis dalam mengambil keputusan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan sebagai individu, perusahaan, maupun pemerintah nantinya," ucap dia.

 

Dengan demikian, kata dia untuk kelas intensif pihak Gunadarma juga menghadirkan para pemberi materi di bidang masing-masing terkait ekonomi syariah.

 

"Kelas intensif memang kita desain kita rancang di kelas, dan pemberi materi juga orang-orang yang berkompeten di bidang masing-masing, seperti dari bank, atau lembaga keuangan Islam itu kita langsung datangkan pakarnya. Ekonomi Islam sendiri kita juga memanggil pakarnya," ujarnya.

 

Ndalu juga berharap dengan adanya Fakultas Ekonomi Syariah di Universitas Gunadarma ini bisa mengetahui manfaatnya tentang ekonomi dan sangat berpotensi.

 

"Ekonomi syariah ini yang kenal bukan hanya Gunadarma saja, dan anak Gunadarma tahu tentang ekonomi syariah dan tahu manfaat tentang ekonomi syariah sendiri, bagaimana prospek ke depannya, ekonomi syariah ini kalau diterapkan di Indonesia sangat potensi sekali jadi harapannya bisa di terapkan di Gunadarma dan di Indonesia sendiri," imbuhnya.

 

Adapun jadwal kuliah Informal Ekonomi Syariah 2017 di Universitas Gunadarma:

 

Senin 10 Juli 2017 pukul 08.30-12.00 WIB Pengantar Ekonomi Islam, pemateri Ahmad Mikail M.Ec Dosen FEB Universitas Indonesia.

Pasar Modal Syariah pukul 13.00-16.00 WIB, pemateri Irwan Abdalloh S.E.MM kepala pengembangan pasar modal syariah BEI.

 

Selasa 11 Juli 2017: Fiqh Muamalah pukul 08.30-12.00 WIB, pemateri Dr.Ust. Erwandi Tarmizi penulis buku harta haram mualat kontemporer.

 

Fiqh Riba pukul 13.00-16.00 WIB, pemateri Dr.Ust. Erwandi Tarmizi, penulis buku harta haram muamalat kontemporer.

 

Rabu 12 Juli 2017, Filantropi Islam (Ziswaf) sekitar pukul 08-30 WIB-12.00 WIB, pemateri DR.IRfan Syauqi Beik, Direktur Puskas Baznas.

 

Bank dan Lembaga Keuangan Islam 13.00- 16.00 WIB, pemateri Dr.IR. Imam Teguh Saptono Praktisi Ekonomi Syariah.

Kamis 13 Juli 2017, Company visit pukul 08.30-12.00 WIB, Grha Unilever dan PT Anabatic Technologies Tbk.

 

Jumat 14 Juli 2017, test akhir pukul 08.30- 12.00 WIB.

 

Sabtu 15 Juli 2017, sekolah pasar modal syariah (SPMS) sekitar pukul 08.30 WIB-12.00 WIB, The Best Choice to be Islamic Investor in Sharia capital market for sustainable.

  • 4 Jun 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Popularitas London sebagai pusat keuangan Islam muncul pada tahun 2013 saat Perdana Menteri David Cameron mengumumkan rencana untuk mengembangkan kota Inggris tersebut menjadi ibu kota keuangan Islam Barat.
Pada tahun 2014, London melangkah lebih jauh ketika Inggris menjadi negara pertama di luar dunia Islam untuk menerbitkan sukuk negara. Penjualan Sukuk Britania Raya secara luas dilihat sebagai keberhasilan karena menarik 2,3 miliar poundsterling atas perintah bank sentral, sovereign wealth funds, dan investor institusional lainnya. Sebagai bagian dari rencana strategis, pada 2015, Inggris menjamin sukuk yang diterbitkan oleh perusahaan penerbangan Emirates.

Dilansir dari The Market Mogul, Selasa (30/5), disebutkan, manfaat utama dari kebijakan ini adalah menarik tambahan likuiditas dari investor di Timur Tengah dan Asia yang berpegang pada prinsip-prinsip keuangan Islam.

Perbankan Syariah di Kota London
Meskipun sejarah London dengan keuangan Islam tampaknya sangat singkat, faktanya, kembali ke lebih dari 30 tahun lalu, karena bank Islam pertama diluncurkan di Inggris pada tahun 1982. Hampir dua puluh tahun kemudian, Pemerintah Inggris menghapus penghalang pajak untuk produk yang sesuai dengan syariah, yang bertindak sebagai insentif bagi investor dan penjamin emisi.

Akibatnya, pada tahun 2004, FSA menyetujui bank Inggris pertama yang benar-benar Islami. Pada 2017, Inggris memiliki lebih banyak bank dan kreditur Islam daripada negara Barat lainnya, dan selain itu, perbankan lokal juga telah meluncurkan sejumlah produk yang sesuai dengan syariah seperti rekening tabungan individu, deposito, skema pensiun dan rencana pembelian rumah. 

Selanjutnya, pada bulan April 2017, perusahaan teknologi keuangan Islam berbasis di London, Yielder telah menjadi perusahaan pertama yang mendapat persetujuan peraturan di Inggris.

Kunci Kekuatan Kompetitif London
Apa yang ada di balik minat institusional ini dalam keuangan Islam? Terlepas dari jumlah bank yang menyediakan produk Syariah, London memiliki ekosistem finansial yang sempurna -pasar utang dan ekuitas yang besar dan sangat likuid, profesional berkualitas- pengacara dan bankir, regulator keuangan berorientasi bisnis dan pasar yang dikembangkan untuk instrumen manajemen risiko, seperti derivatif dan asuransi.

London Stock Exchange adalah tempat global utama untuk penerbitan sukuk. Menurut situs resmi LSE Group, lebih dari 48 miliar dolar AS telah meningkat melalui 65 penerbitan obligasi investasi alternatif di London Stock Exchange. Juga, London Stock Exchange mencakup sejumlah dana yang dirancang untuk investor yang mematuhi prinsip-prinsip keuangan Islam seperti Seri Indeks Ekuitas FTSE Shariah Global.

Dalam beberapa tahun terakhir, London telah berada di garis depan inovasi di bidang FinTech seperti cryptocurrencies, crowdfunding, layanan pembayaran, dan lainnya. Beberapa inovasi FinTech ini dapat dikombinasikan dengan keuangan Islam untuk menghasilkan produk yang lebih murah, lebih cepat dan pelayanan kepada pelanggan yang lebih personal. Pasar keuangan Islam di Inggris memiliki potensi tinggi karena saat ini ada sekitar 3 juta Muslim yang tinggal di Inggris. Namun, kebanyakan dari mereka tidak menggunakan produk yang sesuai dengan Syariah.

Persaingan dari Pusat Keuangan Lainnya
Pusat keuangan seperti Dublin dan Luksemburg juga memiliki ambisi untuk menarik layanan keuangan Islam. Lebih jauh lagi, pada bulan April tahun ini, Arab Saudi mencatatkan obligasi syariah terbesarnya, di Bursa Efek Irlandia, sehingga persaingan antara pusat keuangan Barat mungkin lebih kuat dari sebelumnya.

Namun, untuk saat ini, persaingan pusat keuangan saat ini tertinggal karena pasar mereka yang lebih kecil, lebih sedikit perusahaan yang mencari untuk membesarkan keuangan, mereka juga menurunkan jumlah profesional berkualitas dan kurangnya pengalaman dalam penjajakan pembiayaan tiket Syariah.

Satu hal yang pasti, jika London ingin mempertahankan posisi terdepannya dalam keuangan Islam, kota ini harus mematuhi undang-undang imigrasi yang fleksibel dan fokus pada menarik emiten asing dan pembangunan infrastruktur keuangan.

 

Sumber: Republika.co.id

  • 25 May 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Perekonomian, baik secara nasional maupun internasional atau global, terus mengalami perkembangannya. Seperti ekonomi syariah yang tengah menjadi tren dan sebagai salah satu sistem yang dinilai bisa menjadi alternatif di tengah krisis global. Bahkan beberapa negara barat telah menggunakan konsep ekonomi syariah sebagai salah satu instrumen kebijakan ekonomi dalam menarik investor.


Hal itulah yang dilihat Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma untuk menggelar seminar berskala internasional bertajuk Enhancing Sustainable Development and Welfare Distribution Through Waqf.

 

Rektor Gunadarma, Margianti mengungkapkan, ekonomi syariah sebetulnya sudah dikembangkan sejak lama dan terbukti lebih tahan terhadap permasalahan ekonomi.

 

"Sudah dibuktikan ada karakteristik khusus secara ekonomi, bukan agama, yang ternyata lebih tahan terhadap turbulen atau permasalahan ekonomi yang ada. Seperti bagi hasil, itu secara ekonomi, secara logis, terbukti lebih tahan. Itu landasan filosofisnya," kata Margianti kepada merdeka.com di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, Rabu (24/5).

 

Simak wawancara merdeka.com selengkapnya bersama Rektor Universitas Gunadarma Margianti mengenai ekonomi syariah dan peran Gunadarma untuk menjawab persaingan global. 

 

Kenapa Gunadarma ingin mengadakan seminar internasional?

 

Mengadakan seminar ini bukan karena ingin, tapi kewajiban dari setiap program studi untuk melakukan pendalaman pengembangan ilmu baik untuk lokal maupun internasional. Jadi itu memang sudah kewajiban program studi, centre, atau lembaganya sendiri. Sudah koridor yang harus dilakukan.

 

Kenapa harus wajib?

 

Karena memang salah satu sarana pengembangan ilmu. Untuk kita melakukan penelitian, seminar-seminar, mendapat ide-ide baru dari pihak lain. Jadi di situlah proses berkembangnya. Bisa diterangkan juga di sini bahwa para Kaprodi, Dekan dan lain sebagainya mereka tidak mendapat kewajiban administratif. Artinya mereka tidak diwajibkan mencari massa baru, mahasiswa baru dan lain sebagainya. Kewajiban mereka melakukan pengembangan dan pendalaman keilmuan melalui seminar, penelitian, kerja sama, dan juga melalui pengabdian masyarakat. Karena semua dukungan administrasi akademik dan keuangan itu dilakukan desentralisasi.

 

Seminar ini apakah tema yang selalu berubah atau memang Gunadarma sedang fokus ekonomi syariah?

 

Ekonomi syariah ini di Gunadarma programnya baru berjalan belum satu tahun, per September 2016. Jadi di sini yang baru itu ada tiga: ekonomi syariah, agrotech, dan pariwisata. Jadi tema ini mengenai Enhancing Sustainable Development and Welfare Distribution Through Waqf, saya kira bebas pilihan mereka (program studi), apa topik yang sedang "in". Kebetulan bagi program studi ekonomi syariah yang baru itu pilihannya ke sana. Dan mereka punya keleluasaan akademik mengundang siapa saja. Tidak ada ketentuan dari kami (Rektorat) untuk mengundang ini mengundang itu.

 

Tapi sebelum itu, karena ini program baru, itu tidak mulai tiba-tiba. Di Gunadarma sendiri sudah aktif sekali Syariah Ekonomi Forum (SEF). Kegiatannya, salah satunya, mereka juara debat internasional. Prestasinya bagus sekali. Setiap kali kegiatan mereka ada, mereka juga bertanya, "Kapan program ekonomi syariah di Gunadarma ada?", dengan ini kami jawab. Tentu, setelah kami melakukan persiapan. Jadi topiknya, apa yang berkembang saat ini, menjadi bahan kajian.

 

Pertimbangan Gunadarma untuk membuka ekonomi syariah?

 

Ekonomi syariah memang sebetulnya sudah dikembangkan lama untuk memperkenalkan dan sebagainya. Dan juga sudah dibuktikan ada karakteristik khusus secara ekonomi, bukan agama, yang ternyata lebih tahan terhadap turbulen atau permasalahan ekonomi yang ada. Seperti bagi hasil, itu secara ekonomi, secara logis, terbukti lebih tahan. Itu landasan filosofisnya.

 

Apa yang diharapkan kepada lulusan-lulusan Gunadarma nantinya, khususnya di bidang ekonomi syariah?

 

Anggota SEF tadi dasarnya adalah mereka yang mengambil program studi ekonomi. Kemudian studi lanjutan di luar negeri mengambil ekonomi syariah. Bahkan ada yang dibiayai oleh Gunadarma. Jadi kita sudah punya tenaga-tenaga yang diharapkan akan kembali ke sini lagi. Harapannya tentu saja lulusannya itu dapat mengisi pangsa ekonomi syariah di Indonesia. Selama ini kan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma menjadi salah satu favorit karena diperkaya dengan ICT. Semua fakultas yang ada harus embeded dengan ICT. Semua diberi tambahan pengetahuan IT dan Komunikasi. Sekarang karena ekonomi syariah berkembang pesat, maka kita juga ingin berkiprah.

 

Termasuk dengan persaingan global?

 

Otomatis kalau itu. Termasuk semua yang ada di Gunadarma. Payung MoU Gunadarma untuk aktivitas internasional itu kan mencakup, termasuk yang ekonomi syariah itu. Gunadarma saat ini kan ada lebih dari 100 kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi atau bukan perguruan tinggi. Kalau memang dia bisa in-line dan itu sangat terbuka dan fleksibel.

 

Ekonomi syariah itu sebuah peluang atau ancaman di Indonesia?

 

Menurut saya tergantung bagaimana melihat. Ada istilah SWOT, dan di bagian weakness bila kita bisa melihat dari sisi lain bisa juga menjadi strengths. Begitupun dengan threats, bisa juga kita ubah menjadi opportunities kenapa tidak. Jadi kalau ada kesalahan coba kita selamatkan dan cari Win-Win Solution-nya.

 

Para mahasiswa akan memasuki dunia kerja, mereka kerap terkendala. Mereka sudah siap atau belum sebelumnya?

 

Kalau Gunadarma sudah dipersiapkan sejak awal, ini sudah dilakukan sejak dulu. Pertama, Gunadarma sekarang sudah punya gedung berlantai, dulu kan belum. Jadi kami berpikir kalau mahasiswa itu diwawancara oleh sebuah perusahaan yang multinasional dia nggak pernah naik lift, umpamanya, nanti dia bisa tidak 'tampil'. Kami memikirkan bagaimana melatih para mahasiswa ini diuji oleh orang-orang berdasi, dengan jas. Kami sudah mengharuskan para dosen itu waktu sidang S-1 pakai dasi, pakai jas, tapi tidak ada yang mau. Nah akhirnya kami sediakan. Tujuannya untuk upaya pembiasaan mahasiswa.

 

Permasalahan lainnya?

 

Permasalahan lainnya adalah mahasiswa tidak bisa 'nyetel' dari apa yang ada di universitas dengan dunia kerja. Di Gunadarma kami siapkan ada mata-mata kuliah tertentu yang ada muatan praktikum IT yang mendukung satu mata kuliah tertentu. Katakan perpajakan, di situ ada komponen praktikum perpajakan, dan mahasiswa wajib ikut. Memang di luar SKS, tapi kalau tidak ikut dia tidak akan lulus. Itu salah satu kesiapan untuk menghadapi dunia kerja. Ada juga mata kuliah lainnya.

 

Kalau tadi hard skill, ada lagi soft skill-nya. Karena kan mereka juga perlu memiliki bagaimana memperhatikan, bagaimana mendengar, atau bagaimana bersikap di dunia kerja. Nah itu ada di mata kuliah adapted soft skill, namanya.

 

Tapi belakangan pemerintah kita ini berpikir lagi, "Katanya para mahasiswa kita ini kurang aware dengan situasi sosial", terus mereka membuat suatu program hibah General Education. Jadi mereka ingin bikin suatu kurikulum tertentu di mana mata kuliah itu langsung membaur ke masyarakat. Itu ada hibahnya. Kami sedang melakukan ini melalui (program studi) Agrotech, mereka kuliah lapangan dan sebagainya. Nanti kalau ini bagus, kita bisa embeded kan pada program di universitas. Dulu soft skill juga begitu, dapat program hibah sedikit dan bagus, lalu kita jadikan program lembaga.

 

Apakah ada semacam monitoring kepada lulusan?

 

Kita monitor lulusan kita. Lulusan kita maksimum 3 bulan sudah terserap. Yang belum bekerja tapi sudah terserap juga banyak. Dan ini divalidasi dengan jumlah mahasiswa yang akan masuk.

 

Untuk dari itu semua, di Gunadarma ada lembaga pengembangan. Kalau di ekonomi ada Lebma, di Komputer ada Lebkom, Lebsi, Lebtek dan lain-lain. Di mana di situ disediakan short courses seminggu satu kali. Di situ banyak perkembangan baru yang disajikan. Dan semua mahasiswa itu wajib.

 

Ke depan sesuai dengan skema LSP sertifikat kompetensi bagi mahasiswa itu akan lebur kepada LSP-P1 Gunadarma. Lembaga Sertifikasi Profesi sudah keluar izinnya untuk 33 skema. Jadi mahasiswa nanti akan mendapat sertifikat dengan mengikuti sertifikasi dari LSP di Gunadarma. Dan Gunadarma baru mendapat izin 33 skema, itu berat sekali.

 

Pengangguran universitas tinggi, bagaimana Anda menanggapinya?

 

Kita sendiri membekali mereka dengan inkubator bisnis. Tujuannya, jangan hanya berharap mereka menjadi pegawai, tetapi kalau bisa menjadi pembuka kesempatan lapangan pekerjaan. Pernah dulu TPSDP itu pernah mengadakan program bagi para lulusan yang ingin punya sesuatu lebih, ada dananya.

 

Pengangguran itu juga kan tidak hanya salah universitasnya, tetapi juga situasi ekonomi yang ada berpengaruh.

 

Kalau saya belum bisa melakukan hal yang nyata untuk angka pengangguran, saat ini careness-nya untuk Gunadarma. Misalnya, kami bekerja sama yang memang dapat mendukung kepentingan Gunadarma, seperti kerja sama untuk pembuatan handphone Android di mana untuk mendukung administrasi akademik secara online, itu yang kami lakukan.

 

Bagaimana yang akan memasuki perkuliahan, jaminan apa yang didapat dari Gunadarma?

 

Kompetensi yang ada sendiri saat ini, adalah jaminan yang akan diterima mereka. Di Gunadarma sendiri dalam proses pembelajaran yang ada banyak kegiatan-kegiatan intern yang bisa berguna bagi mereka. Kemudian kedua, banyak kegiatan penelitian Gunadarma saat ini menjadi nomor satu paling banyak penerima dana penelitian dari pemerintah. Salah satunya yang baru, science and technopark.

 

Bagaimana dengan treatment mahasiswa baru yang datang dari berbagai latar belakang dan generasi?

 

Treatmen itu berbeda-beda, tergantung dari fakultas atau bidang jurusannya masing-masing, psikologi beda dengan arsitek, beda dengan ekonomi dan lain sebagainya. Di Gunadarma selalu dari awal disampaikan kita output oriented. Walaupun masing-masing beda, tapi kita selaraskan semuanya. Kami rektorat, tidak bisa masuk sampai ke situ. Pemerintah juga kan sudah menetapkan standarisasinya tiap kampus-kampus untuk menjamin kompetensinya masing-masing sesuai bidangnya.

 

Semua itu juga terbagi dalam tiga garis besar, Tri Dharma: proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dan mereka mahasiswa harus diwadahi ke situ. Walaupun saat ini tengah dipertanyakan apakah masih relevan dengan kondisi sekarang atau tidak, karena itu produk tahun 55.

 

Kemudian semua harus berbasis ICT, ada hard skill, soft skill. Sekarang juga visi misi kami berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional. Dan juga terkenal dan diakui secara internasional. Jadi sekarang banyak sekali kegiatan-kegiatan itu yang diarahkan ke arah internasional.

 

Apa yang ingin disampaikan Gunadarma kepada para calon mahasiswa dan lulusan?

 

Kalau yang baru tentu saja silakan datang ke Gunadarma. Tentu saja ada gate yang harus mereka lewati. Juga di Gunadarma banyak tersedia banyak kesempatan beasiswa, ke luar negeri pun ada, juga kami menerima bidik misi. Artinya kalau pemerintah daerah punya usulan untuk prestasi akademik dan nonakademik, olahraga misalnya, itu sangat dihargai di sini bila ada rekomendasi. Kita kan membuka seluas-luasnya kepada semua. Tentu, selamat datang.

 

Bagi yang akan lulus, apa yang sudah diterima itu belum apa-apa, harus dikembangkan. Karena setiap saat semuanya berkembang, semuanya berubah, yang tidak berubah ya hanya perubahan itu sendiri. Tetapi positif, tetap semangat, jaga nama Gunadarma. Ubah semua weaknesses dan threats menjadi kesempatan.

  • 21 May 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Bukan rumah yang bernuansa Islami, bukan juga rumah yang dikhususkan bagi orang beragama Islam. Tapi, hunian atau properti syariah merupakan istilah yang digunakan untuk metode transaksi kepemilikan rumah secara syar'i, atau menerapkan nilai-nilai keislaman yang ditawarkan kepada calon pembeli properti. Baik Islam maupun, di luar Islam.

Terdapat beberapa gagasan yang diterapkan dalam metode ini, seperti tanpa riba, tanpa sita, tanpa denda, tanpa akad yang bermasalah, dan tanpa bank.

Dikutip dari berbagai sumber, dalam konsep properti syariah, pengembang tidak mengajak pihak perbankan untuk terlibat dalam akad jual beli. Akad yang terjadi hanya antara pembeli dan pengembang.

Opsi harga ada cash dan kredit, itu pun sudah disampaikan nominalnya sebelum akad dan tidak akan berubah walaupun suku bunga naik turun. Jadi, pilihan harga tergantung pembeli yang menentukan.

Dalam metode syariah juga, tidak dikenakan denda jika terdapat keterlambatan pembayaran cicilan. Pembeli hanya akan dikenakan surat peringatan sebagai pengingat komitmen bayar hutang, atau resechedule pembayaran jika pembeli tidak bisa menepati cicilan di tanggal tertentu.

Sumber: infonitas.com