Rasionalitas dalam Perspektif Islam

1website poster 1024x465
  • KSEI SEF Gunadarma

  • 24 Nov 2016

  • Artikel

Menjadi rasional atau berpikir dan bertindak logis adalah salah satu bentuk respon manusia terhadap pilihan-pilihan yang ditawarkan kepadanya sepanjang hidupnya.Namun, sudah benarkah pilihan-pilihan yang diambil dari beragam pilihan yang ada ? Mari kita perhatikan dari sudut pandang ekonomi konnvensional serta ekonomi Islam dalam memandang hal ini. Pada ekonomi konvensional, konsumen  dipandang sebagai utility maximizer terhadap kebutuhan dan keinginan, yang dimana norma dan nilai-nilai religiusitas tidak terdapat di dalamnya (Friedman, 1979). Sehingga tidak mengherankan jika di dalam teori ekonomi konvensional terdapat beberapa perilaku yang sebenarnya menyimpang dari norma dan aturan, namun hal tersebut masih dinilai logis atau rasional. Karena segregasi yang kentara antara ilmu yang dianggap ‘ilmiah’ dengan norma yang berlaku di masyarakat inilah, sehingga kemudian ilmu ekonomi konvensional kerap kali disebut sebagai ‘ekonomi positif’.

Kontras dengan ekonomi konvensional, ekonomi Islam yang merupakan derivasi dari Islam itu sendiri, memandang bahwa perilaku konsumen harus berlandaskan kepada syariat Islam yang ada (Hamid, 2009). Meskipun begitu, rasionalisme dalam Islam tidak menyangkal kepentingan diri sebagai basis maksimisasi utilitas dalam perilaku manusia tetapi memurnikannya melalui filter sosial, moral dan agama (Khurshid, 1992). Hal ini didukung pula oleh aksioma-aksioma universal berikut yang merupakan syarat seseorang dianggap melakukan tindakan rasional secara Islami (yang selanjutnya pelakunya disebut rasional Islami) diantaranya :

1.  Setiap pelaku ekonomi bertujuan untuk mendapatkan maslahah (memelihara tujuan syara’ dan meraih manfaat atau mengindari kemudharatan) dengan aksioma sebagai berikut :



  • Monotonicity maslahah: Merupakan keadaan dimana kemaslahatan yang tingkatannya lebih tinggi lebih disukai dibandingkan kemaslahatan yang lebih rendah. Karena kemaslahatan yang lebih tinggi dapat memberikan kebahagiaan yang lebih, begitupun sebaliknya. Hal ini bersesuaian dengan kaidah fiqh berikut: “Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan”


  • Quasi concavity: Merupakan keadaan dimana seorang rasional Islami akan terus mengupayakan kondisi kemaslahatan yang meningkat sepanjang waktu. Dengan pola non-decreasing yang berbanding terbalik dengan konsep marginal diminishing utility yang berpola decreasing setelah dicapainya utilitas maksimum.

2. Setiap pelaku ekonomi selalu mengupayakan untuk menghindari israd atau perilaku mubazir. 

Umat Islam dianjurkan untuk bersikap pertengahan, yakni tidak berlaku bakhil atau pelit dan menghindari sikap berlebihan atau mubadzir, sebagaimana firman Allah berikut :

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra : 29)

3. Setiap pelaku ekonomi selalu berupaya untuk meminimumkan risiko (risk aversion)

Risiko merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Terlebih risiko memiliki kecenderungan negatif, karenanya risiko selalu diupayakan seminimum mungkin. Namun sejatinya, hanya risiko yang dapat diantisipasi (anticipated risk) saja yang dapat dihindari atau diminimumkan

4. Setiap pelaku ekonomi dihadapkan pada situasi ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan hal yang pasti terjadi. Karena masa depan sejatinya hanya diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, adapun manusia hanya mampu untuk memprediksi dan mempersiapkan yang terbaik dari segala kemungkinan yang ada. Sebagaimana firman Allah :

“Katakan –Wahai Muhammad-, tidak ada yang mengetahui, baik penduduk yang ada di langit maupun penduduk yang ada di bumi, terhadap sesuatu yang ghaib kecuali hanya Dia (Allah). (QS. an-Naml: 65).

5. Setiap pelaku ekonomi berusaha untuk selalu melengkapi informasi

Hal ini amat penting untuk dilakukan. Karena saat terjadi asimetris informasi atau ketidak lengkapan perolehan informasi, dapat membuka celah penipuan (tadlis) yang dapat merugikan salah satu pihak. Selain itu, terdapat pula aksioma lainnya yang dapat melengkapi aksioma universal sebelumnya, diantaranya:

Adanya kehidupan setelah mati. Islam sebagai agama yang komprehensif, turut mempertimbangkan aspek spiritual dan adanya kehidupan lain setelah kehidupan sebagai landasan konsumen dalam menentukan pilihan.

Kehidupan akhirat merupakan pembalasan final atas kehidupan di dunia. Hukum sebab-akibat dalam Islam, tidak berhenti prosesnya di dunia semata, namun juga di akhirat. Oleh karenanya, amat perlu bagi rasional Islami untuk menginjeksikan nilai-nilai keislaman sebagai wujud pemahaman bahwasanya terdapat akibat atau pembalasan pada fase kehidupan selanjutnya (re: kehidupan di akhirat).

Sumber informasi yang sempurna hanyalah Al-Qur’an dan Hadits. Karena nilai-nilai religiusitas amat melekat pada ekonomi Islam, maka elemen-elemen mendasar seperti acuan utama (Al-Qur’an dan Hadits) dipercaya sebagai sumber hukum dan sumber informasi tertinggi yang tiada luput dari kesalahan karena memang berasal dari Sang Khaliq.

PenulisIren Karina (Staff Manajemen Aset SEF UG) | Red: Fauziah

Referensi:

Friedman, Milton (1979). The Methodology of Positive Economics, published by Univ of Chicago Press, USA

Hamid .M.A (2009), Islamic Economics: An Introductory Analysis, pp.47, first edition: 2009 published by-Md.Iqbal Aziz Khan, CSE, Rajshahi University, Bangladesh.

Ahmad, Khurshid. (1992). Nature and Significance of Islamic Economics, in Lectures on Islamic

Economics, pp. 7-23, Jeddah: Islamic Research and Training Institute.

Hosen, dkk. 2008. Materi Dakwah Ekonomi Syariah. Jakarta : Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah

Al Manhaj.(2015). Kaidah ke 33 Jika ada Kemaslahatan Bertabrakan Maka Masalahat yang Lebih Besar Harus didahulukan. Retrieved from https://almanhaj.or.id/4072-kaidah-ke-33-jika-ada-kemaslahatan-bertabrakan-maka-maslahat-yang-lebih-besar-harus-didahulukan.html