Publikasi

  • 19 Mar 2018

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma mengikuti Temu Ilmiah Regional (Temilreg) Jabodetabek 2018 yang berlangsung pada 05-09 Maret 2018 bertempat di Universitas UIN Syarif Hidayatullah. Temilreg merupakan ajang perlombaan bergengsi yang diikuti oleh setiap Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) se-Jabodetabek. Ini merupakan agenda rutin FoSSEI (Forum Silaturahim Ekonomi Islam) yang dilaksanankan setiap tahunnya. Pada tahun ini Temilreg Jabodetabek 2018 mengangkat tema yang menarik dan sedang hangat-hangatnya pada saat ini, yaitu SMALL Enterprise for BIG Indonesia

Dalam event Temilreg Jabodetabek 2018 ini ada berbagai cabang perlombaan, diantaranya: Olimpiade Ekonomi Islam, Karya Tulis Ekonomi Islam, Pengembangan Ekonomi Islam, Video Ekonomi Islam, Business Appraisal, Kisah Inspiratif Muslimah dan Lomba Poster. Pada Temilreg Jabodetabek 2018 ini, SEF Universitas Gunadarma mengirimkan delegasinya untuk ikut serta dalam semua cabang lomba.

Hari pertama acara dibuka dengan opening Temilreg Jabodetabek 2018 dan Seminar Internasional yang berjudul Optimazing The Capability of Technology- Based SME in The Global Competition Era yang dipaparkan oleh Dr. Mohammad Daud Bakar, PhD, Dr. Adiwarman Azwar Karim, MBA, MAEP, Dr. Ahmad Sukro Tratmono, Prof. Dr. Irwandi Jaswir, dan Mohd. Nasir Tajang, S.Ag., M.Si. Acara dilanjutkan dengan babak penyisihan Olimpiade Ekonomi Islam.

Untuk cabang Olimpiade Ekonomi Islam, SEF UG mendelegasikan 2 Tim, yaitu Tim 1 terdiri dari: Lisna Aprilianti (Akuntansi 2014), Tika Intan Saputri (Akuntansi 2014), Taufik Ikhsan Muchlisyn (Ekonomi Syariah 2015), Sedangkan Tim 2 terdiri dari: Rahmat Ramdani (Akuntansi 2015), Mulyadi (Ekonomi Syariah 2015), dan Rika Aulia (Akuntansi 2016). Dalam babak penyisihan ini, kedua Tim SEF UG berhasil masuk ketahap semifinal.

Hari kedua, kedua Tim SEF UG berhasil masuk pada tahap semifinal. Dimana dalam semifinal terdapat 10 tim terbaik. Sementara diruangan lain sedang berlangsung penyisihan Karya Tulis Ekonomi Islam (LKTIEI).

Hari ketiga, Sebelumnya, diadakan terlebih dahulu Talkshow “Dialog Intelektual UMKM”. Sementara diruangan lain sedang berlangsung penyisihan Pengembangan Ekonomi Islam (PEI).

Hari keempat, Sedang berlangsung penyisihan Business Appraisal dan pengumuman 5 tim finalis Olimpiade Ekonomi Islam dan diataranya terdapat 2 tim SEF UG yang masuk ke tahap final yaitu Student Conference.

Pada hari terakhir ini, 5 Finalis yang berhasil melaju akan diberikan studi kasus dan harus mempresentasikan solusi dari studi kasus tersebut dalam waktu 15 menit, dengan tema Student Conference “Small Enterprises and Islamic Economic’s Solution”. Dalam teknis pelaksanaannya, finalis tidak hanya menjawab pertanyaan dari panelis, tetapi juga pertanyaan dari audiens. Kemudian dilanjutkan Sarasehan Alumni yaitu merupakan sharing session dari para alumni KSEI sebagai pembicara dan bersifat tertutup hanya untuk KSEI se-Jabodetabek. Acara internal ini mengundang pembicara dari para alumni untuk berbagi pengalaman dan inspirasi bagi para anggota KSEI se- Jabodetabek. Dan pada malam harinya berlangsung agenda NIGHT AWARD, malam penghargaan untuk cabang perlombaan temilreg 2018. Sekaligus menjadi penutup dari rangkaian acara WESHARE – TEMILREG 2018. Dengan Tema: “The Glory of Sharia Economic” . Tiba saat pengumuman, SEF UG berhasil meraih Media Terbaik SE-JABODETABEK 2018. Selain meraih Media terbaik, SEF UG berhasil meraih juara 3 Karya Tulis Ekonomi Islam (LKTIEI) yang diwakili oleh Dwi Rahayu (Manajemen 2015), Eman (Akuntansi 2014), dan Endang Sulastri (Manajemen 2015). Selain itu SEF UG juga berhasil meraih Juara 3 Pengembangan Ekonomi Islam (PEI) yang diwakili oleh Abdul Roqqib (Akuntansi 2014), M. Wizly (Akuntansi 2015), dan Nuke Winandha (Manajemen 2014). Dan SEF UG berhasil mendapatkan penghargaan Dresscode Terbaik yang diawakili oleh Nina Sakinah (Akuntansi 2015), Ade Putri Rahayu (Akuntansi 2016), dan Yolanda Regita Cahyani (Manajemen 2016).

 

 

  • 28 Jan 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Peningkatan yang terjadi pada kesadaran masyarakat untuk berekonomi syariah beriringan dengan datangnya kritik-kritik kepada lembaga keuangan syariah itu sendiri. Karenanya, lembaga-lembaga keuangan syariah memiliki tantangan agar mampu membuktikan diri sebagai suatu solusi dunia perekonomian.

Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY, Mursida Rambe mengingatkan, lembaga keuangan syariah hadir tidak sekadar untuk berbisnis dan mencari keuntungan. Lebih dari itu, lembaga keuangan syariah harus menjadi satu edukasi bagi masyarakat.

Tentu, lanjut Rambe, edukasi yang diberikan kepada masyarakat agar bertransaksi sesuai dengan ketentuan syariah. Karenanya, ia menilai, lokakarya-lokakarya sangat mempermudah masyarakat memiliki pemahaman tentang ketentuan-ketentuan ekonomi syariah.

"Lembaga keuangan syariah harus menunjukkan kalau kita hadir untuk memberikan solusi bagi perekonomian nasional, sehingga kita dapat membuktikan Islam yang rahmatan lil alamin," kata Rambe, pada Lokakarya Akad dan Produk Lembaga Keuangan Syariah Sesuai Fatwa DSN-MUI, di Yogyakarta, Kamis (25/1).

Senada, CEO Amana Sharia Consulting, Ahmad Ilham Sholihin menekankan, akal manusia dalam mengaplikasikan ekonomi seharusnya memang tidak bertentangan dengan Alquran. Bila tidak, tentu akal itu sedang tidak sehat, dan sudut pandang itu tidak boleh di bolak-balik.

Untuk itu, ia menolak dugaan-dugaan lembaga keuangan syariah tidak masuk akal, sebagai alasan untuk tidak menerapkan sistem keuangan syariah tersebut. Ilham berharap pelaku-pelaku lembaga keuangan syariah memiliki pemahaman kuat sebagai modal mengaplikasikannya.

"Akal yang sehat itu tidak akan bertentangan dengan Alquran dan hadist," ujar Ilham.

Lokakarya ini diselenggarakan MES DIY bekerja sama dengan BPRS Barokah Dana Sejahtera. Kegiatan diikuti 110an praktisi perbankan syariah, pelaku-pelaku asuransi syariah, BMT, serta akademisi se-DIY.

Sumber: Republika.co.id

  • 22 Jan 2018

  • 0 Comments

  • Olympiad

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma dengan bangga mempersembahkan Perhelatan Akbar!!!

National Islamic Economic Olympiad 2018

Jadikan 2018 sebagai tahun KEEMASAN Kamu dan Kampus-mu!

National Islamic Economic Olympiad - 12th GSENT

"Realizing Maqashid Al-Shariah to Achieve Economic Justice through Islamic Philanthropy"

 

Persyaratan: 

  • Peserta merupakan mahasiswa/i aktif jenjang D3 atau S1 se-Indonesia
  • Peserta adalah tim yang terdiri dari 3 orang (Diperbolehkan berbeda fakultas)
  • Seluruh peserta wajib mengikuti rangkaian proses seleksi

Tanggal Penting:

  • Batas akhir pendaftaran: 25 Februari 2018
  • Pengiriman berkas pendaftaran dan softcopy essay: 25 Februari 2018
  • Tes PG online: 02 Maret 2018
  • Pengumuman 12 Besar: 26 Maret 2018
  • Semi-Final: 19 & 20 April 2018
  • Grand Final: 21 April 2018

Pendaftaran:

  • Pendaftaran GRATIS
  • Peserta dapat mengunduh formulir pendaftaran dan booklet  melalui link sef.or.id/olympiadgsent2018
  • Peserta mengirimkan formulir via email ke gsent@sef.or.id disertai scan KTM/KRS untuk setiap anggota tim (Dalam bentuk file Attachment PDF), dengan subjek email: OLIMPIADE_NAMA KETUA_ASAL UNIVERSITAS

Hadiah:

  • Juara 1: Rp 5.000.000,- Trofi tetap, Medali, dan Sertifikat Penghargaan.
  • Juara 2: Rp 3.000.000,- Trofi tetap, Medali, dan Sertifikat Penghargaan.

Contact Person:

  • Laki-Laki: 082111130583
  • Perempuan: 085706335134

Official Information:

  • Website: gsent.shariaeconomicforum.org
  • Instagram: @gsent_sef

Visit Us on Social Media:

  • Website: www.shariaeconomicforum.org
  • Instagram: @KSEI_SEF
  • Facebook: KSEI SEF GUNADARMA
  • Twitter: @KSEI_SEF
  • Line@: @KSEI_SEF
  • LinkedIn: KSEI SEF GUNADARMA

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

#12thGSENT #Olympiad #National #IslamicEconomic #SEF12 #SEF

  • 16 Jan 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, zakat dapat menjadi instrumen pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Bambang menegaskan,  kemungkinan kerja sama pemerintah dengan pihak lain seperti lembaga filantropi sangat terbuka.

“Kemungkinan itu selalu terbuka dan semakin banyak filantropi yang sekarang kita kaitkan dengan SDGs (Sustainable Development Goals/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan),” kata  Bambang pada konferensi pers “Membedah Angka Kemiskinan dan Kesenjangan : Data Terkini BPS” di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (9/1).

Menurutnya, Bappenas sebagai koordinator SDGs akan melibatkan lembaga filantropi untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan tersebut.

Secara umum, kata dia, pemerintah membuka kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengentaskan kemiskinan. Hal itu, seperti dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan dana sosial keagamaan.

“Perusahaan dengan CSR punya target tersendiri. Begitu juga dengan dana sosial keagamaan misalnya zakat, itu ada target sendiri. Yang kita bisa lakukan adalah koordinasi dengan lembaga filantropi,” ujarnya.

Dikatakan dia, yang terpenting  adalah bagaimana seluruh program bantuan tersebut bisa mencakup sebanyak mungkin masyarakat. Oleh karena itu, dengan melibatkan lembaga filantropi untuk ikut mencapai target SDGs.  Bambang berharap dapat ikut mengurangi kemiskinan dan ketimpangan.”Itu strategi yang kita lakukan sekarang,” imbuhnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan persentase penduduk miskin Indonesia turun menjadi 10,12 persen pada September 2017.

Tercatat, jumlah penduduk miskin turun 1,19 juta jiwa dari Maret ke September 2017. Data BPS menyebutkan, masih terdapat 26,58 juta penduduk miskin pada September tahun 2016 lalu.

Sumber: Mysharing.co

  • 15 Jan 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis menghimbau agar umat Islam di Indonesia melakukan wakaf produktif kepada lembaga resmi yang ada. Karena menurutnya, wakaf produktif ini membangun martabat umat Islam.

Cholil menjelaskan, wakaf itu selalu dilakukan seseorang yang memang dermawan dan ingin bersedekah dalam jangka panjang. Dan, seseorang berwakaf didorong oleh rasa kedermawaan, bukan karena kewajiban. ”Seseorang yang berwakaf akan melakukannya dengan suka rela untuk menyisihkan hartanya,” kata Cholil pada peluncuran program Wakaf Investasi Selamanya (WIS) di Jakarta, Rabu (10/1).

Jumlah wakaf sendiri, menurut dia, tidak dibatasi nominalnya. Berapa pun harta yang dimiliki dianjurkan untuk diwakafkan. asal hartanya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Menurutnya, di era generasi milenial dan keuangan digital ini memungkinkan setiap orang bisa berwakaf sekaligus dapat dengan mudah memilih model investasinya. Sehingga diharapkan hasil laba investasi dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya dan aset  wakaf harus tetap dijamin lestari tanpa terkurangi oleh inflansi.

“Saya mendoakan dan mendorong wakaf uang menjadi budaya masyarakat. Jika berwakaf menjadi budaya menyisihkan sebagian hartanya setiap jumat untuk berwakaf,” kata Cholil.

Hal ini sebut dia, akan menjadi kekayaan sekaligus menjadi tangga untuk mengangkat martabat umat Islam.  Dan seandainya, kata Cholil, setiap 10 juta masyarakat berwakaf Rp 100 ribu setiap bulan. maka akan terkumpul Rp 1 miliar. “Bayangkan kalau sepertiga masyarakat atau 100 juta orang Indonesia berwakaf Rp 1 juta per tahun, maka akan terkumpul Rp 1 triliun setiap tahunnya,” ungkapnya.

Melalui program  WIS, kata Cholil, dana wakaf itu bisa dimanfaatkan tidak hanya pada kepentingan umat. Tapi juga untuk kepentingan pribadi. Sebab melalui program ini umat bisa memperoleh nilai manfaat hingga tujuh turunan.

Sehingga tegas dia, jika sebagian masyarakat membiasakan berwakaf untuk produktif dan bernilai ekonomi maka berapa aset negara yang dikuasi asing dapat dibeli oleh umat Islam. Lalu hasilnya, untuk pemerdayaan masyarakat tidak mampu dan biaya pendidikan anaknya sekolah

Sumber. Mysharing.co

  • 10 Jan 2018

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 06 Januari 2018 menyelenggarakan SEF Super Mentor dengan tema New Resolution Towards Great Expectation for The Next Generation dari pukul 08.30–12.00 WIB di Auditorium D462, Universitas Gunadarma. SEF Super Mentor merupakan agenda perdana yang diselenggarakan pada kepengurusan Sharia Economic Forum periode 2017/2018. Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Nina Sakinah, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Mulyadi (Arab), Taufik Ikhsan Muchlisyn (Jepang), Ade Putri Rahayu (Inggris), dan Yolanda Regita Cahyani (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan oleh Abdul Roqqib selaku Ketua Sharia Economic Forum. Kemudian dilanjuti dengan pembukaan Acara SEF Super Mentor oleh Ibu Nur Azifah selaku Dosen Universitas Gunadarma. Setelah itu, masuklah pada acara inti yang dipandu oleh Saudara Hilmi Fabriansyah selaku Moderator. Pembicara pertama ialah Bapak Muhammad Rizky Rizaldy selaku Dosen Universitas Gunadarma. Beliau mengatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam menggapai mimpi, kita harus mengetahui arah dan tujuan hidup terlebih dahulu. Mereka yang hidup tanpa tujuan akan selalu berada pada kondisi statis atau diam ditempat. Dengan mengetahui arah, mimpi atau tujuan hidup maka kita harus bersiap pula dengan segala tantangan berupa ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada kita.“Pelaut ulung tidak lahir dari lautan yang tenang”. Jika ujian yang Allah berikan besar maka disaat itu juga Allah menghendaki kehidupan yang besar pula. Keberanian yang kita miliki-pun turut andil dalam menggapai mimpi yang kita citacitakan. Sikap kerata-rataan adalah penyakit yang harus dihilangkan oleh generasi muda, tanpa kita sadari sikap tersebut merupakan penghalang bagi terealisasinya mimpi besar yang semula kita miliki. Generasi muda juga harus senantiasa peka terhadap nasihat dan kritik dari orang lain. Banyak dari kita yang menganggap bahwa kritik terbagi menjadi dua, yakni kritik membangun dan kritik menjatuhkan. Padahal bahwasanya kritik hanya memiliki satu makna, yaitu cara Allah memperbaiki kesalahan kita melalui orang lain. Terakhir beliau menyampaikan bahwa pastikan mimpi-mimpi yang kita raih bermanfaat bagi diri kita, orangtua, bangsa, negara dan terkhusus agama.

Pembicara kedua yaitu  Ibu Novie Ayu Anggraini. Beliau mengatakan bahwa membiasakan hal-hal kecil sejak dini perlu dilakukan mengingat perubahan industri saat ini terjadi secara signifikan. Membaca dan terus belajar akan hal baru dimanapun dan kapanpun merupakan pondasi yang harus ditanamkan sejak dini. Dengan melakukan hal tersebut maka pembawaan diri dalam menggapai mimpi akan terbentuk. Dalam menggapai mimpi, mengeksekusi diri untuk terpacu menerapkan hal-hal yang diperlukan merupakan komponen penting, diantaranya penerapan hidup disiplin, memahami lingkungan sekitar, serta bersosialisasi dengan mereka yang menghantarkan kita lebih dekat menuju pintu kesuksesan. Beliau menutup sesi dengan mengatakan bahwa jika sejak dini kita tidak melatih diri untuk memperkuat jiwa komunitas ataupun aktiv dalam keorganisasian maka kita akan membutuhkan waktu berkali-kali lipat untuk dapat membentuk jiwa tersebut disaat terjun didunia industri yang sesungguhnya.

Pembicara ketiga ialah Bapak Mufid Suryani. Beliau memaparkan bahwa terdapat beberapa unsur yang menjadi tombak terbentuknya jiwa pengusaha (entrepreneurship), antara lain. Niat dan yakin, suatu keinginan untuk melakukan sesuatu hanya untuk semata mengharapkan ridho Allah. Selanjutnya, merealisasikan niat dan keyakinan tersebut dengan cara mengerjakannya. Beliau berkata bahwa setiap orang memiliki rasa takut gagal, namun yang membedakannya ialah mereka yang yang berjiwa sukses percaya bahwa mental yang kuat dan berani bertindak akan melahirkan secercah kesuksesan. Dalam berusaha-pun kita tidak boleh berharap kesuksesan dan kekayaan akan datang secepat kilat. Mencoba hal baru dan memperbaiki kesalahan merupakan wujud keyakinan bahwa hidup adalah proses perubahan. Sebab dengan adanya kesalahan maka kita sebagai manusia tidak akan mudah merasa puas. Berkumpul dengan mereka yang memiliki kesamaan tujuan merupakan unsur penting yang dapat melahirkan team yang solid serta berintegritas tinggi.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya dari sesi tersebut. Dan bagi 3 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Laporan : Lailatul Munawaroh

 

  • 2 Jan 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB Irfan Syauqi Beik mengatakan 2018 bisa menjai tahun penuh tantangan untuk prospek keuangan syariah. Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena 2018 menjadi momen untuk perkembangan kondisi politik yang semakin tinggi.

"Eskalasi politik ini tentu akan mempengaruhi industri keuangan syariah. Bahkan bisa menjadi sejarah setelah reformasi," kata Irfan kepada Republika, Senin (1/1).

Dia memperkirakan sejarah tersebut akan terjadi karena setelah 2014, masyarakat mulai terbentuk dua kubu antara syariah dan konvensional. semenjak hal tersebut terjadi, menurut Irfan sangat berpotensi untuk mempengaruhi perkembangan keuangan syariah.

Meskipun begitu, Irfan mengaku ada beberapa hal yang bisa membuat optimisme keuangan syariah terus tumbuh pada 2018. "Kita berharap konversi bank NTB menjadi syariah bisa berjaalan dengan baik," ujar pengamat ekonomi syariah IPB itu.

Jika hal tersebut berhasil dilakukan, lanjut Irfan, akan ada tambahan aset perbankan syariah untuk selanjutnya. Dengan begitu, Irfan mengharapkan pertumbuhan perbankan syariah yang saat ini masih 5,2 persen bisa menjadi enam persen.

"Insya Allah dengan konversi ini bisa tembus enam persen. Mudah-mudahan bisa memberikan semangat kepada perbankan syariah supaya bisa saja nanti tujuh persen," ungkap Irfan.

Lalu mengenai sukuk, Irfan juga memprediksi akan terus tumbuh denga baik pada 2018. Terutama, kata dia, sukuk negara yang saat ini porsinya hanya 15 persen bisa berkembang pada 2018.

Bahkan, Irfan yakin ada kesempatan perkembangan sukuk negara dibandingkan obligasi nasional naik hingga 20 persen. "Sebab, banyak sekali manfaat sukuk dan lebih pasti pemanfaatan dananya," tutur Irfan.

Irfan mmenyatakan sukuk negara penggunaan dananya akan lebih jelas dibandingkan penerbitan obligasi nasional. Sebab, jika obligasi menurutnya bisa saja penggunaannya untuk pemerintah, operasional, dan lainnya, tidak pasti digunakan untuk infrastruktur.

Sumber: Republika.co.id

  • 1 Jan 2018

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Memasuki 2018, perbankan syariah nasional diprediksi tumbuh lebih baik. Hal ini didorong keberpihakan pemerintah dan membaiknya bank umum syariah (BUS) skala besar.

Karim Consulting Indonesia (KCI) dalam paparan Proyeksi Perbankan Syariah 2018 menyebutkan bahwa tahun depan akan menjadi titik tolak bagi perbankan syariah untuk tumbuh lebih baik setelah selama 2015-2017 mengalami masa sulit.

Presiden Direktur Karim Consilting Indonesia Adiwarman Karim menjelaskan, pada tahun depan akan banyak dorongan dari Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) antara lain inisiasi pembentukan bank BUMN syariah besar, integrasi zakat, pengembangan gaya hidup halal yang berdampak pada perbankan syariah, dan pengembangan peran wakaf melalui lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) 'Bank Wakaf'.

KCI memprediksi akan ada penanaman modal negara plus tambahan modal dari induk pada salah satu bank syariah nasional sehingga bank syariah tersebut jadi bank BUMN syariah besar. KCI juga melihat ada kemungkinan penggabungan satu bank syariah dengan UUS satu bank yang punya bisnis utama yang sama di pembiayaan perumahan.

Selain itu, konversi Bank NTB menjadi bank syariah penuh juga akan membawa angin segar bagi perbankan syariah nasional. Tambahan modal ke dua BUS besar di industri akan ikut mengerek kenaikan aset dan rata-rata kecukupan modal industri.

''Pada 2018 juga akan ada tambahan dua BUS lagi yang naik ke BUKU III,'' kata Adiwarman kepada Republika dalam sebuah kesempatan awal November 2017 lalu.

Adanya tambahan aset dari pembentukan bank syariah BUMN, merger, dan konversi, menurut Adiwarman, bisa menaikkan pangsa pasar perbankan syariah sekitar delapan persen. "Tapi kalau tidak, pangsa pasar perbankan syariah hanya sekitar enam persen," ujarnya.

Dalam skenario normal, KCI memprediski tingkat pengembalian aset (ROA) akan mencapai 3,39 persen dan aset Rp 462,03 triliun. Pada skenario optimistis, ROA perbankan syariah akan mencapai 4,09 persen dan aset Rp 501,09 trilun. Pada 2018 tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) juga akan membaik ke kisaran 1,5-1,8 persen.

''Tapi itu semua akan tergantung aksi korporasi bank-bank syariah tahun depan,'' ucap Adiwarman.

Kehadiran LKMS 'Bank Wakaf' juga jadi contoh bagaimana pembiayaan murah bisa dinikmati masyarakat sekitar pesantren. Tiap LKMS akan menerima sekitar Rp 6 milar yang mana setengah dananya akan disimpan sebagai dana abadi deposito syariah dengan imbalan lima persen. Sementara sisa dananya akan jadi pembiayaan ke nasabah dengan margin tiga persen per tahun.

''Dana untuk pesantren ini bukan dari bank atau pemerintah, tapi konglomerat,'' kata Adiwarman.

Namun, menurut Sekjen Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) Achmad K Permana, 2018 bukan tahun yang bagus bagi perbankan syariah untuk tumbuh agresif. Alasannya, ungkap dia, karena asumsi pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah pada tahun depan tidak jauh dengan pencapaian pertumbuhan nasional pada 2017, yakni masih di kisaran lima persen.

Belum lagi, sambung dia, tahun depan sudah menjelang tahun politik. "Belum tepat untuk bank syariah bergerak agresif meski tidak juga menahan diri. Pertumbuhan perbankan syariah pada 2018 bisa sama dengan 2017 saja sudah bagus," tutur Permana saat ditemui usai gelaran Anugerah Syariah Republika 2017 beberapa waktu lalu.

 

sumber: republika.co.id

  • 31 Dec 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) memprediksi proyek-proyek pemerintah akan jadi fokus pembiayaan perbankan syariah pada 2018. Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pembiayaan perbankan syariah pada 2018 akan tumbuh 10-12 persen.

Sekjen Asbisindo Achmad K Permana mengatakan, proyek pemerintan akan jadi destinasi pembiayaan perbankan syariah pada 2018 karena proyek-proyek ini dijamin APBN. ''Meski perbankan syariah juga menyadari tentu marjin proyek pemerintah tidak akan seagresif kalau komersial,'' kata Permana saat ditemui usai gelaran Anugerah Syariah Republika 2017 beberapa waktu lalu.

Salah satu sumber pembiayaan syariah untuk membiayai proyek-proyek ini adalah surat utang syariah (sukuk). Karenanya banyak pihak memperkirakan penerbitan sukuk pada 2018 akan semakin marak.

Data Statistik Sukuk yang dikeluarkan OJK menyebutkan per Oktober 2017 jumlah outstanding sukuk sebanyak 69 dengan nilai outstanding Rp 14,39 triliun. Akumulasi jumlah penerbitan sukuk sebanyak 124 dengan nilai akumulasi penerbitan mencapai Rp 24,74 triliun pada periode tersebut. Khusus pada 2017 sampai Oktober, terdapat 16 sukuk yang diterbitkan oleh enam korporasi dengan total nilai Rp 2,03 triliun.

Pengamat Ekonomi Syariah, Adiwarman Karim, mengatakan pada 2018 pembangunan infrastruktur akan semakin marak. Peningkatan tersebut akan mempengaruhi dua hal yang diperkirakan naik. Pertama, perusahaan-perusahaan BUMN yang terlibat dalam proyek infrastruktur diduga akan menggalang dana melalui instrumen sukuk sehingga volume sukuk korporasi BUMN akan semakin banyak dari sisi jumlah dan nilai.

Kedua, instrumen sukuk juga akan bertambah marak. Dia menyebut ada dua instrumen baru. Masing-masing Efek Beragunan Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA SP) yang akan digunakan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) untuk sekuritisasi aset di Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). 

Instrumen kedua, yakni Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragunan Aset (KIK-EBA) yang akan digunakan untuk sekuritisasi aset-aset dari sisi proyek-proyek infrastruktur, seperti jalan tol, bandara dan pelabuhan.

"Tahun 2018 kami perkirakan sukuk korporasi akan lebih semarak dari segi proyek-proyek infrastruktur dan instrumennya," jelas Adiwarman kepada Republika Kamis (21/12).

Adiwarman belum memperkirakan nilai kenaikan sukuk korporasi. Dari setiap dana yang dibutuhkan terpecah konvensional dan syariah. 

Beberapa waktu lalu, terdapat sindikasi untuk pembiayaan kepada PLN dengan total nilai Rp 16,3 triliun, dengan skema pembagian 60 persen konvensional dan 40 persen syariah. "Kami belum tahu yang lainnya," ujarnya. 

Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Rifki Ismail, mengatakan sukuk korporasi bisa diterbitkan oleh perusahaan konvensional, perusahaan syariah, perusahaan BUMN, maupun pemerintah daerah. 

"Cuma yang sekarang lagi kami arahkan, korporasi yang menerbitkan sukuk untuk pembiayaan infratruktur. Kedua, kalau bisa lembaga-lembaga Islam mulai memikirkan sukuk korporasi seperti Muhammadiyah yang mau menerbitkan sukuk," kata Rifki sata ditemui di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (22/12). 

Alternatif pembiayaan

Rifki menambahkan, beberapa waktu lalu Bank Indonesia membuat pertemuan dengan sejumlah organisasi Islam untuk mewacanakan sukuk sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi yang memiliki proyek-proyek pembangunan infrastruktur atau sarana sosial. 

Pemerintah memiliki Nawacita pembiayaan infrastruktur, yang terdiri dari infrastruktur komersial seperti pelabuhan, jalan tol, dan bandara, serta infrastruktur sosial seperti sekolah, rumah yatim, dan panti asuhan untuk layanan masyarakat. Keduanya bisa dilakukan melalui penerbitan sukuk. 

Dalam kesempatan terpisah Peneliti Ekonomi Syariah dari SEBI School, Aziz Setiawan, mengatakan secara umum melihat faktor yang mendorong faktor penerbitan sukuk dari ekspansi masing-masing perusahaan dan kondisi perekonomian 2018. Sejumlah ekonom memprediksi ekonomi 2018 lebih baik daripada 2017. 

Faktor penting yang akan mendorong perusahaan melakukan ekspansi, lanjutnya, adanya kenaikan permintaan sehingga perusahaan harus menambah suplai kapasitas produksi dan menambah pendanaan. "Tahun depan sumber pendanaan akan naik termasuk dari penerbitan obligasi dan sukuk. Terlebih 2018 banyak Pilkada. Pilkada selalu positif dalam mendorong perekonomian karena perusahaan akan menambah kapasitas produksi," ujar Aziz. 

Menurutnya, beberapa BUMN yang punya ruang besar untuk membangun infrastruktur akan mendorong peningkatan sukuk korporasi tahun depan. Namun, saat ini lebih banyak penerbitan obligasi dibandingkan sukuk. 

"Sukuk lebih rumit. Dari data sekarang untuk penerbitan obligasi hampir Rp 108 triliun dan sukuk hanya Rp 4 triliun. Tahun depan bisa naik 50 persen saja sudah sangat bagus," kata Aziz. 

Menurutnya, hal itu disebabkan kurangnya pemahaman sukuk dan proses penerbitan lebih rumit. Padahal, permintaan investor cukup tinggi untuk sukuk korporasi. 

Sementara syarat underlying dianggap membuat proses penerbitan sukuk lebih rumit. Karenanya, kata Aziz, dibutuhkan evaluasi menyeluruh untuk sukuk korporasi dari pemerintah. 

Selain itu, sambung dia, OJK juga dianggap perlu mereview ulang aturan. Sebab, setiap tahun ada penerbitan sukuk korporasi tetapi kenaikan tidak signifikan. 

Sedangkan penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) pertumbuhannya tergolong tinggi meskipun hanya jenis ijaroh, sementara jenis mudharabah berkurang. "Jenis-jenis lain justru kurang berkembang," ujar Aziz.

Sumner: Republika.co.id

  • 24 Dec 2017

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, kinerja pembiayaan melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) terus meningkat setiap tahun. Luky mengaku, hal ini positif guna mendiversifikasi sumber pembiayaan APBN.

"Dari tahun ke tahun potensi dan kinerja SBSN terus meningkat. Kami mulai dengan nilai proyek Rp 800 miliar pada 2013, saat ini total proyek mencapai Rp 22,5 triliun pada 2018. Jumlah Kementerian/Lembaga (K/L) pemrakarsa SBSN dimulai dengan satu K/L pada 2013 sekarang sudah tujuh K/L," ujar Luky di Jakarta, Jumat (22/12).

Total penerbitan SBSN sejak 2008 sampai 2017 telah mencapai Rp 758 triliun. Karena sebagian utang syariah sebagian telah dilunasi nilaioutstanding-nya saat kurang lebih sekitar Rp 555 triliun. "Jadi, dari share-nya, SBSN sudah capai 17 persen dari keseluruhan surat utang negara," ujar Luky.

Luky mengaku, SBSN berperan dalam mendiversifikasi sumber pembiayaan APBN, mempercepat proyek pembangunan infrastruktur, dan mendukung pengembangan pasar keuangan syariah.

Meski begitu, ia mencatat terdapat sejumlah permasalahan yang menjadi tantangan. Hal itu, salah satunya proses lelang dalam rangka pengadaan barang dan jasa K/L masih banyak yang terlambat dan pembebasan lahan proyek yang belum tuntas saat dimulainya masa konstruksi.

"Kami harap masing-masing K/L melakukan langkah-langkah perbaikan. Kita perlu menyusunroadmap untuk rencana kegiatan pembangunan infrastruktur yang dibiayai SBSN," ujarnya.

Sumber: Republika.co.id