Publikasi - Berita Eksyar

  • 21 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Indonesia membidik pelancong Rusia dari sektor pariwisata halal melalui 8th International Halal Industry Exhibition "Moscow Halal Expo 2017" yang diadakan di Moskow, pada 16-18 November lalu.

Destinasi pariwisata halal yang dipromosikan kepada masyarakat Rusia antara lain Sail Sabang dan Rapai Festival di Aceh, wisata belanja, dan objek wisata Kepulauan Seribu di Jakarta, serta perjalanan ke pantai halal pertama di Indonesia yang terdapat di Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/11), Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata RI, Riyanto Sofyan yang hadir pada pameran tersebut didaulat membuka pameran bersama perwakilan dari Dewan Mufti Rusia, pemerintah Kota Moskow, pemerintah Chechnya, dan Atase Perdagangan Suriah di Moskow.

Dalam sambutannya, Riyanto mengatakan perkembangan industri halal tidak lagi terpaku pada produk makanan, tetapi sudah berkembang ke sektor perbankan dan pariwisata. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia memiliki potensi yang sangat besar dalam industri pariwisata halal.

Riyanto mengatakan Indonesia siap menyambut kedatangan wisatawan muslim Rusia dan wisatawan lainnya dengan berbagai macam pilihan tujuan wisata yang menarik mulai dari wisata bahari, pantai, alam, seni budaya, kuliner, termasuk wisata halal. Menurutnya, berdasarkan data Thomson Reuters, penduduk muslim di Rusia yang mencapai sekitar 30 juta adalah yang terbesar di Eropa sehingga wisatawan muslim outbound dari Rusia merupakan yang terbesar di Eropa. Para wisatawan muslim Rusia tersebut mempunyai daya beli yang tinggi.

Dalam tiga tahun terakhir, kunjungan wisatawan muslim mancanegara ke Indonesia mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata 17,7 persen per tahun. Indonesia dan Rusia memiliki potensi pariwisata halal yang besar. "Untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang konkret antara pelaku industri pariwisata halal kedua negara," ujar Riyanto.

Wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia menunjukkan peningkatan. Pada 2016 tercatat sebanyak 80 514 orang, naik 22,54 persen dari tahun 2015. Sedangkan pada periode Januari-September 2017 sudah mencapai 81 804 orang, naik 52,17 persen dari periode sama 2016.

Partisipasi Indonesia pada Moscow Halal Expo kerja sama KBRI Moskow, dengan Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kempar dan Direktorat Eropa III Kementerian Luar Negeri. Selain berbagai destinasi wisata Indonesia dalam paket pariwisata halal, juga dipromosikan berbagai produk makanan halal berupa makanan kemasan, rempah-rempah, kopi, teh, mie instant, snacks, dan produk makanan lainnya dari PT Arsari Peduli Indonesia, PT Trigaluh Berjaya dan Pengelola Paviliun Indonesia di Food City Moscow.

Selama pameran, banyak pelaku bisnis Rusia yang mengunjungi stan Indonesia menjajaki peluang kerja sama, seperti pembelian atau pemasaran produk halal Indonesia di Rusia. Selain itu, Dewan Mufti Rusia juga mendukung pengembangan kerja sama pariwisata halal kedua negara.

Sementara itu Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi mengatakan keikutsertaan Indonesia sebagai bagian dari diplomasi ekonomi. Menurutnya, Indonesia perlu memanfaatkan peluang kerja sama produk halal dengan Rusia. "Selain mempererat hubungan kedua masyarakat, saling mengetahui budaya dan tradisi satu sama lainnya melalui kunjungan wisata, kerja sama ini juga dapat memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi sektor bisnis," ujar Dubes Wahid.

Moscow Halal Expo merupakan pameran produk halal tahunan yang diselenggarakan sejak 2010 di bawah pengawasan Dewan Mufti Rusia dan Kadin Rusia didukung pemerintah Rusia. Pameran kali ini diikuti 12 negara antara lain Amerika Serikat, Arab Saudi, Azerbaijan, Brunei Darussalam, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Mesir, Turki, Rusia, Suriah, dan Uzbekistan. Selain itu, hadir pula pelaku bisnis dan delegasi dari sejumlah negara lainnya.

Sumber: Republika.co.id

  • 16 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Selain kontribusi yang signifikan pada dunia international, di dalam negeri pun Indonesia mencoba untuk berinovasi melalui instrumen yang ada untuk menggerakkan sektor ekonomi dan dan sektor sosial dengan tidak keluar dari koridor syariah.

Kebutuhan Indonesia akan sektor infrastruktur sangatlah besar. Menurut data yang dipaparkan oleh Bappenas dalam ISEF kemarin, total kebutuhan dana untuk sektor ini adalah sebesar Rp 5.000 trilliun. Hal ini meliputi listrik, jalan raya, sarana prasarana air minum, pelabuhan, dan lain sebagainya. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, kita tidak bisa mengandalkan pajak dan cukai dalam APBN. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan.

Salah satu pembahasan yang sangat menarik dalam kerangka pembangunan ekonomi dan sosial tanpa dana APBN adalah pembahasan tentang gabungan wakaf dan sukuk atau yang disebut dengan Sukuk Linked Wakaf (SLW).

Kalau kita ingat perkembangan sukuk negara di Indonesia, pemerintah khususnya direktorat pembiayaan syariah Kementerian Keuangan sejak sekitar 2009 hingga sekarang tidak henti-hentinya melakukan inovasi. Dari sisi jenis sukuk negara, kita mengetahui terdapat sukuk ritel, sukuk dana haji, sukuk tabungan, dan lain lain. Dari sisi penjualan, pemerintah mengeluarkan global sukuk yang dijual di luar negeri dan sukuk yang dijual domestik dan lain sebagainya.

Tujuan dengan adanya variasi jenis sukuk sudah barang tentu adalah kualitas portofolio pemerintah. Selain itu, tujuan pemerintah adalah untuk edukasi masyarakat. Selama ini masyarakat masih melihat hanya perbankan dalam usaha investor untuk melakukan investasi. Padahal, masih banyak lagi alternatif investasi salah satunya adalah sukuk.

Secara sederhana SLW adalah sukuk. Dana yang terkumpul dari penjualan sukuk akan digunakan oleh pemerintah dan nazhir untuk proyek produktif di atas tanah wakaf. Selama ini, apa pun bentuk proyek, porsi harga tanah adalah cukup signifikan. Sehingga apabila tanahnya adalah tanah wakaf, tentunya akan lebih efisien.

Sukuk jenis ini digagas oleh Bank Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan kementerian lain yang terkait. Laba dari proyek produktif akan digunakan untuk berbagai kebutuhan di sektor sosial, salah satunya adalah sektor kesehatan. Mengapa kesehatan?

Sektor ini perlu banyak dibantu mengingat orang tidak akan dapat bekerja dengan baik apabila dia sakit. Peran BPJS untuk membantu kesehatan pun ada batasnya. Sehingga apabila ada perlakuan khusus pada pasien yang tidak ditanggung BPJS, beban adalah pada pasien tersebut, dan hal ini sering terjadi. Oleh karena itu, sektor kesehatan ini harus mendapat perhatian yang serius.

Skema SLW adalah sebagai berikut: BWI mengusulkan tanah wakaf di lokasi strategis untuk digunakan proyek tersebut. Setelah melalui studi kelayakan yang komprehensif, keputusan akhir jenis proyek adalah misalnya untuk membangun hotel. Kemudian, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengeluarkan sukuk untuk digunakan membangun hotel yang telah direncanakan.

Sumber: Republika.co.id

  • 12 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2017 secara resmi telah ditutup Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng, Sabtu (11/11/2017) malam.

Acara yang sudah berlangsung selama 5 hari itu digelar di Exhibition Hall Grand City Convention Surabaya sejak 7 Nopember 2017.

Diselenggarakan Bank Indonesia dengan tujuan untuk mengakselerasi program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Dan pada penyelenggaraan yang keempat ini temanya “Fostering inclusive economic growth and improving resiliency through closer collaboration and coordination”.

Kegiatan ISEF terdiri dari Sharia Forum dan Sharia Fair. Melalui Sharia Forum, ISEF berperan sebagai forum ilmiah yang mengintegrasikan pemikiran dan inisiatif nyata untuk mendukung berkembangnya ekonomi dan keuangan Indonesia yang adil, bertumbuh sepadan, dan berkesinambungan sesuai nilai-nilai syariah.

Sharia Forum terdiri atas berbagai kegiatan, yaitu International Seminar, Seminar Nasional, Public Lecture, Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop, dengan narasumber dari kalangan akademisi maupun praktisi, nasional dan internasional yang sangat mumpuni di bidang ekonomi dan keuangan syariah. Kegiatan sharia forum ini dihadiri 4.761 peserta, baik dari dalam maupun luar negeri.

Sedangkan Sharia Fair juga digelar dengan tujuan sebagai forum komunikasi, edukasi, dan promosi program/kebijakan/produk berbagai lembaga dan entitas bisnis melalui pameran industri kreatif, talkshow, hiburan, perlombaan dan pelatihan/edukasi untuk mendorong akselerasi implementasi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Suksesnya penyelenggaran ISEF 2017 ini tidak lepas berkat dukungan dan sinergi berbagai pihak, di antaranya Kementerian dan Lembaga terkait, Lembaga Keuangan Syariah, Pesantren, dan Lembaga Pendidikan.

Selain itu juga Kedutaan, Indonesian Islamic Art Museum, dan Perusahaan maupun UMKM di bidang Edukasi, HalQal Food, Halal Tourism, Fashion dan Renewable Energy, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya selaku tuan rumah ISEF Tahun 2017.

Rangkaian kegiatan Sharia Fair ini pun sukses menjaring pengunjung lebih dari 30 ribu orang, dengan total penjualan sebesar lebih dari Rp16,81 miliar.

Tidak hanya itu, dalam rangka memfasilitasi Business Matching, kegiatan Sharia Fair ini juga berhasil mewujudkan pencanangan kerjasama antara perbankan kepada lembaga masyarakat, Pembiayaan UKM, dan pelaku usaha mencapai lebih dari Rp158 miliar, dan kerjasama antar pelaku usaha secara berkelanjutan per bulannya mencapai lebih dari Rp1,5 miliar.

Dengan demikian, dijumlah secara keseluruhan nilai transaksi dan potensi transaksinya mencapai lebih dari Rp176,3 miliar.

Pelaksanaan Shari’a Fair ini diharapkan mampu mendorong akselerasi program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia ke depan.

Dalam closing ceremony ISEF 2017, diumumkan berbagai nominasi mulai booth favourite, booth dengan penjualan terbesar dan booth terbaik.

Rizky Desy Wulansari dari Surabaya terpilih sebagai Duta Ekonomi Syariah tahun 2017. Annisa Elma Nabila dari Makassar terpilih sebagai Runner up I, dan Aisyah Irna Dianis terpilih sebagai Runner up II Duta Ekononi Syariah.

Ke depan penyelenggaraan ISEF 2017 diharapkan mampu menjadi wadah untuk mendorong berbagai upaya akselerasi ekonomi dan keuangan syariah secara optimal.

Sumber: beritalima.com

  • 6 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso menilai perbandingan pangsa pasar keuangan syariah dibanding konvensional bukan merupakan hal substansial. "Target pangsa pasar lima persen itu mudah. Mau 20 persen juga bisa," ujarnya dalam Seminar Industri Syariah dan Pemerataan Perekonomian, Kamis, 5 Oktober 2017.
Wimboh optimistis pangsa pasar perbankan syariah bisa mencapai 20 persen dalam beberapa tahun ke depan. Namun, menurut dia, hal itu tak terlalu penting. 
Yang jauh lebih penting, menurut Wimboh, adalah otoritas dan pelaku industri keuangan syariah fokus mendorong masyarakat untuk mengadaptasi seluruh aspek keuangan syariah. "Tidak hanya berkutat pada statistik," ucapnya.
Pernyataan Wimboh tersebut menanggapi sindiran yang selalu disuarakan terhadap industri keuangan syariah. Selama ini, industri keuangan syariah khususnya sektor perbankan yang sulit meningkatkan level pangsa pasar dari lima persen terhadap pasar perbankan nasional.
Baru pada 2016, pangsa pasar perbankan syariah dapat mencapai lima persen, setelah dalam beberapa tahun sebelumnya selalu berada di bawah lima persen. Saat ini pangsa perbankan syariah berada di 5,32 persen.
Wimboh mengatakan lebih baik industri keuangan syariah memikirikan upaya untuk meningkatkan kontribusinya terhadap pemerataan perekonomian. Beberapa upayanya adalah dengan meningkatkan pembiayaan untuk segmen mikro.
Menurut Wimboh, boleh saja perbankan syariah juga menyalurkan pembiayaan ke segmen korporasi seperti infrastruktur, tetapi harus terukur dan tidak berlebihan. Sedangkan untuk konsumer, risikonya terlalu besar dan berpotensi meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah (Non-Perfroming Financing/NPF). "Lebih baik fokus ke mikro, perluas jaringan ke daerah dan juga kembangkan semua produk dan jasa keuangan."
Wimboh juga meminta industri keuangan syariah untuk mampu bersaing dengan konvensional dalam hal pembaruan produk. Industri keuangan syariah diminta untuk juga agresif mengadaptasi perkembangan teknologi dalam produk dan jasa keuangannya. "Sehingga masyarakat berminat pindah ke syariah," ujar Mantan Komisaris Utama PT. Bank Mandiri Persero Tbk ini.
Saat ini, kata Wimboh, pangsa pasar perbankan syariah di dalam perbankan nasional mencapai 5,32 persen. Aset perbankan syariah sebesar Rp 380 triliun dengan jumlah 13 bank umum syariah, 21 unit usaha syariah di bank dan 167 bank pembiayaan rakyat syariah.

Sumber: Tempo.co

  • 3 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Menurut KH. Ma’ruf Amin, keuangan syariah sebagai salah satu penggerak ekonomi syariah akan sangat menentukan perkembangan keuangan syariah kedepan.Ekonomi syariah itu pilar utama arus baru ekonomi Indonesia. Dikatakan dia, ekonomi syariah, mampu menjadi ekonomi secara keseluruhan dan mendorong kemitraan kerjasama antara pengusaha besar dan kecil.

“Jadi sekarang keuangan syariah juga termasuk arus baru ekonomi Indonesia,” kata Ketua Dewan Syariah Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) KH.Ma’ruf Amin pada acara Ijtima’ Sanawi DPS LKS di Hotel Millenia, Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Kedepan ekonomi Indonesia ini ditandai oleh hadirnya tiga hal utama. Yaitu, pertama, ungkap Ma’ruf, lahirnya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketua langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kedua, pencanangan Jakarta sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” ujar Ketua Umum MUI, ini.

Adapun ketiga adalah arus baru ekonomi Indonesia yang didukung oleh ekonomi syariah yang penggerak LKS baik itu perbankan syariah, Industri Keuangan Syariah Non Bank (IKNB Syariah), maupun pasar modal syariah.

Disampaikan lebih lanjut, arus baru ekonomi Indonesia juga merupakan momentum perubahan paradigma ekonomi yang semula lebih banyak menggunakan pendekatan dari atas ke bawah (top down).Tapi, dalam waktu mendatang akan lebih melakukan pendekatan dari bawah ke atas (buttom up).

Kedepan ekonomi nasional diperkuat oleh ekonomi umat bukan seperti sebelumnya dikuasai oleh sekelompok konglomerat.”Potensi besar tapi marketnya masih kecil. Jadi sekarang bagaimana mengubah riil market menjadi potensial market,” imbuhnya.

Ma’ruf berharap arus baru ekonomi Indonesia bisa meningkatkan pemberdayaan ekonomi umat. Ini menurutnya,  karena umat Muslim Indonesia adalah populasi terbesar dari bangsa ini yakni 90 persen.Karena itu, kalau umat kuat, bangsa ini kuat. Sebaliknya kalau umat lemah maka bangsa ini lemah.

Karena itu menurutnya, ara tema dalam Ijtima’ Sanawi ini, untuk penguatan atau pemberdayaan ekonomi umat. Dan diharapkan ekonomi syariah jadi pilar utama arus baru  ekonomi Indonesia.

Menurutnya, dalam kongres ekonomi umat yang digelar MUI di Grand Hotel Sahid belum lama ini, presiden Jokowi mengatakan akan membangun umat  dengan distribusi aset dan kemitraan antara konglomerat dan masyarakat dalam berbagai komoditi.

Distribusi aset, jelasnya, mengandung arti bahwa presiden akan mengumpulkan tanah yang tidak dimanfaatkan baik itu milik negara maupun konglomerat.  Presiden mengatakan ditangan beliau sudah ada 12, 7 juta hektar tanah yang akan dibagikan kepada masyarakat. Tanah tersebut bisa digunakan untuk pembangunan pondok pesantren, koperasi, lahan usaha, pertanian, dan lainnya.

“Jadi, mari bung rebut kembali aset umat yang sudah hilang itu. Seperti halnya warung-warung yang rubuh diganti maraknya mart-mart asing. Diharapkan kedepan lebih marak mart basballah, Gontor Mart, Ireng Mart, dan mart Islami lainnya, ” tukas Ma’ruf.

Untuk merebut aset itu, lanjut dia, yang harus diangkat oleh arus baru ekonomi Indonesia dengan kebijakan keberpihakan pemerintah kepada umat.

“New Economic Policy, dalam rangka mempercepat tumbuh ekonomi syariah,” ujarnya.

Kebijakan ini, lanjut dia, juga untuk penentuan dan membenahi peraturan pemerintah yang dinilai menghambat percepatan ekonomi syariah.

“MUI tidak masuk, hanya mendorong, merangkul, dan menarik,” tegas Ma’ruf.

Mendorong, jelas dia, mengandung makna mendorong umat supaya punya kemauan keras untuk membangun ekonomi. Sedangkan merangkul. Yakni, MUI merangkul pemerintah untuk membenahi kebijakan-kebijakan yang mendorong tumbuhnya kekuatan ekonomi masyarakat.

Adapun menarik. Menurut Ma’ruf, yakni MUI menarik konglomerat supaya masuk didalam gerakan pemberdayaan ekonomi umat.

Menurutnya, apabila pemerintah komitmen terhadap kebijakan, maka dipastikan Indonesia dapat menjadi pemain di pasar ekonomi syariah yang memiliki prospek cerah.

Oleh karena itu, selain Indonesia menjadi potensial market jumlah penduduk Muslim yang terbesar, juga karena ekonomi syariah menduduki manfaat ekonomi bagi para pelaku usaha. “Ini momentum emas, golden momen,” pungkas Ma”ruf.

Sumber: Mysharing.co

  • 2 Nov 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang akan diselenggarakan di Grand City, Surabaya, pada 7-11 November 2017. ISEF 2017 ini akan mengusung tiga bidang yang menjadi fokus utama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, menyebutkan ketiga bidang yang diangkat dalam ISEF 2017 meliputi penguatan sektor ekonomi syariah, peningkatan efisiensi di pasar keuangan syariah, dan penguatan fungsi riset dan edukasi dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Penyelenggaraan ISEF kali ini menjadi momentum kolaborasi antara Bank Indonesia dengan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang terdiri dari Bappenas, Kemenkeu, OJK, LPS, Kemenkop, Kemeneg BUMN, DSN MUI, Kemenko Perekonomian, Kemenag, kemudian Pemprov Jawa Timur, serta lembaga terkait lainnya.
"Kolaborasi penyelenggaraan ISEF 2017 tersebut sesuai dengan tema yang diangkat, yakni memperkuat pertumbuhan ekonomi inklusif," jelasnya melalui siaran pers, Rabu (1/11).
Agusman menambahkan, kegiatan ISEF 2017 didahului oleh Festival Syariah (Fesyar) yang dilaksanakan di tiga wilayah utama ekonomi syariah lainnya. Fesyar pertama dilaksanakan di Makassar pada 25-27 Agustus 2017, dengan tema Peran "Islamic Social Finance Dalam Pemberdayaan Ekonomi".
Fesyar kedua dilaksanakan di Bandung pada 13-15 September 2017 mengangkat tema "Mewujudkan Jawa sebagai Poros Pemberdayaan Ekonomi Syariah Nasional". Sementara Fesyar ketiga dilaksanakan di Medan pada 68 Oktober 2017, mengusung tema "Membangun Ekonomi Syariah Berlandaskan Konektivitas Regional".
Salah satu misi ISEF untuk mengintegrasikan pemikiran dan inisiatif nyata dalam ekonomi syariah, agar memberi dampak terhadap perekonomian nasional dan internasional. "Dalam mewujudkan hal tersebut, rangkaian kegiatan ISEF terdiri atas forum syariah danpameran syariah," kata Agusman.
Forum syariah terdiri dari forum ilmiah yang mengintegrasikan pemikiran dan inisiatif nyata, serta forum komunikasi/promosi/edukasi yang merangkai berbagai program, kebijakan dan produk antar-lembaga dan entitas bisnis syariah.
Sementarapameransyariah menghadirkan beragam produk dan jasa yang ditawarkan oleh lembaga, dunia usaha termasuk kewirausahaan dan UMKM, serta pesantren berbasis ekonomi dan keuangan syariah.

Sumber: Republika.co.id

  • 31 Oct 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong kemajuan industri keuangan syariah yang telah berkembang pesat dalam lima tahun terakhir, baik dari sisi jumlah pelaku maupun aset keuangan syariah di perbankan, pasar modal dan IKNB.

Menurut keterangan pers terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diterima MySharing hari ini (30/10/2017),  berdasarkan data OJK hingga Agustus 201, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk Saham Syariah) mencapai Rp 1.048,8 triliun, yang terdiri aset Perbankan Syariah Rp 389,74 triliun, IKNB Syariah Rp 99,15 triliun, dan Pasar Modal Syariah Rp 559,59 triliun.

Jumlah tersebut jika dibandingkan dengan total aset industri keuangan yang mencapai Rp 13.092 triliun, maka market share industri keuangan syariah sudah mencapai 8,01%.Industri perbankan syariah sendiri saat ini terdiri dari 13 bank umum syariah, 21 bank unit syariah, dan 167 BPR syariah, memiliki total aset Rp 389,7 triliun atau 5,44 persen dari total aset perbankan nasional.

IKNB syariah terdiri dari 59 asuransi syariah, 38 pembiayaan syariah, 6 penjaminan syariah, 10 LKM syariah dan 10 IKNB syariah lainnya, memiliki aset Rp99,15 triliun atau 4,78 persen dari total aset IKNB nasional.

Sampai Agustus 2017 lalu, jumlah Sukuk Negara outstanding mencapai 56 seri atau 33,53% dari total jumlah Surat Berharga Negara outstanding sebanyak 167. Nilai Sukuk Negara outstanding mencapai Rp524,71 triliun atau 16,99% dari total nilai surat berharga negara outstanding sebesar Rp3.087,95 triliun.

Sementara itu, Sukuk Korporasi outstanding per 31 Agustus 2017 sebanyak 68 seri dengan nilai sebesar Rp14,259 triliun. Dari 68 Sukuk korporasi yang outstanding saat ini, terdapat 53 sukuk yang menggunakan akad ijarah (77,94%) dan 15 sukuk yang menggunakan akad mudharabah (22,06%). Nilai sukuk ijarah mencapai Rp. 8,92 triliun (62,59%) sementara sukuk mudharabah mencapai Rp5,36 triliun (37,41%) .

Sedangkan, jumlah reksadana syariah per 31 Agustus 2017 sebanyak 160 atau meningkat sebesar 17,65 % dibandingkan akhir tahun 2016 yaitu 136. Sementara NAB per 31 Agustus 2017 sebesar Rp 20,62 triliun atau meningkat 38,30% dibandingkan NAB akhir tahun 2016 sebesar Rp14,91 triliun.

Sumber: mysharing.co

  • 13 Jul 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Laman-laman yang memuat hedonic treadmill (Michael Eysenck,1991) akan mengupas tentang hubungan antara uang dan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga merupakan elemen krusial dalam kehidupan.

Yodhia Antariksa (2014) selanjutnya menjelajahi hasil studi saintifik yang mengulik tentang relasi kedua hal tersebut. Sejatinya, studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal dilakukan oleh Daniel Kahneman, seorang pakar financial psychology yang juga pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2002. 

Dalam risetnya, Kahneman menemukan fakta yang dikenal dengan istilah income threshold. Income threshold adalah ambang batas pendapatan yang akan menentukan apakah uang masih berdampak terhadap kebahagiaan seseorang atau tidak. 

Dalam laporan penelitian itu disebutkan, angka batas pendapatan itu adalah 6.000 dolar AS per bulan. Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka 6.000 dolar AS itu setara dengan angka Rp 15-20 juta perbulan jika diubah dalam konteks Indonesia.  

Nah, sebelum pendapatan menembus angka 6.000 dolar AS perbulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan seseorang. Namun, begitu pendapatan  melampaui 6.000 dolar AS, maka peran uang dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap. Dalam konteks ini, benar jika ada yang menyebutkan bahwa semakin Anda kaya, belum tentu semakin bahagia.

Mengapa semakin tinggi pendapatan seseorang, ternyata semakin menurunkan peranan uang dalam membentuk kebahagiaan? Jawabannya kemudian dikenal dengan hedonic treadmill itu. Ilustrasinya, jika gaji Anda Rp 5 juta, semuanya terkonsumsi habis. Saat gaji Anda naik menjadi 25 juta, ternyata semuanya habis juga. 

Ekspektasi gaya hidup Anda ternyata juga akan ikut naik sejalan dengan kenaikan penghasilan Anda. Saat pendapatan Rp 10 juta per bulan cukup naik City Car. Saat pendapatan menjadi Rp 50 juta per bulan merasa perlu naik sedan mewah. Itulah mengapa kebahagiaan seseorang itu bisa stagnan, meskipun pendapatan makin tinggi. 

Jadi, apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Agar lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti? Di sinilah letak relevansi untuk memraktekkan gaya hidup yang bersahaja, sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Prinsip hedonic treadmill adalah more is better. Makin banyak materi yang Anda miliki makin bagus. Makin banyak properti dan mobil yang Anda beli, makin kaya.  Gaya hidup bersahaja punya prinsip yang berkebalikan: less is more, terasa keindahan dunia ini jika kita hidup sederhana. Kebahagiaan hakiki bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada seberapa besar rasa syukur kita dalam menerima apapun materi atau harta yang ada. Rasa syukur melahirkan rasa berkecukupan (qona’ah). 

Nah, pemahaman ini seharusnya tidak sekadar dimengerti oleh para nasabah bank syariah. Justru para pegawai bank syariah harus memahami kapan si nasabah atau calon nasabah sudah masuk ke dalam jebakan hedonic treadmill ini. Fenomena masih besarnya pembiayaan bermasalah pada bank syariah (masih bertengger pada 4,16 persen, Desember 2016) bisa dikontribusi oleh pembiayaan konsumsi yang dikucurkan oleh bank syariah secara tidak bijaksana. 

Nasabah dipacu dan ditawari beragam pembiayaan (konsumtif) yang justru menjauhkan dirinya dari sikap Islami yang produktif. Dan produktivitas selalu berlawanan jalur dengan semangat para pengejar gaya hidup konsumtif.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). (QS. At-Takaatsur: 1-3).

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

 

  • 23 Jun 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Medco Group dan BUMN PT Bahana Artha Ventura (BAV) meluncurkan 'Program Arus Baru Ekonomi Indonesia'. Program ini merupakan program pemberdayaan ekonomi umat yang melibatkan banyak pihak termasuk pondok- pondok pesantren dan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.

Peluncuran program dan penandatanganan nota kesepakatan (MoU) ini dilakukan oleh founder Medco Group Arifin Panigoro, Ketua MUI KH Ma'ruf Amin dan disaksikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki di Griya Jenggala, Jakarta, Rabu (21/6).

Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin menjelaskan, Kongres Ekonomi Umat yang dibuka Presiden RI Joko Widodo pada 22-24 April lalu menghasilkan berbagai rekomendasi untuk memajukan perekonomian umat di Indonesia. Di antara rekomendasi tersebut adalah komitmen untuk menggerakkan koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pelaku usaha utama perekonomian nasional.

Tidak hanya berniat menggerakkan, Kongres Ekonomi Umat juga merekomendasikan adanya mitra sejajar antara pengusaha besar dengan koperasi dan UMKM dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi.

"Dari tingkat pusat hingga MUI di daerah-daerah akan terlibat dalam gerakan ini sehingga perekonomian umat bisa terangkat," ujar KH. Ma'ruf Amin.

Founder Medco Group, Arifin Panigoro mengungkapkan, sejak awalh Medco Group memang berkomitmen untuk terlibat dalam gerakan pemberdayaan ekonomi umat ini. Peluncuran program ini merupakan upaya untuk mempercepat pelaksanaan pemberdayaan ekonomi umat di Indonesia.

"Karena tujuannya jelas, agar masyarakat punya budaya entrepreneurship, meningkatkan penghasilan dan pada akhirnya menyejahterakan umat," kata Arifin Panigoro.

Sebagai tahap awal, sejumlah pondok pesantren, ormas Islam, koperasi dan UMKM dari empat provinsi di Indonesia dilibatkan dalam program ini. Dua perusahaan inti dan Perusahaan Modal Ventura Daerah yang terafiliasi dengan BAV juga ikut dalam penandatanganan kesepakatan ini. Bersama MUI dan Medco, berbagai pihak yang akan terlibat dalam program juga melakukan penandatanganan MoU untuk beberapa pilot project penguatan ekonomi umat.

 

Sumber: Republika.co.id

  • 12 Jun 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Sehubungan dengan berkembangnya sistem ekonomi syariah baik di Indonesia maupun di dunia, permintaan terhadap tenaga-tenaga ahli di bidang itu pun semakin tinggi. Guna mewujudkan partisipasi aktif dalam pembangunan nasional Universitas Gunadarma pun membuka Fakultas Ekonomi Syariah.


Panitia Kuliah Informal Ekonomi Syariah atau Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma 2017 Ndalu Girindhana mengatakan, tujuan membuka pendaftaran kuliah informal Ekonomi Syariah yang akan digelar pada tanggal 10-15 Juli 2017.

 

"Syariah Economic Forum ini untuk mengenalkan ekonomi syariah kepada mahasiswa-mahasiswi Universitas Gunadarma yang akan digelar pada tanggal 10-15 Juli," kata Ndalu di Kampus E Universitas Gunadarma di Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, Senin (12/6).

 

Ekonomi syariah atau Sharia Economic, kata Ndalu, pada dasarnya belajar ekonomi dengan dilandasi dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.

 

"Ekonomi itu sendiri maksudnya aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya, jadi dalam ilmu ekonomi, kita mempelajari teori-teori ekonomi secara mikro maupun makro. Kita jadi biasa berpikir logis dalam mengambil keputusan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan sebagai individu, perusahaan, maupun pemerintah nantinya," ucap dia.

 

Dengan demikian, kata dia untuk kelas intensif pihak Gunadarma juga menghadirkan para pemberi materi di bidang masing-masing terkait ekonomi syariah.

 

"Kelas intensif memang kita desain kita rancang di kelas, dan pemberi materi juga orang-orang yang berkompeten di bidang masing-masing, seperti dari bank, atau lembaga keuangan Islam itu kita langsung datangkan pakarnya. Ekonomi Islam sendiri kita juga memanggil pakarnya," ujarnya.

 

Ndalu juga berharap dengan adanya Fakultas Ekonomi Syariah di Universitas Gunadarma ini bisa mengetahui manfaatnya tentang ekonomi dan sangat berpotensi.

 

"Ekonomi syariah ini yang kenal bukan hanya Gunadarma saja, dan anak Gunadarma tahu tentang ekonomi syariah dan tahu manfaat tentang ekonomi syariah sendiri, bagaimana prospek ke depannya, ekonomi syariah ini kalau diterapkan di Indonesia sangat potensi sekali jadi harapannya bisa di terapkan di Gunadarma dan di Indonesia sendiri," imbuhnya.

 

Adapun jadwal kuliah Informal Ekonomi Syariah 2017 di Universitas Gunadarma:

 

Senin 10 Juli 2017 pukul 08.30-12.00 WIB Pengantar Ekonomi Islam, pemateri Ahmad Mikail M.Ec Dosen FEB Universitas Indonesia.

Pasar Modal Syariah pukul 13.00-16.00 WIB, pemateri Irwan Abdalloh S.E.MM kepala pengembangan pasar modal syariah BEI.

 

Selasa 11 Juli 2017: Fiqh Muamalah pukul 08.30-12.00 WIB, pemateri Dr.Ust. Erwandi Tarmizi penulis buku harta haram mualat kontemporer.

 

Fiqh Riba pukul 13.00-16.00 WIB, pemateri Dr.Ust. Erwandi Tarmizi, penulis buku harta haram muamalat kontemporer.

 

Rabu 12 Juli 2017, Filantropi Islam (Ziswaf) sekitar pukul 08-30 WIB-12.00 WIB, pemateri DR.IRfan Syauqi Beik, Direktur Puskas Baznas.

 

Bank dan Lembaga Keuangan Islam 13.00- 16.00 WIB, pemateri Dr.IR. Imam Teguh Saptono Praktisi Ekonomi Syariah.

Kamis 13 Juli 2017, Company visit pukul 08.30-12.00 WIB, Grha Unilever dan PT Anabatic Technologies Tbk.

 

Jumat 14 Juli 2017, test akhir pukul 08.30- 12.00 WIB.

 

Sabtu 15 Juli 2017, sekolah pasar modal syariah (SPMS) sekitar pukul 08.30 WIB-12.00 WIB, The Best Choice to be Islamic Investor in Sharia capital market for sustainable.